(3 votes)
(3 votes)
Read 4204 times | Diposting pada

Lima Track Terbesar Metallica

 

Untuk urusan speed, Megadeth atau Slayer sangat bisa mengalahkan Metallica. Di bandingkan Marty Friedman, permainan gitar Kirk Hammet terutama dalam urusan solo dan permainan yang susah dan kompleks, masih bisa diadu. Untuk menyusun konsep album yang operatik dari era yang sama, …And Justice for All masih harus bersaing keras dengan rilis monster semacam Operation: Mindcrime dari Queensryche. Lantas apa yang membuat Metallica bisa menjadi band metal terbesar yang bisa bertahan di puncak begitu lama. Terlepas dari myth-making serta strategi marketing kelas wahid, kemampuan Metallica sebagai komposer mungkin lebih bisa menjelaskan keberhasilan mereka. Untuk mengkompensasikan skill yang tidak terlalu berlebihan—perhatikan betapa mentahnya Kill ‘Em All—Metallica mampu menyatukan daya, mengambil pengaruh dari tempat lain, dan meramunya menjadi komposisi-komposisi epik yang kompleks di tingkat ide namun mulus dieksekusi, sehingga mudah untuk dinikmati. Berikut adalah lima komposisi yang menurut kami adalah terbaik dari Metallica dan menjelaskan mengapa mereka menjadi nomer satu sampai begitu lama, sebelum Lulu dan/atau St. Anger datang dan merubah semua perhitungan.

"Orion," Master of Puppets

Sumbangan Cliff Burton terbesar untuk kejayaan Metallica. Untuk komposisi ini, Metallica literally menjadi band yang memainkan musik klasik. Komposisi sepanjang 8.5 menit ini, terdiri dari tiga movement di mana bagian awal dan akhir dimainkan dalam ketukan 4/4 serta bagian tengah dalam 6/8. Namun lebih dari sekedar hitungan teknis itu, komposisi ini adalah Metallica dalam kemegahan terbesarnya, mulai dari dengungan intro gitar, roller coaster solo Kirk Hammet dan solo bass Cliff yang menemani perjalanan kosmis penciptaan semesta.

"My Friend of Misery," The Black Album

Semua perhatian tentu tertuju buat blockbuster soft-rock Metallica di album ini, "Nothing Else Matters," "The Unforgiven" atau hit di ranah pop MTV "Enter Sandman." Namun terselip di belakang, hanya satu lagu sebelum album ini ditutup adalah "My Friend of Misery" yang sekali lagi menunjukkan kelas Metallica sebagai komposer terbaik di ranah metal atau ranah manapun. Capaian itu justru diraih dalam rhythm section, gabungan riff heavy metal klasik James Hetfield, ketukan medan perang drum Lars Ulrich dan dengungan lebah bass James Newsted. Bagian terbaik komposisi ini adalah ketika semua diam, Newsted mulai memasukkan melodi bass, Hammet mengiris melodi tipis dan Hetfield menggerus nada tipis yang country-ish, sebelum semua mencapai finale di dua gitar solo yang menakjubkan. Semua band metal masa depan sedang mencatat di buku latihan mereka.

 "One," …And Justice for All

Tidak ada daftar tentang Metallica tanpa track ini. Sekali lagi ini membuktikan tingkat kebegawanan Metallica secara kolektif sebagai komposer.  Hampir semua trick dipakai di komposisi ini. Mulai dari riff dasar sederhana sebelum bermetamorfosis menjadi  sangat sulit, mulai dari kecepatan rendah sebelum naik ke gigi lima dan melaju sangat kencang. Komposisi ini bahkan dimulai dengan salah satu gitar solo terbaik Kirk Hammet hanya setelah 10 detik dimulai. Dan justru speaker yang terlalu dekat dengan drum Lars Ulrich seperti ingin menyediakan pelajaran gratis bagi rival dan pengagum mereka tentang efektivitas permainan drum thrash metal.

"Seek and Destroy," Kill ‘em All

Salah satu opening riff terbaik di ranah rock. Bayangkan anak usia 14 tahun yang terbiasa mendengar Duran-Duran, Julius Sitanggang atau Spandau Ballet mendengar untuk pertama riff monster itu. Dan dengan duri-duri merah di ujung logo M dan A di sampul album, palu dan genangan darah (?) justru bukan mimpi buruk yang hadir, namun semangat untuk melawanlah yang mengemuka--yang justru telah hilang dari Metallica sejak era Load. Secara teknis track ini menjadi semacam template buat musik Metallica di dekade 1980-an.

"The Call of Ktulu," Ride the Lightning

Pendahulu untuk "Orion," berlian yang masih belum terasah, di mana Metallica mencoba menciptakan komposisi epic dengan energi yang berlebih namun dengan cara pandang yang masih belum terlalu luas—yang juga secara umum menjelaskan Ride the Lightning, album bagus namun belum terasa utuh dan merata. "The Call of Ktulu" nampak istimewa karena terlalu bagus untuk komposisi lain yang medioker, apalagi dengan gitar solo Hammet yang dimulai di menit ke empat, yang secara sublim kemudian mencair bersama rhythm section pada tiga menit berikutnya. Satu menit terakhir mungkin adalah salah satu cara tersulit dalam mengakhiri sebuah komposisi.

 

Last modified on: 4 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni