(2 votes)
(2 votes)
Read 4195 times | Diposting pada

Against Happiness: Mari Melawan Mitos-mitos Kebahagiaan

 

Judul : Against Happiness: In Praise of Melancholy

Pengarang : Eric G. Wilson

Penerbit : Sarah Crichton Books(Januari 2009)

Tebal  : 166 halaman


Sebenarnya saya sudah tidak peduli lagi apakah saya bahagia atau tidak, namun akhir-akhir ini saya harus banyak berurusan dengan hal yang susah didefinisikan tersebut. Hampir setahun yang lalu saya menulis sebuah artikel pendek untuk harian The Jakarta Post tentang sedikit kisah perjalanan hidup saya serta hubungannya dengan kebahagiaan. Di tulisan ini saya cuma ingin mengatakan bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang memang tidak perlu didefinisikan. Dan yang paling penting, kita tidak usah terlalu terobsesi untuk mencari kebahagiaan apalagi kalau hanya dengan membeli televisi layar datar, mobil mewah atau alat-alat elektronik yang canggih. Supaya lebih gagah di tulisan itu saya meminjam kutipan kutipan dari Albert Camus, Immanuel Kant dan the Beatles—yang saya sebut terakhir mengatakan bahwa kebahagiaan adalah senjata yang masih hangat (happiness is a warm gun).

Tidak saya duga tulisan itu mendapat tanggapan yang luar biasa besar dari pembaca, meskipun lebih banyak yang memaki-maki saya melalui surat pembaca. Misalnya dengan mengatakan bahwa artikel saya itu “is obviously written by someone who has not gotten laid for a while. Leave Kant on the bedside table, head down to Blok M, sink a couple of Bintangs and see what happens. Your troubles may evaporate quite rapidly.” Saya tertawa keras sekali menanggapi komentar itu sambil berkata kepada sang penulis misterius: bung saya lebih memilih Corona dan yang pasti tempatnya bukan di Blok M! Saya juga tertawa karena tujuan saya menerbitkan tulisan itu—untuk membangunkan orang agar mereka berfikir tentang kebahagiaan—lumayan berhasil.

Beberapa bulan kemudian proyek tidak bahagia saya untuk mencari tahu bagaimana manusia mendefinisikan kebahagiaan berlanjut ketika saya menulis sebuah artikel panjang untuk cerita sampul majalah The Weekender. Kali ini saya menulis tentang apakah penduduk Jakarta—orang-orang yang anda lihat setiap pagi di kereta api listrik, di balik setir di perempatan lampu merah Bundaran Senayan yang selalu macet itu atau di kafe-kafe mahal di sepanjang Jl. Sudirman—benar-benar bahagia. Tulisan panjang saya itu tidak menemukan jawaban konklusif selain menunjukkan sedikit tentang kenyataan bahwa kebahagiaan memang tidak ada di Jakarta, bahkan di dalam apartemen-apartemen tinggi dan pusat perbelanjaan yang semakin mengkilap dan bersinar itu. Kali ini saya tidak dicaci maki untuk tulisan tersebut.

Terus terang pemicu bagi ketertarikan saya terhadap kebahagiaan adalah sebuah buku yang dibeli istri saya hampir satu tahun lalu berjudul The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World yang ditulis oleh wartawan koresponden National Public Radio (NPR) Eric Weiner. Buku tersebut lebih bisa dikatakan sebagai travelogue di mana Weiner pergi ke sepuluh negara di dunia dan mencari tahu negara mana yang memiliki penduduk yang paling berbahagia. Dalam buku tersebut Weiner menemukan kalau tetangga kita di Thailand, penduduk negara puncak Himalaya Bhutan dan mereka yang selalu diselimuti kedinginan di Islandia adalah orang orang yang paling bahagia di dunia. Untuk keperluan buku itu, Weiner singgah juga ke Indonesia, namun dia tidak menuliskan pengalaman yang dia dapat di Indonesia selain menulis di kata pengantar bahwa Indonesia adalah tempat yang tidak bahagia. Cuma itu.

Setelah membaca buku itu pertanyaan eksistensialis tentang arti kebahagiaan tidak pernah berhenti mengiang di telinga saya. Saya sendiri sudah lama agak curiga bahwa obsesi terhadap kebahagiaan adalah sebuah patologi yang justru membuat jiwa tidak sehat. Obsesi orang Amerika Serikat terhadap kebahagiaan misalnya berakhir dengan sejumlah besar individu mencari pelarian kepada Prozac, Xanax dan obat penenang lainnya. Di Indonesia, obsesi terhadap kebahagiaan—yang mungkin banyak didefinisikan sebagai kepemilikan akan Blackberry, memakai mobil SUV paling mahal atau mengirim anak ke sekolah yang lebih mahal—hanya berakhir dengan meraja-lelanya korupsi. Yoga dan agama mungkin bisa menolong, tapi untuk berapa lama?

Saya tidak sendiri ternyata dalam mencurigai kebahagiaan. Lebih dari sebulan yang lalu saya mendapat sebuah buku dengan sampul sederhana berjudul Against Happiness yang ditulis oleh profesor sastra dari Wake Forest University di Winston-Salem, North Carolina. Dengan judul seprovokatif itu, saya agak heran ketika melihat buku ini tergeletak tidak berdaya tak tersentuh oleh pembeli di sebuah toko buku mahal di Senayan. Saya tidak berfikir lama untuk membeli dan membawa pulang buku ini.

Sebulan terakhir ini hidup saya dipenuhi oleh kesedihan dan kondisi melankolik yang kronik. Dengan bantuan Wilson dengan prosa-prosa yang indah dan berisi itu, saya kini banyak memandang pohon-pohon tertiup angin, hujan yang jatuh di atas kap mobil, mendung gelap yang menggantung, senyum anak perempuan saya, matahari Jakarta yang panas dan menguning itu atau pemulung dengan gerobaknya. Semuanya menjadi bagian tidak terpisahkan dari kesedihan yang uplifting, yang sedang saya coba alami dengan bantuan definisi yang diberikan oleh Wilson. Saya tidak sedang memberhalakan Wilson. Namun pengarang ini telah memaparkan kepada saya secara meyakinkan bahwa obsesi akan kebahagiaan hanya akan membawa kita lupa kepada dunia yang secara alamiah ditakdirkan untuk tidak cantik dan bahwa esensi dari kehidupan dan kosmos adalah campur aduk (mixed), buram (blurred), kontradiktif (contradictory) dan tidak berpola (messy).

Secara lebih meyakinkan Wilson memberikan sebuah hipotesis bahwa esensi dari kebahagiaan justru adalah kesedihan atau apa yang dia namakan sebagai melancholia—seorang teman menerjemahkannya dengan kata "nglangut". Dengan memaparkan bukti-bukti yang diambil dari kisah hidup seniman-seniman besar dunia mulai dari John Lennon, Bruce Springsteen, Beethoven, penyair besar Inggris William Keats, William Blake serta penulis buku Moby Dick Herman Melville, Wilson secara meyakinkan membuktikan bahwa kesedihan yang amat dalam justru menjadi kekuatan kreatif yang luar biasa kuat untuk membantu menciptakan maha karya - maha karya besar dalam musik rock dan dalam kesusasteraan dunia.

Di halaman 35 buku ini Wilson bercerita tentang kelahiran salah satu maha karya Bruce Springsteen, album yang sebagian besar akustik berjudul Nebraska. Dengan materi yang dia kutip sebagian dari majalah Rolling Stone, Wilson menggambarkan bahwa pada periode pra-Nebraska, Springsteen sedang berada di dalam periode kesedihan yang sangat mendalam. Album sebelumnya, The River, memang sukses secara komersial namun tur album tersebut membuat Bruce menjadi kosong dan lelah yang kemudian memaksa Bruce untuk berfikir apakah musik dan kehidupan sedang berjalan menuju arah yang benar. Karena disorientasi inilah Springsteen kemudian mencari bantuan ke psikiatris yang kemudian menolong dia untuk mengeksplorasi kesedihan yang kemudian dituangkan dalam Nebraska. Hal yang sama terjadi dengan John Lennon yang menghasilkan maha karya solo dia The Plastic Ono Band sembari menjalani terapi primal scream.

Tentang Beethoven, Wilson bercerita bahwa komponis besar ini menghasilkan maha karya terbesar ketika sedang diserang oleh melancholia yang sangat berat. Kesedihan itu bersumber dari penyakit-penyakit fisik dan hilangnya pendengaran yang mulai mendera. Ada saat dimana Beethoven begitu kecewa dengan Tuhan dan kefanaan hidup dan sejak itu dia bersumpah akan menciptakan karya-karya abadi yang akan melintasi waktu dan tempat. “In rebelling against his fate by creating vital music, Beethoven transform this same fate into an inspiration,” demikian Wilson menyimpulkan.

Nasib yang hampir sama dialami oleh penyair besar Inggris John Keats—yang disebut sebut oleh Morrissey di lagu “Cemetery Gates” di album The Queen Is Dead. Karya terbesar dari Keats, seperti Ode on Melancholy dan Endymion lahir ketika penyair ini didera kesedihan mendalam karena sakit tuberculosis yang tidak kunjung sembuh. Diterjang kesedihan dan sakit, Keats begitu terobsesi dengan kematian dan mengumumkan kepada dunia bahwa meski masih hidup dia telah “posthumous.” Dan dengan gagah berani Keats merengkuh segala macam pembusukan fisik dan patah hati.

Dengan contoh-contoh individu besar pemberani yang dengan gagah berani menghadapi kesedihan serta merubahnya menjadi energi kreatif, Wilson seperti mengajak kita untuk tidak buru-buru panik ketika kesedihan itu datang. Kesedihan adalah sisi lain dari mata uang yang sama dan esensi dari kehidupan adalah menerima sisi manapun dari mata uang itu ketika jatuh ke lantai. Ini bukan fatalisme namun sebuah keberanian dan afirmasi terhadap kehidupan seutuhnya. Wilson—yang dalam banyak hal mengingatkan saya kepada Albert Camus—menginginkan kita bergabung ke dalam sebuah kelompok yang dia namakan sebagai Ironic Romantics, orang-orang yang mencoba memahami dunia tanpa menjadi dogmatis, tetap membuka pikiran dalam menghadapi ketidakpastian hidup dan sadar bahwa tidak ada satu perspektif tunggal yang bisa menjelaskan dunia. “The person who is ironic in this way ultimately takes life seriously and not seriously at the same time.”

Dan kalau konsekuensi dari kesedihan dan melankolia adalah seperti yang Wilson gambarkan di atas saya akan dengan senang hati untuk tidak menjadi bahagia.

 

TULISAN TERKAIT:

Wawancara Menolak Bahagia Dengan Eric Wilson

Last modified on: 8 Januari 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni