(82 votes)
(82 votes)
Read 16552 times | Diposting pada

Suara Kita (Bukan) Suara Tuhan

 

Cukup lama saya tidak mendengar kalimat vox populi vox dei didengungkan lagi. Hingga beberapa waktu lalu saya membaca bahwa sebuah band baru bernama Max Havelaar merilis debut single-nya “Suara Kita Suara Tuhan”.

Adagium yang mencuat sejak abad pertengahan itu begitu terdengar melenakan jika disemburkan oleh politikus. Dan di dalam sebuah negara demokrasi, adagium itu seperti sebuah mantra sakti dan harus selalu dikomat-kamitkan. Namun kini kita harus menyadari bahwa proverbial itu semakin kehilangan “kesaktiannya” karena terlalu lama di mulut saja.

Awalnya saya tak begitu tertarik dan hanya melihatnya sekilas saja. Yang membuat saya agak tergelitik adalah bukan karena band atau musiknya, tapi lebih karena judul lagunya. Mari simak sedikit nukilan dari salah satu artikel di website Max Havelaar.

“Strategi untuk memperkenalkan MAX HAVELAAR salah satunya adalah melemparkan single untuk free download dan akhirnya kita berlima sepakat untuk memilih SUARA KITA SUARA TUHAN; sebuah anthem politik dengan beat rock yang tight tanpa kehilangan nuasa awang2 (sic). Pemilihan single ini memang didasarkan karena lagu ini kita rasa bisa cukup mencuri perhatian karena menurut kita lagu ini mempunyai warna dan lirik yang cukup berbeda dengan band2 yang ada sekarang. Walaupun ini bukan representasi warna kita untuk lagu2 laen yang akan di full album (sic), yang rencananya akan kita release di bulan Januari 2013. Tapi setidaknya orang orang tahu bahwa kita berada di warna dan jalur ini.”

Dari kalimat “Pemilihan single ini memang didasarkan karena lagu ini kita rasa bisa cukup mencuri perhatian karena menurut kita lagu ini mempunyai warna dan lirik yang cukup berbeda dengan band2 yang ada sekarang” kita tahu salah satu alasan mereka menulis lagu ini hanya didasarkan untuk terlihat dan terdengar beda dari band lain.

Apakah ini sebuah sloganeering yang bukan baru lagi?

Judul lagu tersebut menurut saya terlalu muluk dan tak membumi sama sekali. Max Havelaar mengaku terinspirasi oleh Efek Rumah Kaca (ERK) dan Seringai dalam penulisan lirik. Tapi entah mengapa lirik ERK terdengar “lebih dekat” dengan saya karena menyoroti hal-hal “sepele”. Tapi uniknya, ERK berhasil menggugah kesadaran kita dengan jalinan kata yang jenaka.

Menulis lirik dan lagu menurut saya adalah sebuah hal personal dan menjadi bagian hakiki dari proses berkreasi. Hal personal itu bisa saja meliputi kegamangan sang musisi ketika bersentuhan dengan realita sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tapi jika yang muncul kemudian hanya semacam candy-coated slogan agar terlihat beda dengan yang lain, mungkin kini saatnya kita menjadi skeptikal. Mari kita simak lirik Suara Kita Suara Tuhan:

Suara kita suara tuhan
Mengapa Lagu tak terdengar
Tolong bernyanyi merdu tuan
Frekwensi indah yang kan kekal

Harusnya merdu yang terdengar
Mengapa sumbang yang bersuara
Pernahkah salah sabda kami
tahta itu kami yang pegang

Kamu bermulut yang tak sama
Harmoni tetaplah terucap
Termangu kami trus berharap
bisiki kami nada surga

Kegetiran
Harus bersama kita nyanyikan
Kebenaran
Lantang harus kami teriakkan

Suara
Suara kita suara tuhan (?)
Suara
Suara kita suara siapa (?)

Max Havelaar mengaku bermain dengan “metafora dengan bahasa lugas dan cenderung cepat dimengerti”. Tapi entah mengapa lirik mereka seolah hanya menyampaikan sebuah pengulangan dari gagasan lama. Lagu itu bagi saya tak mengajak untuk turut andil dalam petualangan menyusuri dinamika sosial. Lirik itu bagi saya malah terdengar seperti harapan, seperti Menunggu Godot.

Lantas bait “Kebenaran/Lantang harus kami teriakkan”. Kebenaran macam apa? Setiap hari kita telah melihat banyak orang berteriak atas nama kebenaran. Keluarga Munir sampai saat ini masih berjuang demi kebenaran. Lapangan Tiananmen menjadi saksi ribuan mahasiswa yang berdemonstrasi dan akhirnya pula ratusan (ribuan?) mahasiswa tewas dilindas tank tentara. Mereka tak mencoba menjadikan Suara Rakyat sebagai Suara Tuhan, tapi mereka menjadikan suara rakyat sebagai perjuangan, bahkan dengan resiko masuk liang kubur tanpa nama.

Bagi saya, Suara Rakyat adalah sesuatu yang harus terus diperjuangkan, bukan dengan cara “Termangu kami trus berharap” atau dengan memohon “Tolong bernyanyi merdu tuan”. Dan dari bait “Tahta itu kami yang pegang”, justru merupakan sebuah ungkapan berbau utopia yang tak menggambarkan kenyataan sama sekali, layaknya sebuah teori demokrasi yang tak relevan lagi. Sebut saya pesimistis atau apapun, tapi tak perlu munafik bahwa rakyat tak akan pernah memegang tampuk kepemimpinan secara penuh.

Saya merindukan lirik-lirik guyon tapi menohok milik Iwan Fals seperti “Wakil rakyat seharusnya merakyat/Jangan tidur waktu sidang soal rakyat”. Atau lirik cerdas menantang milik Zach de la Rocha demi pembebasan Leonard Peltier dan Mumia Abu Jamal. Mungkin saja lirik-lirik kritis itu tak pernah terdengar sampai “ke atas”, tapi paling tidak, lirik itu tidak berisi kritik yang mengawang. Simak saja lirik milik Rage Against the Machine dari lagu favorit saya “Renegades of Funk”:

We are the force of another creation//
A new musical revelation//
And we're on this musical mission to help the others listen//
Everyday people like you and me
//We're the renegades, we're the people
//With our own philosophies
//We change the course of history.

Lirik itu begitu emansipatoris dan persuasif. Mengajak kita mempercayai potensi diri untuk mengubah apapun termasuk hidup kita sendiri. Hebatnya, lirik itu sekaligus juga sebuah kritik terhadap Marxisme Ortodoks yang percaya bahwa takdir sejarah sudah ditentukan. Halleluja…

Saya pun teringat dengan sajak yang ditulis oleh seorang penduduk desa Chichibu, Jepang pada 1884 dan dikutip oleh (sekali lagi) Goenawan Mohamad dalam "The Death of Sukardal":

Angin bertiup
//Hujan jatuh//
Anak-anak muda mati//
Keluh kemiskinan
//Berkibar seperti bendera//Kata di nisan kami//Yang tertimbun badai salju 1884//Tak nampak oleh yang berkuasa
//Maka di saat-saat begini
//Kami harus menjerit setinggi-tingginya.

Sajak itu ditulis ketika para petani mencoba memberontak dan kalah. Dan akhirnya terkubur. Setiap bait dalam sajak itu terdengar hidup. Nyata. Ada secuil harapan disana. Sisanya adalah usaha. Suara kita memang bukan suara Tuhan, tapi suara yang harus senantiasa diperjuangkan. Terkadang lirik tentang cinta monyet lebih baik karena saya hanya perlu mempersetankannya. Tinggal matikan. Beres perkara…

Last modified on: 6 Januari 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni