(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2782 times | Diposting pada

Powermad Menghantam Lagi

 

Powermad-saya rasa nama band ini nyaris dilupakan banyak metalheads Indonesia. Maklum mereka hanya merilis  satu  album penuh “Absolute Power” (1989) yang di masanya kendati sangat baik dari segi mutu namun pamornya tergilas band-band thrash dan speed metal lainnya macam Megadeth, Metallica, Anthrax, Testament, Helloween, dll. Bertahun kemudian nama band ini kembali mencuri perhatian-terutama di ajang kolektor musik macam “Record Store Day”. 

Pasalnya, album tersebut baik dalam format vinyl dan cakram padat harganya melonjak (untuk cetakan first print-nya menjadi buruan para kolektor) sehingga akhirnya kembali dirilis ulang untuk memenuhi permintaan. Tak hanya Powermad, grup-grup metal underrated lainnya macam Toxik, A.M.Q.A. , The Scream, D.A.D, Dead On, Riot, Dr. Mastermind, Kingdom Come, dll, bahkan hair band/glam rock seperti  Pretty Boy Floyd, Enuff Z-Nuff, Tora Tora menjadi buruan kolektor karena tidak banyak membuat rilisan album. 

Padahal ketika band tersebut masih aktif rata-rata album-album tersebut tak terjual dengan baik, bahkan Powermad memutuskan bubar tatkala penjualan “Absolute Power” jeblok di pasaran. Ada semacam “hukum” yang sedang berlaku saat ini ketika teknologi digital dituding sebagai “biang kerok” jebloknya penjualan rilisan fisik, yaitu “yang tidak terkenal/underrated, bahkan yang dilupakan asal materinya bagus malah dicari-cari,sedangkan yang overrated menjadi membosankan”. 

Hal demikian juga terjadi dengan Powermad, band metal asal Minnesota, kota yang konon lebih dikenal (dalam skena musik) melejitkan penyanyi Prince. Konon, Powermad sempat digadang sebagai satu-satunya band metal dari Minnesota sehingga menarik perhatian A&R Kevin Laffey yang percaya Powermad kelak akan sebesar Metallica. Laffey tak hanya membawa Powermad ke kancah metal, tapi juga membawa mereka pula tampil dalam film suspens “Wild at Heart” (1990) karya sineas David Lynch yang juga menuai prestasi di ajang Cannes Film Festival. Band yang terbentuk sejak 1984 ini sering disebut-sebut majalah musik, khususnya rock/ metal sebagai "An innovative and often forgotten speed metal band...who infused progressive metal styles and European styles into abstract American speed metal." (Metalhammer).

Mungkin jika pujian tersebut dulu sudah disebutkan, Joel DuBay (vokal/gitar), Jeff Litke (bass) dan Todd Haug (gitar) lebih percaya diri meneruskan band yang sempat menelurkan hits “Nice Dreams”. Tapi apa daya tahun 1989 bursa musik dunia khususnya rock sedang surplus album keren dari berbagai genre mulai dari hard rock sampai thrash metal, sebelum kemudian tergerus dengan booming-nya grup Seattle sound, grunge, alternative, sehingga album “Absolute Power” terlewatkan. 

Padahal album ini bermaksud menafsirkan kegelisahan mereka terhadap sistem politik dunia yang dikuasai kaum kapitalis yang abai etika/nilai kemanusiaan hasil pengejawantahan pemikiran filosof Machiavelli (Machiavelli Rule) yang memberi dorongan kepada kaum kapitalis bersekutu dengan politik kemudian menjadi pemimpin diktator. 

Mengenai tafsir dan kritik sosial yang keras tanpa tedeng aling-aling memang banyak dilakukan berbagai grup musik thrash/speed metal. Powermad,salah satunya. Contoh lain, Metallica lewat lagu “The Leper Messiah” (juga Death, album “Spiritual Healing”) adalah kritik kepada pemimpin agama Kristen Amerika yang sekedar berlomba mengumpulkan uang dari umat sebanyak-banyaknya namun abai pada nilai spiritual agama itu sendiri.  

26 tahun kemudian tak disangka Powermad muncul kembali dengan album baru “Infinite”. Kemunculan album baru ini tentu mengejutkan dan mengundang banyak pertanyaan, apakah mereka masih sekritis dulu ? Atau yang termudah apakah mereka masih sekuat 26 tahun lalu, jika ingat mereka memutuskan menjadi businessman setelah tidak lagi bermusik? 

Tetap Independen

Tahun 2007 sebenarnya Powermad sudah muncul kembali di berbagai gigs metal. Uniknya gigs yang mereka ikuti masih skala lokal di bar-bar kecil, walau mereka dulu semasa muda pernah tampil bersama Overkill dan Testament. Ihwal munculnya mereka kembali tentu saja gara-gara imbas acara “Record Store Day” dengan masih mendapat laporan penjualan royalti album “Absolute Power” sehingga selain membuat DuBay cs percaya mereka “masih diinginkan” metalheads,  label mereka Reprise dan Combat Records tertarik mengedarkan kembali berbagai mini album mereka (Madness Begins, Combat Boot Camp), ada yang dijual terpisah atau diselipkan dalam edisi baru cd/vinyl “Absolute Power”. 

Tawaran manggung kembali di berbagai tempat muncul, padahal Joel DuBay dan Todd Haug sudah berkarier menjadi businessmen. Todd Haug malah dikenal sebagai CEO pabrik bir Surly Brewing. Ada hal yang rada menguntungkan buat grup underrated ini, salah satunya mereka tidak terlalu “ngoyo” tampil di banyak acara, punya banyak waktu untuk berlatih- jika Anda membandingkannya dengan grup metal/rock lain yang muncul kembali macam Kix, Stryper, Black Sabbath/Motley Crue (akhirnya tutup buku 2016), Slayer, Anthrax, Metallica,  pun GN’R. 

Buat saya Joel DuBay cs bak memerlakukan Powermad mirip “band hobi” di luar rutinitas mereka sebagai pebisnis. Powermad sadar betul sudah lama hidup makmur di bidang lain di luar musik, meski tentunya tetap profesional sebagai band dengan tim manajemen yang mereka buat sendiri.  

Keuntungan lain, mereka tetap independen (album “Infinite” Powermad bikin label sendiri Pentacat Records) sehingga tak terganggu idealismenya membuat lagu. Sedangkan di luar panggung mereka tetap bisa menikmati previllege sebagai warga biasa-bukan sebagai rockstar yang harus menuruti sejumlah aturan yang sudah dibentuk artis manajemen pun media massa. 

Tapi, dasar dari awalnya memang berjiwa seniman, dari manggung kembali mereka pelan-pelan merancang ide untuk membuat album baru lagi walau dramer dan pendiri John Macaluso (pernah memperkuat TNT, Riot, Yngwie Malmsteen,dsb) posisinya diganti Dirk Verbeuren dan Dodd Lowder (bergantian, karena Dirk masih aktif dengan grupnya Soilwork). 

Mengenai album “Infinite” ternyata sudah disiapkan sejak 2010. Sesuai perkembangan zaman, Joel DuBay cs tentu harus menyesuaikan diri, terutama konsep pemasarannya dengan terlebih dulu merilis  video klip “Soul Descending” yang disebar di kanal YouTube, sesekali dinyanyikan di gigs mereka, baru sesudah itu album “Infinite” dirilis format cd dan I Tunes. Area promosi lainnya saja baru mereka siapkan baru-baru ini seperti membuat akun Facebook, Twitter, Soundcloud, website, dan tentu saja penjualan merchandise. 

Album ini sendiri ternyata mencengangkan. Spiritnya nyaris sama dengan “Absolute Power”, masih kritis terhadap situasi dunia yang kacau karena perang dan terorisme. Simak saja lagu “Army of One”, “Hypocrite”, dan “Forest” plus gebukan dram  Dirk Verbeuren yang masih aktif dengan grup melodic metal-nya, Soilwork. 

Suara vokal Joel DuBay malah tidak melorot, sedangkan Jeff Litke dan Todd Haug walau penampilannya sudah dibilang tidak muda lagi-nyaris mirip anggota geng sepeda motor gede : gondrong, brewok, gemuk, dan tatto-menguatkan imej mereka sebagai band metal yang keras, sangar dan angker. 

Uniknya album ini juga menghasilkan satu lagu yang tidak thrash metal, dibuka dengan petikan gitar akustik, “An Imperfect Way to Die”, lagu ini semula seolah muncul sebagai nomor ballada, seperti trik dagang jualan grup rock/metal oldschool yang memunculkan satu lagu slow rock sebagai pemikat. Ternyata nomor ini malah cenderung tampil dengan beat dan sound nu-metal modern, satu hal yang menjadi kekuatan baru Powermad. 

Last modified on: 17 Februari 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni