(0 votes)
(0 votes)
Read 5373 times | Diposting pada

Buku-buku Favorit tentang Traveling di Indonesia

Sejujurnya, tidak mudah mencintai negeri ini. Tak gampang pula mengapresiasinya. Di sekolah kita diajari untuk menghafal fakta bertubi-tubi mengenai Indonesia, namun tidak diberi tahu bagaimana cara mencintainya dan mengenali kemolekannya yang berlapis-lapis.


Saya belajar terpesona pada Indonesia melalui buku-buku, untuk kemudian dengan mengalaminya sendiri. Menyedihkan, namun demikian kenyataannya. Tinggal di Indonesia, membuat saya menganggap segala sesuatunya taken for granted. Saya merasa perlu meminjam 'mata orang lain', agar bisa mengalami kembali keterpesonaan itu.

Berikut ini adalah buku-buku favorit saya tentang travelling di Indonesia. Buku-buku yang membantu saya mengerti aspek-aspek tertentu keindahan Indonesia yang tanpanya, menikmati secara penuh atau sekedar mengerti, menjadi tak mungkin.

Buku-buku ini menawarkan sudut pandang yang segar, yang memperkaya cara saya melihat kepingan-kepingan Indonesia. Melalui mereka, imaji saya tentang Indonesia terus mengalami penyegaran.
Membacanya, bukan saja mengangkat horizon pandang saya, tapi membuka kembali kesadaran saya pada daya pikat yang magis dari negeri nan permai ini. Melalui buku-buku itu, Indonesia, tak lagi sekedar menjadi tempat tinggal, tapi sebuah negeri penuh sihir, dengan keajaiban yang merayu-rayu untuk dijelajahi..

1. Periplus Adventure Guide Series, Kal Mueller et.al. (late 1990s – early 2000s)

Periplus’ Adventure Guide Series, yang meliputi 7 jilid, merupakan kumpulan buku travel terbaik yang pernah ditulis mengenai Indonesia. Terbaik karena ia membuat Anda ingin segera berdiri, packing, dan menyaksikan tempat-tempat eksotik itu dengan mata Anda sendiri. Membaca buku “East of Bali” misalnya, serta merta-mendorong saya berjanji pada anak saya Tara, untuk kelak melakukan perjalanan darat dari Jakarta hingga Nusa Tenggara – melewati Lombok, Sumba, Sumbawa, dan Flores, sebelum akhirnya mendarat di Timor – menggunakan Terrano buluk kami, segera setelah ia menyelesaikan pendidikan dasarnya. Itu berarti 7 tahun dari sekarang. Insyaallah..


Kecuali untuk Java dan Bali, seri Adventure Guide ini sekarang sulit didapatkan di pasar. Amazon, untuk seri tertentu, bahkan menjualnya empat kali lipat dari harga normalnya. Sejarah, esai, foto-foto, dan informasi teknis, dicetak apik dan luxe dalam kertas glossy, dengan kisaran tebal 300 halaman tiap jilidnya.


Kelima buku yang saya miliki dari seri ini, adalah salah satu koleksi yang paling saya cintai dari perpustakaan kecil kami. Setahu saya, belum ada yang sungguh-sungguh menulis tentang travelling ke pulau-pulau Timur Indonesia, sedalam dan seindah buku-buku ini..


2. Sawahlunto, Expression In The Rhythm of Strokes, Body Dharma (2009)

Not a travelling guide book, per se. Tanpa kata, tanpa peta, tanpa foto. Buku ini berisi kumpulan sketsa oleh Body Dharma tentang sudut dan fragmen -- baik yang bersejarah maupun yang sehari-hari -- kota Sawahlunto, sebuah kota tambang yang terletak di pinggiran taman nasional Kerinci-Seblat, Sumatra Barat.
Terhampar di sebuah ceruk raksasa menyerupai wajan, kota tenang ini seakan dikelilingi oleh dinding alam yang hijau, dan dihiasi oleh lanskap naik turun yang membuatnya unik.


Skesta hitam putih pada buku ini amat sederhana, cenderung kekanak-kanakan, namun intim. Saya tidak yakin apakah buku ini mampu mengundang orang untuk berkunjung ke Sawahlunto. Tapi siapapun yang pernah berkunjuk ke Sawahlunto, dan berinteraksi dengannya, akan cenderung jatuh cinta pada buku ini.

3. Situs-Situs Marjinal Jogja, M Rizky Sasono et.al (2002)

Kita terbiasa dan mudah tertarik pada objek-objek besar. Kuil yang megah, istana dan reruntuhannya, atau oleh pusat keramaian. Bagaimana dengan objek-objek marjinal? Yang kerap terabaikan, namun sejatinya menawarkan pengalaman penjelajahan yang sama uniknya?

Bagaimana dengan sebuah kos-kosan tiga lantai milik para pelajar Buddhist yang berasal dari abad ke-8? Atau sebuah kompleks candi seluas lapangan bola mini yang terkubur 6 meter di bawah permukaan tanah, dengan kondisi preservasi yang nyaris sempurna? Atau bayangkanlah sebuah istana sekaligus kuil sekaligus benteng yang berdiri di puncak perbukitan kapur, tepat menghadap Merapi, dan Prambanan nampak kecil di bawahnya?

Buku tipis ini berisi lebih dari 30 objek-objek unik, namun marjinal, di sekitar Jogja. Objek yang tenggelam dibawah bayang-bayang dua candi World Heritage Site, sebuah keraton, dan belanja di Malioboro.


4. Java: A Travellers Anthology, James R Rush ed. (1996)

Memandang Jawa dari kacamata orang dapat membuat Anda jatuh cinta lagi pada pulau tropis nan indah ini. “Heeeyyy, tunggu dulu, pulau tropis nan indah?”

Disitulah masalahnya. Tinggal di pulau Jawa puluhan tahun menjadikan syaraf-syaraf apresiasi kita beku. Hal-hal istimewa – alam dan kekayaan budaya – diterima sebagai hal yang sehari-hari.

Maka, lupakan kota-kota besar, cobalah berkunjung ke halaman belakang Jawa, bertemu dengan alamnya. Berbincang dengan mereka yang mencintai pulau ini dan para pelaku seni yang menghidupinya. Atau, baca catatan perjalanan orang lain dan mencoba menatap pulau ini menggunakan mata mereka.


Buku ini berisi 35 esai pendek, tentang kesan dan catatan perjalanan ke Jawa, dalam rentang waktu 600 tahun. Dari catatan harian seorang biarawan dalam perjalanan misi di abad ke-14, hingga kunjungan ulang seorang jurnalis pada tahun 1985, semenjak kepergiannya menyusul kejatuhan Soekarno di tahun 1960-an. Jawa is a happening island. Pulau tempat segala kejadian berlangsung.

Oxford Paperback menerbitkan juga travelogue lain dalam seri yang sama. Semuanya tentang Indonesia. Mereka adalah: To The Spice Islands and Beyond: Travels In Eastern Indonesia, lalu The Best of Borneo, Adventures in Bali, dan Sumatra Travel Witness.

Kelimanya merupakan kumpulan travelogue paling baik, sejauh ini, tentang Indonesia..

5. Semarang Sepanjang Jalan Kenangan, Djawahir Muhammad ed. (1995)

Lebih menyerupai memoar tentang sebuah kota: kawasan, ruang, arsitektur, tradisi, makanan, orang, mozaik peristiwa, ironi, dan remeh-temeh di sekitar Semarang, kota yang semua kemolekannya masih berhenti pada taraf ‘potensi’ ini.

Di tulis secara amat santai, dan tanpa disiplin yang jelas. Ngelantur, ngalor-ngidul, dan bertebaran dengan kisah-kisah jenaka. Seperti obrolan di warung kopi. Namun, justru disitulah letak kekuatan buku ini. Apalagi terbit di saat penulisan tentang kota masih amat jarang dilakukan. Disamping, saya juga punya romantisme khusus dengan Semarang, kota tempat saya dibesarkan.


6. Malang: Telusuri Dengan Hati, Dwi Cahyono (2007)

Siapapun yang mengaku berasal dari Malang, sebaiknya mengkoleksi buku ini. Kecintaan penulisnya, Dwi Cahyono, pada kota Malang kentara sekali di tiap paparannya. Pendekatannya amat historis, tanpa menjadi terlalu berat dan terbebani oleh rangkaian tanggal dan nama, dengan fokus utama pada arsitektur dan transformasi kawasan. Kekayaan foto adalah kekuatan buku ini. Sementara perbandingan gambar antara doeloe dan kini, membuat Telusuri Dengan Hati menjadi dokumentasi berharga, dan mudah membangkitkan romantisme manis. Melalui buku ini, saya baru tahu bahwa Malang memiliki cukup banyak galeri seni dan beberapa industri repro yang amat menggoda untuk dicambangi suatu waktu nanti.


7. The Malay Archipelago: A Narrative of Travel with Sketches of Man and Nature, Alfred Russel Wallace (1869)

Wallace menghabiskan waktu lebih dari delapan tahun, tidur di bawah langit Nusantara untuk mengamati lebih dari 700 spesies burung dan mamalia, dan mengumpulkan ratusan ribu spesimen fauna dan flora untuk dibawa pulang ke Inggris. Penjelajahannya ini menjelma buku tebal, The Malay Archipelago. Salah satu buku pertama dan terbaik tentang paparan kehidupan dan kekayaan serta persebaran flora dan fauna di kepulauan Nusantara. Ia menetapkan garis pemisah, Wallacea, yang terbukti kritikal untuk memahami perjalanan berbagai spesies, dan ia menemukan jalannya sendiri menuju teori Evolusi.


Dari Ternate, Wallace melakukan korespondensi aktif dengan Darwin, yang belakangan menjadi teman dekatnya, dan menemukan prinsip-prinsip seleksi alam dan adaptasi. Di Sumatra, Wallace menyaksikan spesies kupu-kupu yang kerabat terdekatnya adalah kupu-kupu sejenis di Afrika. Sementara di Maluku ia berjumpa dengan Kasuari yang juga hanya terdapat di Papua dan Australia.

Bukan sebuah buku travelling. Tapi para pelancong serius dengan tujuan Nusantara akan mendapatkan kenikmatan dari membaca buku ini

8. Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia, Peter JM Nas (2009)

Ini buku ‘kuliahan’, berisi esai-esai tentang kekayaan langgam arsitektur di Indonesia, dan simpang siur pengaruh yang membentuknya. Juga kumpulan foto dan penjelasan mengenai arsitektur Indies-Tropis yang mendominasi Indonesia, dari sekitar 20 tahun menjelang pergantian menuju abad 20, hingga 20 tahun setelah kemerdekaan. Arsitektur warisan Belanda itu kini menjadi warisan berharga, sekaligus sebuah “endangered species” yang membentang dari Medan, Menteng, Malang, Madura, hingga Makassar.

Karena sebagian besar travel melibatkan perpindahan dari satu ruang ke ruang lain, dan karena ruang, terutama kota, selalu berisi bangunan, maka pelancongan sepantasnya juga melibatkan apresiasi pada karya arsitektural tiap kota. Bagaimanapun juga, identitas sebuah kota, amat ditentukan oleh kosa arsitektur-nya. Dalam konteks inilah, buku ini menjadi berarti.

9. Indonesia Heritage Series (Vol 6): Architecture, Gunawan Tjahjono (2001)

Buku lain yang tak kalah, atau bahkan lebih menarik dari Masa Lalu Ada Dalam Masa Kini, adalah volume.6 dari Indonesian Heritage Series, tentang Arsitektur. Buku ini menjelaskan perjalanan arsitektur Indonesia dari masa purba, kekayaan langgam yang berhasil diakumulasi, hingga eksperimentasi estetika modern pada bangunan-bangunan pencakar langit di tahun 90-an. Buku ini penuh dengan ilustrasi realistis dan warna-warni yang indah.

Indonesian Heritage Series yang berjumlah sepuluh volume itu, adalah koleksi favorit saya, di perpustakaan kecil kami.


10. Footprint’s Sumatra Handbook, Joshua Eliot et.al. (2000)

Ini adalah satu-satunya buku tentang travelling di Sumatra yang pernah saya lihat langsung, semenjak pertama kali saya mengenal dan rajin menyambangi toko buku selama 30 tahun terakhir. Menyedihkan. Karena ini berarti tulisan tentang Sumatra memang amat minim.

Footprints berbasis di Bath, Inggris, dan pelan-pelan mencoba menantang dominasi Lonely Planet, yang berbasis di Australia. Salah satu strateginya adalah dengan fokus pada kota-kota di Eropa dan menerbitkan panduan perjalanan ke daerah-daerah yang less travelled, termasuk Sumatra. Saya berharap, suatu saat nanti Footprints merilis juga panduan perjalanan ke Indonesia Timur, sebagaimana Periplus pernah melakukannya beberapa tahun sebelumnya.


11. Jakarta Good Food Guide 2008-2009, Laksmi Pamuntjak (2009)

Bahwa orang Indonesia suka belanja, saya kira dari Paris hingga ITC Mangga Dua, tak satupun sanggup membantah. Tapi apakah orang Indonesia suka melancong? Mungkin belum, kecuali kalau pelancongan itu berujung pada belanja. Padahal melancong tidak harus jauh, apalagi ke luar negeri. Melancong bisa dilakukan disini-sini saja, dan tidak harus selalu melibatkan belanja.

Salah satu bentuk pelancongan yang sekarang nge-trend adalah pelancongan kuliner. Di toko buku, Anda akan menemukan banyak sekali panduan wisata kuliner, dengan berbagai sasaran: dari sekedar murah (dengan tagline: wisata kuliner dibawah 20,000 misalnya), murah dan enak, atau enak, atau fine-dining (meski kadang-kadang tidak enak untuk lidah Asia kita)..


Buku Jakarta Good Food Guide oleh Laksmi Pamuncak, saya puji karena keseriusan, teknik review-nya yang sophisticated, dan foto-foto indahnya. Meski sangat tidak nyaman sebagai buku panduan karena kurang praktis, terlampau tebal, mahal, dan tidak memasukkan unsur kisah yang melampaui piring, cara penyajian, dan ambience..

12. 80 Warisan Kuliner Nusantara, Samijati Purwadari ed. (2008)

Apa yang kurang dari Jakarta Good Food Guide, dilengkapi oleh buku ini. Selain menyertakan informasi teknis beserta peta rumah makan yang dimaksud, sehingga mereka yang tertarik bisa benar-benar datang kesana, buku ini juga menyertakan sejarah sebuah makanan, variasinya, dan bahkan menyertakan resep sehingga pembaca dapat berpartisipasi menciptakan varian baru. Penyertaan resep juga membantu penikmat makanan menerka-nerka, dari bumbu yang manakah, kenikmatan yang terasa di lidah itu berasal..


Buku-Buku Lain

Buku-buku perjalanan lain yang cukup bagus adalah karya-karya Adolf Heuken, ahli Oud Batavia, yang adalah juga seorang Romo. Buku-bukunya tentang tempat-tempat bersejarah di Jakarta, bangunan-bangunan relijius di Jakarta, lalu transformasi kawasan Menteng dan Medan Merdeka, membantu kita untuk lebih mengenali, dan karenanya mencintai, perjalanan Megapolitan yang kacau balau ini..

Yang juga tak kalah menariknya adalah kompilasi dari laporan-laporan ekspedisi Kompas yang biasanya dimuat secara bersambung dihariannya. Kumpulan tulisan itu kemudian dibukuan menjadi Ekspedisi Tanah Papua: Laporan Jurnalistik Kompas (2008) atau Ekspedisi Bengawan Solo (2008), Ekspedisi Anjer-Panaroekan (2008), dan Ekspedisi Ciliwung (2009).

Friends, happy travelling in 2010
Last modified on: 14 September 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni