(3 votes)
(3 votes)
Read 4926 times | Diposting pada

Ada Apa Antara Navicula dan Alam

 

Pengantar Redaksi: Band grunge kesayangan Bali Navicula baru saja mencatat sejarah dengan memenangkan kompetisi Rode Rocks yang memungkinkan mereka merekam karyanya di Record Plant Studio, Hollywood, di bawah asuhan salah satu produser kesayangan kami Alain Johannes. Ini mungkin kesempatan pertama bagi band Indonesia untuk melakukannya. Selamat untuk Navicula dan anggap saja ini tribute untuk prestasi tersebut.

***

“Lagu apa tuh? Liriknya enak. Cocok buat pecinta alam, Yu!” kata seorang teman ketika kami sedang menikmati hamparan bintang di padang sabana Alun-Alun Suryakencana, Gunung Gede.

Dan saya pun hanya bisa tersenyum sambil terus mendendangkan lagu “Supermaket Bencana” karya sebuah band indie grunge dari Bali. Ketika itu, tak ada media untuk mendengar musik yang bisa menemani kami di Surken —begitulah sabana itu dikenal. Media musik dan alat komunikasi, sebisa mungkin kami matikan. Untuk menghemat baterai dan untuk persiapan jika nanti kami mendapatkan kemungkinan nyasar saat turun gunung.

Saya lalu berdendang lagu lainnya lagi. Beberapa lagu yang saya dendangkan memang sengaja saya pilih yang bertema alam. Pasalnya, kami memang sedang berada di alam liar yang entah kapan bisa terus dijaga. Sekarang ini, Gunung Gede sendiri bahkan sudah tercemar oleh sampah. Di sepanjang jalan naik, di sabana Surken, maupun di jalur turun, banyak sampah berserakan.

***

Supermarket Bencana salah satu lagu band Navicula yang memberi gambaran pahit realitas negara ini. Entah karena manusia memang semakin rakus akan kepemilikan di era global ini atau memang karena sekarang sudah tak ada lagi yang peduli akan konservasi. Alam adalah tempat yang menghidupi kita, namun kita dengan sengaja merusaknya.

Sengaja atau tidak, sadar atau tidak kitalah yang paling bertangung jawab terhadap kerusakan alam. Miris dan bertambahlah iba saya akan negeri, yang katanya berlahan luas, hijau alamnya, dan kaya akan sumber daya ini namun kini banyak memilki durjana yang rakus dan hendal menghancurkannya. Dan lagu Supermarket Bencana seakan menggambarkan semuanya. Perihal tuhan yang bisa saja menjadi murka, bisa saja menghancurkan alam sekaligus, jika alam sudah tak ada lagi dipedulikan.

Saya sering bertanya, apakah Robi Navicula bekas anggota grup  pecinta alam? Saya rasa, disebut penikmat alam mungkin lebih tepat. Selalu ada kritik sosial tentang alam yang membangun, dalam setiap lagunya. Lagipula, kita tahu bahwa memang tidak banyak hal yang bisa dinikmati dari musik-musik pasar arus utama Indonesia saat ini.

Jika bukan mengatasnamakan “cinta melulu”, mengutip Efek Rumah Kaca, maka musik Indonesia dewasa ini pasti akan berdendang Melayu melemahkan hati. Setidaknya, selayaknya khalayak bisa berpikiran lebih terbuka akan musik dan pesan di dalamnya. Begitu banyak kritik, saran, opini, maupun pemahaman yang bisa masuk ke musik. Tak melulu cinta, tak melulu dendang Melayu yang haru biru.

Navicula, degan segala kerendahan hatinya, tetap bisa menjadi suara nurani untuk  konservasi. Saya sendiri sudah beberapa kali merekomendasikan band kepada teman-teman saya sesama pecinta alam untuk mulai mendengarkan. Dan hasilnya, mereka sepakat dengan kesimpulan bahwa Robi dan Navicula adalah pecinta alam. Yang saya tahu juga adalah bahwa Robi Navicula memiliki program urban farming di Bali.

Sejatinya, Navicula berhubungan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan alam dan konservasi, meskipun mereka bukan pecinta alam par excellence. Hal ini jadi menggenapi semua pemahaman saya akan Navicula yang tidak hanya meng-ada dalam skena Grunge di Bali, tapi juga ada untuk berbicara tentang  konservasi.

Tidak hanya Supermarket Bencana. Saya takjub ketika mendengar hentakan musik yang bersemangat dan menceritakan tentang realitas kota paling metropolis di Indonesia. Lagu ini bahkan membentuk permainan kata-kata dari metropolitan menjadi Metropolutan. Dengan hentakan yang benar-benar menyemangati kita untuk berteriak, “Hei aku ada di dalam kota Metropolutan!”

Judul lagu ini benar-benar menunjukkan rasa geram Robi terhadap kemacetan di Jakarta. Dan kita tahu Jakarta sulit untuk berubah. Namun, saya tetap saja takjub ketika lagu Navicula yang satu ini diputar. Navicula seperti satu-satunya orang yang masih peduli dengan kota Jakarta dengan kemacetan dan hiruk-pikuknya. Dan ini paradoks terbesar lagu tersebut, di antara orang-orang yang sudah tak peduli menengok kanan-kiri, Robi Navicula ada di samping mereka dan berteriak, “Kepalaku mau pecah! Emosi mau tumpah! Kota ini parah!”

Terasa pahit membayangkan Robi berteriak seperti itu, di tengah orang-orang yang hilir mudik mengantri di halte Busway Harmoni yang pengap dan sesak setiap Jum’at malam.

***

Navicula sendiri tidak hanya bernyanyi. Dari nyanyian itu, ada satu pesan yang harus disampaikan. Ada semacam kebebasan yang bisa kapan saja mereka suarakan. Seperti sebuah perjuangan terhadap hal-hal yang harus selayaknya diperjuangkan. Semacam perjuangan akan hak asasi.

Betapa manusia telah lupa dan telah tercerabut haknya dari hakiki mereka sebagai manusia. Betapa manusia kemudian terlalu berkutat kepada hidup masing-masing dengan melupakan sekitar. Navicula seolah membawa kita bermain-main dengan setiap lagu yang mencoba mencari makna akan realita.

Namun kemudian saya sadar jika musik Navicula hanya akan bisa diterima oleh beberapa golongan orang saja. Banyak anak muda yang memang harus dicuci otaknya dari musik nir-kualitas, Navicula sepertinya cocok sebagai pembawa doktrin. Anak muda yang sejiwa dengan  Robi, Dankie, Made, dan Gembul sangat cocok mendengarkan musik-musik Navicula, sebelum juga disebarkan ke yang lain.

Musik mereka padat akan lirik, diksi, dan juga makna. Saya biasa mencintai band dari lirik dahulu, baru musik. Dan Navicula selalu menjadi inspirasi untuk saya dalam berkontribusi kepada lingkungan sekitar dengan kritik sosial yang ditulisnya. Entah kontribusi apa, saya belum menemukan secara pasti. Yang jelas, kita harus berani menyuarakan apa yang memang harus disuarakan atas keganjilan-keganjilan di negeri ini.

Dan Navicula sukses menyuarakan bentuk kritik terhadap kondisi negeri dan juga berhasil menyuarakan konservasi alam. Mereka tidak hanya menyanyi tapi juga membangun urban farming dan berkontribusi langsung terhadap masalah-masalah negeri. Mereka melakukan kampanye “Refuse to Forget” kasus Munir dan melakukan pembelaan kepada Prita Mulyasari dengan e-mail yang menggemparkan itu. Ah, jika saja ada banyak seniman seperti itu di negeri ini, pastilah akan banyak keberanian untuk melawan, bukan menghapus atau mengalihkan isu, lagi dan lagi.***

Last modified on: 22 April 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni