(0 votes)
(0 votes)
Read 1192 times | Diposting pada

Fugui

"To Live" karya Yu Hua "To Live" karya Yu Hua Diterbitkan oleh Anchor Books

 

“Manusia itu asalkan gembira, hidup miskin pun tak akan takut,” kata ibu Fugui. Fugui adalah tokoh utama dalam novel To Live yang ditulis oleh Yu Hua, pengarang asal Tiongkok. Pada mulanya Fugui hidup bahagia dan bersenang-senang. Ia berasal dari keluarga yang kaya raya. Ayahnya seorang tuan tanah. Seorang kuli dibayar untuk memanggulnya dan mengantarkannya ke sekolah. Fugui tak pernah kesusahan sedikit pun. Tak perlu bekerja banting badan hingga ia dewasa dan menikah dengan seorang anak saudagar beras. Kemudian memiliki seorang putri bernama Fengxia dan seorang putra bernama Youqing.

Alih-alih membuatnya menjadi tentram, kebahagiaan membuatnya menjadi bajingan. Hari-hari dihabiskan dengan bermain judi dan main perempuan di sebuah rumah pelacuran. Tak ada seorang pun yang ia hormati di manapun dan kapanpun. Mertuanya sering ia bikin kehilangan muka dengan lewat di depan kedai si mertua dengan keadaan digendong seorang pelacur bertubuh gendut. Fugui senang dengan semua itu. Ia sangat menikmatinya.

Sampai suatu ketika Fugui terus-menerus kalah berjudi. Ia memasang tanah keluarganya sebagai taruhan. Semua tanah keluarganya yang telah diusahakan para leluhurnya kini harus berpindah tangan dalam semalam. Ayahnya mati saat akan pindah dari rumah mewah yang selama ini ditempati ke gubuk di dusun. Di gubuk itu Fugui tinggal bersama ibunya, istrinya Jiazhen, dan anaknya. Lagi-lagi ibunya menghibur bahwa manusia hanya perlu bergembira.

Tak lama berselang, mertua Fugui datang untuk membawa istrinya Jiazhen ke kota. Lalu Anda pikir berpisah dari istri itu dapat memberikan kebahagiaan? Baiklah, saya tahu jawaban Anda. Biarkan saya meneruskan. Memang kemudian Jiazhen kembali pada Fugui bersama putra mereka yang baru lahir bernama Youqing. Cerita belum berakhir bahagia. Suatu hari sang ibu pingsan dan sekarat. Fugui segera berangkat memanggil tabib. Di perjalanan ia malah ditangkap oleh tentara nasionalis. Ia dipaksa ikut ke medan perang sebagai penarik meriam bersama beberapa penduduk sipil lainnya. Bertahun-tahun kemudian, meskipun Fugui mampu bertahan dan bisa melarikan diri, sesampai di rumah tentu saja ibunya sudah tiada. Pada masa-masa itu pula putrinya Fengxia terserang penyakit yang membuatnya bisu dan tuli.

Ketidakberuntungan memang tidak datang sendiri. Sepetak tanah sawah tempat ia bergantung hidup, termasuk tempat gubuk miliknya berdiri, harus diserahkan kepada Komune, saat negara komunis didirikan. Pada masa-masa itu mereka sekeluarga nyaris mati kelaparan. Jiazhen, sang istri terserang penyakit tulang lemas yang membuatnya tak bisa bangun dari tempat tidur. Saat itu anak laki-lakinya, Youqing, tewas karena mendonorkan darah untuk istri Pak Camat yang sedang melahirkan. Darahnya disedot tanpa henti oleh tenaga medis yang serampangan. Anak perempuannya, Fengxia, juga tewas di rumah sakit yang sama saat melahirkan. Sampai-sampai Jiazhen tak mampu lagi untuk menangis. Akhirnya sang istri mati dengan tenang di samping Fugui. Setelah itu Erxi, menantunya, mati tertimpa balok semen. Kemudian ia tinggal berdua bersama cucunya. Tapi itu tak berlangsung lama. Sang cucu yang mungil itu tewas karena tersedak kacang.

Apakah semua itu dapat membuat Fugui berbahagia? Jika istri dan anak-anak Anda mati menggenaskan, lalu Anda bisa merasa bahagia agar bisa tetap hidup? Jika konsep esensi hidup adalah untuk berbahagia, maka hidup Fugui menjadi tidak layak untuk dijalani. Kebahagiaan bukan gagasan agar hidup ini layak dijalani. “Hidup bahagia” telah menjadi struktur yang harus dipenuhi manusia. Maka manusia berlomba-lomba mencari kebahagiaan dengan berbagai cara baik dengan materi maupun nonmateri. Jika tujuan hidup adalah untuk bahagia, maka bersedih adalah sebuah kesalahan. Tapi, bukan berarti mencari kebahagiaan adalah hal yang salah. Hanya saja gagasan bahwa esensi hidup manusia adalah mencari kebahagiaan tidak sepenuhnya benar, namun tidak juga sepenuhnya salah.

Hidup Fugui yang terus dirundung malang (tentu saja ini menimbulkan kesedihan dan bukan kebahagiaan), masih tetap layak dijalani jika itu bermakna. Makna dapat membuat sesuatu menjadi tidak sia-sia. Tapi makna tidak datang begitu saja. Ia muncul dari kelapangan hati dan kesadaran atas realitas.

Benda dapat membuat seseorang bahagia atau bersedih. Atau merasakan keduanya sekaligus. Di saat Fugui beserta keluarganya kelaparan, beras adalah benda yang dapat membawa kebahagiaan sebab telah menjadi kebutuhan. Kebahagiaan bisa berada dalam kebutuhan dan berada di luar kebutuhan. Gadget, mall, mobil, tiket liburan, tas Chanel dapat membuat penganut hedonisme bahagia. Terserah apakah itu sementara atau tidak, sejati atau tidak. Kita tak bisa membantah itu. Beras bagi Fugui juga bersifat sementara. Tanya saja pada kaum hedonis, tentu mereka sangat menikmati dan senang dengan gaya hidup demikian. Fugui sendiri ketika sebelum bangkrut sangat menikmati gaya hidupnya keparatnya. Perbedaannya adalah kebermaknaan. Tapi, benda juga dapat membuat sesuatu menjadi bermakna atau tidak sama sekali. Sebagaimana kebahagiaan, kesedihan juga bisa memiliki makna. Namun, kebahagiaan bisa saja tidak bermakna sama sekali. Begitu pula sebaliknya dengan kesedihan.

Oleh karena itu Antithenes dan Aristippus bertengkar. Menurut Antithenes, kebahagiaan adalah dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan materil, karena sejatinya kebahagiaan adalah bersifat metafisik. Sebaliknya Aristippus berpendapat bahwa kebahagiaan adalah bagaimana memuaskan hasrat jasmaniyah. Aristippus dan Antithenes harus kembali pada gurunya Aristoteles. Menurut Aristoteles bukan kenikmatan yang mesti dicapai manusia tetapi adalah perbuatan bermakna. Tapi yang penting di sini adalah Aristoteles masih menjadikan kebahagiaan sebagai muara akhir pencapaian. Perbuatan bermakna hanya jalan. Bagi Aristoteles, tindakan mencapai makna tersebut mesti tetap berada dalam struktur moralitas karena kebahagiaan adalah sia-sia jika dengan menghancurkan orang lain. Ini berbeda dengan pandangan Nietzsche yang menyatakan bahwa moralitas hanya akan melemahkan daya juang.

“Rasa sakit membuatku merasa hidup,” ucap Frankenstein, si mayat yang bergerak oleh aliran listrik itu. Sementara itu Fugui berkata pada istrinya, “asalkan keluarga kita bisa tiap hari bersama, siapa lagi yang peduli soal keberuntungan macam-macam.” Mereka tak peduli lagi beruntung atau tidak, bahagia atau tidak, senang atau tidak. Yang penting adalah tetap bersama setiap hari. Tak ada jaminan bahwa kebersamaan akan mendatangkan kebahagiaan terus-menerus. Lagipula kesenangan yang terus-menerus bukan kesenangan, kata Voltaire. Tapi kebersamaan dapat memberikan makna tanpa harus memperoleh kebahagiaan. Hidup Fugui mungkin tidak bahagia tapi dapat dipastikan hidupnya bermakna.

 

***

Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Michael Berry dan diterbitkan oleh Anchor Books. Edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Agustinus Wibowo dengan judul Hidup dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Last modified on: 29 November 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni