(1 Vote)
(1 Vote)
Read 1070 times | Diposting pada

Senartogok: Bertahan Adalah Bentuk Cinta Paling Liar

 

Mencintai tanpa ada sama sekali tanda-tanda trauma masih jadi perkara yang enigmatis. Dalam terminologi Shakespearian, mencintai tak ubahnya upaya meromantisasi tragedi. Sedangkan bagi Badiou, cinta adalah sebilah pisau: mencintai dengan baik adalah memahami dengan buruk. Lantas, cinta semacam apa yang hendak disampaikan Senartogok dalam lagunya yang bertajuk “Bertahan Adalah Bentuk Cinta Paling Liar”?

Senartogok bisa dibilang salah satu pegiat musik bengal sekaligus mumpuni yang dimiliki negeri ini. Bagaimana tidak, mulai dari seorang peyanyi folk hingga perapal rima pun ia lakoni. Tak hanya itu, ia pun adalah seorang produser emcee-emcee lokal berbahaya yang kini tergabung dalam serikat pekerja rima Def Bloc.

Manakala Festival Kampung Kota 2017 dimulai, Senartogok tampil sebagai pembuka sesi ‘Musik Bale RW’. Dengan cerkas ia tampil membawakan nomor terbaru dari magasin tembang folknya. Lagu itu ia beri judul “Bertahan Adalah Bentuk Cinta Paling Liar”. Liriknya ia ciptakan spontan di atas panggung—yang menurut banyak kerabatnya di Perpustakaan Jalanan Bandung, merupakan kebiasaan buruk berulangnya. Senartogok pun lantas mendaulat lagu itu sebagai “Mars Kampung Kota”.

Pada refrain yang berbunyi “Hidup atau mati, hasrat harus menang / Bertahan adalah cinta terliar”, sepintas terdengar seperti teks deklamasi cinta yang sadomasokistik. Penggalan refrain itu pun bak pengantar ihwal kisah Jeanne Hébuterne yang rela diajak hidup sengsara oleh Amadeo Modigliani. Seorang pandit sepakbola bahkan bisa memaknainya sebagai pengejawantahan taktik pertahanan “parkir bus”. Tak pelak, refrain itu pun bisa pula disitir fans Agnez Mo sebagai motto perjuangan untuk membela idolanya kala dihantam isu miring.

Kendati bisa dimaknai sedemikian luas, namun nyatanya lagu itu lahir dari masifnya penggusuran di Kota Bandung. Refrain lagu itu menjadi kalimat langganan yang sering disemprotkan Senartogok di setiap spanduk anti-penggusuran sejak 2010. Sedangkan artwork resminya adalah tangkapan kamera dari sahabatnya, yakni Frans Ari Prasetyo, pada 2015 silam ketika penggusuran di Dayang Sumbi bergulir. Dari kalimat anti-penggusuran itulah kemudian Senartogok terinspirasi untuk mengolahnya menjadi sebuah tembang.

Di tengah berlangsungnya program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dengan national slum upgrading-nya, pemerintah Kota Bandung justru menghelat agenda kultural yang jadi lipstik akan kebijakan ekskavatorisnya. Bisa-bisanya ketika warga di tiga titik api tengah dalam rongrongan penggusuran, Emil dan jajaran komitenya menggelar “Seni Bandung” yang mengusung estetika partisipatoris. Ketika warga di titik-titik penggusuran tengah “melafazkan marah di tenggorokan tiran” seperti dalam lirik Senartogok, para seniman yang tergabung di Seni Bandung adem ayem saja. Agenda kultural itu dihelat beriringan dengan program KOTAKU yang terus menggerus lokasi-lokasi yang masuk dalam target penataannya.

Alih-alih bersolek, tak sedikit warga yang bakal dialamatkan surat peringatan relokasi/penertiban (baca: penggusuran) oleh pemerintah kotanya sendiri. 11 kawasan mulai dari Ciroyom, Antapani, hingga Taman Sari, masuk pada target penataan KOTAKU. Ada yang nantinya diberlakukan perbaikan RUTILAHU (Rumah Tidak Layak Huni) pada area legal, ada pula yang akan direlokasi ke Apartemen Rakyat yang bakal dikembangkan sebagai area mixused—yakni setiap pemilik aset pada kawasan akan dilibatkan. Belum lagi konsep land sharing dan land distribution yang mereka gadang, sudah pasti jadi ruang gembur yang kian mengakomodasi kepentingan pemodal.

Jika penggusuran warga Taman Sari dilakukan atas dalih pembangunan Rumah Deret (RUDET), lain halnya dengan Kebon Jeruk dan Dago Elos. Warga Kebon Jeruk berjuang mempertahankan tanahnya atas gugatan PT KAI. Sedangkan warga Dago Elos berjuang mempertahankan ruang hidup mereka atas gugatan PT Dago Inti Graha dan keluarga Muller. Warga dan elemen solidaritas di tiga titik api itu sampai saat ini masih terus berjuang melawan setan tanah.

Meskipun perkara penggusuran ini tidak dijadikan sebagai materi lirikal nomor hip-hopnya, namun tetap saja Senartogok mengomposisinya dengan baik. Tengok pula bagaimana nomor-nomor folk Senartogok sebelumnya. Mulai dari “Propagasi”, “Days of War, Nights of Love”, hingga “Perpustakaan Jalanan”, semuanya seolah menyusun simpul dari kisah-kisah yang telah Senartogok alami. Dari pengalaman-pengalaman epifanik itulah, kemudian ia bisa menuliskan barang satu-dua kisah untuk digarap sebagai materi lirik lagu folknya.

Sebagai seorang penyair (sebagaimana pengakuan yang sering ia banggakan), awalnya ia segan memasuki kancah musik. Bukan tanpa sebab, kerja artistiknya lebih banyak dihabiskan di jalanan. Baru setelah Joe Million berhasil membawanya ke publik 2016 lalu, folk dan hip hop menjadi bagian integral yang mengukuhkan posisinya sebagai musikus. Sebetapapun rima-rima yang ia rakit mencoba seberbahaya meriam Howitzer, meskipun lirik-lirik di lagu yang ia cipta serupa mata badik di hadapan leher rezim penindas, ia tahu bahwa dengan itu saja tidak cukup. Marwah seniman musik yang mendaku berpihak pada yang tertindas, bukan untuk bergumul di menara gading dengan kerja artistiknya. Itu semua tidak akan berarti apa-apa apabila si seniman musik itu urung turun bersolidaritas bersama warga.

Bagi Senartogok, tak hanya Festival Kampung Kota 2017 di Dago Elos saja yang jadi arena resitalnya di titik api. Beberapa aksi demonstrasi di Bandung pun menjadi medan jajal ketajaman estetiknya. Bahkan belum lama berselang, ia bersama Morgue Vanguard dan Deugalih tampil pula di panggung seni yang diinisiasi PPLP-KP di Kulon Progo.

Oleh karena itu, lagu “Bertahan Adalah Bentuk Cinta Paling Liar” kemudian lahir sebagai bentuk afirmasi ihwal elan juang yang urung berserah pada rezim penindas. Larik “lafazkanlah marah di tenggorokan tiran” pada lagu milik Senartogok, menjadi avant-propos yang telak menyasar lawan. Belum lagi dua larik lain yang menjagai harapan mereka yang terus berjuang di titik-titik api: “panjatkanlah dzikir menikam kegamangan” dan “tasbiskanlah do'a menghantam ketakutan”.

Dapat saya pertanyakan kini, kenapa ada pergantian padanan kata antara panjatkan dengan dzikir, yang umumnya adalah tasbihkan. Apakah Senartogok hendak berbicara frekuensi atau intensitas; dzikir yang berarti mengingat, tinimbang do'a; yang sebaiknya dilafazkan seperti marah di tenggorokan tiran; agar asa menghujam di setiap tangisan?

Bertahan sebagai bentuk cinta terliar, dalam hal ini dimaknai sebagai upaya memborong semua yang mengancam. Ia bukan lelucon yang tersempil pada kampanye program pengentasan kekalutan nasional di megatron pusat kota. Ia pun bukan seloroh seseorang pada kekasihnya, yang diucapkannya ketika bercinta lengkap dengan shibari maupun tambang yang mengikat tubuhnya. Ia adalah suara lirih anak-anak di titik penggusuran, yang dipaksa memelihara trauma akan suara desing mesin ekskavator yang bisa saja menggerus rumah mereka ketika tengah terlelap. Ia adalah doa setiap kombatan yang kukuh bertahan di barikade perlawanan.

Ia pun serupa lulabi yang dinyanyikan para Ibu di Rojava untuk anaknya, sembari menyiapkan Kalashnikov untuk kesiapan berperang. Jadi memang penggalan refrain itu bukan sebuah kompensasi yang mengisi kekurangan—atau bahkan lebih jauh lagi—ungkapan sadomasokistik yang berupaya mencintai sebuah kesakitan.

Makna “bertahan” di lagu milik Senartogok itu, bisa berarti pula upaya perlawanan akan ekspansi ruang kapitalistik yang telah menjadi ancaman nyata bagi segenap warga desa dan kampung kota di Bandung. Tak rela rasanya, rumah atau kampung halaman yang mereka ibaratkan sebagai muasal segala cerita, mesti dibuldoser seketika.

Sekalipun rumah kadung jadi “mulut ikan hiu” umpama yang Warsan Shire ungkapkan dalam puisinya, mereka tetap akan bersiteguh mempertahankannya. Sebab seperti apa yang Ilham Satrio ungkapkan dalam tulisan pengantarnya untuk Zine Festival Kampung Kota: “kenangan yang sifatnya spasio-temporal pun, yang menghangatkan setiap jiwa, tak akan dapat ditukar dengan rupiah”.

Pada akhirnya, “Bertahan Adalah Bentuk Cinta Paling Liar” memang meluruhkan semua persepsi tentang makna “bertahan” itu sendiri. Dengan kepiawaiannya, Senartogok berhasil menaruh aling-aling romantisme pada sebuah lagu yang berangkat dari elan progresif. Judul lagu itu telah membuktikan bahwa meskipun upaya mencintai Senartogok itu begitu katastrofik, namun ia telah mengampu trauma itu sendiri, bahkan terkandung juga elan emansipatoris di sana.

Kini di tengah gempuran agenda slum upgrading yang begitu masif, di tengah konflik agraria dan perampasan lahan di titik lain, di tengah kerja rezim ekskavatoris yang kian kentara, lagu ini mungkin hanya suara lirih dari “kebisingan-kebisingan” itu. Lewat lagu ini, mereka yang sebelumnya dinina-bobokan suara-suara apatisme dan apolitis, bisa turut berjuang bersama rakyat melawan segala bentuk penindasan.

 

Sore itu saya melihat Senartogok menyeruput kopi yang mulai dingin. Ia mulai terkekeh ketika saya begitu antusias pada track yang baru saja ia nyanyikan di pembukaan Festival Kampung Kota. Saya terdiam tak berkutik. Ia mengaku bahwa lirik lagu itu merupakan kalimat-kalimat yang kerap diucapkan di setiap barikade kala ketakutan mulai menyergapnya.

Video ini diambil dan diedit oleh Kelana Wisnu.
Last modified on: 3 Februari 2018
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni