(3 votes)
(3 votes)
Read 5201 times | Diposting pada
Resensi Album Pandawa Lima

Puncak Abadi Para Dewa

 

Sulit rasanya untuk menolak nama Dewa 19 masuk dalam jajaran hall of fame musik Indonesia, kalau ada. Pun meski kini nasibnya tidak jelas, setidakjelas lagu-lagu baru ciptaan Ahmad Dhani, Dewa 19 tetaplah Dewa.


Dari sembilan album studio yang ada dalam diskografi mereka, menurut saya album Pandawa Lima adalah tempat tinggal yang sebenarnya untuk Dewa 19. Khayangan bagi Ahmad Dhani, Andra Junaedi, Ari Lasso, Erwin Prasetya serta Aksan Sjuman yang saat itu mengisi formasi album rilisan tahun 1997 ini.

Ibarat blender, album ini mencampurkan semua referensi musikal dari tiap-tiap personil Dewa 19 menjadi sebuah sajian yang menyegarkan bagi pendengaran. Semuanya diberi porsi seimbang, setelah sebelumnya corak fusion begitu merajalela dan aroma classic rock ala Queen yang begitu pekat di dua album setelahnya. Pun masih dibubuhi bumbu-bumbu jazzy dari Aksan Sjuman yang saat itu baru resmi didapuk jadi drummer tetap setelah sebelumnya Dewa 19 sibuk gonta-ganti posisi antara Rere (Grass Rock, ADA Band, kini Blackout) dan Ronald Fristianto (GIGI, dr.pm) sepeninggal Wawan Juniarso.

Jika menilik pada line-up lagu, sebetulnya ada nomor maha catchy Kamulah Satu-Satunya. Toh Kirana yang akhirnya dipilih terlebih dulu jadi hits single. Kirana yang gelap dari aransemen musik dan lirik. Tapi justru Kirana yang jadi jalan penerang bagi Dewa 19 di tengah jejalan pop manis ala Kahitna dan Java Jive.

Sebelas  lagu yang jadi amunisi memberikan pengalaman baru. Setelah Kirana, ada Aku Disini Untukmu dan Satu Sisi yang masih menyisakan aura gelap-gelapan. Sebuah nomor cantik Sebelum Kau Terlelap. Di Petuah Bijak, mereka mengangkat kembali beat-beat ala Cukup Siti Nurbaya dan Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi. Bagian akhir lagu ini sekilas terdengar seperti Under Pressure milik Queen.

Tapi yang jadi highlight bagi saya adalah lagu berjudul Aspirasi Putih. Bukan apa-apa, lagu ini (tentu juga berikut albumnya) hadir beberapa saat sebelum Pemilu 1997, pemilu yang disebut-sebut sebagai Pemilu paling curang sepanjang sejarah penyelenggaraan Pemilu di Indonesia. Pemilu yang sempat diwarnai penolakan penandatanganan PPP Kabupaten Sampang di Madura, tempat dimana pemilu harus diulang di 65 TPS, serta aksi Ketua Umum PDI saat itu, Soerjadi yang tidak datang di acara penandatanganan hasil Pemilu. Pemilu yang kembali mengukuhkan rezim Orde Baru sebelum beberapa saat kemudian rontok digulung gelombang reformasi.

Dewa seperti jadi megaphone yang meneriakkan kemuakan kalangan muda atas stagnasi serta degradasi elit-elit politik. Sebuah tonjokan keras dihantamkan lewat lirik:

Tak tertahan berdiam diri… sakit
Sementara jiwa meronta
Meratapi…
Penat di kepala
Mulut terbungkam, tangan terbelenggu,
Pikiran terisolasi, ingin muntahkan
Dan memuntahkan… kemuakan…
Reff:
Beri kami satu ruang
‘Tuk katakan yang benar
Kuburkan yang salah
Biarkan kami tumpahkan
Aspirasi putih kami
Semakin banyak orang pilihan
Yang nyata – nyata semakin rakus
Bangun istana ‘tuk dinastinya
Atas nama rakyat jelata
Tak tertahan berdiam diri…
Meratapi
Disini harusnya ada ruang dimana
Tak ada pedang memotong lidah
Bebas bicara tentang makna
Keadilan, pembagian kekuasaan,
Kemunduran, partai – partai,
Monopoli, kartel, trust dan sebagainya

Aspirasi Putih kemudian menjadi semacam embrio sebelum Ahmad Dhani memberikan pukulan yang lebih bertenaga melalui Distrosi yang ada dalam diskografi supergroup Ahmad Band bersama bersama Bimo Sulaksono ex. Netral serta mantan punggawa Slank, Pay Siburian dan Bongky Marcell.

Fakta yang menggembirakan, Harmoko tak ambil pusing soal lirik ini. Buktinya album ini tetap beredar dengan angka penjualan menembus 800 ribu kopi. Jumlah yang tentu masih diperdebatkan. Namun yang jelas angka tersebut menunjukkan bagaimana industri musik Indonesia kala itu menikmati dengan lahap karya “seberat” Pandawa Lima.

Melalui album ini, Dewa 19 sukses meraih 6 penghargaan di Anugerah Musik Indonesia 1997, untuk "Lagu Alternatif Terbaik", "Lagu Terbaik Umum", "Duo/Grup Alternatif Terbaik", "Album Rhythm & Blues Terbaik" serta "Sampul Album Terbaik”.

Sayang, formasi Pandawa Lima akhirnya terhenti setelah Ari Lasso dan Erwin Prasetya dicoret dari formasi  karena ketergantungan narkotika. Sedangkan Aksan Sjuman harus hengkang karena Dhani menganggap pukulan drummer yang kini mengisi line up Potret ini terlalu nge-jazz,

Dalam sebuah wawancara, pemecatan Ari Lasso karena narkotika hanyalah jawaban Dhani untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan media karena sebetulnya jika Ari Lasso ingin bersolo karier dan mundur sekalipun Dhani tak akan melarang. Saat itu juga Dewa 19  mendapatkan sosok Elfonda Mekel a.k.a Once. Dhani sebetulnya ingin membuat Dewa 19 memiliki dua vokalis, Ari Lasso dan Once. Lagunya pun sudah siap. Tapi Ari menolak dan memutuskan menyerahkan mic pada Once.

Pandawa Lima akhirnya tinggal menyisakan Dhani dan Andra. Diselingi proyek gila Ahmad Band serta sebuah album the best yang memajang vokal Ari Lasso untuk kali terakhir di lagu Elang dan Persembahan Dari Surga, Dewa 19 dengan formasi Dhani, Andra, Once serta penggebuk drum teranyar Tyo Nugros, Dewa 19 akhirnya turun kembali ke bumi lewat album Bintang Lima yang mencatat sejarah penjualan tertinggi. Menembus angka 1,7 juta kopi.

Pandawa Lima
Artist : Dewa 19
Aquarius Musikindo, 1997

  1. "Kirana"
  2. "Aku Disini Untukmu"
  3. "Bunga"
  4. "Suara Alam"
  5. "Sebelum Kau Terlelap"
  6. "Satu Sisi"
  7. "Aspirasi Putih"
  8. "Cindi"
  9. "Petuah Bijak"
  10. "Selatan Jakarta"
  11. "Kamulah Satu-Satunya"

 

Catatan Belakang:

*) Judul diambil dari nukilan lirik lagu Mahameru milik Dewa 19 yang terdapat dalam album Format Masa Depan rilisan tahun 1994.
*) Pertama kali dimuat di blog pribadi penulis
 

Last modified on: 12 Mei 2016

    Baca Juga

  • Bad Romance: Engcarnation 2018 di UI


    Sejak tahun 2015, English Carnival and Celebration atau Engcarnation sudah rutin menjadi acara tahunan dari IKMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Program Studi Inggris) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini…

     

  • Arwah


    Tubuh perempuan ini sekarat. Maka dengan sisa-sia kekuatan, aku memaksanya mengetik kisah ini. Aku ingin mencari tempat tinggal setelah mati. Tempat tinggal yang bukan akhirat, tapi di antara kehidupan. Tempat…

     

  • National Perks Merilis Single Pertama Bertajuk “Innocent”


    Paduan suara gitar yang merdu, easy listening, suasana yang dreamy dan semua komposisi yang tepat untuk mengikat telinga anda dalam suasana hati apa pun. Semua itu menggambarkan musik band asal…

     

  • Kita Adalah “Ndeso” yang Lain


    Di Jawa orang mengenalnya sebagai Ndeso dan “Wong Ndeso”. Di Jakarta ada istilah “udik” dan “orang udik”. Di Sumatera mungkin akan ada yang memakimu “kampungan kali kau!”. Dan di sini,…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni