(0 votes)
(0 votes)
Read 4463 times | Diposting pada

Suara Bunyi dan Marah-marah Berlebih

 

Judul: The Sound and the Furry

Pengarang: William Faulkner

Penerbit: Jonathan Cape & Harrison Smith (1929)

Halaman: 336

ISBN : 0-679-73224-1


Begitulah saya terjemahkan judul buku William Faulkner "The Sound and the Fury" walau terkesan memang kurang mantap. Saya berharap para pakar kosa-kata bahasa indonesia dapat memberi saya kata-kata lain.

Buku ini mengisahkan kehidupan keluarga pasca perang saudara Amerika di masa peralihan abad 19 ke 20. Keluarga ini termasuk mereka yang kalah perang, jadi mereka yang hidup di daerah 'selatan' Amerika, yang sebelumnya hidup di tingkat perekonomian sangat tinggi, alias kaya raya, akibat pertanian kapas yg dikelola peraturan perbudakan. Setelah perang, dan perbudakan di Amerika 'hilang' atau 'dihapuskan', mereka menjadi kehilangan identitas plus juga 'jatuh miskin'. Begitulah singkatnya.

Membaca buku ini memang sulit jika kita tidak mencari tahu terlebih dahulu cerita garis besar seluruh buku dari awal hingga akhir, dan konteks sosial dimana cerita ini berlangsung. Mengetahui cerita terlebih dahulu adalah atribut khusus buku kategori jenis fiksi literatur karena memang buku-buku seperti ini bukan ditujukan untuk memberi misteri akan cerita yang terjadi, tapi menceritakan apa yang merupakan "cerita dibalik sebuah cerita".

Malah kadang cerita sudah dibeberkan diawal, jadi kita memang sengaja diberi tahu apa yang akan terjadi. Jadi khusus untuk buku jenis literatur, tujuan kita bukan untuk mendeteksi apakah cerita dapat mudah ditebak hingga bisa kita katakan "oh buku itu kurang bagus karena mudah ditebak", atau "oh ko buku ini jelek kok saya cukup pintar menebak apa yang akan terjadi kepada si anu dan si itu", tapi untuk melihat sifat manusia dibalik sebuah cerita yang cukup sederhana dan mungkin saja gampang ditebak.

Saya beri contoh cuplikan Bab 2 buku Faulker saat Quentin, mahasiswa Harvard University, anak bekas juragan budak selatan dari Yoknapatawpha County, Missisipi, yang sedang berkontemplasi ingin bunuh diri, mulai kelaparan. Saya beri judul "Quentin Kelaparan Dan Membeli Roti":

Quentin membuka pintu toko roti di kampung pinggiran dekat kota Boston, dan melihat ada anak kecil berdiri dekat etalase penjualan roti (saya tebak pasti Quentin akan membeli roti):

When you opened the door a bell tinkled, but just once high and clear and small in the neat obscurity above the door, as though it were gauged and tempered to make that single clear small sound ... (The little girl) merely watched me until a door opened and the lady came. Above the counter where the ranks of crisp shapes behind the glass her neat gray face her hair tight and sparse from her neat gray skull, spectacles in neat gray rims riding approaching like something on a wire, like a cash box in a store. She looked like a librarian. Something among dusty shelves of ordered certitudes long divorced from reality, desiccating peacefully, as if a breath of that air which sees injustice done.

"Two of these, please, ma'am."

Si Ibu penjual roti memberi roti pilihan Quentin, anak kecil melihat:

From under the counter she produced a square cut from a newspaper and laid it on the counter and lifted the two buns out. The little girl watched them with still and unwinking eyes like two currants floating motionless in a cup of weak coffee Land of the kike home of the wop. Watching the bread, the neat gray hands, a broad gold band on the left forefinger, knuckled there by a blue knuckle.

Quentin mulai rasa ngga enak, berhubungan dengan kehadiran si anak kecil, tapi memang sebenarnya sebelum masuk toko sudah rasa ngga enak (.. dan sepertinya si ibu suka menonjok orang karena tulang tangan atasnya biru-biru, tapi paradoxnya, si ibu beratribut sebagai seorang tua yang rapi)

"Do you do your own baking, ma'am?"

Quentin mulai rasa kesal sama si ibu, atau ingat bahwa ia kesel (karena saat cerita "beli roti" kita baca, kejadian sudah terjadi, merupakan bagian dari ingatan Quentin):

"Sir?" she said. Like that. Sir? Like on the stage. Sir?

"Five cents. Was there anything else?"

Karena kesal Quentin mulai iseng, walau Quentin tidak mau iseng:

"No, ma'am. Not for me. This lady wants something."

Perkenalkan anak kecil gelandangan:

She was not tall enough to see over the case, so she went to the end of the counter and looked at the little girl.

Si ibu kaget:

"Did you bring her in here?"

"No, ma'am. She was here when I came."

Perkenalkan ibu pelit penjual roti, si ibu adalah kita, si ibu adalah Quentin:

"You little wretch," she said. She came out around the counter, but she didn't touch the little girl.

"Have you got anything in your pockets?"

Quentin tambah iseng campur kesal tanpa kontrol:

"She hasn't got any pockets," I said. "She wasn't doing anything. She was just standing here, waiting for you."

"Why didn't the bell ring, then?" She glared at me.

Si anak kecil menatap Quentin:

"She came when I opened the door," I said. ... The little girl looked at me, secretive, contemplative....

"What do you want? bread?"

She extended her fist. It uncurled upon a nickle, moist and dirty, moist dirt ridged into her flesh. The coin was damp and warm. I could smell it, faintly metallic.

Quentin mulai terpengaruhi tatapan anak kecil:

"Have you got a five cent loaf, please, ma'am?"

Lagi-lagi bungkusan koran untuk roti:

From beneath the counter she (si ibu) produced a square cut from a newspaper sheet and laid it on the counter and wrapped a loaf into it. I laid the coin and another one on the counter.

"And another one of those buns, please, ma'am."

She took another bun from the case. "Give me that parcel," she said. I gave it to her and she unwrapped it and put the third bun in and wrapped it and took up the coins and found two coppers in her appron and gave them to me. I handed them to the little girl. Her fingers closed about them, damp and hot, like worms.

Si anak kecil miskin dan dilema sosial:

"You going to give her that bun?" the woman said.

"Yessum," I said. "I expect your cooking smells as good to her as it does to me." (keramahan orang selatan adalah keisengan Quentin, tanpa sadar, tanpa kontrol, tanpa sengaja, hingga membuatnya kesal capur iseng, sedih campur tawa. Para pakar cerita Faulkner mengatakan Quentin sebagai karakter 'Neurotik' di kisah buku cerita ini).

I took up the two packages and gave the bread to the little girl, the woman all iron-gray behind the counter, watching us with cold certitude. "You wait a minute," she said. She went to the rear. The door opened again and closed. The little girl watched me, holding the bread agaisnt her dirty dress.

... The woman returned. She had a funny looking thing in her hand. She carried it sort of like it might have been a dead pet rat.

"Here," she said. The child looked at her. "Take it," the woman said, jabbing it at the little girl. "It looks peculiar. I calculate you wont know the difference when you eat it. Here. I cant stand here all day." The child took it, still watching her. The woman rubbed her hands on her apron. "I got to have the bell fixed," she said. She went to the door and jerked it open. The little bel tinkled once, faint and clear and invisible. We moved toward the door and the woman's peering back.

"Thank you for the cake," I said.

"Them foreigners,... take my advice and stay clear of them, young man."

Faulkner menggunakan sifat-sifat manusia yang merasa juga berpikir, masa peralihan abad 19-20 pasca perang saudara Amerika dan menyulapnya menjadi sesuatu yang dapat terjadi kapanpun, kepada siapapun. Kita katakan sebagai suatu cerita universal manusia.

Ya, cerita ini tidak lebih dari suatu cerita membeli roti. Mudah ditebak, tapi tidak mudah untuk kita resolusikan dalam suatu 'sinopsis cerita', atau kita jawab saat seorang teman bertanya, "memang buku ini mengisahkan mengenai apa?", yang dapat kita tutup dikemudian hari, sebagai sesuatu yang 'sudah kita ketahui', 'sudah selesai dibaca', sesuatu yang dapat berakhir.

Literatur fiksi jenis ini merupakan suatu 'proses' kontinu, tiada akhir, karena kehidupan manusia selalu berlanjut, jikapun seorang manusia sudah mati, lahirlah manusia lain.

Cerita ini dapat terus kita olah, dan kita baca ulang satu kalimat per kalimat, hingga terus kita rasakan sebagai sesuatu yang selalu berubah, kehidupan manusia adalah sesuatu yang tidak tetap, dinamik, berubah.

Disinilah kita bisa mendapati sesuatu yang abadi, esensi manusia, yang seorang beragama katakan sebagai jiwa atau ruh.

Begitulah sedikit yang dapat saya temukan dalam "Suara Bunyi dan Marah-Marah Berlebih."

 

Last modified on: 4 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni