(0 votes)
(0 votes)
Read 6273 times | Diposting pada

Resensi Buku 'Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey'

 

Di sebuah acara nonton film bareng saya pernah dengar betapa penting arti dan pengaruh film 2001: A Space Odyssey (Stanley Kubrick). Bukan karena kecanggihan visual efeknya yang untuk ukuran awal abad ke-21 tentu akan terasa terlihat sudah ketinggalan zaman, melainkan karena kekuatan ide, visi, dan relevansinya bagi manusia tetap terasa kena dan terus patut untuk diperbincangkan.

Ia merupakan salah satu film paling penting sekaligus kontroversial dalam sejarah manusia dan ia merupakan tontonan wajib bagi peminat sinema. Lebih menarik lagi, film ini senantiasa bisa memicu debat kusir dan memunculkan banyak spekulasi, entah yang hati-hati dan terstruktur maupun terkesan mengada-ada serta sulit mendapat verifikasi fakta dan argumennya.

Syarif Maulana –seorang dosen muda, pegiat sejumlah aktivitas budaya dan seni di Bandung, Jawa Barat– memberanikan diri berisiko mencoba mengeksplorasi pemikirannya untuk menafsir apa sih penting atau menariknya film ini dalam buku Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey (Penerbit Garasi10, 2013). Lewat bentuk esai panjang, Syarif memadukan studi film dan meniliknya lewat pendekatan filsafat. Subjek utamanya ialah ia membicarakan kaitan manusia dengan teknologi.

Syarif memanfaatkan kondisi itu sebagai pancingan awal agar pembaca ikut terlibat memikirkannya. Pertama-tama ia membahas aspek luar film tersebut, mulai dari latar belakang, pengembangan, lantas masuk membahas cerita, elemen sinema, musik, mereka-reka filosofinya, sampai akhirnya mengerahkan kemampuan eksplorasinya untuk menafsir dan memaknai. Di bagian inilah letak daya tawar buku ini, yaitu kita boleh menilai dan mempertanyakan sebenarnya seberapa menarik dan berhasil misi eksplorasinya.

Syarif menulis dan bertutur dengan lancar, bahkan terkesan tanpa beban. Cara ungkapnya yang santai dan lincah memudahkan pembaca memasuki dan memahami subjek pelik, meski tetap harus diawasi karena subjek pembicaraannya memang rada berat –yaitu perkembangan manusia, evolusi dan interaksinya dengan teknologi, dibalut dalam studi filsafat– tentu kesan serius tetap bisa muncul di sana-sini. Dengan cara tempuh seperti itu Bambang Sugiharto –Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung– memuji: "Rujukan Syarif luas, logikanya tangkas, gaya bahasanya santai dan cerdas."

Barangkali untuk menambah bobot pembahasan, Syarif memperkaya sekaligus membandingkan opininya dengan pemikiran Rob Ager, Bill Cooper, dan kolektif New Media Giants. Dia secara hati-hati berusaha menyelinap dan menghindari pendekatan yang telah dilakukan para pembahas terdahulu, mengomentari, dan memberanikan diri mengalirkan ide-ide segar.

Mungkin kita boleh bertanya, kenapa Syarif sampai perlu membandingkan eksplorasi pemikirannya dengan ide orang lain? Bukankah akan lebih garang dan bikin segan kalau ia berusaha "menerawang" film ini baik lewat kenakalan dan akrobat pemikirannya sendiri? Contoh soal monolith dan roh, dua hal paling misterius dan spekulatif yang bisa memicu pembahasan panjang-lebar dari film ini. Namun yang paling menggoda ialah pendapat Syarif soal roh. Di luar dugaan dia menangkap adanya spirit abadi dalam sifat manusia yang malah muncul dari film sains-fiksi, bukan film religius.

Penerbitan buku ini menumbuhkan optimisme bahwa suatu hari nanti Syarif mau menulis kritik segar atas film Indonesia. Bukankah ada sejumlah film brilian karya anak negeri yang patut diapresiasi, dibahas, serta penting nilainya bagi bangsa Indonesia?

***

Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey
Penulis: Syarif Maulana
Penerbit: Garasi10, 2013
Jumlah halaman: 116
Genre: Nonfiksi, esai filsafat, film studies
Harga: Rp.50.000,-

Last modified on: 4 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni