(1 Vote)
(1 Vote)
Read 3530 times | Diposting pada

Nyanyian Satir Bangkutaman untuk Jakarta

 

Album Ode Buat Kota mengingatkan kembali kenangan saya akan hiruk pikuk kota Jakarta. Hampir setahun lalu - setelah nyaman selama 24 tahun tinggal di Bandung- saya merelakan diri untuk menjadi salah satu penduduk nomad di ibukota.


Saya merasakan macetnya  Sudirman di pagi hari, antrian busway yang panjang, duduk di kantor redaksi dalam sebuah gedung pencakar langit, berebut metromini, menghirup uap polusi, mengomeli cuaca yang panas, terjebak banjir, atau bertemu sesama perantau di stasiun Gambir kala akhir pekan. Selama tiga bulan lebih saya menjadi penduduk tak ber-KTP Jakarta.

Sebelumnya, Jakarta bukan pula kota yang asing bagi saya. Sesekali saya mampir hanya sekedar untuk melihat geliat pertunjukan musik atau mengunjungi kawan. Selebihnya, Jakarta adalah potret seperti apa yang saya lihat di televisi. Ia, ibukota yang bermuram durja. Dihiasi oleh pelbagai berita-berita kriminalitas atau dipenuhi sensasi-sensasi selebritas. Apakah ada semangat warga Jakarta melihat kotanya?

Kota Jakarta (atau lebih tepatnya kota-kota besar) selama ini dilihat sebagai sesuatu yang penuh paradoks. Ia menawarkan harapan dan masa depan yang lebih baik, namun di satu sisi jurang-jurang kemiskinan menganga di sudut-sudut kota.

Kota seolah ‘hanya’ menjadi pemilik reklame iklan, pemegang kebijakan, atau para Satpol Pamong Praja penggusur rumah warga. Suara warga Jakarta mungkin hanya bisa tertuang di kolom surat pembaca media massa. Selebihnya, apakah warga-warga itu bisa melampiaskan kegalauannya?

Kegalauan itu saya rasakan di album sophomore Bangkutaman, Ode Buat Kota. Sepuluh lagu di album ini, merupakan gundah gulananya perasaan Wahyu “Acum” Nugroho (bas, vokal), Justinus Irwin (gitar), dan Dedyk Eryanto (drum) tentang kondisi kota Jakarta yang sudah sekian tahun mereka tinggalkan. Maklum saja, Bangkutaman lama dan besar di Yogyakarta. Sebuah daerah yang boleh jadi berbanding terbalik dengan situasi di Jakarta yang egoistik nan individualis.

Terbentuk pada tahun 1999, Bangkutaman adalah tiga anak muda Jakarta yang sedang menuntut ilmu di kota pendidikan, Yogyakarta. Acum mengambil jurusan Biologi Universitas Atmajaya. Dua rekan lainnya, Irwin mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Sanata Dharma dan Dedyk memilih Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Tiba-tiba scene musik indie-pop Yogya tergetarkan oleh trio ini. Lewat debut albumnya, Love Among The Ruins (2003, Blossom Records) Bangkutaman mulai menujukkan eksistensinya. Musiknya sangat dikenal dengan satu nama saja sebagai pengaruh terbesarnya: The Stone Roses. Maka, tak aneh ketika menonton Ian Brown (vokalis The Stone Roses) mampir ke Jakarta beberapa waktu lalu, Acum disebut telah "naik haji”.

Menginjak tahun 2005, mereka merilis satu buah mini album, Garage of the Soul. Mereka juga masuk dalam kompilasi video Ready-O yang merekam geliat scene musik indie Tanah Air bersama Mocca, Jeruji, Teenage Deathstar, The S.I.G.I.T., Homogenic, The Upstairs, dan lainnya.

Pasca-periode itu, saya tidak mendengar gebrakan berarti dari mereka. Pada 2006, Irwin keluar sementara dari Bangkutaman untuk proyek terbarunya, “Johnny and the Pistol Heroes”. Ia juga merilis karya solonya, single “Hymn For A Friend In The Sky” (2007) dan mini album, Local Heroes (2008) yang dirilis cuma-cuma via netlabel Yesnowave Music. Acum pun tak kalah. Ia menjadi additional buat band Ballads of the Cliché dan The Sweaters. Ia juga membentuk band baru, Sugarspin. Namun, nihil rilisan.

Akan tetapi, bagaimana kabarnya Bangkutaman? Tak ada album baru. Tak ada gebrakan baru. Semua menyayangkan keluarnya Irwin. Bangkutaman tahan nafas. Tanpa mengkesampingkan peran Dedyk, akan tetapi peran Acum dan Irwin adalah duo dinamo penting yang menggerakkan mesin Bangkutaman. Tahun 2008 adalah momen terbaik bagi band ini. Dalam sebuah gig kecil bernama We are Pop Volume 4, Bangkutaman tampil dengan formasi ideal dan komplet; Acum, Irwin, dan Dedyk.

Untuk ancang-ancang dirilisnya album baru, awal tahun ini mereka sempat merilis album IX yang dirilis oleh Yesnowave Music dan berisi b-sides and rarities mereka selama satu dekade1999-2009. Dalam album ini memang terdapat dua lagu bocoran dalam album baru Ode Buat Kota yaitu lagu “Ode Buat Kota” dan “Catch Me When I Fall”. Namun, kualitas rekamannya tentu saja masih mentah.

Jakarta dan Bangkutaman

Setelah petualangan mereka selama kurang lebih delapan tahun di kota gudeg Yogyakarta selesai, mereka kembali ke Jakarta. Kini, Jakarta adalah versi mereka yang baru. Jakarta sekarang adalah Jakarta versi mereka yang kini sudah berusia akhir 20-an, tumbuh janggut dan jambang, perut yang membesar, dan tekanan keluarga yang kian mendesak. Mereka kini didesak oleh bingkai suatu obligasi mengenai masa depan.

Di Jakarta, pilihannya tentu saja tak bisa sebebas saat mereka masih di Yogyakarta dulu. Maka kini selepas mahasiswa mereka bermetamorfosa; Acum terjerumus menjadi seorang jurnalis, Irwin bekerja sebagai editor buku, dan Dedyk berprofesi sebagai pengacara. Mereka tak jauh beda dengan sesama warga Jakarta lainnya atau pendatang kota itu untuk merebut mimpi dan harapan yang sama. Sama-sama mesti antre busway, sama-sama pulang larut naik KRL malam, dan sama-sama ngantor nine-to-five.

Mereka mulai merasaukan galaunya hidup di Jakarta; topeng masyarakat Jakarta kontemporer yang egoistik, pola hidup robotik, rasa lelah dan penat pekerjaan, ruwetnya transportasi urban, konflik warga, komersialisasi industri budaya, hingga wajah para pemimpin negeri yang penuh kemunafikan.

Sebagai seniman mereka tidak menumpahkan rasa galaunya kepada surat pembaca media massa. Kegalauan-kegalauan itu mereka limpahkan pada album “Ode Buat Kota”. Awalnya, album ini akan berbentuk mini album dan dirilis oleh Aksara Records. Namun, Aksara keburu bubar jalan. Jangan Marah Records milik band Efek Rumah Kaca pun akhirnya menjadi rumah terakhir Bangkutaman.

Metamorfosa Bangkutaman

Bangkutaman jelas telah mengalami metamorfosa musikal yang lebih eklektik. Dulu, cap The Stone Roses dan tetek bengek eksponen Madchester sound begitu kental melekat dalam Bangkutaman. Begitu mendengar lagu pertama di album ini yaitu “Ode Buat Kota” terasa benar sumber pengaruh itu sudah lebih meluas.

Kalau diperhatikan semua elemen musik terutama gaya vokal dan lirik bergeser dari tradisi Bangkutaman. Gaya vokal Acum sangat terpengaruh Bob Dylan namun dilengkapi harmonisasi sound kasar dan notasi melodius-renyah. Lagu “Ode Buat Kota” ini sangat cocok untuk dinyanyikan sambil sing-along. Saya membayangkan kalau di tengah konser, lagu ini akan menjadi koor massal yang bisa membangkitkan semangat satir yang sama terhadap Jakarta.

Tak hanya Dylan-esque yang menjadi pokok utama gaya vokal Acum, secara musikalitas ada warna musik yang terpatri melalui pengaruh-pengaruh signifikan macam The Beatles, The Mamas & The Papas, Nick Drake, Donovan, dan tentu saja, The Velvet Underground. Gaya vokal sengau khas Lou Reed dilantunkan Acum sangat terdengar jelas di lagu “Coffee People” yang bercerita soal kehidupan malam masyarakat Jakarta. Ia menyanyikan kehidupan malam orang-orang Jakarta macam pelacur, maling, jurnalis, musisi, hingga gitaris Irwin yang harus mengejar kereta terakhir menuju Serpong. Bahkan di awal lagu diputar penggalan suara penyiar menceritakan kerasnya kehidupan seorang jurnalis. Saya yakin ini memang curhatan Acum dan Irwin yang berprofesi sebagai jurnalis.

Bisa jadi kegalauan dan keresahan tentang Jakarta bisa disimak melalui lagu “Train Song”. Intronya dibuka dengan ambience suara rel kereta api yang memang benar-benar direkam secara live. Liriknya ditulis langsung oleh Irwin ketika menunggu kereta ekonomi AC bernama Ciujung Malam, yang berangkat pukul 23.05 dari stasiun Dukuh Atas (Sudirman) dengan tujuan akhir Serpong. Lirik dalam lagu itu, menceritakan secara nyata kehidupan keras di Jakarta:

“Too tired from work and need something cold/ Sleep could be bought but must watch the road/ hard when alone, not who brings book and phone/ ding… ding.. ding… ding… those words pretty work.

Potret Jakarta

Ode Buat Kota adalah potret kontemporer tentang Jakarta. Kota hanyalah sebuah ruang tak bergerak, namun ia dinamis dan bertransformasi. Masyarakat yang datang silih berganti, teknologi transportasi yang mengubah wajah kota, hingga berserakannya mall dan gedung adalah potret modernitas kota yang terus berkembang.

Para pakar kota seperti John Stow dan Lewis Mumford menuturkan bahwa bayangan idealisasi tentang kota seringkali tak berwujud. Sebuah kota seperti yang digambarkan oleh Plato dan Aristoteles tentang kota yang ideal, sebagai tempat manusia mencapai kebahagiaan yang rasional, memandang, dan memahami kebenaran adalah visi yang utopis dewasa ini. Bagi Stow dan Mumford, kota tak jarang menampilkan wajah yang suram, kebiadaban, dan sengketa berdarah, menampilkan kesadaran manusia akan keleluasaanya dalam eksistensi manusia. Inilah yang menjadi impian Bangkutaman dalam lagu “Catch Me When I Fall”; sebuah metafora tentang masyarakat kota yang tenggang rasa dan saling membantu, bukan egoistik dan individualis.

Ode Buat Kota mengingatkan saya akan Karl Marx dan Charles Dickens. Karl Marx menulis magnum opus-nya Das Kapital, ketika melihat munculnya pertentangan kelas di masyarakat kota London. Novel-novel Charles Dickens memotret bahwa kota bukanlah milik para kaum elitis, terpelajar, atau bangsawan yang punya harga diri layak. Tapi kota juga milik mereka kelas bawah, kaum marjinal, atau orang tidak terpelajar.

Suatu waktu, saya sempat chat dengan Acum:

+ Cum, setelah dengerin Ode Buat Kota, gue jadi malas balik ke Jakarta?

Acum hanya membalas, seolah menyanyikan lagu Koes Plus, dengan emoticon senyum satir:

- Ke Jakarta aku kan kembali, walaupun apa yang terjadi.

Tak ada pilihan, kunyah saja tantangannya, apakah itu keras, lunak, manis atau pahit.

Last modified on: 22 Januari 2015
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni