(0 votes)
(0 votes)
Read 2580 times | Diposting pada

Jejak Manusia Homo Jakartensis dalam Kolom

 

Judul: Kentut Kosmpolitan

Penulis:Seno Gumira Ajidarma

Editor:Damhuri Muhammad

Isi: x + 296 hlm.

Penerbit: Koekoesan,2008


Jakarta sebagai kota metropolitan memang menarik dan tiada habis-habisnya sebagai ide atawa sumber cerita. Tapi buku ini bukan cerita tentang Jakarta, melainkan kumpulan tulisan kolom (esei) yang “enak dibaca dan perlu”-meminjam slogan majalah Tempo-yang menurut penulisnya, sastrawan dan budayawan Seno Gumira Ajidarma (SGA) sebagai “sudut pandang untuk bersikap kritis terhadap dunia di sekitarnya”.

Dalam pengantarnya SGA menyebut kumpulan kolom sebanyak 65 tulisan ini sebagai bukan seni penulisan yang ditawarkan melainkan hangatnya obrolan bernuansa argumentatif dalam format kurang lebih sebanyak 700 kata. Kendati bukan “seni penulisan” layaknya tulisan artikel kebudayaan yang ditulis oleh seorang budayawan, dalam buku ini pembaca banyak mengambil manfaat pandangan kritis tentang keseharian penduduk Jakarta dengan berbagai ragam aktivitasnya. Bentuk tulisannya kadang menyindir tapi tetap lugas sehingga kita dapat lebih mawas diri menghadapi segala macam ihwal persoalan yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan.

Buku ini dibuka dengan kolom berjudul “Peradaban atau Kebudayaan?”. Kolom ini menyoal persoalan identitas kita sebagai warga Jakarta. Menurutnya pendapat kita akan memperlihatkan politik gaya hidup, lengkap dengan segenap ideologi dan kepentingannya. Sebutlah kita menganggap “pergi ke kafe” adalah peradaban itu berarti kita melihat dikotomi peradaban dan kebudayaan secara hirarkis-yang di satu pihak kata “beradab” bernilai tinggi, tetapi kata “berbudaya” nilainya lebih tinggi. Ibarat orang berdansa atau main musik, maka yang di bawah ini “kebudayaan-nya adalah setingkat “dansa asal loncat” dan “nyanyi asal teriak” –yang tentu saja tidak perlu kursus atau sekolah untuk memainkannya - tetapi yang dengan begini akan “digunakan” oleh banyak sekali orang karena memang gampang, murah sekaligus menyenangkan.

Yang paling penting, situasi begini segera dimanfaatkan oleh para pedagang. Itulah saat seni massa disebut seni populer (dari popular=rakyat), dengan “nama bagus seni” dan kebudayaan pop, demikian tulis SGA. Di sini SGA menyindir bahwa masyarakat sebenarnya tengah diperdaya pedagang hanya untuk mengatakan sesuatu dibilang berkebudayaan lebih tinggi. Ia menganggap bahwa telah terjadi gejala dekadensi yang ditegaskan sehingga makna yang indah tak indah, hanya kan mengukuhkan saja “nilai universal” yang sesungguhnya sudah gugur itu.

Uniknya, di halaman 8 kolom berjudul “Kartu Nama” SGA mengangkat budaya orang kota yang menggunakan kartu nama sebagai identitas. Hal demikian menurutnya nyaris sama dengan yang terjadi di Jepang yaitu sangat mementingkan kartu nama sebagai identitas. Tapi yang terjadi di Jakarta, kartu nama tak hanya berlaku sebagai identitas melainkan lebih pada sesuatu hal dari imej yang berarti “beri saya proyek”. Menurutnya, ihwal kepemilikan kartu nama penduduk Jakarta tak penting. Orang akan menghubungi dirinya dengan kartu itu karena yang penting selain “beri saya proyek”, orang akan menganggap pemilik nama di kartu tersebut adalah hebat. Kalaulah dalam prakteknya belum bisa hebat, kartu namanya dululah yang harus hebat, tulis SGA.

“Homo Jakartensis”-demikian SGA menyebut warga Jakarta-sebagai kelakuan yang lucu sehingga patut dikritisi. Lucunya, di sisi lain ada “Homo Jakartensis” lainnya yang menyebut dirinya sebagai “penganggur” dalam kartu namanya! (hlm.12). “Kalau toh betul hebat, nenek di kampung bilang janganlah kehebatan dipamer-pamerkan apalagi kalau belum hebat. Tapi ketika membuat kartu nama siapa yang ingat petuah nenek?” tulis SGA. Sebuah fenomena yang lucu memang. Tapi itu benar terjadi sehingga kita selain tersenyum membaca kolom ini juga kritis bahwa banyak terjadi ketimpangan dalam masyarakat penduduk kota Jakarta.

Dalam kolom “Kentut Kosmpolitan” (hlm.35) yang dicuplik oleh editornya sebagai judul buku ini, SGA mengetengahkan perihal kentut yang demi kesopanan nyatanya menjadi sesuatu-bahkan problem yang dilematis: karena ditahan-tahan demi menjaga kesopanan nyatanya dapat mengganggu kesehatan. Perihal kentut di sini, menurut SGA, seharusnya konsensus  kentut dapat diubah karena jika tidak kehidupan akan masih penuh dengan kebohongan lantaran dalam pergaulan orang-orang sopan kentut diberlangsungkan diam-diam. Kentut sebagai andalan bisa berarti tersahihkannya yang tersembunyi sebagai sesuatu yang resmi. Yang tersembunyi atau disembunyikan sebaiknya tidak ditutup-tutupi, jika ternyata ia bisa sangat berguna. Nah!

Membaca kolom-kolom SGA dalam buku ini (semula tulisan yang tersebar di media cetak antara lain majalah Djakarta!) sering membuat kita tersenyum karena ia banyak mengangkat keseharian warga Jakarta yang mungkin sering dianggap sepele namun sebenarnya patut dikritisi juga sebagai fenomena yang menarik.

Pendek kata, meskipun ini kolom kebudayaan (esei), tak membuat kita berkerut kening. Karena SGA banyak mengangkat hal-hal kehidupan nyata di sekitar kita sehingga dalam membacanya, selain terhibur pembaca dapat menangkap pelbagai pemikiran yang tak terduga dan menariknya mungkin tak terpikir oleh sebagian besar kita sebagai “Homo Jakartensis”.

SGA memang tidak menawarkan semacam “solusi” atas terjadinya pelbagai masalah yang dialami warga kota Jakarta. Ia lebih tepat disebut sebagai menawarkan sudut pandang yang lain, sudut pandang yang baru, sehingga kita dapat menjadi lebih kritis mengamatinya.

Tak penting jika buku ini tak menawarkan solusi. Akan lebih penting jika kita setidaknya mendapat “jawaban” dari pelbagai hal keseharian kita yang lucu atau bahkan terdengar sarkas sekalipun. Kalau perlu menertawakan diri kita sendiri. Ya, “jejak kota” dalam buku ini patut disimak sebagai sudut pandang yang positif bahkan mengundang senyum. Senyum yang tercipta karena kita seperti mengaca pada diri sendiri lantaran kita telah melakukan hal-hal yang sepertinya “keren” atau “berbudaya” nyatanya di mata SGA menjadi hal yang menggelikan.

Dalam kumpulan kolom ini, SGA berhasil menyajikan sesuatu yang apa adanya, tanpa kelihatan ingin mengarifkan diri.


Last modified on: 12 Juli 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni