(5 votes)
(5 votes)
Read 5257 times | Diposting pada

Kartini Nggak Sampai Eropa: Perempuan, Eksistensi, dan Pertanyaan Yang Terbungkam

 

Di sebuah gerai buku diskon, saya menemukan tumpukan buku yang seperti tak terjamah oleh kutu buku yang kehausan. Buku ini bersampul hitam dengan gambar tangan bergaya khas Kartini. Tak ada visual kepala, hanya tangan itu yang bersidekap dan memegang lipstik tak bertutup. Sebuah sampul buku yang mengintimidasi, apalagi judul bukunya. Buku ini diterbitkan oleh salah satu penerbit yang notabene hanya menerbitkan buku roman dan metropop. Pada awalnya, saya mengira bahwa buku ini hanyalah satu dari sekian banyak kisah roman metropolitan yang mendustai realitas sosial. Mobil mentereng dan pesta-pesta mewah yang terasa kontras di kota besar. Namun, saya baru sadar kalau buku ini ternyata lain, meski bumbu-bumbu keliaran kota besar tetap ada di sana.

Buku yang mengintimidasi ini berjudul Kartini Nggak Sampai Eropa. Terbitan tahun 2008, dan baru saya temukan lima tahun kemudian di gerai diskon buku. Mungkin memang saya saja yang tidak terlalu sering mengikuti perkembangan rilis buku, maka dari itu saya terlambat menemukannya. Namun tak ada kata terlambat, bukan?

Saya nyaris tak pernah membaca bagian belakang buku karena takut spoiler, sehingga hanya dengan insting, saya mengambil buku itu. Ekspektasi tentang kehidupan metropop yang mungkin digambarkan dalam buku, seperti buku-buku lain dalam buku itu rupanya keliru. Pertama melihat, pengantar buku menuliskan rasa terima kasih penulis, digambarkan dalam bentuk pesan surel. Dan penulisnya, saya tercengang. Sutradara film budget kecil tapi menggebrak berjudul Cin(T)a, ternyata adalah penulis bukunya. Sammaria yang berdarah Batak dan mencoba menggambarkan kehidupan dua orang yang antitesa tapi bersahabat, bernama Anti dan Tesa.

Dua tokoh ini digambarkan sebagai dua orang yang berbeda kepercayaan —atau dalam hal ini sebut saja agama. Mereka juga berasal dari dua suku yang berbeda, Anti berdarah Sunda dan Tesa yang berdarah Batak. Secara sifat, mereka hampir sama. Karena besar sebagai dewasa tanggung dalam lingkungan Eropa yang cukup bebas, mereka pun akhirnya bisa berpikir dan berkehendak bebas. Dan inilah yang dijabarkan secara luas dalam buku.

Pemikiran-pemikiran Anti dan Tesa yang digambarkan secara gamblang, mendobrak tabu, sama sekali with no sugar coating. Mulai dari awal Anti mengirimi Tesa surel dan berbalas hingga akhir cerita. Mereka adalah perempuan-perempuan Indonesia yang bergelut di Eropa, membereskan sekolah beasiswa mereka sambil terus membicarakan Indonesia, juga apa saja yang terjadi dalam kehidupan sosial teman-teman sebaya mereka di Indonesia.

Membaca cerita Sammaria yang membagi sifatnya sendiri dalam alter ego sebagai tokoh fiksi Anti dan Tesa, saya sangat menikmatinya. Seperti sedang berdialog dalam ruang besar penuh dengan perempuan yang bercerita tentang diri mereka dari berbagai sudut pandang. Mulai bagaimana mereka mempertanyakan keperawanan sebagai mitos, meski memang hal itu masih mereka jaga mulai memasuki Eropa.

Mereka menganggap bahwa, meskipun mitos tapi keperawanan perempuan memang harus dijaga. Ini bukan semata-mata untuk menjaga kehormatan melainkan untuk menilai seberapa tinggi prinsip mereka dalam menjalani kehidupan sebagai perempuan. Dan tak pelak lagi, hal-hal terkait isu di negara mereka sendiri pada tahun yang sama dengan penerbitan buku ini juga tentu saja tersebut berulang-ulang di dalam buku, seolah-olah Sammaria sedang merekam jejak kontemplasi pikirannya dalam dialog surat elektronik antara Anti dan Tesa.

Saya jadi ingat buku Raden Ajeng Kartini, yang berbentuk bundel surat antara dirinya dengan sahabatnya di Eropa sana sehingga menghasilkan Habis Gelap Terbitlah Terang, kira-kira seperti inilah konsep buku Sammaria yang menceritakan kisah Kartini di abad dua puluh satu.

Begitu banyak pertanyaan yang sama dalam benak perempuan, yang tak sempat terkatakan. Namun, setelah membaca buku ini, pertanyaan itu seolah terbebaskan melalui pemikiran Sammaria Simanjuntak. Bisa saja, perempuan di luar sana akan berterima kasih ketika membaca keseluruhan buku ini. Seperti ketika bagaimana Sammaria membuat tokoh Anti dan Tesa mempertanyakan Tuhan.

“Gue suka gaya lo nyebut Tuhan dengan She. Kenapa harus selalu He? Padahal Tuhan kan nggak punya gender.”

Dari dialog Anti dengan Tesa dalam surel, saya setuju dengan pernyataan ini. Sebab perempuan bukan ingin mempertanyakan Tuhan, melainkan mempertanyakan eksistensi Tuhan, seolah-olah Tuhan hanya selalu membela kaum lelaki, bukannya perempuan. Padahal, Tuhan sendiri kan tak bisa ditimbang-timbang, apa gender-nya, sehingga sangat permukaan sekali kalau Tuhan selalu dimenangkan kaum lelaki dengan sebutan He.

Hal seperti ini memang tabu, tapi jadi sangat jelas dan gamblang disebutkan oleh Sammaria dalam buku. Dan dengan gaya bahasanya yang ringan, semua orang bisa mencerna dengan jelas maksud yang ingin Sammaria sampaikan, bahwa, “semangat Kartini belum mati”.

***

Di tengah-tengah isu tes keperawanan sebagai salah satu syarat masuk SMA yang tengah mencuat ini, rasanya saya ingin meminta semua orang membaca buku ini, khususnya semua perempuan. Ingin rasanya meyakinkan bahwa keperawanan hanyalah mitos yang diciptakan oleh kaum patriarki. Ingin rasanya menghantamkan buku itu pada halaman yang tepat, agar dipahami bahwa tubuh perempuan tak memiliki otoritas mutlak terhadap kaum laki-laki.

Pemahaman yang selama ini dipahami dan ditanamkan pada kaum perempuan membuat perempuan ketakutan setengah mati hanya karena perihal keperawanan. Padahal, keperawanan sendiri bisa hilang bukan semata-mata karena hubungan intim, namun karena kecelakaan dan faktor lainnya. Dan keperawanan bukan semata-mata dinilai dari selaput dara, sebab banyak juga perempuan yang terlahir tanpa selaput dara, karena kelainan saat kehamilan ibunya. Hal ini sebenarnya patut diketahui, dari fakta-fakta yang ada, bukan hanya dari mitos atau dogma yang dibangun agar tubuh perempuan semata-mata menjadi otoritas laki-laki.

Seperti halnya pada buku Sammaria kali ini. Saya juga berpendapat sama dengan Sammaria. Meski dalam buku ini tokoh Anti dan Tesa digambarkan sebagai orang yang masih setia menjaga keperawanannya, namun ini semata-mata bukan karena mereka mempercayai mitos kaum patriarki yang sudah ratusan tahun dianut. Mereka menjaga keperawanan semata-mata karena mereka memiliki otoritas atas tubuh mereka sendiri. Kalau toh mereka tak berprinsip, maka bisa saja mereka melepas keperawanan mereka untuk lelaki mana saja di Eropa. Tapi ternyata tidak. Maka keperawanan ini soal prinsip dan otoritas yang ada. Anti dan Tesa, dua tokoh yang tak tabu untuk bertanya ini memiliki tubuh mereka untuk diri mereka sendiri, sehingga mereka tak takut untuk mempertanyakan kepentingan keperawanan sambil tetap menjaganya dengan alasan mereka sendiri. Namun, sejatinya mereka tak membiarkan tubuh mereka dimiliki siapapun, dan itulah yang dimaksud memiliki otoritas terhadap tubuh sendiri.

Kembali pada Sammaria dan bukunya. Saya rasa strategi Sammaria untuk menyebarkan buku ini sudah sangat jitu. Melalui penerbit yang banyak menerbitkan roman dan metropop, Sammaria sudah jelas memiliki pasarnya tersendiri. Dia akan menyasar kaum perempuan yang hidup dengan roman-roman metropolitan. Digambarkan dengan semangat Kartini namun tetap memperhatikan isu-isu perempuan masa kini. Ini cara yang baik menyebarkan semangat emansipasi, tentunya dalam koridor yang masih terukur. Tak lucu rasanya, kalau menggambarkan semangat Kartini untuk menyasar kaum urban dengan lakon-lakon pada masa Kartini atau zaman penjajahan. Terlalu historikal dan tak tepat sasaran.

Meski terkesan filosofis atau penuh pertanyaan njelimet yang membuat orang kebanyakan berkata, “Ah nggak penting ngurusin terorisme atau korupsi!” dialog mengalir yang dituliskan dalam bentuk balasan surat elektronik ini menjadi salah satu kelebihan. Tentunya pembaca akan dibawa berjelajah dalam kehidupan Anti dan Tesa yang terpisah benua, namun masih tetap peduli untuk mempertanyakan dari mana mereka berasal, dan apa yang kelak akan mereka lakukan dengan Indonesia, negara asal mereka. Ini akan membuka pikiran, mulai untuk memikirkan hal kecil yang tak bisa begitu saja dianggap remeh. Dan dari sana, Anti juga Tesa memiliki mimpi besar yang harus diwujudkan.

Yang saya sesalkan pada akhirnya adalah, dua orang antitesa ini pada akhirnya terpaksa memutus mimpi-mimpi mereka juga. Karena bagaimanapun, perempuan hidup dalam kodrat yang sepertinya sudah tak terbantahkan lagi, menjadi Ibu. Meski tokoh Tesa dibuat menghilang secara tragis —dalam hal ini Sammaria membuka isu bom Bali 2008— namun semangat Kartini yang dimiliki Anti masih berkobar-kobar.

Namun, lama kelamaan hal itu meredup seiring kodrat Anti. Dan kalau saya boleh memohon pada Sammaria, buatlah mimpi-mimpi Anti dan Tesa tetap hidup, dalam sekuel buku ini atau mungkin dalam buku lainnya yang bertema sama. Saya masih membutuhkan asupan semangat untuk tetap bermimpi, tetap berkehendak bebas sebagai perempuan. Sebab, sudah sejak lahir di bumi, perempuan dan laki-laki harus mendapatkan porsi yang sama dalam kehidupan, dalam bermimpi.

Tapi apalah yang bisa saya lakukan. Buku tetaplah buku. Semangat mungkin bisa dilecut, namun realisasi yang nyata lebih diperlukan untuk saat ini. Membagi semangat Kartini untuk bermimpi dan melawan, buku ini layak dibaca dan diperjuangkan.

Last modified on: 4 November 2013

    Baca Juga

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Non-Spesifik dalam Paviliun Puisi


    Setelah menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya, Kota ini Kembang Api, di tahun 2016, tahun ini Anya Rompas kembali meramaikan jagad puisi Indonesia dengan buku keduanya yang berjudul Non-Spesifik. Buku ini…

     

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

  • Siska Nirmala Luncurkan Debut Buku 'Zero Waste Adventure'


    Siska Nirmala baru-baru ini telah meluncurkan buku pertamanya, Zero Waste Adventure. Buku ini bercerita mengenai ekspedisi nol sampah ke lima gunung di Indonesia. Ide akan ekspedisi ini terlahir dari kegelisahannya…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni