(48 votes)
(48 votes)
Read 30605 times | Diposting pada

Lima Buku Tak Layak Terbit 2012

 

Menulis buku tak pernah mudah. Tapi bukan berarti setiap karya yang lahir harus diapresiasi dengan gegap gempita. Saya ingat dalam sebuah otobiografi, The Nightmare of Reason: A Life of Franz Kafka yang disusun Ernst Pawel, Kafka pernah hendak membakar semua karyanya karena dianggap tak layak baca. Beruntung naskah itu tidak jadi dibakar, karena semua orang kemudian tahu  bahwa karya Kafka akan melampaui zamannya. Penjaga estate Kafka Max Brod tidak hanya tidak membakar naskah itu, namun juga menerbitkannya sehingga kita bisa menikmati cerita-cerita kanonik yang luar biasa itu.

Hal yang hampir mirip terjadi pada James Joyce. Sebagai penulis ia tak serta merta diterima. Karya seminal-nya Ulysses ditolak berulangkali dan dicekal sebelum akhirnya bisa diterbikan oleh Shakespeare and Co yang berbasis di Prancis. Kisah ini begitu masyur karena meski Joyce menjadi penulis yang terkenal dunia, toh pada akhirnya ia mati miskin. Hal yang tak kalah mengenaskan juga terjadi pada Ezra Pound, sahabatnya, yang masuk rumah sakit jiwa karena mengidap penyakit mental.

Melawat ke toko buku hari ini bagi saya adalah upaya menahan sinisme. Saya seringkali tak bisa membedakan antara toko perkakas perkantoran dan toko buku. Beberapa toko buku mengubah strategi marketingnya karena menyadari bahwa menjual buku saja tak akan bisa menghidupkan bisnis. Tak setiap hari orang membeli buku. Harga buku yang mahal dan minimnya kebudayaan membaca di negeri ini tak membaik dari tahun ke tahun. Sehingga mengharapkan sebuah toko murni buku hanya akan bernasib seperti The Elliott Bay Book Co yang gulung tikar karena sepi peminat.

Belum lagi barisan buku-buku best seller yang dipajang di rak-rak membuat saya bergidik ngeri. Tingginya angka penjualan buku self-help hanya berarti satu hal. Bangsa ini masih butuh orang lain untuk bisa menemukan jati dirinya. Penulis cum motivator Ippho D. Santosa adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang memberikan harapan bahwa “Semua orang bisa kaya raya,” “Semua orang bisa hidup bahagia,” dan “Semua orang dapat mencapai hidup penuh berkah,” dengan penekanan kata “asal mau bla bla bla”.

Tahun 2012 boleh jadi salah satu masa suram dunia literasi Indonesia. Ini kali terulang lagi kejadian menyedihkan pembakaran buku. Menyedihkan lagi bahwa pelaku bakar buku tersebut adalah penerbit yang nota bene mencetak buku itu. Hal ini semakin diperparah dengan upaya penerbit-penerbit besar yang jarang menerbitkan karya bermutu karena dianggap kurang laku. Daftar yang saya buat tahun ini barangkali bisa jadi replika bahwa selera baca bangsa ini masih sama saja.

Catatan Pinggir 9, Goenawan Mohammad, Pusat Data & Analisis Tempo

Terbitnya rangkaian jilid 9 seri Caping pertengahan tahun 2012 merupakan bukti bahwa Majalah Tempo gagal melahirkan kolumnis, atau katakanlah, esais baru untuk mengasuh rubrik legendaris ini. Caping yang sejak 1976 diterbitkan sudah hampir melampaui lima presiden tanpa sekalipun melakukan pergantian penulis hingga hari ini, yang kemudian jadi kultus bahwa Caping itu adalah GM, tak mungkin yang lain.

Apalagi adanya urban legend yang mengatakan bahwa pembaca majalah Tempo selalu memulai dari Caping. Hal ini terasa menggelikan sebab jika mereka hanya ingin membaca Caping, kenapa membeli keseluruhan majalah? Atau jangan-jangan liputan jurnalisme investigasi yang enak dibaca dan perlu itu tak akan laku tanpa Caping?

Di seri ke 9 yang diambil dari periode Juli 2007 - Desember 2010, GM bahkan masih menulis dengan gaya yang sama. Menyigi masalah aktual dengan bahasa prosa, dengan sedikit nukilan-nukilan dari buku-buku yang ia baca, sedikit kutipan dari filsuf kontemporer maka jadilah. Almarhum Rosihan Anwar pernah berkata, yang mengerti Caping barangkali hanya GM sendiri. Di seri ke 9 ini saya lompati, tak membaca pengantar dan hanya tahan membaca sekitar enam esai saja. Kebosanan yang saya rasakan sudah mencapai titik kulminasi dan memutuskan berhenti membaca ulang Caping untuk seterusnya.

Supernova: Partikel, Dee, Bentang Pustaka

Untuk sebuah buku yang menunggu terbit 8 tahun setelah Supernova: Petir dirilis 2004 silam, Partikel nyaris gagal sebagai sebuah sequel. Dewi ‘Dee’ Lestari barangkali sudah terlalu nyaman menulis novel teenlit belakangan ini dan lupa caranya untuk menulis secara serius.

Partikel sendiri bercerita tentang anak pemberontak dengan kemampuan berpikir cerdas yang ingin mencari keberadaan ayahnya. Sepanjang perjalanan ia juga merintis usaha untuk menemukan identitas dirinya sendiri. Juga usaha mencoba berdamai dengam masa lalu –daripada menentangnya sebagai sebuah realitas liyan dengan bumbu pengkhianatan cinta dan perselingkuhan ala kisah picisan novel remaja.

Perihal pencarian diri? Tema usang ini memang sudah terlalu sering dituliskan. Dan Petir membuat semua episode Supernova nyaris jadi novel motivasional alias self help book belaka.

Books based on Tweets, all of 'em 

Ini adalah bukti nubuat paling sempurna dari nabi posmodern Andy Warhol. Ia berkata “In the future everybody will be famous . . .” dengan sambungan kalimat penuh ejekan: “For 15 minutes.” Ini sebabnya penulis berkelas dan seabsurd Pidi Baiq bahkan bisa terjebak pada fenomena micro famous. Di Twitter seseorang yang mampu meramu kata-kata indah puitis dengan nada motivasional berpotensi menjadi seorang seleb tweet.

Apa yang bisa disampaikan oleh tulisan yang terbatas 140 karakter? Sebab membaca buku-buku semacam ini saya teringat masa-masa sekolah dasar ketika kita bertukar catatan harian dengan kata-kata mutiara. Fenomena semacam ini mirip dengan booming buku-buku dakwah romantis ketika novel Ayat-Ayat Cinta meledak di pasaran, yakni sebuah budaya dadakan yang lahir karena adanya fenomena Twitter.

Dalam desertasinya, Alice E. Marwick, seorang social media researcher menjelaskan bagaimana media sosial mengubah “something a person is to something a person does,” di mana ia “exists on a continuum rather than as a singular quality.” Marwick lantas melahirkan konsep microcelebrity sebagai “as a mind-set and set of practices in which one‘s online contacts are constructed as an audience or fan base, popularity is maintained through ongoing fan management, and self-presentation is carefully assembled to be consumed by others.

Maka jelas bahwa menulis buku-buku berdasarkan status twitter semacam ini hanya akan bernasib sebagai trend semu, seperti latah buku kumpulan sastra Facebook dua tahun lalu yang berakhir dengan cara mengenaskan.

Ngawur Karena Benar, Sujiwo Tejo, Imania

Ekspektasi saya ketika membaca buku ini adalah membedah apa itu maksud dari Ngawur Karena Benar. Apakah ia semacam usaha filosofis untuk mendobrak dogma usang? Atau sebuah catatan dialektis dari seorang so-called seniman serba bisa? Tapi saya hanya bertemu dengan sebuah kumpulan catatan ulang dari sebuah kolom dari koran nasional. Dengan narasi yang singkat dan bahasa Jawa Timuran khas buku ini berusaha melakukan tawaran perspektif.

Dengan menggunakan metafora tokoh-tokoh pewayangan, Agus Hadi Sudjiwo -nama asli Sujiwo Tejo, berusaha menuturkan isu aktual dengan gaya bercanda. Namun sayangnya ia gagal. Ngawur Karena Benar barangkali hanya sebuah buku kejar setoran, karena mbah Dalang tak lagi mampu melahirkan konsep orisinil paska negeri imajiner #Jancukers.

Chaerul Tandjung si Anak Singkong, Penerbit Buku Kompas

Do I have to tell you why this book sucks? Dengan rekor 17 kali cetak ulang barangkali ini adalah buku biografi terlaris paska era kedigdayaan Biografi Pak Harto susunan Gufron Dwipayana  dan Ramadhan KH serta otobiografi Soekarno susunan Cindy Adams. Namun bagi saya buku ini tak lebih dari semacam kronik megalomaniak Chaerul Tandjung atas glorifikasi hidupnya. Dengan gaya penulisan membosankan dan nyaris tanpa emosi membuat buku ini tak lebih baik dari teks book pengantar statistik.

Buku ini barangkali berniat memberikan janji, bahwa dengan bekerja keras kita bisa meraih mimpi. Buku yang lagi-lagi motivasional menawarkan mimpi semu. Walau sempat menjadi perbincangan akibat isu murahan gugatan dari sang ghost writer, buku ini hampir membuat pembacanya menarik kesimpulan yang sama, “Iye elu hebat. Terus?

Setiap bab adalah bukti bahwa narsisisme adalah penyakit akut  yang banyak diderita oleh orang kaya. Bagi saya buku ini adalah puncak dari sebuah kedegilan literasi Indonesia. Ketika buku-buku berkualitas hilang diganti dengan omong kosong yang tak semestinya ada.

Last modified on: 30 Desember 2013

    Baca Juga

  • Vladimir Hussein


    “Haram jadah,” si lelaki gendut mengomel dan meninju bangku perhentian bus. Vladimir tetap memandangi foto-foto di surat kabar, tidak mengacuhkan keterangan beritanya. Waktu bergerak lambat. Vladimir tak suka menunggu bus.…

     

  • Undangan Menulis #KumpulanBudakSetan2 Bersama Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad


    Untuk kamu yang suka menulis dan ingin menjadi salah satu penulis dalam buku #KumpulanBudakSetan2 bersama Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad, ikuti tantangan yang satu ini!

     

  • 25 Juni 1905: Nukilan Bab 'Mimpi-mimpi Einstein'


    Dipetik dari novel 'Mimpi-mimpi Einstein' bab 25 Juni 1905. Ditulis oleh Alan Lightman, karya ini diterjemahkan dari karya aslinya berjudul Einstein’s Dream, diterbitkan pertama kali oleh KPG (Kepustakaaan Populer Gramedia),…

     

  • Isa, Maria Menunggumu


    Kau tiba-tiba muncul di depanku. “Jika secangkir kopi selalu berhasil membuatmu berdebar-debar, mungkin kau akan betah berlama-lama berbincang denganku.” Aku belum benar-benar mampu mengatasi rasa terkejutku, tapi kau sudah melanjutkan,…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni