(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2879 times | Diposting pada

The Hunter: Eksplorasi Matang Makhluk Prasejarah Bernama Mastodon

 

“Apalah arti sebuah nama.” Sayangnya Shakespeare keliru kali ini, nama hewan purba ini sangat berarti bagi empat orang asal Atlanta, Georgia untuk mendefinisikan musik mereka yang berat dan mematikan. Troy Sanders, Brent Hinds, Brann Dailor, dan Bill Kelliher memutuskan menggunakan nama Mastodon di tahun 1999. Dibawah pengaruh kuat dari Thin Lizzy, Neurosis, dan Melvins, Mastodon segera dikenal sebagai sebuah band multidisipliner yang disukai pemadat hingga hipster sekalipun.

Mastodon, sang ahli dalam pola serangan riff yang tidak linier, ganjil, progresif, serta dengan kompleksitas tinggi, menggempur ranah metal dunia dengan eksplorasi maksimum dan terkonsep. Maka sudah sepantasnya bila ditahun 2008, band ini ditahbiskan sebagai The Best Metal Band oleh majalah Rolling Stone.


Dua belas tahun sejak kemunculan pertamanya, kata stagnan tak pernah ada dalam kamus protokoler band ini. Hingga di album The Hunter, Mastodon masih bermain dengan formula-formula segar yang tak membosankan: creepy keyboard-oriented (“Bedazzled Fingernails”), anthemic sludge pop yang radio-friendly (“Blasteroid”), space-rock mencekam (“Stargasm)”, atau petikan gitar yang merayap (“The Sparrow”).

Jujur saja, album ini sedikit berbeda dari apa yang sudah mereka ciptakan sepanjang karir. Tapi mereka tak melompat terlalu jauh dari konsep musik yang sudah disepakati. Tetap progresif dan berat. Namun saya yakin, setelah keempat album studio mereka yang menggambarkan konsep semua unsur pembentuk Bumi, para penggemar yang sempit pikir akan kecewa. Pasalnya, album ini tak lagi menawarkan komposisi musik sludge metal yang primitif dengan konsep empat elemen.

Bicara teknik dan musikalitas, banyak kejutan terhampar disekujur album ini. Mereka memasukkan banyak part menyanyi (growl khas Hinds dan Sanders yang klasik sudah tak terdengar lagi) dengan tempo sedang. Meski agresivitas tetap menjadi prioritas, mereka banyak bermain dengan harmonisasi indah dan reverb megah. Bahkan drummer Brann Dailor mendapat porsi menyanyi yang cukup banyak di beberapa track (“Octopus Has No Friends,” “Dry Bone Valley,” “Creature Lives”).

Yang membuka album ini adalah “Black Tongue" dengan irama sludgy dan groovy khas Mastodon dengan sound gitar yang terdengar “empuk” dan serangan dobel pedal Dailor. Track ini sebenarnya terdengar standar saja. Penempatan diawal album pun sepertinya dimaksudkan untuk menjaga identitas band ini.

Komposisi “Stargasm”, memuat formula space-rock dan psikedelik yang canggih dengan presisi tinggi. Lirik nomor inipun seperti melengkapi komposisi yang beratmosfir spacey itu. The temple of bodies/A building with souls/Given the cosmos/ As we let go/As we let go. Seolah-olah mereka mengajak kita mengarungi galaksi Bima Sakti. Cukup trippy.

Terdapat satu track yang mengedepankan harmonisasi gitar dan vokal ala orkestra berjudul “Creature Lives” yang sesungguhnya hanya bercerita tentang makhluk rawa. Track sepanjang 4:41 menit ini dibuka dengan efek permainan Moog dan suara tawa yang cukup seram dilanjut dengan permainan bass yang indah dari Sanders. Dibalut dengan vokal ala gospel dan reverb yang megakolosal dan menghantui (saya sering secara tak sadar menyanyikan lagu ini), track ini entah kenapa mengingatkan saya terhadap aksi bullying di sekolah-sekolah menengah. I saw the creature fall/ Into the swamp from which he spawned/I heard them laugh and say/They never liked him anyway. Saya hampir menangis bila mendengarnya (benar, saya juga memiliki sisi sensitif).

Tak berhenti sampai disitu, Dailor masih menyanyikan lirik menyayat seperti ini: I tried to talk to them/To help you on your feet again/They laughed and said to me/The swamp is right where I should be. Gagal saya menahan kesedihan. Saya seperti merasakan apa yang dirasakan makhluk rawa itu karena menjadi seorang nerd, freak, aneh yang dijauhi teman-teman pernah saya rasakan sejak SD hingga SMP.

Bila anda merindukan irisan riff ultra tajam yang klasik khas Mastodon, “Spectrelight” bakal menjadi obat rindu. Masih bersama Scott Kelly (Neurosis) sebagai vokal tamu, “Spectrelight” menjadi nomor penyelamat agar Mastodon tak jatuh kedalam jebakan kategoris para jurnalis yang sok tahu.

Bagi anda yang telah akrab dengan keempat album sebelumnya, The Hunter butuh dicerna lebih lama, dan mungkin anda malah akan berpaling dan membenci album ini. Tapi bagi saya album ini menandai kecerdasan dan kematangan mereka dalam meramu, mengkomposisi, dan mengeksplorasi.

Pertanyaan terbesar mungkin berada diseputar pemilihan produser. Mengapa band metal sekelas Mastodon bekerja sama dengan Mike Elizondo? Mike Elizondo yang jelas-jelas produser “non-metal” telah bekerja sama dengan Fiona Apple, Switchfoot, 50 Cent, Alanis Morissette, dan Maroon 5. Meski Mastodon mengaku bahwa Elizondo tak mengintervensi proses kreatif album ini, saya berasumsi bahwa pemilihan Mike Elizondo berpengaruh banyak dalam album ini: The Hunter sangat terpoles dari segi produksi dan sound.

Album ini tak kekurangan suatu apapun (tentu ini bagi saya) dan tetap “Mastodon banget” hanya saja di beberapa track sedikit mengingatkan saya pada formula sludge pop yang diramu band asal Florida, Torche beberapa tahun lalu (Blasteroid, Thickening).

Tak bosan saya mendengarkan album ini dari track pertama hingga akhir. Jalinan komposisi yang cerdas menyelamatkan album ini dari kejemuan. Album ini menurut saya juga cocok untuk para pendengar musik non-metal yang mungkin bosan dengan album-album jeblok milik band-band legendaris.

Uniknya, bila album-album Mastodon sebelumnya hanya cocok disandingkan di rak bersama Neurosis, High on Fire, Torche, Isis, dan lain-lain. Kini album ini juga pantas disandingkan bersama Queens of the Stone Age, Foo Fighters, atau bahkan Soundgarden.

Perjuangan Mastodon Mempersatukan Semua Unsur Dasar Pembentuk Alam Semesta
Remission – Relapse, 2001

Debut album sekaligus penanda bahwa Mastodon bukan hanya mitos dan fosil purbakala, tapi dia “eksis” dan siap menerjang membabi buta. delapan track buas menjadi dasar eksplorasi sound dan pattern mereka untuk kedepannya. Inilah unsur pertama yang mereka bedah dan terjemahkan ke dalam komposisi lagu yang ganas. Berisi nomor-nomor penting macam “March of the Fire Ants”, “We Built This Come Death”, dan “Where Stride the Behemoth”. Sebuah perkenalan wajib akan dominasi mereka.

Key tracks: “Battle at Sea,” “Slick Leg,” “Call of Mastodon.”

Leviathan – Relapse, 2004

Representasi unsur “Air” dan perburuan abadi Kapten Ahab yang disarikan dari legenda Moby Dick. Inilah album monumental yang memancangkan eksistensi mereka dalam peta musik rock. Tidak ada nomor underdog, kesemuanya top notch dan mendominasi, membentuk satu kesatuan narasi yang tajam. Dari track pembuka nan menggelegar “Blood and Thunder” yang bercerita tentang perburuan The White Whale, perlawanan terhadap penguasa laut dalam “Megalodon”, hingga melompat ke instrumentalia “Joseph Merrick” yang terinspirasi dari The Elephant Man. Album yang outstanding dengan pattern-pattern ajaib dan kaya nutrisi ditengah invasi musik metal “menye-menye” saat itu.

Key tracks: “Hearts Alive,” “Aqua Dementia,” “Iron Tusk.”

Blood Mountain – Warner/Reprise, 2006

Karya terhebat dan puncak keberingasan yang sekaligus memantapkan sepak terjang mereka sebagai the best metal band. Sebuah album yang berkonsep tentang the crystal skull - sebuah mitos tentang model tengkorak kristal yang konon dipercaya sebagai pusat pancaran energi fisik di dataran Honduras. Di album ini pola eksplorasi mereka semakin matang, dari segi sound dan teknik. Kolaborasi mereka dengan Joshua Homme dan evil duo Cedric Bixler-Zavala dan Omar Rodriguez-Lopez menambah poin ekstra. Track pembuka “The Wolf is Loose” bernuansa agresif dan tertata apik dengan ketukan drum thrash/hardcore. Sementara track “Crystal Skull” membuktikan kedinamisan keempat dinamo metal ini dalam meracik struktur yang chaotic, ganjil dan unik. Tak dinyana, tiba-tiba kita dibawa ke sebuah pengalaman menyusuri pegunungan berdaya magis dalam “The Sleeping Giant”. Formulasi psychedelic, grunge, drone, dan space-rock terbukti ampuh membangun tatanan atmosferik. Pembuktian bahwa Mastodon adalah squadron lintas disiplin yang kaya akan penjelajahan soundscape, teknik, serta referensi.

Key tracks: “Bladecatcher,” “Capillarian Crest,” “Colony of Birchmen”

Crack the Skye – Relapse/Reprise, 2009

Album studio keempat yang melengkapi unsur pembentuk Bumi. Album ini memiliki tema dan konsep unik seputar ether - zat pembentuk alam semesta, perjalanan astral meninggalkan tubuh, teori lubang cacing Stephen Hawking, hingga sosok yang diselubungi mistisisme, Grigori Rasputin. Secara musikalitas album ini sudah agak berbeda dari ketiga album sebelumnya. Mereka bermain dengan polesan sound yang megah dan agak mengurangi kecepatan dan tempo. Simak nomor epik The Czar yang terbagi dalam empat narasi dalam satu lagu. Album ini juga didedikasikan untuk Skye Dailor, saudari Brann Dailor yang meninggal karena bunuh diri. Sebuah album dengan (sangat) banyak cerita didalamnya.

Key tracks: “Divinations,” “The Czar.”


Last modified on: 30 Agustus 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni