(5 votes)
(5 votes)
Read 3681 times | Diposting pada

Zeke Tidak Lagi Pipis di Celana

 

Sama seperti conundrum yang dulu pernah dihadapi oleh seorang kritikus musik lokal yang keliru memberi kategorisasi terhadap musik Zeke, ada banyak hal yang saya tidak mengerti tentang Zeke dengan musik dan liriknya yang terlalu quirky. Saya terbiasa dengan permainan kata yang tidak masuk akal dari Stephen Malkmus di band Pavement seperti “fruit-covered nail” atau “harness your hope to the man with the rope”, namun Zeke sering membuat saya tersesat. Sampai sekarang saya masih belum bisa tahu dengan sepenuhnya apa sesungguhnya konsep yang hendak dikomunikasikan oleh Zeke dengan “Pipis Di Celana”—dan itu hanya satu di antara banyak ketidaktahuan saya yang lain tentang solois ibu kota ini selain misalnya tentang kenapa Harlan Bin harus selalu memakai helm berkacamata itu. Bukan karena memang saya berkehendak untuk menjadi literal dengan selalu mencari makna dari sebuah ekspresi berbahasa, namun Zeke terlalu “jauh di luar sana.” Dan “Pipis Di Celana” menurut saya adalah pencapaian terbesar Zeke dalam menciptakan dunia yang memang tidak untuk dan tidak perlu dipahami.


Dan mungkin ini yang hendak dikomunikasikan oleh Zeke, bahwa makna terbesar adalah ketiadaan makna itu sendiri dan esensi dari komunikasi adalah tidak adanya komunikasi itu sendiri. Ini juga yang membuat saya berfikir bahwa memberi peran kepada Cholil dari Efek Rumah Kaca menjadi sebutir strawberi dalam pertunjukan merayakan dirilisnya album Fell In Love With The Wrong Planet akhir pekan lalu seperti merupakan metafora terbesar bagi permainan post-modern Zeke. Efek Rumah Kaca adalah kelanjutan dari tradisi besar rock and roll di mana kata-kata dan lirik masih memiliki kehendak menciptakan perubahan dalam tradisi Bob Dylan atau Iwan Fals. Dan dengan mereduksi Cholil menjadi stroberi, Zeke sesungguhnya sedang menjungkirbalikkan tradisi 50 tahun rock perlawanan. Atau mungkin juga Zeke dan Cholil sedang bermain-main saja, toh mereka memang teman dari label Jangan Marah Records.

Atau mungkin bermain-main dengan teater absurd, membawa alien, Obama, kebun binatang adalah bentuk perlawanan yang lain. Mungkin mereka hendak mengembalikan rock and roll sebagai sarana permainan atau playground bagi kemanusiaan. Sudah terlalu lama musik rock menjadi terlalu serius, berbicara tentang cinta, nasib umat manusia, chart, distribusi, major-indie label, Kurt Cobain, perlawanan, hipster, profit, rilisan fisik, serta hal-hal serius yang memalingkan kita dari musik itu sendiri.

Atau kalau kemudian rock and roll masih menjadi arena permainan, selama ini permainan itu harus selalu didefinisikan dan diberi batas oleh otoritas pengendali budaya. Dalam kasus The Changcuters, main-main itu adalah menjadi berisik di panggung dengan secara non-ironis memanipulasi idiom rock and roll Amerika Serikat dari dekade 1950-an dan 1960-an yang bahkan tidak sampai ke daratan Pulau Jawa. Beberapa band rock parodi yang sempat menjadi bagian dari mainstream juga hanya menjadi lucu dengan joke-joke yang didaur ulang dari Srimulat atau talk-show televisi yang tidak lucu. Akhir-akhir ini batasan main-main itu menjadi semakin sempit di mana kebebasan itu sebatas menjadi berpakaian dengan baju dan warna rambut yang sama, menari dengan gerak yang sama dan dengan keterbatasan berbahasa yang sama. (Kelelawar Malam mencoba menjadi berbeda dengan mengambil idiom film-film horor kelas dua lokal, dan ini yang membuat mereka berbeda)

Zeke Khaseli berada di planet yang sama sekali lain dan itu yang mungkin menjelaskan kenapa dia harus membawa semua kebun binatang, alien, Obama dan gadis Indian ke panggung. Salah satu alasan kenapa teater absurd disebut sebagai keberhasilan terbesar kesenian adalah kemampuannya untuk mewakili kepercayaan bahwa eksistensi kemanusiaan tidak memilki arti atau tujuan dan semua upaya untuk berkomunikasi pada akhirnya akan gagal. Semua pengikut Albert Camus tentu tidak keberatan dengan definisi tersebut. Namun jika teater absurd Camusian mendedahkan bahwa konstruksi argumen logis akan kalah oleh percakapan yang tidak logis dan irasional—yang kemudian berakhir kepada diam, Zeke memberikan konklusi yang sama sekali lain. Satu-satunya konklusi diam malam itu hanya diberikan oleh Ladya Cheryl—aktor kelas satu yang berjaya di Postcard from the Zoo dan film-film festival itu—yang mengingatkan saya kepada John Entwistle yang stoic itu, meski Kim Gordon dan Kim Deal juga sempat muncul di benak saya. Di luar Ladya Cheryl, kebun binatang Zeke dan kawan-kawan adalah konklusi yang sama sekali lain dari teater absurd. Malam itu terjadi dialog antara Zeke dan semua entitas di panggung serta yang di luar panggung—kadang agak tersendat namun, esensi bermain-main tetaplah menjadi motif malam itu.

Mungkin juga karena musik Zeke yang tidak pernah gagal menjadi atraksi itu sendiri. Komposisi-komposisi quirky yang menerjang dan memaksa kita mengumpulkan patahan-patahan teka-teki dan mencoba menyusunnya kembali menjadi bangunan utuh dengan keterbatasan kosa-kata dan perbendaharaan referensi musik kita masing-masing. Dari gitar Zeke saya mendengar Stephen Malkmus dan Jeff Mangum, kadang-kadang The Flaming Lips masuk dari sisi kanan panggung melalui keyboard dan piano, sedangkan theremin yang misterius itu kadang memberi petunjuk kepada The Beach Boys. Terus terang saya suka dengan apapun yang melawan arus utama. Dan jika kebun binatang absurd Zeke dimaksudkan untuk melawan dominasi makna dan interpretasi, saya mungkin pada akhirnya tahu bahwa dengan “Pipis di Celana” mungkin Zeke sedang mencoba melawan. Zeke perlu lebih sering masuk televisi.*

 


*) Foto oleh Jovy Aidil Akbar. Galeri selengkapnya lihat di link ini

Last modified on: 14 April 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni