(4 votes)
(4 votes)
Read 2224 times | Diposting pada
Review Heals dan Single Baru 'Wave'

Menakar Formula Nugaze ala Roster Baru FFWD Records

Menakar Formula Nugaze ala Roster Baru FFWD Records Sumber foto: Dok. FFWD Records

 

Butuh dua rilisan single saja dalam waktu 3 tahun sejak Heals dibentuk 2013 silam, untuk tampil ke hadapan publik dengan formula baru term shoegaze era Cocteau dan sedikit Ride dalam musiknya sebagai sebuah style bermusik.

Adalah single Void, debut rilisannya tahun lalu yang dibuat ketika mereka mendengarkan 'Post-2000s', terinspirasi film Gravity dan memberikan sedikit racikan Japanese musics dalam track berdurasi 4 menit lebih itu. Menyusul setelahnya, Unit nugaze yang beranggotakan Alyuadi Febryansyah (Lead Vocal, Guitar), Reza Arinal (Back Vocal, Guitar), Muhammad Ramdhan (Guitar), Octavia Variana (Back Vocal, Bass) dan Adi Reza (Drum) ini baru saja merilis track perkenalannya berjudul Wave pada 1 April kemarin.

Berbeda dengan Void yang lebih berenergi dan instrumental, single Wave memang lebih stabil dan lembut sambil menambahkan lebih banyak lagi unsur vokal, gloomy dan cenderung hampa, seperti layaknya nuansa yang biasa kita dapatkan ketika mendengarkan roots musik sejenis ini. Seperti juga Void dan Wave, harus diakui Heals tampaknya memang belum serius (kalau tak mau dibilang klise) menggarap pesan atau statement apa dari lagu yang mereka ketengahkan, dan memilih lebih banyak bicara lewat estetika musiknya yang memang segar.

“Lagu ini kami pandang sebagai wujud ekspresi manusia dalam merespon tantangan atau ekspektasi yang acapkali diberikan masyarakat. Kedua hal itu sepakat kami gambarkan seperti sebuah ‘gelombang’ yang muncul di kehidupan sehari-hari,” demikian tulis band pada siaran persnya baru-baru ini. 

Seperti Ansaphone, Elemental Gaze bahkan Slowdive yang tengah berkembang bersama di landscap shoegaze terkini di scene lokal Kota Kembang, kuintet ini menawarkan formula khas dengan karakter layered guitar yang tetap noisy, dan tone vokal subduktif. Mereka seperti memberi tenaga baru bagi musik tatap-sepatu yang akarnya berasal dari Tanah Britania tersebut. Tak heran bila di tataran scene lokal Bandung yang demam shoegazenya pasang surut, Heals juga sempat menceritakan kerinduannya tentang scene yang kini banyak berubah. 

“Kami ingin jenis musik yang sedang mengalami dying scene ini kembali didengar sama orang lain," ungkap band seperti yang dipetik dari salah satu publikasi wawancara mereka di situs Djarumcoklat.com. "Kita ingat dulu band-band seperti Cherry Bombshell, The Milo,Gorgeous Smile, Kubik dan Jelly Belly membesarkan scene ini di Bandung,” kenang mereka.

Nama Heals sendiri muncul dari scene lokal Bandung dan mencuri perhatian sejak penampilannya di micro gigs An Intimacy volume 6 yang digelar Februari tahun lalu dan membuka peluncuran EP Lamebrain 'Overpower' oleh Dermaga Records yang bertepatan perayaan Record Store Day 2015. Sesi studio live performance nomor Void juga telah dirilis di klikklip.com. Selang beberapa bulan setelahnya, label kenamaan FFWD Records menyatakan Heals resmi bergabung sebagai salah satu roster pada Desember 2015.

Saya pribadi belum mau sesumbar dulu, apapun opini tentang Heals dan formula musiknya memang baru bisa dibuktikan secara utuh lewat rilisan debut album penuhnya yang sepertinya baru akan dilepas tahun depan.  

Artwork Wave by Arin Dwihartanto Video by Qrimson Studio
Last modified on: 2 April 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni