(5 votes)
(5 votes)
Read 9944 times | Diposting pada

Menempatkan “Perspektif” dalam Perspektif Pergerakan Skena Hiphop Lokal

 

Tak banyak album hiphop lokal yang dibuat di sepuluh tahun pertama kemunculannya di skena hiphop lokal yang layak mendapatkan perlakuan 'reissue'. Faktornya jelas, selain memang tak banyak album yang lahir di era tersebut, tak banyak pula yang cukup ikonik untuk disebut 'inspirasional'.

Bagi mereka yang memiliki hasrat bagi musik hiphop sejak awal kehadirannya di sini, tentu bisa paham hal ini. Struktur industri di tanah air kala itu masih monolitik. Kanal-kanal perilisan album masih dipegang oleh major label, artinya pula tak ada alternatif lain dari apa yang mereka tawarkan. Informasi dan akses pada album-album hiphop luar negeri tidak semudah mengklik link di internet seperti hari ini. Alhasil, produktifitas dan penyebaran hiphop lokal tidak sekencang dan semasif apa yang kita lihat sekarang.

Album hiphop 'pertama' di ranah musik tanah air adalah album pertama Iwa K tahun 1993 yang bersuara setengah hati, menawarkan hiphop namun pula mencoba bermain aman dengan pasar. Dengan titel "Ku Ingin Kembali", Musica Studio membungkusnya dengan nuansa pop ala Indonesia yang cukup kental.

Industri membaca bahwa tak terlalu banyak penggemar musik rap di Indonesia yang bisa dijadikan target pasar, meski pada kenyataannya para true heads mulai menjamur di kota-kota besar di tanah air seiring mulai populernya kembali musik hiphop setelah kedatangan pertamanya di era Breakdance tahun 80-an awal.

Seiring waktu berjalan, pada pertengahan 90-an kita melihat para individu yang menggemari musik hiphop mulai mengomunalisasi diri. Skena-skena mulai terbentuk, terutama di Jakarta. Tangkringan b-boys mulai ramai, acara-acara mulai marak, para DJ mulai memberanikan diri memutar setlist yang full hiphop, grafitti mulai menghiasi (atau 'merusak') dinding-dinding jalan-jalan protokol dan para emcee mulai liar bereksperimen dengan bahasa lokal. Namun tetap saja dalam hal produktifitas, hiphop Indonesia miskin album, terlebih album yang representatif bagi mereka yang menahun menjadi 'diehards'. Ini tak lebih dikarenakan miskinnya akses bagi mereka untuk memproduksi album sendiri.

Hiphop adalah musik yang diproduksi secara 'unik' dan memerlukan alat tertentu untuk bisa bersuara seunik itu. Ketika di ranah asalnya di AS sana, tahun 90-an hingga pertengahan, hiphop sedang mengalami masa keemasannya, namun di lokal kala itu, mesin sampler sekalipun masih menjadi barang yang teramat mewah. Studio rekaman yang memiliki sampler memasang harga dua hingga tiga kali lipat dari studio rekaman biasa. Terlebih lagi, tradisi merilis album sendiri belum populer di skena hiphop. Kawan-kawan punk/HC/metal sendiri baru memulainya di awal tahun 90an tersebut.

Tak heran ketika Musica Studio dan Guest Music menggalang inisiatif membuat kompilasi hiphop, para rapper berbondong mendaftar. Doyz merupakan bagian dari generasi hiphop tersebut. Bersama rekannya Erik, ia membuat debut di kompilasi itu dibawah nama Blakumuh. Beberapa tahun kemudian ia berpetualang dalam P-Squad merilis satu album dibawah Guest Music, sebuah production house yang berubah menjadi label rekaman. Baru satu tahun setelahnya, Doyz merilis album debut solonya ini yang menandakan era baru hiphop lokal.

Paling tidak ada dua alasan. Pertama, "Perspektif" bisa dibilang merupakan album hiphop lokal pertama yang menaruh fokus penuh pada sisi 'lyricism' dari musik rap. Tak ada satupun lagu yang terbebankan oleh ‘market demand’ atau niche sejenis. Tak ada lagu yang rap-nya sekedar tempelan pada musik yang sekedar dirancang untuk orang berdansa di klub. Ini jika mencoba membandingkannya dengan album-album rap yang lahir sebelumnya bahkan proyek-proyek lainnya dimana Doyz terlibat, terlebih Pesta Rap. Bahkan P-Squad sekalipun masih memiliki satu single radio-friendly ("Goyang") yang memasang Iwa K sebagai feature MC.

Di album ini Doyz nyaris melenyapkan gimmick seperti itu. Single album ini berjudul 'Distorsi Statis' yang berlirik filosofis berhadapan dengan pengulangan momen keseharian ala Sisifus Camus dan memiliki musik yang bersuara di luar kebiasaan proyek-proyeknya selama ini.

Kedua, secara musikal, album ini memproduksi beat yang menjadi penanda rap global di penghujung 90-an dan awal 2000-an. Pasca Dr.Dre merilis "The Chronic" dan Mobb Deep memproduksi "The Infamous" dan RZA meninggalkan metoda produksi ala garasi pada album kedua Wu-Tang yang membuat Hiphop era itu bersuara lebih sederhana lagi dengan final mixing beat yang lebih 'bersih', tak lagi 'blunted' dan sekotor sewindu sebelumnya. Meninggalkan beat Jeep busuk dan ber-layer ala The Bomb Squad, Cypress Hill awal, Large Pro atau Buckwild. Ini menandakan perkembangan teknologi yang pula merubah wajah hiphop secara global.

Doyz membiarkan rekannya, Budi, untuk memproduksi hampir seluruh materi beat album ini dengan kesadaran dan preferensinya pada trend beat era itu (Ia sendiri hanya membuat tiga komposisi beat dalam album ini). Menghasilkan musik hiphop yang berada di garis New School ala rilisan Rawkus semisal Blackstar juga Common dan Arsonists yang kala itu sedang naik daun di dunia (bahkan dalam satu kesempatan Doyz sempat berbagi mic dengan salah satu emcee legendaris asal Arsonist, Freestyle, dalam sebuah event open mic di Singapura di tahun 2001).

Semua ini tentunya menjadi memungkinkan terjadi karena lahirnya era baru dalam industri musik yang mengizinkan para musisi hiphop lokal membuat album sendiri yang secara artistik mewakili mereka. Era itu sampling/composing software mulai populer sehingga sampler tak lagi eksklusif sebagai instrumen memproduksi musik hiphop di ranah lokal. Begitu pula pada sisi rima. Metode produksi mandiri ini memungkinkan Doyz untuk memenuhi hasratnya dalam membuat album yang membobotkan diri pada sisi 'lyricism' tanpa harus terganggu pertimbangan komersil seperti ketika ia terlibat di Pesta Rap.

Dengan mengedepankan permainan rima, smooth flow ala gabungan Method Man dan Slick Rick yang berkawin sempurna dengan delivery-nya, Doyz memanfaatkan album sebagai media pematangan karakter dan gaya rap-nya. Sesuatu yang krusial bagi siapapun yang mengaku MC. Meski rima-nya tidak berkompromi dengan massa atau pendengar kebanyakan, Doyz tak terlalu juga berumit-rumit dengan diksi namun cukup bermain efektif dengan rangkaian kalimat berpantun dan metafor sederhana. Mungkin lagu "Apalah" adalah contoh yang paling sempurna dalam hal ini, pula “Prematur” yang merupakan battle track yang diss-nya diperuntukkan bagi para rapper dari 7 Kurcaci, sebuah grup yang cukup populer kala itu.

Sederetan MC yang bertamu di album ini pun memiliki catatan tersendiri. Mulai dari Taste, Xaqhala, VK, Seen, Ethnic, Ezki, Bagindo dan -yang paling bersinar- 3rd Emcee, menandakan betapa hidupnya skena hiphop Jakarta kala itu. Penggemar hiphop tak lagi berupa individu-individu terpisah dan saling teralienasi seperti beberapa tahun sebelumnya. Pertamuan ini mungkin hal yang sederhana namun di balik itu, kita bisa melihat hiphop di awal 2000-an sudah menjadi komunitas solid yang memiliki tradisi dan ritualnya sendiri.

Setelah 12 tahun, materi mentahan album ini kembali ke tangannya. Bersama Baturaja Records, Doyz mengemas ulang dan memiliki kesempatan untuk me-mixing ulang album yang dulu hanya dirilis dalam format kaset ke dalam format CD. Pula sedikit banyak meramu rekayasa mixing sesuai keinginannya yang dahulu tak sempat terealisasi karena faktor teknologi. Hasilnya cukup memuaskan, salah satunya yang cukup terasa adalah lagu "Bumi Hari ini #2" yang memiliki snare dan kick yang lebih cocok dengan suara saxophone di belakangnya.

Bagi mereka yang berada di skena hiphop 2000-an awal tentu tahu bagaimana respon dan dampak album ini bagi para pelaku di era itu. Banyak MC yang terpengaruh gaya Doyz yang sederhana dan flow-nya yang flamboyan pasca album ini dirilis. Atau setidaknya, Doyz membuat sebuah parameter baru bagi album hiphop lokal. Ia membuat ukuran baru, minimal sesolid apa album rap lokal harus bersuara. Dalam bahasa slang rap-nya; “raise the bar”.

Pada tahun 2002 itu saya dan rekan satu grup saya, Aszi, sedang membuat album pertama Homicide yang digarap sejak setahun sebelumnya yang tidak kunjung juga beres karena perkara finansial. Ketika kaset ini kemudian sampai ke boombox kami, saya berujar pada Aszi bahwa kami harus memastikan album kami lebih bagus dari “Perspektif”, atau jika tidak, lebih baik tidak dirilis sama sekali. Dalam kalimat Aszi saat itu; “We have to murder that shit.” Jadi bisa dibilang, secara langsung atau tidak langsung “Perspektif” memacu kami untuk menyelesaikan album debut sialan yang tak kunjung beres itu sesegera mungkin dan membuat parameter baru, versi kami. (Yang pada akhirnya selesai juga, dan dirilis di tahun yang sama).

Atmosfer kompetisi Bandung-Jakarta kala itu bisa dibilang cukup intens dan massif, dan ketika suatu hari saya dan Doyz berkesempatan berbincang perihal era itu, kami semua senang bahwa pernah ada era di mana kompetisi memberikan kami semua adrenalin tambahan untuk menghasilkan sesuatu, bukan sebaliknya. Secara umum, di Bandung sendiri, Doyz menjadi jembatan bagi para hardcore hiphop heads dengan penggemar native tounge rap dan bahkan dengan mainstream rap pada umumnya.

Beberapa materi memang tak dimasukkan ke dalam versi reissue ini. Hal teknis seperti materi mentahan yang hilang menjadi pertimbangan Doyz. Agak disayangkan memang. Salah satunya adalah skit pendek 'When Im on the Mic' ketika Doyz nge-rap freestyle dan crowd menggila dalam sebuah acara di mana kita bisa menangkap se-intens apa acara dan pergerakan kultural hiphop di era itu, khususnya di Jakarta. Tapi nampaknya ini tak menjadi masalah. Paling tidak rilisan ini bisa mengingatkan beberapa hal krusial; melakukan yang tak mungkin dilakukan ketika teknologi dan kultur dimonopoli industri dan sisa hasrat didikte mereka untuk tetap berada dalam satu alternatif selera.

Album ini pula menjadi menarik (setelah bertahun-tahun secara personal saya menterornya untuk kembali nge-rap), akhirnya Doyz mengabarkan bahwa ia kembali melakukan rutinitas true head-nya; menulis lagu dan kembali rekaman bersama Erik untuk Blakumuh-nya dan album solo pertamanya setelah 12 tahun.

Sekali lagi, jika ada album yang paling penting dirilis dan dikemas ulang bagi penggemar hiphop lokal generasi hari ini untuk melihat balik perjalanan musik hiphop lokal dan relevansinya dengan teknologi dan komunitas, maka "Perspektif" ada di urutan pertama.

 
Last modified on: 1 Oktober 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni