(1 Vote)
(1 Vote)
Read 3946 times | Diposting pada
Resensi Buku: Setelah Boombox Usai Menyalak

Hidup Terlalu Berharga untuk Dihabiskan Mendengar Album Jelek

Hidup Terlalu Berharga untuk Dihabiskan Mendengar Album Jelek Sumber Ilustrasi: Ist

 

Buku kumpulan tulisan Herry Sutresna ini sepintas kelihatan kurang solid. Meski semua tentang musik, isinya campur aduk membahas banyak hal. Buku ini tidak seperti kopi espresso single origin dengan kepekatan tertentu. Ia lebih seperti cappucinno yang cukup ringan, tapi menawarkan keragaman rasa dengan kadar kepahitan dan kedalaman tertentu. 


Meski bisa dibuka dari bab mana saja, buku ini tetap menawarkan kesatuan yang unik. Apa itu? Yaitu usaha keras untuk terus mengaitkan musik dengan aktivisme sosial-politik. Dari sini kita bisa bertanya: sebenarnya tujuan utama bermusik itu apa? Bukankah banyak orang mengira tujuan utama bermusik ialah hiburan atau katarsis bagi pencipta dan pendengarnya? 

Herry tidak melulu menyampaikan kuliah singkat hip hop yang memang kerap langsung dihubungkan dengan dirinya, melainkan juga soal punk, hard core, thrash metal, grind core, sampai post rock. Dia  bilang: hip hop sudah barang tentu cinta pertama saya, namun punk rock memberi kontribusi utama dalam memasok kewarasan (hal. 80). Dia tidak cuma penuh semangat menceritakan Public Enemy, Run DMC, atau Beastie Boys yang populer, tapi juga hati-hati saat membahas Godflesh, Refused, dan Godspeed You! Black Emperor yang segmented. Dia memperhatikan ada apa dengan musik, dari sana membahas siapa yang berjasa menghasilkannya. 

Bagi Herry, musik sebagai hiburan sudah selesai. Ya, pertama sekali dia memang membahas musik yang menyenangkan dan menggerakkan dirinya, tapi harus punya nilai tambah dan menawarkan sesuatu. Mau ngapain kita setelah asyik menikmati musik? Herry dengan tegas mengungkapkan kesukaannya sebagai fandom, berupa essay personal yang memuja dan tak berjarak dengan yang disukainya, namun ekspresif, tak segan menghajar, dan terasa mendalam. Terasa betul keluasan dan penguasaannya atas subjek yang dia bahas, sampai membeberkan detil yang kerap terasa sulit diangkat sebagai bahan tulisan. 

Jadi musik harus punya muatan dan tugas yang lebih hebat dari sekadar hiburan, pelipur lara, maupun pembersih jiwa. Apa itu? Ia harus bisa memantik dan menggerakkan kesadaran sosial-politik, mulai dari kalangan dekat musisi dan produser, lantas kalau bisa secara besar-besaran, melampaui ruang dan waktu asalnya. Jika sudah seperti itu, baru musik terasa punya kekuatan dahsyat yang menggelorakan, baik sebagai penanda zaman atau ikut membantu meruntuhkan rezim.

Musik memang komoditas, benda mati yang diperjual-belikan, tapi ia berarti karena mesti punya isi. Dengan begitu musik bukan hanya cara untuk bersenang-senang, berusaha meraih popularitas dan kaya, menggandakan kapital, menggerakkan industri, tapi lebih condong sebagai pernyataan, mencanangkan idealisme, menyampaikan keyakinan, mengkritik kejumudan. Musik seperti itu tidak bakal kosong, tapi sejak awal diperhitungkan, penuh muatan. Tinggal bagaimana musisi dan barisan pendukungnya (produser, teknisi, label, dan lain-lain) mengemas agar bisa menghasilkan musik yang kuat. Belum tentu musik ideal bermuatan kritik jeblok penjualannya atau tidak sesuai selera pasar. Belum tentu juga musik kodian langsung meledak, membuat orang mengambil album dan membelinya, apa lagi menginspirasi dan menggerakkan pendengarnya. Bisa jadi album yang diciptakan buat bersenang-senang berbalut kedalaman menangkap dan mengungkapkan gelegak ekspresi, malah menjadi semangat generasi, mendobrak, dan tak ragu lagi dinilai sebagai adikarya.

Buku ini merupakan buah dari pengalaman Herry sebagai pendengar musik yang rakus dan serius, bahkan terlibat di dalamnya. Di dalamnya berisi opini, membahas band, resensi, obituari, sampai desainer cover album. Kita bisa membayangkan bagaimana musik menyertainya ketika terancam mati saat ikut demonstrasi di zaman reformasi, apa lagu atau album yang pantas direkomendasikan, bagaimana album menjadi penting dan sebuah genre bisa lahir. Lebih dari itu, ia menuturkan bagaimana musik bisa membentuk diri dan menentukan sikap dalam kehidupannya. Sikap dan tulisannya bernyali. Ketegasan sangat berguna saat menilai, misalnya terhadap suatu album. Penilaian harus independen. Katanya: Segila apa pun sebuah album diresensi bagus oleh media, tak akan mengubah fakta bahwa ia album yang buruk. Sebaliknya, siapapun yang tak menyukai album buruk tak lantas menggenggam nilai kebenaran estetik absolut yang  harus diikuti khalayak (hal. 91). Mungkin karena itu pula Herry sengaja menyingkirkan Rage Against the Machine menjadi tidak penting. Sayang juga ia terbilang jarang membahas skena musik Indonesia.

Terbit dengan semangat copyleft, patut disesalkan bahwa kualitas cetakan buku ini mengkhawatirkan. Ini terasa sekali dalam ilustrasi, padahal ia hadir di setiap bab dengan porsi cukup banyak. Selebihnya, buku ini penuh passion, penting untuk bertukar pikiran, membongkar wawasan, dan menjadi referensi. Sangat pantas direkomendasikan.

Last modified on: 21 Januari 2017

    Baca Juga

  • Bad Romance: Engcarnation 2018 di UI


    Sejak tahun 2015, English Carnival and Celebration atau Engcarnation sudah rutin menjadi acara tahunan dari IKMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Program Studi Inggris) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini…

     

  • Hip Hok


    As a child growing up in Indonesia, a globally connected country, I was fascinated by hip-hop culture. I was introduced to rap music through a Christian rapper named William “Duce”…

     

  • Terapi Urine Pasca 'Kehiduvan yang twewew ini'


    Seakan tak mau lepas dari swag hegemoni, suburnya isu SARA dan anomali sosial lainnya, EP Om Telolet Om menawarkan kesemuanya tadi dalam rangkaian aroma thrash metal ditambah single Buju Buneng…

     

  • Dolly yang Menghantui Dalam Videoklip Sang Pelanggan Silampukau


    Kami menemukan video klip ini horor. Satu shot menunjukkan kamera bergerak dari satu angle, dengan lembut menyorot foto pengantin di tengah kamar yang agak berantakan dan kosong sedari malam. Lelaki…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni