(5 votes)
(5 votes)
Read 3841 times | Diposting pada

Motor, Rock 'n Roll dan BBM

 

Awal April ini BBM tak jadi naik alias ditunda. Banyak pihak merasa ini bukan solusi yang tepat. Fluktuasi harga minyak dunia tentu sulit diprediksi dan akhirnya akan tetap menjadi siklus; penimbunan marak, demonstrasi menyeruak; harga sembako naik merangkak; dan kantong masyarakat bawah pun semakin cekak. Pemerintah cuma memberi lip-service tentang subsidi, APBN, harga minyak per barel, krisis selat Hormuz, dan BLSM yang tak jelas juntrungannya. Hell, masih banyak yang tidak mengerti tentang itu semua. Kalau sudah begini ikat pinggang yang semakin kencang (untuk sementara) adalah milik kelas bawah dan kelas pekerja. Para kerah biru.

Indonesia masuk dalam 10 besar Negara dengan harga BBM termurah. Tapi tetap saja banyak yang merasa tercekik. Bagi pemilik kendaraan pribadi khususnya motor masih agak lumayan (meski tetap mencekik). Mereka masih mendapat “privilese” untuk menikmati BBM jenis premium (secara teori). Walaupun banyak yang berkata bahwa kualitasnya jauh dari bagus.

Pengendara motor memang harus senantiasa mencari akal. Apalagi bagi para biker kerah biru. Setidaknya, jika harga BBM benar-benar naik, untuk sementara waktu para pengendara motor kerah biru harus melakukan adaptasi dulu. Jika dulu biasa merokok Marlboro setiap hari, kini harus “prihatin” dulu dengan, misalnya, merokok kretek jenis “premium”. Jika waktu harga BBM premium masih Rp.4500,- mereka makan dengan rendang sekali makan, mungkin lauk telur dan tempe bisa jadi pilihan.

Kebutuhan yang lain masih bisa menyesuaikan, tapi sepertinya kebutuhan akan BBM untuk transportasi tak bisa diakali. Apalagi agar dapur tetap ngebul. Lagipula apa yang dapat membuat anda menghentikan semua sensasi di jalanan itu? Rasa kesemutan ketika akan menekan tuas kopling, desir angin dan debu yang menerpa wajah, dan adrenalin yang terpompa kencang? Tidak ada. Tidak dengan naiknya harga BBM sekalipun. Berikut ini beberapa soundtrack untuk menemani mengumpulkan debu jalanan. Lupakan sejenak tentang perang politik harga BBM. Jadi, sudahkah anda mendengar bunyi “klik” pada helm?

Motörhead – We Are the Road Crew (Ace of Spades)

Sebelum Lemmy Kilmister membentuk Motörhead, ia adalah bassist band proto-space rock Hawkwind. Namun karena terlalu banyak mengonsumsi methamphetamine, ia dipecat. “Mungkin meth terlalu proletar, terlalu kerah biru,” kata Lemmy. Hengkang dari Hawkwind ia lantas membuat band. Tadinya ia ingin menamakan bandnya Bastard, tapi manajernya tidak setuju. Kemudian nama Motörhead dipilih. Motörhead adalah istilah para biker untuk pecandu meth. Nama yang sangat representatif ternyata. Itu semua terjadi di tahun 1975.

Lagu "We Are the Road Crew" datang dari album Ace of Spades, yang mungkin merupakan album terbaik yang pernah dibuat Motörhead sepanjang karir. Lemmy yang terpengaruh Little Richard dalam karakter vokalnya memasukkan metafora meja judi, motor, dan hedonisme rock ‘n roll yang menjadi bagian dari sejarah, seperti dalam lirik Another girl, another face/Another truck, another race. Dan lagu ini, yang menunjukkan irama blues mentah, sangat potensial menjadi anthem kala weekend riding yang tak lekang dimakan waktu.

Seringai – Kilometer Terakhir (Serigala Militia)

Salah satu anthem jalanan dari debut album Serigala Militia. Tidak seperti kebanyakan klub/komunitas motor di Indonesia yang udik, Seringai menggabungkan attitude yang keren, antara bir, rock ‘n roll dan motor. Dan track ini menjadi pembuktian ditengah antrian SPBU, bau oli yang menyergap, serta panasnya amplifier. Kekuatan lagu ini (dan hampir semua lagu di dalam album) terletak pada refrain yang mampu menarik kerumunan massa untuk ber-sing along. Sangat crowd-oriented. Khas kawanan serigala yang melolong secara berbarengan dan bersahut-sahutan. Seringai tidak hanya menciptakan ruang, tapi membagi ruang itu dengan massa lewat lagu-lagunya.

Jalanan yang penuh macet, kepundan karbondioksida yang meletup-letup, debu dan asap yang menggelantang, sementara deadline cuma tinggal seujung jari, maka Melesat di jalan kilometer terakhir/Ya, ku hampir tiba, kilometer terakhir/Kubakar bensin, mesin ini meradang menjadi lirik yang paling masuk akal untuk dinyanyikan ditengah umpatan dan sumpah serapah yang keluar nyaris secara instingtif.

Black Rebel Motorcycle Club – Pista 13 (Take Them On, On Your Own)

Bukan saja karena namanya yang keren, tapi attitude band ini sesuai dengan nama yang dipilih. BRMC adalah nama geng motor di film The Wild One yang dibintangi Marlon Brando pada 1953 dan bercerita tentang geng motor yang meneror kota. Kurang rock ‘n roll gimana coba?

Trio BRMC dibentuk pada tahun 1998 di San Francisco. Debut album self titled-nya yang dirilis oleh label Vagrant langsung mencuri perhatian publik. Musik yang diracik cenderung meliuk dengan anggun, dengan seksi ritem yang agak agresif dan kunci-kunci blues yang dibengkokkan. Vokal bassist Robert Levon Been dan gitaris Peter Hayes juga tak kalah seksi, antara desahan malas dengan amarah khas remaja gurun.

Pista 13 (dari bahasa Italia yang berarti jalan/jalur) adalah track penutup album ini. Berisi power ballad dan blues yang gahar, nomor ini secara elegan menjadi semacam perpisahan sementara, sebelum BRMC merilis album Howl yang biasa saja dan kembali menggebrak dengan Baby 81. FTW.

Zeke – Lords of the Highway (Kings of the Highway EP)

Kalau ada istilah rock oktan tinggi, maka seharusnya itu milik Zeke – band asal Seattle, Washington yang didirikan pada 1993. Dari awal muncul, tema yang diambil tak jauh dari dunia kebut-kebutan atau balapan. Musik yang dibikin juga tak kalah ngebut, seperti tenaga yang dihasilkan dari dapur pacu mobil Hemi Cuda dengan karburator four barrel Holley 750. Bukankah itu inti dari oktan tinggi? Pembakaran sempurna (efisien dan tanpa basa-basi) dan tetap bertenaga.

Zeke sudah merilis setidaknya 6 album penuh, 4 EP dan split, dan ikut serta dalam puluhan kompilasi. Musik mereka dipakai untuk beberapa scoring film dan game. Namun intinya bukan itu. Intinya adalah bagaimana bersenang-senang, tanpa harus memikirkan eksperimentasi untuk album esok. Sederhana. Nihil. Dan sekali lagi: efisien.

Kita tahu, yang seperti ini jadinya ambivalen. Kita cepat bosan dengan racikan yang itu-itu saja, maka kita menuntut penyegaran. Tapi toh, Zeke (dan banyak band punk lain) masih bertahan dengan sintesa yang dulu dan tak menuntut untuk didengarkan oleh dunia.

EP ini dirilis Relapse Records pada 2007 lalu dalam bentuk digital dan berisi sebuah kover dari GG Allin. Dengan mudah kita dapat menemukan jejak-jejak pengaruh Turbonegro, Ramones, dan Motorhead dalam track ini. Cocok untuk adu balapan stock car di Daytona International Speedway atau sekadar nonton film aksi Steve McQueen.

Metallica – Fuel (ReLoad)

Dari kalimat gimme fuel/gimme fire/gimme that which I desire tampaknya kita mendapat salah satu lirik terkuat yang mampu mewakili jeritan hati rakyat kecil atas kenaikan harga BBM. Semua orang menginginkan bensin. Tanpa terganggu dan mengorbankan kocek sedemikian rupa. Selayaknya darah, BBM menghidupi urat nadi kehidupan, dan disanalah, untuk saat ini, kita bergantung. Maka kita pun teringat akan hit single dari tahun 1990-an ini, ketika anak-anak gondrong hitam-hitam belajar menjadi shredder yang tercepat. Ketika BBM tak jadi momok yang sering bikin dompet rontok.

Metallica memang sempat menjadi jenius (atau sampai sekarang masih?). Tapi James Hetfield, mungkin tak merasakan apa yang kita rasakan sekarang. Ia, yang penggemar mobil American Muscle dan sempat melelang Chevy Camaro 1967-nya demi amal, menulis lagu ini sekadar anthem untuk kebut-kebutan. Semacam persembahan untuk para nitro junkie. Ia tak melihat ke negeri ini. Atau mungkin dan bisa jadi, lirik dalam lagu ini bisa menyesuaikan dengan keadaan suatu negeri yang sarat polemik minyak, seperti di Indonesia?

Mungkin juga lewat lagu ini, kita dapat melihat ke negeri lain, dimana rencana kenaikan harga BBM tak disusul dengan demonstrasi. Dimana bisa Quench my thirst with gasoline tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain.

Last modified on: 5 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni