(0 votes)
(0 votes)
Read 6521 times | Diposting pada

Novel Negeri Lima Menara: Merayakan Pengembaraan Intelektual dan Spiritual

 

Judul: Negeri Lima Menara

Penulis: Ahmad Fuadi

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (2009)

Tebal:  416 halaman


Sekali waktu, orientalis Bernard Lewis menohok kesadaran saya lewat bukunya What Went Wrong (2002). Lewis mengurai ‘teori’nya mengenai apa yang salah dengan umat Islam sehingga menjadikannya mundur dan tertinggal dari Barat. Walaupun pemikiran Bernard Lewis dihantam habis oleh kritik, ada beberapa bagian yang baik dijadikan cermin. Untuk meringkas, Bernard Lewis menyebut bahwa masyakarat Islam (yang ia maksud adalah Islam di Timur Tengah dan juga Ottoman di Turki) menjadi terbelakang antara lain karena semakin lama menjadi semakin inward-looking.

Setelah gilang-gemilangnya masa keemasan Islam yang ditopang oleh sains dan peradaban yang terbuka, menjelang abad ke 18 masyarakat Islam semakin mundur dan tertutup. Sains dan filsafat, misalnya, menjadi tertinggal, seolah menihilkan kontribusi pemikir-pemikir besar terdahulu seperti Ibnu Rusyd, Al-Jabbar, Ibnu Sina, dan masih banyak yang lainnya.

Para pemikir besar Muslim terdahulu itu berinteraksi dengan sains dan pemikiran di luar teritori Islam (terutama dari tradisi Yunani), berdialektika dan menghasilkan kebijaksanaan baru. Ketertutupan dan ketertinggalan itu terlihat dalam satu fakta yang disodorkan oleh Bernard Lewis bahwa  menjelang abad ke 18 “only one medical book was translated into a Middle Eastern language”. Hanya satu buku kedokteran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Timur Tengah. Tidak ada lagi masa interaksi para pemikir Islam dengan pemikir di luar Islam.

Novel Negeri Lima Menara ini sepertinya menyiratkan kegelisahaan penulisnya atas kenyataan-kenyataan mengenai Islam yang menjadi inward looking. Ahmad Fuadi, penulis novel ini, dengan cara yang halus menghujamkan pesan kepada para pembacanya (baik pembaca Muslim atau bukan) bahwa Islam adalah agama yang juga outward looking dan  forward-looking sekaligus. Melalui kisah persahabatan enam orang murid di Pondok Madani di Pasuruan, Ahmad Fuadi perlahan mengurai dan memberi jawaban atas kegelisahaannya itu. Novel ini menjadi menarik terutama karena ia terinspirasi kisah pengalaman nyata dari sang penulis ketika menuntut ilmu di Pesantren Gontor bertahun-tahun lalu, hingga menuntut ilmu dan bekerja di Washington D.C.

Sejak halaman awal, kegelisahan sang penulis novel ini mengenai  persoalan pelik yang dihadapi masyarakat Islam itu tampak jelas. Menurut saya, maksud dan pesan terkuat novel ini ada di halaman 0 (sebelum halaman 1, setelah halaman persembahan dari penulisnya). Pesan itu adalah kata mutiara dari Imam Syafii yang  mulai ditanamkan pada siswa tahun keempat di pondok Gontor:

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negeri mu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran…"

Ahmad Fuadi seolah ingin sekali lagi menegaskan bahwa ajakan menuntut ilmu dan pergi  jauh merantau untuk melihat peradaban lain ini adalah ajaran inheren dalam Islam, melanjutkan ajaran Nabi kepada pengikutnya untuk menuntut ilmu hingga ke negeri yang paling jauh dan maju (dalam konteks masanya, negeri Cina lah yang dituju).

Bukan kebetulan tentunya apabila novel ini bahkan dimulai dengan kisah interaksi chatting via internet antara Alif, tokoh utama novel ini, di Washington D.C dengan temannya yang ber ID “batutah”.

Ibn Batutah dikenal sebagai pengelana Muslim terbesar jaman dahulu. Ahmad Fuadi merasa perlu menerangkan mengenai hal ini dalam beberapa paragraf. Ia antara lain menyebut buku Tuhfah Al-Nuzzar fi Ghara’ib Al Amsar wa Ajaib Al-Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-Kota Asing dan Perjalanan Yang Mengagumkan) karya Ibn Jauzi yang berkisah tentang perjalanan pengembaraan Ibn Batutah berkeliling dunia selama 30 tahun (hal. 339-340). Ibn Batutah bahkan diyakini berkelana lebih jauh dari pengelana besar Barat Marco Polo.

Chatting yang menjadi intro novel ini seolah menjadi simbol pengembaraan intelektual dan spiritual keenam sahabat yang setelah lulus dari pondok tersebut tersebar ke berbagai tempat: Alif di Washington D.C dan sahabatnya Atang yang ber-ID ‘batutah’ itu sedang menuntut ilmu di Kairo. Bertahun-tahun mereka berpisah, terhubung kembali melalui internet, dan berjanji untuk bertemu dalam sebuah konferensi yang mereka berdua akan hadiri sebagai pembicara di London. Di London juga mereka bertemu lagi dengan sahabat lain, Raja, yang sedang tinggal sementara di sana.

Kisah Ibn Batutah pula yang menjadi tema drama yang dipentaskan keenam sahabat ini (bersama teman-teman sekelasnya) sebagai siswa kelas 6, kelas tertinggi di pondok tempat mereka belajar. Mereka semua, tampaknya, adalah jiwa-jiwa yang haus akan pengetahuan dan keinginan untuk melihat negeri lain. Melalui tokoh enam sahabat ini, Ahmad Fuadi mengajak pembacanya untuk menjadi jiwa-jiwa yang membuka diri terhadap ‘yang lain’.

Semasa di pondok, di antara waktu menunggu shalat berjamaah tiba, keenam sahabat ini  hampir setiap hari membangun mimpi-mimpi mereka bersama di bawah menara masjid. Mendongak ke langit memperhatikan awan-awan, lalu sibuk bertengkar mengenai beragam bentuknya.

Dalam awan, Alif melihat bentuk benua Amerika. Rekannya Raja bersikukuh bahwa awan yang mereka lihat berbentuk benua Eropa, Atang melihatnya sebagai Afrika. Dua sahabat lain, Said dan Dulmajid melihatnya sebagai peta Indonesia. Sementara sahabatnya yang lain, Baso, melihat Asia di langit sana.

Lantas, mereka ‘bermimpi’ untuk sampai ke tempat-tempat itu. Dan keenam sahabat ini, diakhir cerita, sampai ke tempat-tempat yang mereka pertengkarkan dan impikan semasa mondok. Dengan cara yang santun dan tidak berkesan menggurui (tidak seperti banyak orang yang gemar berkhotbah dan memberi nasihat-nasihat), Fuadi menyampaikan pesan untuk tidak pernah meremehkan mimpi dan pentingnya bekerja keras untuk mewujudkan impian karena, seperti pepatah Arab yang seolah menjadi inti buku ini, “man jadda wajada – siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil”.

Pesan ini sesungguhnya universal, berlaku bagi Muslim dan non-Muslim. Dalam novelnya The Alchemist yang  inspiratif itu, Paulo Cuelho juga menyampaikan pesan yang kurang lebih senada: “if you believe in something, the whole universe will conspire in your favor”. Bila Anda bersungguh-sungguh atas sesuatu, semesta alam akan membantu Anda.

Kutipan kata mutiara dari Imam Syafii di lembaran awal halaman novel ini sedikit banyak menjawab pertanyaan yang saya pendam sejak lama. Pertanyaan itu adalah mengenai dari mana ajaran utama orang Minang (Fuadi, penulis novel ini berasal dari tanah Minangkabau) untuk pergi merantau. Mungkin orang-orang tua Minang dulu menanamkan ajaran ini lekat-lekat, turun temurun. Dalam ajaran Minang, merantau (saya memahaminya serupa dengan kata ‘pilgrimage’), dipercaya akan memperkaya wahana spiritual dan intelektual seseorang.

Novel ini toh tidak lupa menyisipkan pesan bahwa merantau atau pilgrimage tidak melulu fisik sifatnya. Pondok Madani tempat Alif dan kelima sahabatnya belajar adalah surga yang mendorong murid-muridnya rajin membaca buku dari dalam dan luar negeri untuk membuka cakrawala maha luas.

Tentang hal itu, kisah founding fathers negeri kita baik untuk ditengok. Dulu, Bung Hatta dan Sjahrir pergi jauh belajar dan merantau ke Negeri Belanda. Di sana mereka  melihat dan berkontemplasi atas kebebasan dan kemajuan di tanah Belanda, sementara negeri sendiri tertindas dan terhisap. Dalam intellectual pilgrimage ini, mereka berdua bertemu dengan Nehru, juga dari negeri tertindas India. Menguatlah identitas diri mereka, membuncah semangat merdeka.

Sementara di Bandung, pemuda Soekarno sama sekali tidak pergi menyeberang samudera. Kegilaannya membaca buku membawanya juga pada intellectual pilgrimage. Pikirannya juga mengembara dan berkelana, berujung pula pada semangat ingin merdeka.

Mereka yang tidak menyimpan keinginan mengembara, fisik ataupun non-fisik, akan menjadi katak dalam tempurung, menyimpan rasa nyaman yang semu dalam keterbatasan pandangannya. Seperti dituturkan penulis Oscar Wilde: "Anyone who lives within their means suffers from a lack of imagination".

Penutup

Ahmad Fuadi, penulis novel ini adalah seorang teman lama saat kuliah di Bandung dulu. Sekitar akhir bulan April atau awal bulan Mei lalu, ia mengirim buzz di chat box Facebook. Pesannya singkat: “Bung, berkenan membaca draft novel yang baru selesai saya tulis?” Dikirimlah draft itu via email. Tidak perlu berlama-lama membaca draft-nya, sebagaimana banyak orang lain yang saat ini telah membeli dan membacanya, segera bisa terasa bahwa bakal novel-nya ini akan diterima banyak orang.

Dua minggu lalu, novel itu sampai ke tangan saya di Amerika ini, dikirim oleh Ahmad Fuadi melalui seorang teman yang datang. Jelas lebih menyenangkan membacanya dalam format buku bersampul sangat menarik, daripada draft-nya dalam software wordprocessor dulu.  Saya, sebagaimana mereka yang telah membaca novel ini, menantikan lanjutan kisah novel indah ini yang direncanakan akan menjadi sebuah novel trilogi. Bagi Anda yang belum membacanya, novel ini teramat sayang untuk dilewatkan.

Last modified on: 11 Juli 2012

    Baca Juga

  • Pulau Komodo: Jurrasic Park-nya Indonesia


    “Ada orang yang menyebut tempat ini Jurassic Parknya Indonesia”, jelas guide kami ketika memimpin trekking di savana Pulau Komodo. Apa yang ada di pikiran Anda begitu mendengar Pulau Komodo?

     

  • Nirwana Biru di Timur Kalimantan


    Dengan kecepatan penuh, speedboat yang kami tumpangi membelah Sungai Segah menuju laut di timur Kalimantan. Pemandangan berganti-ganti dari perkampungan penduduk, gerombolan nipah, SPBU terapung, dermaga batu bara sampai hutan lebat.

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni