(2 votes)
(2 votes)
Read 2993 times | Diposting pada

The Rising Tide: Salvo Terakhir Sunny Day Real Estate

 

Sunny Day Real Estate adalah fenomena tersendiri di skena indie rock Amerika era 1990-an. Sejak meluncurkan album debutnya, ‘Diary’, pada 1994, Sunny Day Real Estate menjelma salah satu band paling diperhitungkan di skena musik independen Amerika. Album debut tersebut, bahkan hingga kini, seperti dikultuskan oleh para penggemar indie rock/emo untuk menjadi album yang tidak bisa bercela. Lewat dua single andalan, ‘Seven’ dan ‘In Circles’, album ini membuat Sunny Day Real Estate disebut-sebut sebagai band yang memberi definisi pada genre musik emo.

Perjalanan karier band asal Seattle ini memang fluktuatif. Sejak resmi berdiri 22 tahun lalu, band ini sudah mengalami tiga kali bubar dan dua kali reuni. Terakhir, mereka bereuni pada 2009 dan kembali masuk status hiatus tahun lalu. Meski begitu, mereka tidak pernah merilis album sejak tahun 2001, di mana mereka merilis album ‘The Rising Tide’ yang menurut saya merupakan magnum opus dari karier bermusik mereka.

Membandingkan album ‘Diary’ dan ‘The Rising Tide’ memang bagai membandingkan apel dengan jeruk, karena materi kedua album ini sama sekali berbeda. Jika album ‘Diary’ menjadi tonggak bagi musik emo (yang kemudian kualitasnya terus menurun berkat band-band pertengahan 2000-an), maka album ‘The Rising Tide’ justru terdengar sangat kaya. Terlihat sekali di sini bagaimana musikalitas Jeremy Enigk (vokal, gitar, bass), khususnya, menjadi sangat matang dan ekletik. Banyak sekali pengaruh-pengaruh, khususnya pengaruh art rock yang terdengar di album rilisan Time Bomb Recordings.

Di album ini, Sunny Day Real Estate hasil reuni tahun 1997 (sebelumnya mereka sempat bubar pada 1995 setelah merilis album LP2) yang digawangi Jeremy Enigk, Dan Hoerner (gitar, sitar), dan William Goldsmith (drum, perkusi) memilih untuk menuruti apa yang dikatakan oleh produser mereka kala itu, Lou Giordano. Giordano yang sebelumnya pernah bekerja dengan band-band seperti Husker Du dan The Goo Goo Dolls meminta Enigk dkk. untuk mengeksplorasi musik-musik yang memengaruhi para personil Sunny Day Real Estate dalam perkembangan musikal mereka.

Alhasil, nomor-nomor seperti ‘Television’ terdengar seperti lagu milik The Police dengan pengaruh synthesizer ala New Wave yang kental. Samar-samar, ada sedikit aroma ‘Message In The Bottle’ di track nomor sembilan ini. Kemudian, ada pula sedikit Jethro Tull dan The Allman Brothers di lagu berjudul ‘Rain Song’, yang menurut saya terdengar sangat terpengaruh bagian awal lagu ‘Thick As A Brick’ (Jethro Tull) dan ‘Jessica’ (The Allman Brothers). Pada lagu yang didominasi oleh gitar akustik dan string section ini, falsetto milik Enigk menjelma menjadi sesuatu yang tak lagi manusiawi, dan hampir di seluruh album, falsetto milik Enigk menjadi senjata ampuh yang membuat ‘The Rising Tide’ menjadi lain dari yang lain.

Kemudian, ada pula nomor berjudul ‘Tearing In My Heart’ yang berketukan sinkop. Lagu ini sedikit banyak mengingatkan saya pada nomor ‘To Wish Impossible Things’ dari album ‘Wish’ milik The Cure. Tone yang dibawa oleh kedua lagu ini begitu serupa. Dengan lick gitar yang sebetulnya sederhana, string section menjadi senjata utama yang mencabik-cabik hati para pendengar. Bedanya adalah, Robert Smith menyanyikan syairnya dengan nada rendah yang menjadi ciri khasnya, sementara Enigk menghajar tiap syair dengan lengkingan falsetto yang tak kalah menyayat. Selain itu, string section yang ditonjolkan di ‘To Wish Impossible Things’ adalah biola, sementara ‘Tearing In My Heart’ mengandalkan selo.

Tak ketinggalan, ada pula sedikit nuansa U2 yang dibawa Sunny Day Real Estate di track nomor empat berjudul ‘Disappear’. Fill drum dari Goldsmith serta line bass milik Enigk seperti membawa kita kepada era-era awal U2, meski pada lagu milik Sunny Day Real Estate ini, progresi akord lebih mirip dengan apa yang biasa dibuat oleh Radiohead. Hal yang sama juga bisa kita nikmati di track kesepuluh yang berjudul ‘Faces In Disguise’ serta nomor penutup, ‘The Rising Tide’. Apabila U2 memutuskan untuk lebih banyak memainkan akord-akord minor, maka hasilnya adalah dua lagu ini.

Sebagai band asli Seattle, Sunny Day Real Estate tak lupa membawa ciri khas Seattle Sound yang mendunia itu. Lagu pembuka album ini, ‘Killed By An Angel’ terdengar seperti lagu-lagu milik Alice In Chains. Dengan ketukan drum yang menghentak dalam tempo agak lambat dan suara gitar yang mencerminkan Seattle Sound, nomor ini menjadi nomor pembuka yang pelan-pelan membawa kita kepada dunia surealis ala Sunny Day Real Estate. Ditambah lagi dengan vokal Enigk yang dibantu vocoder, lagu ini memang amat cocok ditempatkan sebagai track pembuka.

Kemudian, jika kita mencari lagu yang membuat Sunny Day Real Estate dianggap sebagai ‘The Godfather of Emo’, cobalah untuk mendengarkan lagu kedua di album ini, ‘One’. Sound gitar yang mengisi lagu ini adalah signature sound milik Sunny Day Real Estate yang kemudian banyak digunakan oleh band-band penerusnya seperti Thursday. Di sela-selanya, sound ala Seattle masih sesekali terdengar, meski tidak banyak. Lagu ini barangkali merupakan satu-satunya lagu yang membawa Sunny Day Real Estate ke asal musik mereka. Meski begitu, di lagu ini, pemanis-pemanis seperti petikan gitar akustik di tengah-tengah lagu juga masih sempat disisipkan.

Pada lagu ketujuh yang berjudul ‘Fool In The Photograph’, suara gitar yang dimainkan sebetulnya masih sangat bernuansa emo, tetapi eksplorasi mereka membuat lagu ini jauh dari sekadar lagu emo biasa. Ada sedikit nuansa Timur Tengah yang disisipkan, khususnya oleh William Goldsmith dan Jeremy Enigk, sementara Dan Hoerner tetap menjaga identitas Sunny Day Real Estate lewat lick dan riff gitarnya yang senantiasa mengawang di sepanjang lagu. Seakan-akan Hoerner mengingatkan kepada Enigk dan Goldsmith bahwa silakan saja mereka bereksplorasi sesuka hati, tetapi jangan lewat garis batas yang sudah ia tetapkan nun jauh di atas sana.

Track keenam, ‘The Ocean’ menjadi track paling easy listening di album ini. Karena itu, track ini pun menjadi kurang begitu menonjol. Tiadanya hook yang ‘mematikan’ membuat lagu ini secara umum menjadi agak datar. Meski begitu, lagu ini sekilas akan membawa kita mengalami deja entendu akan lagu ‘Spaceboy’ milik The Smashing Pumpkins dari album Siamese Dream (1994). Lagu ini juga cocok sekali didengarkan dengan berkendara di bawah terpaan angin sepoi-sepoi. Coba saja kalau tidak percaya.

Terakhir, saya ingin memberikan homage terhadap track favorit saya yang berjudul ‘Snibe’. Bisa dikatakan, inilah lagu yang mengenalkan saya kepada Sunny Day Real Estate ketika duduk di bangku SMA dulu. Lagu ini dibuka dengan noise gitar yang dilepas liar ke udara. Noise tersebut kemudian langsung disambut dengan betotan bass muram yang mengawal lagu ini sampai akhir. Gebukan drum ala Neil Peart dari William Goldsmith kemudian dengan sigap menyambar ‘ketidakpastian’ yang ditimbulkan noise gitar Dan Hoerner serta bass Jeremy Enigk tersebut serta membawa lagu ini mengawang ke suasanya yang lebih ‘nyaman’.

Suasana yang dibangun di lagu ‘Snibe’ ini memang terus berekskalasi dengan fluktuasi yang konstan. Perlahan naik, mencapai puncak, diturunkan lagi, perlahan naik lagi dan begitu seterusnya sampai akhirnya mencapai klimaks di penghujung lagu. Bagian reffrain lagu ini menunjukkan kemampuan vokal Enigk yang mumpuni. Di sini, ia tak hanya mengandalkan falsetto. Emosi Enigk benar-benar dilepas liar. Ia marah, ia berteriak, dan ia menggunakan falsetto-nya sebagai bingkai agar kemarahan itu tak keluar jalur.

Akhir kata, meski dirilis setelah dekade 1990-an lewat, album ini sangat layak untuk dikatakan sebagai salah satu produk terbaik skena indie rock/emo Amerika '90-an. Bagi saya, album ini akan selalu menjadi genre tersendiri karena sulit untuk menemukan album emo dengan kompleksitas serupa. Kalau boleh, saya ingin menyebut album ini sebagai album yang beraliran progressive-emo. Prasangka buruk akan emo yang dipicu oleh band-band pengikut Thursday* dijamin akan sirna setelah mendengarkan salvo terakhir Sunny Day Real Estate ini.

 

Catatan kaki:

*) Thursday (khususnya di awal-awal kemunculan mereka) tidak bisa dikatakan buruk, tetapi mereka adalah pihak yang bertanggung jawab atas kemunculan band-band kacangan dengan sound dan pola lagu yang menyerupai milik mereka.

 
Last modified on: 8 Oktober 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni