(0 votes)
(0 votes)
Read 4119 times | Diposting pada

Potret Perempuan di Bawah Alam Patriarki

Pengantar redaksi: Media massa nasional banyak menulis tentang Gerakan Indonesia Mengajar (GIM), yang dipelopori oleh Rektor Universitas Paramadina Anies Rasjid Baswedan. GIM memiliki satu tujuan: mengirim sarjana-sarjana terbaik dari universitas-universitas di Indonesia ke daerah-daerah terpencil.


Setelah melalui proses seleksi terhadap lebih dari 1300 pelamar, telah didapat  51 lulusan terbaik yang kemudian mendapatkan training di pusat pelatihan mereka di Ciawi, Bogor. Kontributor Jakartabeat.net mendapat kesempatan untuk memberi semacam pelajaran menulis singkat bagi calon pengajar muda GIM. Sebagai bagian dari training menulis, setiap pengajar muda tersebut diminta membaca buku sesuai keinginan mereka sendiri dan kemudian membuat ulasannya. Tiga ulasan buku terbaik kami muat di sini. Ini adalah ulasan ketiga, terakhir.

Oleh Sekar Arrum N., Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar

 

Perempuan di Titik Nol (1989, Yayasan Obor Indonesia) adalah novel yang menceritakan kehidupan kelam seorang  pelacur yang divonis hukum gantung karena telah membunuh seorang germo. Melalui Firdaus, si pelacur, penulis dengan tajam menguak kebobrokan masyarakat Mesir yang didominasi oleh kaum laki-laki. Novel yang diangkat dari kisah nyata ini merupakan interpretasi dari jeritan penderitaan dan pemberontakan wanita Mesir yang tertindas. Tema besar dari novel ini adalah feminisme yang digambarkan dengan sinis dan ironi dari kehidupan kelam seorang wanita Mesir atas bentuk protesnya terhadap dominasi kaum lelaki pada zamannya.

Buku ini merupakan buah karya kedelapan Nawal el–Saadawi, seorang feminis dari Kairo. Ia lahir di Kafr Tahla, 27 Oktober 1931, yang banyak menulis dalam tentang wanita dalam Islam. El Saadawi lulus dari jurusan kedokteran Universitas Kairo pada 1955. Melalui praktik medisnya, dia melakukan observasi permasalahan fisik dan psikologis wanita lalu menghubungkannya dengan tekanan praktik kebudayaan, dominasi patriarki, tekanan kelas, dan imperialis.

Perempuan di Titik Nol berawal dari kisah seorang dokter yang ingin melakukan temu wawancara dengan tokoh utama, Firdaus. Tapi Firdaus tidak ingin bicara atau menemui siapapun. Namun pada suatu saat Firdaus berkenan untuk bertemu dan berbincang dengan dokter tersebut. Selanjutnya Firdaus menceritakan kisah nyata hidupnya yang serba kelam dan mengerikan bagi seorang wanita.

Penderitaan telah menjadi bagian yang sangat akrab dalam kehidupan Firdaus sejak kecil. Orangtuanya telah tiada. Dia pun bahkan tak dapat mengingat bapaknya. Dari kecil Firdaus bekerja keras membantu sang ibu. Firdaus kecil yang lugu sering mendapat siksaan dari sang ibu manakala tidak melakukan pekerjaannya dengan baik.

Sejak kecil  bahkan Firdaus telah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan teman sepermainannya, Muhammadain. Bahkan keperawanannya pun telah direnggut oleh pamannya sendiri di usia dini tanpa Firdaus mengerti apa yang terjadi pada dirinya.

Selepas kepergian sang ibu, Firdaus menjadi asuhan dari pamannya. Sang paman membawanya ke Kairo untuk kemudian disekolahkan sampai tahap Sekolah Menengah. Selulusnya Firdaus dari sekolah menengah, sang paman memutuskan untuk menikahkan Firdaus dengan seorang yang sudah tua namun kaya raya, bernama Syekh Mahmoud.

Firdaus mengalami mimpi terburuk yang dapat seorang wanita bayangkan: menikah tanpa cinta dengan seseorang yang telah berumur lebih dari 60 tahun, sedangkan dirinya sendiri belum lagi genap 19. Syekh Mahmoud berperangai kasar, ringan tangan, rakus akan harta dan makanan dan luar biasa kikir. Belum lagi cacat yang dimilikinya membuat Firdaus sangat enggan untuk disentuh. Firdaus disiksa secara fisik dan mental. Hal tersebut memuncak sehingga Firdaus pun memutuskan untuk kabur.

Terlunta-lunta di jalanan Kairo, Firdaus ditemukan seorang pria bernama Bayoumi yang kemudian memberinya tempat bernaung dan makanan. Namun, seiring waktu, Firdaus pun mendapat perlakuan serupa: penyiksaan dan pelecehan seksual. Hal tersebut membuat Firdaus kembali pergi untuk mendapatkan nasib yang lebih baik.

Perjalanan Firdaus pun berlanjut ketika bertemu Sharifa, wanita yang pertama kali mengomersialkan jual beli atas tubuh Firdaus. Dia sudah mati rasa. Firdaus sudah kehilangan kendali atas diri sendiri, bahkan semenjak masih kecil.

Dari sana cerita terus bergulir. Terdapat saat-saat di mana harga diri Firdaus terusik dan memutuskan untuk berhenti melacur karena ingin mendapat penghargaan yang lebih sebagai seorang wanita. Terdapat juga saat-saat di mana Firdaus jatuh cinta. Tetapi apakah Firdaus dapat merasakan kehidupan yang normal lagi bagi seorang wanita? Seorang wanita yang terlanjur terseret dalam kehidupan teramat kelam?

Buku ini kental dengan aura kebebasan dan keberanian yang bisa membuat pembaca terkejut. Berikut adalah hal-hal yang secara implisit dan eksplisit diungkapkan Sadawi lewat Firdaus.

Betapapun suksesnya seorang pelacur, betapa banyaknya lelaki yang menjadi teman kencannya, mereka semua memiliki satu persamaan. Semua lelaki itu hanya mengobarkan hasrat kebencian Firdaus kepada mereka. Tetapi sebagai wanita yang selalu dipandang rendah oleh kaum pria Mesir, Firdaus dapat menyembunyikan ketakutan itu dalam setiap sapuan kuas solekannya.

Firdaus melihat bahwa semua pemimpin adalah laki-laki. Lelaki yang ketika meneriakkan patriotrisme adalah bukan karena Allah, melainkan karena kerakusan dan nafsu. Nafsu akan seks, uang dan kekuasaan yang mendominasi. Lelaki yang menebarkan korupsi, merampas uang rakyat dan bermulut besar. Lelaki dengan kedok revolusionernya, yang nyatanya tidak berbeda dengan lelaki kebanyakan. Layaknya seks bagi perempuan, revolusi adalah sesuatu yang dapat diperjualbelikan, ketika prinsip-prinsip mereka dapat ditukar dengan sesuatu yang dapat dibeli dengan uang.

Firdaus merasakan ketidakadilan yang dialami dirinya karena dia terlahir sebagai perempuan. Perempuan adalah korban lelaki. Perempuan ditipu, dijerumuskan sampai tingkat terbawah dan dihukum karena mencapai titik terbawah tersebut. Perempuan dijerat dalam pernikahan, lalu dipekerjakan seumur hidup, didera dengan penghinaan atau pukulan.

Kebenciannya pada lelaki melahirkan pernyataan bahwa semua lelaki adalah penjahat. Para bapak, paman, suami, germo, pengacara, dokter, wartawan, dan lelaki dari semua profesi. Terkait profesinya, Firdaus mengatakan bahwa pelacur diciptakan oleh kaum lelaki yang menguasai dunianya. Lelaki telah memaksa perempuan untuk menjual tubuhnya dengan harga tertentu, dengan harga paling murah adalah tubuh seorang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Firdaus mengatakan, dia adalah seorang yang cerdas. Sehingga dia lebih memilih untuk menjadi pelacur yang bebas dibandingkan dengan istri yang  diperbudak.

Saya sangat menyukai buku ini karena gaya bahasanya yang lugas dan tajam. Begitu juga penuturan penulis yang secara gamblang menyampaikan realitas. Saya menangkap kesan elemen feminisme sangat kuat yang disampaikan penulis. Ketika Saadawi menggambarkan kehidupan yang begitu kelam milik seorang wanita, secara paradoks hal tersebut menggambarkan kebobrokan moral kaum pria di Mesir.

Lewat Firdaus, Saadawi menunjukkan bentuk protesnya secara lantang akan penindasan yang dirasakan kaum wanita di Mesir. Hal tersebut dinyatakan dengan sikap Firdaus yang merasa bahwa menjadi pelacur adalah lebih baik ketimbang menjadi istri yang tertindas. Sindiran tersebut juga jelas terlihat dari kerinduan Firdaus pada tali gantungan yang akan mengakhiri hidupnya—yang menurutnya adalah jalan menuju kebebasan sejati.

Berikut adalah kutipan-kutipan paling saya sukai dalam buku ini.

Kau harus lebih keras dari hidup itu, Firdaus. Hidup itu amat keras. Yang hanya hidup ialah orang-orang yang lebih keras dari hidup itu sendiri”. Kalimat ini kental dengan warna feminisme, di mana pada kalimat tersebut ditanamkan pesan untuk terus menjadi seseorang yang kuat dalam menghadapi hidup ini. Terutama karena Firdaus seorang perempuan.

“Berapa tahunkah dari tahun yang telah lalu dari kehidupan saya sebelum tubuh dan diri saya sendiri benar-benar menjadi milik saya, untuk memperlakukannya sebagaimana yang saya inginkan?” Kalimat ini mengandung makna kesedihan yang begitu dalam, karena sedari kecil Firdaus telah kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri sehingga harus hidup tetapi jiwanya mati.

“Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak”. Ini adalah kalimat paling terkenal dan menimbulkan kontroversi. Menurut Firdaus, setiap wanita adalah pelacur dalam bentuknya sendiri. Bahwa istri adalah harga termurah yang dapat lelaki bayarkan atas tubuh seorang wanita. Ketidakadilan yang dirasakan Firdaus dan wanita-wanita Mesir lain membuatnya dengan sinis mengambil jalan tersebut.


Last modified on: 12 Juli 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni