(3 votes)
(3 votes)
Read 1951 times | Diposting pada

Hallyu, Gelombang Kemarahan Masa Depan

 

 

 

Judul             : Korean Cool: Strategi Inovatif di Balik Ledakan Budaya Pop Korea

Penulis           : Euny Hong

Penerbit         : Bentang

Tahun            : Januari 2016

 

"Selamat datang di Korea. Selamat datang di masa depan." (hal. xix)

 

TAHUN 1970-AN, pemerintah Korea Selatan (selanjutnya disebut Korea) memberlakukan pelarangan musik rock dan segala varian genrenya. Sebuah pelarangan terhadap musik yang paling berpengaruh pada zamannya. Tidak ada Led Zeppelin, Sex Pistols, dan David Bowie. Tidak ada Bob Dylan, Joan Baez, apalagi Imagine-nya John Lennon.

Akibatnya gawat. Industri musik Korea terlambat bergerak mencari bentuknya. Apalagi anak-anak muda di Korea mengidap sindrom ‘opium’ pendidikan. Mereka tak punya waktu untuk memikirkan hal remeh temeh macam musik. Sistem pendidikan yang ketat, bahkan terkesan sadis, menuntut setiap anak di Korea menjadi nomor satu. Bahkan, mendapat nilai jelek dimasukkan dalam salah satu kenakalan anak.

Berbeda dengan plot sejarah musik di Indonesia, di mana kemudian muncul musik independen sebagai bentuk pemberontakan, sejarah musik Korea memilih cara lain. Pemerintah turun tangan membangun industri ini dan menghasilkan sebuah gelombang kultural global dari Korea yang hari ini lebih dikenal dengan sebutan Hallyu.

Berbagai peraturan ditelurkan untuk menciptakan musik populer kelas dunia. Kementerian Kebudayaan Korea menginvestasikan US$ 1 miliar (sekitar Rp 13 triliun) untuk mengurus budaya populer. Mereka turut mengawasi pembangunan noraebang (tempat karaoke), di mana masyarakat bisa menyanyi dengan leluasa. Cerdiknya, setiap pengusaha noraebang dipungut biaya untuk royalti lagu yang dinyanyikan di tempatnya.

Seorang calon bintang K-pop bisa mendapatkan durasi kontrak 7 hingga 13 tahun. Hanya saja, setengah dari kontrak kerjanya akan dihabiskan untuk berlatih. Ini konsekuensi dari sistem pendidikan yang ketat tadi. Seorang anak yang memilih jalur musik, harus menekuni dunia ini seserius mereka yang menekuni matematika untuk masuk ke universitas. Hasilnya tak bisa dipungkiri. Meski sering dipandang sebagai musik remeh temeh, K-pop menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah musik populer.

Tak hanya musik, budaya populer Korea adalah yang paling lengkap dan kompleks di dunia (setidaknya selain Hollywood). CJ E&M misalnya, salah satu perusahaan budaya populer. Ia terdiri dari unit-unit yang terintegrasi dengan sistematis dan saling menguntungkan. Divisinya meliputi saluran televisi musik, distribusi film, pertunjukan hiburan langsung, video game, dan web media sosial untuk memasarkan semuanya. Saat konser dihelat CJ E&M, mereka sekaligus bisa merilis video game musik dan tarian yang berhubungan dengan tema konser.

Soft Power yang Mujarab

“… kamu harus tahu Korea telah “dihukum” takdir selama lima ribu tahun. Semenanjung ini telah diinvasi empat ratus kali, dan tak pernah sekalipun menginvasi bangsa lain, kecuali kalau partisipasinya dalam Perang Vietnam dihitung” (hal. 48). Penghukuman ini menjadi katalis kemarahan Korea. Han – demikian kemarahan terpendam bangsa Korea ini disebut – menjadi penggerak luar biasa dalam membangun budaya populer.

Harian Kompas tanggal 14 Februari 2016 menurunkan berita tentang kecantikan ala Korea sebagai gaya hidup kaum urban di halaman pertama, dengan judul, “Pertarungan Sengit Tentang Cantik.” Bayangkan saja, salah satu harian terbesar di Indonesia, negara yang bahkan pernah menginvasi bangsa lain—bila Timor Leste bisa dianggap sebagai invasi—secara  tidak langsung mengakui kekuatan budaya Korea. Cantik ala Korea menjadi standar yang kudu dipenuhi wanita urban di Indonesia. Nampaknya tak perlu penelitian mendalam untuk mengatakan bahwa ini adalah pengaruh serial drama dan girl band Korea.

Han Korea lalu dikombinasikan dengan strategi soft power yang melenakan secara halus. Soft power ini yang membuat Korea berbeda dengan tetangga utaranya. Invasi halus yang membuat bangsa lain justru ‘memohon untuk diinvasi.’ Keduanya semakin kuat berkat target besar yang menanti di depan. Korea memiliki target utama yang harus diinvasi. Siapa lagi kalau bukan Jepang. Negara yang sejak 1910 menjajah Korea hingga 35 tahun selanjutnya.  Perusahaan elektronik Samsung, menarget Sony sebagai perusahaan yang harus dikalahkan. Hyundai, kini selangkah lebih maju daripada Honda. Winter Sonata, drama Korea yang populer di awal 2000-an bahkan membuat Perdana Menteri Jepang berkata, “Saya akan berusaha keras agar bisa setenar Yon-sama” (hal. 183). ‘Yon-sama’ adalah panggilan untuk Bae Yong-joon. Aktor pemeran utama dalam serial Winter Sonata.

Euny Hong menuliskan buku ini dengan jenaka dan lugas, sebuah kombinasi lengkap dari otobiografi, reportase lapangan, dan esai mendalam. Pembingkaian tentang masa depan Hallyu menjadikan buku ini semakin memikat. Masa depan Hallyu yang kemudian membuat Korea mengaku siap menyaingi Hollywood. Euny Hong berkata serius pada pembacanya tentang hal ini. Bayangkan saja. Pada 1995, Kim Young-sam, mantan Presiden Korea, menerbitkan dekrit presiden untuk memuat Undang-Undang Promosi Industri Perfilman. Ya, dekrit presiden! Dekrit presiden paling aneh di dunia, melebihi keanehan dekrit presiden yang dikeluarkan Gus Dur. Tapi hal ini sudah cukup untuk membuat gemetar lutut pegiat hiburan di Hollywood.

Buntutnya terjadi pada 2013 lalu. Presiden Park Geun-hye mendirikan Kementerian Kreasi Masa Depan dan Sains. Keputusan ini sempat dicemooh dan mendapat kecaman. Tapi derasnya gelombang Hallyu sudah terlihat di Asia Timur, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Prancis (di Indonesia, berapa kali dalam sehari teman wanita Anda membincangkan boyband atau serial drama Korea idolanya). Bermodal jaringan internet super cepat cum gaya hidup disiplin, Korea siap membalaskan han mereka. Membangun dunia masa depan di mana orang-orang menari gangnam style setiap hari. 

 

Last modified on: 20 Maret 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni