(4 votes)
(4 votes)
Read 5167 times | Diposting pada

Jalan Pulang Bangkutaman

Jalan Pulang Bangkutaman Luhki Hernawayogi

 

Ratusan panggung sudah dicicipi mereka. Mulai dari Jakarta sampai Singapura. Tapi ada satu panggung yang tak pernah bisa dilupa. Panggung tersebut adalah Yogyakarta.

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah tantangan untuk anda. Silahkan anda kumpulkan sepuluh orang rekan yang pernah kuliah di Yogyakarta. Lalu tanyakan pada mereka apakah mereka rindu dengan Yogya. Saya berani bertaruh sebagian besar akan sepakat dengan saya kalau Yogya memang candu.

Wahyu “Acum” Nugroho, J. Irwin Ardy, serta Dedyk Eryanto Nugroho adalah tiga orang yang juga mengalami adiksi terhadap Jogja. Mereka adalah potret dari anak-anak muda di negeri ini yang percaya Yogya adalah tempat yang tepat untuk membentuk masa muda mereka. Mereka datang dari Jakarta dan/atau wilayah sub urbannya. Acum tumbuh besar di Depok, Dedyk menghabiskan masa remaja di Timur Jakarta tepatnya di Rawamangun, sedangkan Irwin datang dari Bekasi.

Acum mengaku jatuh cinta dengan Yogya saat berdarmawisata ketika duduk di bangku SMP. Saya ke Yogya pertama kali tahun 1993, waktu darmawisata dan saya lihat semua orang bersepeda dan tertawa. "It was so peaceful,” ujar Acum saat saya wawancara dalam suatu kesempatan. Sedangkan Dedyk ingin “membersihkan” reputasinya di Yogya. Maklum di Jakarta dia tercatat sebagai siswa SMAN 1 Jakarta. Publik lebih mengenalnya dengan sebutan SMA Boedoet, merujuk pada nama jalan yang menjadi alamat SMA yang jadi salah satu sumbu tawuran pelajar di Ibu Kota.

Dan Yogya kemudian menyediakan rumah dengan halaman bermain yang luas bagi mereka bertiga. Rumah itu bernama Bangkutaman, dibangun tahun 1999 dari pondasi bernama kesenangan dan gairah. Bersama Bangkutaman mereka merasakan euphoria saat-saat menjadi rembol (kere nggerombol). Rela dibayar gorengan untuk panggung pertama di kampus Universitas Sanata Dharma, kucing-kucingan dengan kondektur untuk tumpangan gratisan di kereta kelas ekonomi demi efisiensi biaya tur, juga agenda malam keakraban di pojok jalan Pajeksan, berbagi “air kedamaian” dengan para punker dan metalhead.

Dan sampai akhirnya waktu membuat mereka bertemu dengan realita di Ibu Kota. Muncul kegamangan apakah tetap di Yogya atau kembali ke Jakarta. “Banyak band di Yogya yang terbentuk saat personilnya kuliah di Yogya, tapi begitu lulus langsung bubar karena personilnya pulang,” terang Acum. Meski harus melalui proses panjang, Acum, Irwin dan Dedyk akhirnya punya kesamaan pikiran. “Terima kasih untuk Yogya yang mendidik kita. Terima kasih Jakarta yang membuat kita belajar arti hidup,” ujar Acum.

Saat mereka merilis album monumental Ode Buat Kota menjelang penghujung tahun 2010 lalu, pertanyaan pertama kali yang muncul di kepala saya adalah,” Kapan mereka main di Yogya?,”. Mereka harus pulang. Membagi cerita jibaku di Ibu Kota. Namun saya harus menunggu jawabannya satu tahun lebih sampai akhirnya sosok bernama Satria Ramadhan mengantarkan mereka untuk pulang. Satria Ramadhan dikenal sebagai die hard fans Bangkutaman.

Bersama Felix Dass, keduanya adalah sosok dibalik berkumpulnya kembali Acum, Irwin, dan Dedyk yang nyaris bubar jalan akibat konflik internal. Lewat bendera SRM, wadah yang juga menaungi Ballads Of The Cliché, Sore, L’Alphalpha, serta Leonardo, Satria mempersembahkan gelaran bertajuk Interconnection #1 pada 21 januari lalu sebagai momen pelepas rindu bagi Bangkutaman. “ Momen yang pas untuk mereka kembali ya menciptakan gig yang seru buat para fansnya,” jelasnya.

Interconnection adalah rangkaian tur perdana dari musisi-musisi SRM. Dari Jakarta mereka menggunakan bus menuju Yogya, lalu keesokan harinya langsung ditanggap di Solo. Karena faktor kesehatan, Acum, Irwin dan Dedyk menggunakan pesawat terbang menuju Yogya. “Pasti jauh lebih nyaman ketimbang dulu saat harus naik kereta ekonomi ya?,” tanya saya. “Naik pesawat ibarat bonus dari kerja keras kita selama ini,. Kalo capek sih masih sama, tapi sekarang kami makin tua dan kompromis” kata Acum. “Sekarang umur nambah, sudah gak sanggup seperti dulu,” sambung Irwin. “Intinya kami tetap kerja keras. Dulu kami harus menyisihkan SPP sampai naik kereta ekonomi tiap tur. Sekarang kami butuh kru untuk menata panggung. Untuk itu kami akhirnya kembali dituntut untuk kerja keras,” terang Irwin panjang lebar. Saya bersyukur atas jawaban itu.

Untuk showcase di Jogja, SRM bekerjasama dengan Grass Root Management. Disana ada Adi “Gufi” Adriandi, sosok yang bertanggungjawab dibalik ramainya gig-gig berkualitas di Yogya. “Pokoknya malam ini temanya nostalgia. Songlist aku yang nyusun,” kata Gufi. Menurutnya dari dulu ada tawaran untuk membuat gig bagi Bangkutaman. “Tapi waktu itu masih ada konsentrasi ke urusan lain. Biaya produksi juga. Bikin pentas untuk lima band, dua band atau satu band kan sama. Waktu yang pas ya sekarang,” terang Gufi yang juga menjadi manager bagi pianis cum solois penuh talenta, Frau. Atas nama nostalgia pula, Gufi memaksa Dedyk untuk memakai kembali topi pancing ala Alan “Reni” Wren, drummer The Stone Roses. “Iya nih dipaksa-paksa, dicariin pinjeman,” kata Dedyk.

Venue yang dipilih juga sengaja ingin memutar rekaman lama Bangkutaman tentang Yogya, Purna Budaya. Purna Budaya adalah gedung kesenian di kompleks kampus Universitas Gadjah Mada. Setelah direnovasi namanya menjadi Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri untuk mengenang mantan rektor UGM Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri yang meninggal dunia pada kecelakaan pesawat udara di bandara Adi Sutjipto tahun 2007.

Purna Budaya terletak di dekat Boulevard UGM. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu public space yang makin menghilang di Yogya. Belakangan pihak kampus memberlakukan kebijakan portalisasi demi kemanan dan ketertiban lingkungan kampus yang membuat Boulevard tak lebih dari sekedar jalan kampus biasa. Di lokasi ini pertengahan tahun 1999, Acum sering menghabiskan waktu bermain skateboard dan nongkrong dengan kostum kebanggaanya. Kaos The Stone Roses. Disitulah dirinya bertemu Irwin setelah dikenalkan sahabatnya, Titok, yang ternyata teman sekampus Irwin.

Di UGM pula Dedyk didapuk berada dibalik drumset setelah Denny Prayugo, drummer Bangkutaman sebelumnya, mundur. Dedyk adalah orang yang paling aktif berjoget hingga moshing sementara penonton yang lain terdiam saat mereka pentas di pelataran Gelanggang Mahasiswa UGM. Dia juga termasuk salah seorang penggagas Common People, suatu kolektif yang berisikan orang-orang penikmat British Invasion. Saat Poster Café, kafe legendaris di Jakarta yang menelurkan nama-nama seperti Rumahsakit, tutup, beberapa “aktivis”nya menyebar. Dedyk adalah salah satu saksi hidupnya. Dia membawa semangat Poster ke Yogyakarta saat melanjutkan studi. Memang cukup aneh karena tiga orang ini sama sekali bukanlah alumni dari Kampus Biru. Acum adalah sarjana Biologi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Irwin lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma. Sementara Dedyk jebolan dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Tapi keberadaan Boulevard UGM sebagai ruang publik membuat perbedaan tadi lebur.

“Venue ini mengingatkan kita waktu merintis jadi musisi,” kata Irwin. “Yo jaman-jaman pacaran, puter-puter nggo vespa, jaman ijih mendem bareng-bareng (jaman masih pacaran, keliling kota pakai vespa, jaman masih suka mabuk bareng),” sambungnya.

Acum merasakan betul kepingan-kepingan masa lalu itu saat ia berjalan kaki dari Purna Budaya menuju studio radio Swaragama untuk wawancara. “Saya tadi lewat Gelanggang. Ada perasaan ingin menunjukkan ke penonton waktu nanti manggung. Ini rumah kita,” ujarnya. Bagi Acum, venue kali ini menyadarkan pentingnya ruang fisik yang mempunyai rekam sejarah. “Komunitas sekarang makin banyak tapi tidak punya site bersejarah untuk kumpul. Ini penting untuk menjadikan erat satu sama lain”.

Pertanyaan mengapa mereka begitu lama pulang ke Yogya masih saja terus mengusik saya. Pernah suatu ketika saya punya prasangka buruk. Mungkin mereka sudah dapat ketenaran di Jakarta, lalu sibuk dengan segala konsekuensi jadi idola baru, dan lalu lalu lainnya.

“Kenapa kalian bisa begitu lama untuk manggung di Yogya setelah rilis Ode Buat Kota,” pertanyaan yang langsung saya lontarkan saat menemui Irwin disela-sela sesi sound check. Acum dan Dedyk menyusul kemudian. Irwin menjawab setelah sebelumnya menyesap segelas kopi panas yang dibelinya dari angkringan dekat Purna budaya. Pria ini memang penggemar kopi kelas wahid. Lagu Coffe People terinspirasi dari pekerja-pekerja nocturnal yang baru “hidup” jika kopi sudah terhidang. Nama akun Twitternya pun mengambil judul lagu yang kental pengaruh Velvet Underground tersebut.

Main ning Yogya ki kudu tenanan (manggung di Yogya itu harus disiapkan dengan matang)”, jelas Irwin. Diakui Irwin, mereka panik saat mendapat kepastian manggung di Yogya. Karakter penonton yang berbeda membuat mereka harus menyiapkan gimmick khusus. “Penonton di Yogya itu yang mengerti Bangkutaman dari album pertama. Pasti mintanya lagu-lagu lawas,” jelasnya. “Teman-teman kita itu hidup di jaman album Love Among The Ruins dan Garage of The Soul,” tambah Dedyk.

Penantian yang amat panjang tentu saja dirasakan oleh para Rekan, sebutan bagi penggemar Bangkutaman. Di laman Facebook mereka selalu terselip pertanyaan kapan main di Yogya. “Sesabar apa kalian setiap mendengar pertanyaan itu?,” tanya saya. “Yah rasanya kayak kita nembak cewek tapi masih ngegantung,” jawab Acum sambil tertawa. “Kalo lihat dari sisi lain kenapa lama, kita ingin main dengan optimal. Nostalgia dapat, promo dapat. Menjaga supaya Yogya tetap spesial,” sambung Irwin.

Gelaran Interconnection malam itu kemudian menjadi tempat dimana kerinduan terlampiaskan. Felix Dass menyempatkan hadir, juga ada sosok-sosok lain yang tak saya kenal namun saya yakin mereka adalah penggemar Bangkutaman sejak jaman kiwari. Terbukti dari diteriakannya judul-judul lagu lawas seperti “Kabut” atau “Satelit”.

Baru saja panggung diset oleh kru penonton dengan teratur beringsut maju ke panggung setinggi tak lebih dari satu meter. Tak ada sekat sama sekali hingga saya bisa mengintip songlist malam itu. Benar. Dari sepuluh lagu, separuhnya lagu-lagu lama. Set seperti ini susah untuk ditemukan di gig Bangkutaman di kota lain. Semuanya untuk Yogya.

Pembukanya She Burns The Disco dari album B-sides Garage Of The Soul (EP) rilisan 2005, lalu dijeda Alusi yang terhitung anyar. Tanpa dikomando penonton melakukan crowd surfing, seakan mengulang ke masa-masa awal terbentuknya Bangkutaman saat showcase mereka rajin disambangi rekan-rekan punker yang meramaikan suasana lewat tari pogo, aksi moshing dan headbanging hingga crowd surfing. Saat jalan Pulang dimainkan, saya merasakan kerinduan antara Acum, Irwin, dan Dedyk dengan Yogya dan semua orang, yang besar oleh dan membesarkan Bangkutaman. Terlebih saat nomor akustik Solomon Song meluncur.

Saat Ode Buat Kota, yang sepertinya jadi penutup, Acum melepas bass-nya. Dia kemudian mengambil mikrofon dan menjadi instruktur dadakan untuk karaoke massal di Purna Budaya malam itu. Acum berjalan ke kanan dan kiri panggung. Meminta penonton bernyanyi lebih keras yang pastinya dibalas dengan suara terkeras. Dia lalu berjalan ke tengah kerumunan penonton, bersama-sama menyanyikan refrain khas na…na..na..na..na..na..na..na yang lahir dari Metromini 640 jurusan Pasar Minggu-Tanah Abang ini.

Dua encore menjadi bukti sahih bahwa malam itu adalah malam Bangkutaman. Kabut yang punya nilai historis karena dibuatkan videoklipnya oleh sosok yang dihormati Bangkutaman, Andri Lemes, vokalis band legendaris Rumah Sakit. Penutupnya adalah Satelit dari album Roby Garden rilisan tahun 2005. Lagu nan pekat arima psikadelik ini menjadi klimaks. “Di Jakarta kami jadi band nasional, tapi di Jogja kami betul-betul merasakan jadi band kesayangan,” ujar Irwin.

Masih dalam momen pulang kampung, Bangkutaman juga mengabarkan akan merilis ulang debut album penuh Love Among The Ruins yang dirilis sembilan tahun lalu. “Idenya dari Felix. Kita ingin penggemar sekarang tau kita berangkat dari apa,” terang Irwin. Lewat album re-issue tersebut mereka ingin menunjukkan bukan sekedar band kemarin sore. “Re-issue hal lumrah. Ini akan jadi jembatan untuk yang baru tau Bangkutaman dari album Ode Buat Kota,”. “Tapi bukankah album Ode Buat Kota adalah momen kedewasaan kalian dimana sebelumnya selalu dianggap sebagai The Stone Roses-esque ?” tanya saya. “Justru ditengah kedewasaan kita lewat album re-issue ini kita bisa tahu saat dulu masih kecil,” jawab Acum. “Secacat-cacatnya dan sejelek-jeleknya lagu tetep bakal dimasukin. Menandakan betapa tua dan berubahnya kita,” tambah Irwin.

Saya tiba-tiba teringat kata Romo Mangun, yang saya baca dari brosur produk kaos khas Yogya. Yogyakarta adalah ibu yang membesarkan anak-anaknya sampai mereka siap menghadapi tantangan dunia dan kelak membesarkan nama kota itu. Dan malam itu sang anak pulang untuk ibunya. Pulang untuk Yogya.

Last modified on: 22 Januari 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni