(0 votes)
(0 votes)
Read 4240 times | Diposting pada

Hare genee...ngomongin Garuda Pancasila?

 

Judul: Mencari Telur Garuda

Pengarang: Nanang R. Hidayat

Penerbit/Tempat/Tahun: Nalar, Jakarta, 2008

ISBN: 9792690166


 

Berapa jumlah bulu yang ada di leher, tiap sayap, ekor, dan kaki lambang negara kita itu? Kenapa Burung Garuda menatap ke arah kanan? Pertanyaan retoris yang meniru sebuah iklan ini menjadi godaan pertama bagi Nanang R. Hidayat untuk menulis buku Mencari Telur Garuda ini.

Nanang memulai perburuan burung Garuda untuk sebuah acara pameran fotografi di tahun 2003. Ketika itu ia berhasil mengumpulkan 26 spesies Garuda dalam waktu tiga hari. Lama kelamaan ia berhasil mengembangkan jumlah koleksi spesies jepretannya hingga 170 spesies burung Garuda, yang sebagian besar ia kumpulkan dari sekitar Bantul tempat tinggalnya. Juga dari Wates, Klaten, Kartosuro, Jepara, Magelang, Malang dan Menado. Berkembangnya koleksi foto burung Garuda itu memunculkan pertanyaan lain di benak Nanang. Pertanyaan yang membayangi kalimat iklan di atas. Membicarakan Pancasila di era pasca reformasi seolah ditabukan. Seolah Pancasila dan Burung Garuda yang menjadi simbolnya itu adalah warisan Orde Baru yang harus juga dibuang.

Kerisauan Nanang, yang alumni sekolah seni di Yogyakarta itu, merupakan dasar sederhana yang sangat mengena. Membicarakan simbol dan ideologi negara di saat kebebasan individu digadangkan dan negara begitu dimusuhi menjadi semacam perenungan yang aneh, namun menjadi sangat perlu. Simbol dan ideologi yang pada era Orde Baru menjadi alat negara untuk masuk hingga ke ruang pikir warga negaranya itu, kini diajukan oleh seorang seniman yang baginya kebebasan berekspresi merupakan alat maha penting untuk berkarya.

Buku ini bukan sebuah kajian kritis akademis yang berat. Ringan saja. Nanang menuliskan tujuan bukunya, ”tombo eling” bahwa kita punya simbol negara.

Sumber sejarah yang menjadi latar belakang lahirnya penciptaan lambang Burung Garuda yang kita kenal ini tidak terlalu banyak, Nanang mengeksplorasi kesadaran kita akan proses kelahiran lambang negara ini. Meski sangat standar kesannya, banyak hal yang bisa menjadi bahan renungan mengenai kesadaran kewarganegaraan.

Kita akan mudah mengamini bahwa Soekarno adalah pencetus pertama Pancasila. Namun adakah yang pernah mengetahui siapa saja yang menyumbang bagi lahirnya lambang negara ini? Sumber umum menyebut Muhamad Yamin sebagai pencetus ide lahirnya lambang negara ini. Namun penelusuran sederhana yang dilakukan penulis buku ini dengan mengandalkan tesis Turiman dan sumber internet (milis-milis) menemukan jumlah nama yang lebih beragam. Ada nama Sultan Hamid II, D. Ruhl Jr. (ahli semiotika berkebangsaan Perancis), Dullah, dan Basuki Resobowo. Bahkan nama-nama yang tidak terlibat secara langsung seperti Ki Hajar Dewantara, RM Ng. Purbacaraka, dan Moh. Natsir juga tidak kecil peranannya dalam membidani kelahiran lambang Burung Garuda yang kita kenal sekarang.

Uraian mengenai sejarah dalam sebuah buku memang bisa dibilang bersifat trivia. Namun, semangat yang ingin digagas adalah bahwa kita perlu mengakui kalau dalam urusan mengenai lambang negara ini kita telah melupakan peran begitu banyak tokoh di masa lalu. Penghapusan itu, seperti tidak tercantumnya sejarah kelahiran lambang negara ini di buku 30 tahun Indonesia Merdeka, menjadi pertanyaan penting bagi kesadaran sejarah. Nama-nama seperti Sultan Hamid II dan Basuki Reksobowo tenggelam. Apakah karena mereka pernah menjadi bagian pihak yang melawan negara maka pencantuman namanya akan menodai kesucian lambang negara itu? Pertanyaan itu menjadi penting untuk membangun semangat pengakuan bagi peranan tiap anak bangsa tanpa menutupi bahwa mereka pernah berseberangan dengan mereka yang berkuasa.

Bagian lain yang menarik dari buku ini adalah sisi visual. Bagian ini menjadi paling menarik karena Nanang sang penulis buku ini menggeluti dunia visual dan ia memberikan tafsiran yang menarik melalui perburuannya terhadap burung satu ini. Nanang mengangkat juga ekspresi seniman dan logo kelompok masyarakat yang ”mengutip” atau terinspirasi dari lambang negara ini. Sebuah kreasi Burung Garuda yang terletak di sebuah kampus perguruan tinggi negeri di Yogyakarta yang berhasil di potret Nanang, menunjukan perisai yang hanya menampilkan satu logo yaitu logo bintang, tanpa empat logo yang lain. Logo bintang yang mewakili simbol Sila Pertama Pancasila itu apakah bermaksud bahwa pengamalan sila yang pertama akan memenuhi pengamalan sila-sila yang lainnnya atau sebuah kreatifitas semata menjadi pertanyaan menarik tentunya.

Sebuah buku dapat dinilai dari kualitas isinya yang mendetil atau sebuah semangat yang menohok. Buku karya Nanang R. Hidayat ini buat saya menempati pilihan yang kedua. Semangat yang berangkat dari kerisauan akan keberlangsungan ideologi negara dalam imaji anak bangsanya. Imaji yang penting pada era di mana negara menjadi sangat terpinggirkan, namun toh individu warga bangsanya tidak bisa meremehkan sebuah simbol perekat. Di era ketika warga negara begitu lebih lapang mengekspresikan dirinya, perlu juga disadari bahaya laten perpecahan dengan semakin terpinggirkannnya imaji lambang pemersatu bangsa. Di banyak lembar halaman ini Nanang menuliskan kerisauannya, sembari terus berharap burung ini bisa hadir lebih ramah di hati anak bangsa. Bila waktu lalu Grup Band Coklat berhasil menetaskan semangat patriotik dalam kemasan pop, seharusnya Burung Garuda ini lahir dengan wajah yang ramah hingga kepak sayapnya mencapai ruang publik yang lebih ramai, misalnya di mall atau kaos kaum muda urban yang dijual di distro.


Last modified on: 4 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni