(1 Vote)
(1 Vote)
Read 7505 times | Diposting pada

Smashing Pumpkins dan Soal Mental Billy Corgan

Smashing Pumpkins (SP) tidak pernah mati dari ingatan saya. Saya masih ingat betul dengan ketiga sosok personilnya yang sangat unik. Seperti wajah bulat si Billy Corgan, perempuan keren bernama D’Arcy, dan wajah dingin si cowok blasteran Jepang-Amerika, James Iha. Dalam iTunes library pun saya masih menyimpan lagu-lagu SP, baik dari album Gish, Siamese Dream, Mellon Collie & the Infinite Sadness, sampai Zero. Dalam benak saya, gelar raja musik grunge patut disandang oleh Smashing Pumpkins.


Bahkan untuk sebagian penggemar berat SP, tentunya melebihi Nirvana yang mana vokalisnya, Kurt Cobain, juga mempunyai masalah labilitas jiwa dan berakhir dengan kematiannya yang tragis. Berbagai dinamika yang lebur dalam musik SP, dominasi gitar yang tetap terjaga dalam nuansa psychedelic menghantarkan saya pada berbagai tingkat emosi personal. Dan tentu lebih berdampak ventilatif/kuratif daripada provokatif semata.

Tentang Smashing Pumpkins

Kapan saya mulai tergila-gila SP? Sejak pemunculan mereka di tahun 90an tentunya. Embrio SP memang baru terbentuk sekitar tahun 1988, di jaman musik house —dengan gaya joget telunjuk bergoyang menunjuk “cicak-lampu”— masih merajai berbagai club di Chicago dan membuat saya pun mulai muak. Embrio itu adalah duo Billy Corgan dan James Iha yang kemudian berevolusi menjadi kuartet Smashing Pumpkins yang dikontrak oleh perusahaan rekaman Virgin pada tahun 1990.

Album debut SP, Gish, diawali dengan single pertama, “I am one”, mengartikulasikan perasaan mendalam tentang kehilangan dan ketersesatan, pernyataan tentang amarah dan frustrasi, sekaligus menjadi tonggak yang menunjukkan potensi luar biasa band SP. Corgan yang jenius menyuguhkan rentang musik yang sulit dikategorisasi, namun saya paling terkesan dengan lagu bernuansa psychedelic seperti "Rhinoceros". Gish mengungkap pandangan Corgan yang detil tentang dunia. Bahkan lagu "Rhinoceros" diulas sebagai sebuah schizoid beauty atau keindahan yang “bersembunyi” dan menenggelamkan lagu "Creep" dari Radiohead dan "Smells Like Teen Spirit" dari Nirvana.

Pada awal tahun 1992, Corgan menjelaskan kenapa penampilan SP menjadi ultra agresif, “…with a little bit of wizardry and a little bit of sheer will, we were either blowing people’s minds…or they hated us.” Corgan tampaknya menikmati reaksi ekstrem dua kutub atas lagu-lagunya, walau Corgan sering diejek “wasn’t a very nice person”. Namun pertengahan tahun 1992, personil-personil SP mulai menghadapi krisis pribadi, seperti Chamberlin yang sering mabuk karena alkohol, D’Arcy yang berpacaran dengan Iha kemudian putus. Corgan juga menghancurkan instrumen musik di Festival Reading karena merasa kecewa saat diminta untuk menyanyikan lagu Nirvana. Corgan pun sempat berpikir untuk membubarkan SP. Ia kembali ke Chicago, putus dengan pacarnya, dan seperti banyak seniman, ia pun memasuki fase gelap “self-reassessment”, dan merasa tertekan karena tidak bisa menulis lagu untuk melanjutkan album berikut setelah Gish.

Dalam kondisi tertekan tersebut muncul kalimat yang menjadi inspirasi untuk lagu berikutnya: today is the greatest… Kalimat inilah yang mengeluarkan Corgan dari keadaan tertekan sehingga Siamese Dream dirilis pada awal tahun 1993. Siamese Dream, sebagai sebuah mahakarya rock modern dengan melodi yang iritatif, akustik yang sumir, aransemen yang luar biasa, dan lirik yang empatik. Selain “Hummer”, “Disarm”, lagu dreamy seperti “Today” dan “Cherub Rock” yang cocok untuk penonton indie kelas berat, Corgan juga menyisipkan lagu “Spaceboy” sebagai sebuah lagu persembahan untuk adiknya yang mengalami gangguan genetik, Jesse. Tetapi rupanya kreativitas Corgan juga tidak luput dari kontroversi seperti lirik lagunya “Disarm” yang diprotes BBC karena dianggap offensive pada bagian: “cut that little child…” Tetapi bagi SP, mereka tidak mengenal istilah kompromi artistik.

SP mengeluarkan album ketiga, Mellon Collie and the Infinite Sadness pada bulan November 1995. Album ini tidak hanya membuktikan bahwa Corgan cerdas seperti biasanya, tetapi ada kesan bahwa stabilitas mentalnya ikut menutrisi kreativitasnya, baik dari segi energi maupun wujud hasilnya. Mellon Collie dikatakan sebagai karya paling egaliter karena Corgan tidak memonopoli dengan kreativitasnya semata. Corgan ingin menciptakan suasana yang kondusif untuk ide Iha dan D’Arcy, termasuk ikut menyanyi. Jika komersialisme karya yang menjadi parameter kesuksesan, maka album ini yang paling sukses karena terjual lebih dari 6 juta kopi.

Mempelajari sejarah SP, rasanya memang perjalanan terberat karir mereka adalah sekitar musim panas 1996. Pemain keyboard SP, Jonathan Melvoin, tewas secara fatal akibat overdosis kombinasi letal heroin murni dengan alkohol di sebuah kamar hotel di New York. Saat itu penabuh drum SP, Jimmy Chamberlin, juga dalam kondisi sempoyongan mabuk akibat menyuntik heroin. Diberitakan bahwa Corgan masih ingin menunggu Chamberlin sembuh dari rehabilitasi di sebuah klinik karena Chamberlin dianggap sebagai teman dekat Corgan dan jangkar emosi SP. Tetapi kemudian Corgan membuat sebuah keputusan yang berat. Ia menelfon manajer band dan memerintahkan untuk memecat Chamberlin. Problem dilematis Corgan tampaknya tidak hanya terkait proses kreatif dan sinkronisasinya, tetapi juga bagaimana menghadapi dinamika personil-personil SP yang berada di bawah kendali kepemimpinan Corgan.

Keputusan Corgan memecat Chamberlin didukung oleh James Iha ketika ia menjelaskan kepada majalah Mojo, “the subject [of drugs] gets so romanticized in Rock ‘n Roll —that “elegantly wasted” thing.” Iha menganggap tindakan seperti itu sangat merusak dan egois sehingga mereka tidak bisa lagi berpura-pura bahwa kebiasaan buruk Chamberlin dapat diterima. Chamberlin selalu overdosis setiap tur dan Iha tidak terbayang jika harus mengunci Chamberlin di kamarnya setiap malam.

Corgan pun merekrut pemain keyboard dari band the Frogs, Dennis Fleming, sebagai pengganti almarhum Melvoin dan seorang penabuh drum bernama Matt Walker untuk menggantikan Chamberlin. Walau harmonisasi gitar dan kesepahaman diantara para personil lama dan baru tidak terlalu intuitif, tetapi saya menganggap keputusan Corgan tepat pada waktunya dan sangatlah profesional karena ada beberapa personil terlibat dan cinta dengan band SP, selain SP sudah menjadi milik banyak penggemar yang menantikan SP segera comeback. 18 bulan kemudian, SP pun merilis album baru, Zero, termasuk OST Batman & Robin, the End is the Beginning is the End.

Riwayat Billy Corgan

Selain saya menikmati betul detil-detil riwayat band SP, satu sosok yang sangat saya kagumi tentunya adalah Billy Corgan. Lahir pada tanggal 17 Maret 1967 di Chicago, selang beberapa bulan setelah kelahiran Kurt Cobain-nya Nirvana, ada kemiripan pola asuh Corgan dan Cobain, yaitu keluarga yang disruptive. Corgan mempunyai seorang ayah musisi R&B dengan pendapatan minim, hidupnya terusir dari orangtua tiri ke orangtua kandung dan kembali lagi. Wajar jika kondisi tersebut mempengaruhi stabilitas jiwa Corgan sehingga dalam sebuah wawancara dengan majalah Rolling Stone, amarah Corgan pun sepertinya meluap ketika ia berkata, “Saya pikir, kenapa saya dilahirkan jika saya tidak akan diurus???

Pada usia 14 tahun, Corgan dikirim oleh ibu tirinya ke seorang psikiater. Ibu tirinya merasa yakin bahwa Corgan mengalami “persecution complex” atau jika disederhanakan, ada perasaan dan pemikiran bahwa ia seperti sedang dikejar-kejar. Tetapi karena psikiater tersebut adalah salah satu sahabat ibu tirinya, ia sulit menjelaskan bahwa justru ibu tirilah yang menjadi problem bagi Corgan. Musik menjadi satu-satunya pelarian bagi Corgan. Saat itu Corgan dipengaruhi oleh musik-musik dari Judas Priest dan the Cure. Berbeda dengan koleksi album milik sang ayah, seperti Hendrix, Miles Davis, dan Frank Sinatra.

Rupanya prestasi akademik Corgan termasuk baik, tetapi ia memilih untuk meninggalkan sekolah dan bekerja di sebuah record store. Sang ayah mengajarinya, “ada perbedaan antara ego playing dan true playing”. Corgan pun menguji bakat sebagai seorang gitaris dengan membentuk sebuah band bernama The Marked. Nama ini muncul karena Corgan dan teman penabuh drum-nya mempunyai tanda lahir berbentuk buah strawberry yang membuat mereka tidak percaya diri sewaktu masih kanak-kanak.

Jika mengamati biografi singkat dan berita-berita tentang Corgan, tampaknya ia memang mempunyai lokus minoris atau semacam kondisi yang mana jiwanya mudah terlemahkan jika menghadapi dilema. Hal ini tampak dalam proses pencarian inspirasi yang Corgan lakukan. Seperti misalnya pada tahun 1987, Corgan kembali ke Chicago dalam kondisi sakit dan bangkrut setelah selama satu tahun ke St.Petersburg Florida untuk melarikan diri dari atmosfer musik goth-metal. Setelah proses yang “menyakitkan” tersebut bagi dirinya, Corgan menemukan jawaban atas dilema yang ia alami. Ia pun mengunci dirinya dan menghasilkan banyak karya yang orisinil dan mengagumkan.

Pada tahun ini Corgan bertemu dengan James Iha yang tergabung dalam band kampus bernama Snake Train. Mereka pun tampil sebagai duo. Selain pertemuan dengan Iha, juga ada kisah antara Corgan dengan Courtney Love vokalis Hole sebelum Love menikah dengan Kurt Cobain. (Bagi saya, Love termasuk perempuan “eksentrik”  yang terlalu beruntung.)

Setahun kemudian Corgan bertemu dengan D’Arcy Wretzky karena Corgan sedang mencari rekan untuk menulis lagu bersama. Corgan meminta D’Arcy untuk mempelajari lagu-lagunya dengan memberikan sebuah kaset berisikan 400 lagu karyanya dan setiap minggu ada 10 lagu baru lagi. Komentar D’Arcy tentang musik Corgan, “I really loved the music!” Berikutnya Corgan merekrut anak dari seorang musisi jazz dan R&B bernama Jimmy Chamberlin untuk bermain drum. Setelah Chamberlin bergabung, SP pun menjadi the Metro’s premier indie support act dan menjadi band pembuka untuk band seperti Jane’s Addiction.

Dengan berbagai perjuangan jiwa Corgan dalam band SP, rupanya pada tahun 1994 Kurt Cobain malah bunuh diri karena konflik antara dirinya sebagai penulis lagu yang idealistik dan bisnis musik yang memperlakukan musisi seperti mesin. Corgan enggan membahas kematian Cobain, tetapi kematiannya jelas menekankan pada realita musik grunge yang sifatnya “self-searching”.

Corgan mengatakan bahwa “disfungsi” merupakan impuls kreativitas yang utama, sehingga dia pun lebih santai dan tampak bahagia ketika membahas ke rekan-rekan jurnalis tentang terapi yang dia pernah jalani untuk mengkonfrontir iblis-iblis pada masa kecilnya. Kondisi ini jelas tergambarkan dalam lirik lagunya “Disarm”.

I used to be a little boy

So old in my shoes

And what I choose is my choice

What's a boy supposed to do?

The killer in me is the killer in you

My love

I send this smile over to you

 

Disarm you with a smile

And leave you like they left me here

To wither in denial

The bitterness of one who's left alone

Ooh, the years burn

Ooh, the years burn, burn, burn

 

Sehingga walaupun Corgan berkesan masih berhati-hati untuk tidak terlalu membuka diri pada wartawan setelah apa yang terjadi pada Cobain, kepedihan masa kecilnya cukup jelas terkisah dalam lirik ciptaannya. Seniman masih termasuk salah satu makhluk terjujur dalam berekspresi karena justru dengan kejujuran dirinya ia berkomunikasi empatik dengan para penikmat karyanya. Walau idealisme ada kalanya juga perlu berimprovisasi untuk mengikuti sebagian selera pasar.

Last modified on: 25 Januari 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni