(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2003 times | Diposting pada

Jatuh Bangunnya Sang Mini Metal, RIOT

 

Di antara banyak grup rock/metal, ada satu nama yang cenderung terlewat meski perjalanan kariernya sangat panjang. Mereka adalah RIOT yang kini menambahkan “V” di belakang nama band yang sudah eksis sejak 1975. Mengenai kiprahnya yang sering terlewat, wajar saja karena RIOT sempat berganti format musik dari hard rock  (1977-1983) ke speed metal (1988-sekarang), selain publik di Indonesia (juga dunia) kerap keliru dengan nama band rock lain, misalnya Quiet Riot. 


Satu hal lain lagi yang membuat nama mereka kurang mencuat adalah terlalu seringnya gonta ganti personil, di samping lagu-lagu mereka di awal karier tidak memiliki ciri khas tertentu yang layak menjadikan mereka sebagai band yang solid.

Terbentuk di New York 1975, RIOT identik dengan gitaris dan pendirinya, Mark Reale yang wafat 2012 karena penyakit kanker usus. Di awal kemunculannya era 1970-an RIOT tak ubahnya grup hard rock/heavy metal lain yang wara-wiri di jagad musik macam Black Sabbath, AC/DC, Deep Purple, Kiss, Aerosmith atau Led Zeppelin sehingga posisinya sekedar mengisi “gerbong” kereta musik rock yang kelewat sesak dengan band-band supergrup yang kebanyakan dari daratan Inggris.

Lantaran di era tersebut musik rock sedang dilanda keemasan grup rock asal Inggris (The Beatles/Rolling Stones/Deep Purple/Zeppelin/Yes/Genesis), RIOT seperti disiapkan label rekaman Capitol plus bantuan pengamat/jurnalis musik di Amerika guna menyaingi popularitas jagat rock kala itu yang didominasi grup Inggris. RIOT lahir bersama andalan band classic rock AS : Aerosmith, Montrose (band Sammy Hagar sebelum solo karir dan bergabung ke Van Halen), Starcastle (epigon Yes), dan Kiss. Dan seperti kita ketahui bersama hingga abad 21 prediksi Capitol untuk melejitkan RIOT cukup beralasan. Aerosmith, Sammy Hagar, dan Kiss berhasil menjadi saingan Inggris dalam industri musik rock. Belum upaya mereka sendiri melejitkan band negeri Kanguru, AC/DC di skena heavy metal, juga Amerika pelan-pelan membuat skena baru yang dinamai “Southern Rock” dan hanya ada di sana dengan musisi andalan macam Bruce Sprinsteen,Lynyrd Skynyrd,dll selain berhasil melejitkan era “hair band/glam metal” ala Motley Crue, Poison, GN’R dan AOR (Adult Oriented Rock) ala Boston, Reo Speedwagon, Toto, dan Survivor. 

Hasilnya memang tak mengecewakan; album dirilis label besar (Capitol, Elektra, CBS/Sony Music) dan kerap sepangung dengan AC/DC, Sammy Hagar, Survivor, Black Sabbath, Kiss, dan Rush, kendati tak bisa dibilang spektatuler lantaran masih tetap saja tergilas dengan pamor grup asal Inggris.

Mark Reale di awal kariernya sebelum membentuk RIOT pernah bergabung sebagai additional player di Montrose, Rick Derringer dan Edgar Winter. Dengan formasi awal Peter Bitelli (dram), Phil Feit (bas) vokalis Guy Speranza, Reale meniti kariernya sebagai rockstar. Resiko gonta ganti personil tak terhindarkan. Untuk vokalis saja tercatat sudah tujuh kali berganti! 

Membangun Karier Kembali

RIOT mulai mencuri perhatian tatkala merilis album “Thundersteel” (1988). Di sini musik mereka berubah menjadi speed/power metal. Tak ada alasan pasti kenapa Reale yang di masa belianya mengagumi Ritchie Blackmore dan Eric Clapton ini mengubah format musiknya menjadi lebih keras. Yang jelas setelah album “Born in America” yang dirilis 1983, ketegangan antar personil tak pernha adem hingga RIOT memutuskan bubar. Hal ini diperparah dengan keterlibatan masalah kriminal yang dialami vokalis kedua RIOT, Rhett Forrester, yang membuatnya tewas ditembak orang tak dikenal pada 1994!

Butuh waktu lama RIOT membangun kariernya kembali (5 tahun) apalagi Reale yang frustasi sempat terpikir mengganti nama RIOT menjadi Narita pada 1986 yang kebetulan namanya sama dengan album kedua RIOT. Berawal dari konsep musik Narita, bersama pencabik bas Don Van Stavern, Reale tak jadi mengganti nama RIOT. Masuknya produser Steve Loeb yang cukup dihormati di label besar CBS berhasil meyakinkan Reale dan Stavern untuk meneruskan album ke-6 RIOT “Thundersteel” sebagai band speed metal.

Album “Thundersteel” (1988) memang cukup bergizi di masa Amerika akhirnya berhasil menguasai pangsa pasar dunia rock dengan melahirkan tren speed dan thrash metal. Ya, untuk hard rock dan heavy metal bolehlah Inggris menjadi “Raja” hingga tercetus istilah  “The New Wave of British Heavy Metal” yang menjadi mainstream era 1970-1980-an. Tapi untuk speed dan thrash metal, wilayah itu lebih didominasi band Amerika macam Metallica, Megadeth, Testament, Anthrax, dan Slayer, setelah diawali dengan melesatnya Manowar!

Kilas balik ke “Thundersteel”, album ini berisi 9 trek dengan melejitkan hits yang kini menjadi anthem di tiap konser RIOT: “Fight or Fall”, “Flight of The Warrior”, “Bloodstreets”, “Johhny’s Back” dan “Thundersteel”. Tema lagu yang semula hanya memperebutkan kekasih serta kehidupan berandalan-ciri khas yang identik dengan hard rock-heavy metal era 1970-1980-an berganti menjadi tema perang dan sisi kelam dunia yang bergerak-salah satu tema yang sudah diawali grup Manowar yang pernah mendapat gelar sebagai grup musik terbising Guinness Book of Records 1986.

Album ini mendapat tempat tersendiri di kalangan pecinta rock hingga dirilis ulang format vinyl-nya pada 2003 dan 2013. Dengan formasi Tony Moore – vocals, Mark Reale – guitars, producer, Don Van Stavern – bass dan Bobby Jarzombek – drums, RIOT diproyeksikan produser Steve Loeb untuk menggilas grup Inggris macam Iron Maiden, Rainbow, Judas Priest (yang langsung mengubah tempo lebih keras sejak album “Ram It Down” 1988 dan “Painkiller” 1990 guna menyaingi serbuan thrash Amerika), dan beberapa grup dari daratan Eropa yang juga menguasai jagat ‘speed/power metal’ diantaranya Helloween, Accept, Axell Rudi Pell (Jerman), Loudness (Jepang), dan Yngwie Malmsteen (Swedia).

Kesuksesan album “Thundersteel” membuat Mark percaya diri untuk bermain di wilayah speed metal hingga album berikutnya “The Previllege of Power” (1990) yang dinobatkan sebagai salah satu album metal terbaik versi majalah Rock Hard pada 2005 dalam edisi khusus The 500 Greatest Rock & Metal Albums of All Time

Untuk album “The Previllege of Power” tampak sekali Mark makin menunjukkan kematangannya menggarap tema-tema sosial politik yang sedang aktual. Tak hanya tema yang menjadi lebih berisi, Mark Reale,Tony Moore, Bobby Jarzombek, dan Don Van Stavern mencoba bereksperimen dengan memasukkan alat tiup (brass section) di lagu “On Your Knees” dan “Killer”  sehingga lebih dari sekedar album speed metal hingar bingar bertempo cepat. Apalagi di lagu “Killer” mereka menggandeng bintang tamu Joe Lynn Turner yang tenar sebagai vokalis Rainbow, Yngwie Malmsteen band dan Deep Purple.

Bangkit dan Kembali Terpuruk

Kesuksesan dua album “Thundersteel” dan “The Previllege of Power” yang sepertinya menjadi masterpiece RIOT tampaknya tak berlanjut. Kericuhan yang lebih banyak disebabkan ketidakcocokan manajemen dengan produser Steve Loeb membuat formasi RIOT tercerai berai. Banyak fans menyayangkan formasi Mark Reale,Tony Moore, Bobby Jarzombek, dan Don Van Stavern yang sepertinya sudah solid harus berganti. RIOT yang tampaknya nyaris menjadi supergrup terpaksa kembali menjadi underrated band yang kini hanya dikenal di kalangan kolektor classic rock yang serius.

Album-album berikutnya seperti “Nightbreaker” (1993) sampai “Army of One” (2006) tak mampu menghasilkan hits besar. Kondisi ini bukannya tak disadari Mark Reale sang komandan. Album “Nightbreaker” malah tampak membuatnya seperti kehilangan kendali sehingga RIOT kembali ke jalur heavy metal dengan mengulang format musik album “Fire Down Under” (1981). Selain kembali ke jalur hard rock ‘nanggung’ dengan heavy metal, di album ini RIOT juga meng-cover classic rock hits Deep Purple “Burn” dan Procol Harum “A Whiter Shade of Pale”.

Satu hal lagi yang menjadi titik lemah selain terlalu sering gonta-ganti personil nyaris sepanjang kariernya hingga berganti menjadi speed metal, Reale tidak membuat nomor ballada slow rock yang biasanya menjadi andalan grup rock agar paling tidak masuk Top Chart atau hit list radio friendly yang masih menjadi barometer kesuksesan industri musik kala itu. Steve Loeb, produser yang pernah membawa mereka ke puncak popularitas pun juga akhirnya mundur pada 1995 selain ia berpindah menangani grup hip-hop dan rap.

Memang mereka masih menjadi line-up di berbagai event rock, terutama di Eropa dan Jepang. Untuk panggung Reale tak dipungkiri tampak kelimpungan sehingga beberapa personil yang sempat jadi “tokoh mini” di jagat metal macam Tony Moore, Bobby Jarzombek, dan Don Van Stavern keluar-masuk silih berganti  dengan tentunya lebih banyak memainkan lagu di dua album “Magnum Opus” mereka ketimbang lagu di album rekaman pasca “The Previllege of Power”!

Singkatnya, bangkit dan kembali terpuruk adalah dua hal yang kerap dialami RIOT sehingga Reale memutuskan vakum pada 2007. Sampai 2011 nyaris tak ada kabar dari RIOT dan banyak orang menyangka ini akhir dari grup yang dua kali diproyeksikan untuk menggilas “The New Wave of British Heavy Metal”.

Tak disangka 2011 Reale cs. ternyata sanggup kembali menghidupkan band yang susah payah dibentuknya hampir 30 tahun itu. Mereka merilis album “Immortal of Souls” yang selain kembali ke speed metal sekaligus mengembalikan formasi Thundersteel. Secara khusus, album ini memang tak mengecewakan. Apalagi album ini dirilis label Jerman Steamhammer dan Avalon dari Jepang, dua negara yang masih potensial sebagai sebagai pangsa pasar classic rock-terutama speed metal.

Sayang, meski album ini diharapkan menjadi formasi yang solid, Reale dilanda sakit keras sehingga jadwal tur promonya tersendat-sampai ia akhirnya dikabarkan tewas pada 2012. Unik memang jika  mengikuti perjalanan grup yang akhirnya saya namai “mini-metal” lantaran nyaris gagal dua kali diproyeksikan menjadi supergrup-kendati track record gigs mereka terus berkembang ke skala besar.

Uniknya lagi walau berkali-kali kandas, RIOT tetap memiliki tempat di hati pecinta metal-terutama di daratan Eropa dan Jepang. Akira Takasaki, motor grup speed metal andalan Jepang tertua, Loudness-jauh sebelum tren J-Rock/Nu Metal dewasa kini -mengakui RIOT adalah band idolanya.

Tahun 2013 setelah masa berkabung, lagi-lagi RIOT membuat kejutan. Dengan formasi baru plus formasi lama era Thundersteel yaitu Todd Michael Hall - lead vocals, Mike Flyntz – guitar, Nick Lee – guitar, Don Van Stavern – bass dan Frank Gilchriest – drums mereka mencoba meneruskan semangat RIOT ala Thundersteel (lagu speed metal bertema perang dan kritik sosial) dengan merilis album “Unleash The Fire” yang dirilis 2014 lewat label Steamhammer/Avalon.

Hingga kini belum ada kabar terbaru dari “mini metal” ini selain disibukkan dengan padatnya jadwal konser. Nama V ditambahkan untuk menandai lima kali pergantian personil sekaligus babak baru perjalanan RIOT minus sang komandan, Mark Reale.

Last modified on: 1 September 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni