(1 Vote)
(1 Vote)
Read 3647 times | Diposting pada

Lima Gejala Penuaan 2014

Ketika Anda sudah menginjak usia di atas angka 35 tahun, ada banyak hal yang berubah. Anda menjadi malas untuk berubah. Anda semakin sadar bahwa peluang untuk merubah dunia menjadi makin kecil dan Anda akan semakin menjadi lebih cepat mengambil jalan pintas. Anda lebih banyak diam dalam debat panjang dan memilih menyimpan hal penting untuk diri anda sendiri ketimbang tunduk kepada tuntutan oversharing. Yang lebih penting lagi adalah Anda tidak peduli lagi apakah menjadi hip adalah sesuatu yang penting.

Indie rock atau rock and roll is a young man's game dan mencari band terbaru apa yang paling bagus dan mendapat rating di atas 9.1 dari Pitchfork makin butuh energi lebih, sedangkan konsentrasi juga makin berkurang untuk mencari kabar tentang band dengan nama yang susah dieja apa yang sedang datang ke Jakarta. Kadang musik baru datang dengan cara yang dulu Anda haramkan.

Bagaimana jika satu dari beberapa cara itu adalah di mobil dengan gadis kecil menuju sekolah dan Anda harus di paksa mendengar Meghan Trainor, Maroon 5 atau Taylor Swift yang ternyata bukan hanya musik pop yang lebih baik dari apapun yang direkam Swans, namun juga jauh lebih menyenangkan untuk di dengarkan sambil berkendara malam ketika yang anda pikirkan adalah kemungkinan bahwa anda tidak harus bangun sangat pagi pada keesokan harinya?

Dengan segala macam apologia itu, daftar di bawah ini memang pada creme de la creme, karena jika seseorang dengan attention span, energi, waktu yang makin terbatas saja masih bisa peduli dengan beberapa rilis di bawah ini, berarti memang kelima album ini memang layak dicatat. Atau anggap saja ini hasil kemalasan berfikir tentang apa yang hip atau yang bukan. Dan meski ada rilis Elevation yang layak masuk dalam daftar musik bagus semacam Gegap Gulana dari Fami Redwan, yang mampu secara sempurna memadukan Timur dan Barat serta Tengah Karibia, akan menjadi immoral buat saya memasukkannya ke daftar di bawah ini.

Led Zeppelin, Led Zeppelin IV dan Houses of The Holy: Jimmy Page Vinyl Remastering

Semua orang pasti pernah mengalami tahapan menyukai Led Zeppelin. Kira-kira delapan tahun yang lalu untuk pertama kali saya mendengar Led Zeppelin II. Dengan turntable tua dan speaker yang sudah lelah, saya tertegun dengan intro riff  Whole Lotta Love. Begitu berat, meruang, primitif dan tua.

Setelah itu koleksi vinyl Led Zeppelin makin bertambah meski tidak pernah diputar, mengingat kebanyakan koleksi itu adalah dari penjual lokal dalam kondisi buruk. Vinyl hanya dimiliki untuk ditimang, di tengok beberapa kali untuk artwork yang ikonik dan sampai tahun lalu, sound Led Zeppelin yang ada di kepala saya adalah monster riff Jimmy Page di Whole Lotta Love.

Sampai tahun lalu, ketika Jimmy Page, mengumumkan melakukan remastering untuk sebuah proyek reissue semua LP Led Zeppelin dalam format vinyl. Untuk pertama kali saya menemukan Led Zeppelin dalam bentuknya yang sempurna. Perbaikan kualitas hidup memungkinkan saya memiliki hi fi set yang jauh lebih layak untuk mendengarkan musik yang kini sudah dalam kualitas suara yang jauh lebih sempurna.

Tahun ini proyek remastering Jimmy Page sampai dua album maha mahakarya IV dan Houses of the Holy. Saya tidak perlu jelaskan bagaimana hebatnya dua album ini. Saya hanya bisa katakan bahwa Houses of the Holy adalah album terbaik Led Zeppelin. Tahun ini saya terobsesi lagi dengan Led Zeppelin, saya beli semua CD remaster dengan segala versi mix yang berbeda, saya beli lagi semua kaset album klasik mereka, saya cari gali semua wawancara Jimmy Page di YouTube, saya tonton lagi It Might Get Loud, di mana Jimmy Page, The Edge dan Jack White berbagi cerita soal proses kreatif mereka. Meski agak tidak masuk akal, saya mulai menggantikan koleksi lama vinyl Led Zeppelin dengan edisi remaster Jimmy Page.

Saya kemudian setuju dengan Jack Black ketika memperkenalkan Led Zeppelin ke audiens di Kennedy Center ketika memberi lifetime achievement award buat ketiga dewa rock dari Midland ini, "remember guys, you are the best band ever!" Atau dengar apa yang dikatakan oleh seniman besar Amerika Jeff Koons tentang Zep; "the band change my life."

Hans Zimmer, Interstellar: Original Soundtrack

Bisa dipastikan banyak dari Anda yang bangga membeli album soundtrack Guardian of the Galaxy yang berisi kumpulan lagu dalam bentuk mixtape yang juga mempopulerkan kembali format kaset. Saya bukan bagian dari tren ini. Album soundtrack ini sesungguhnya adalah kumpulan lagu-lagu medioker yang pernah paling laku di dekade 1970-an. Semuanya adalah hits yang sangat rajin diputar di radio FM waktu itu yang kebanyakan hanyalah one-hit wonder (Norman Greenbaum anyone?). Lakunya soundtrack Guardian lebih merupakan hasil kampanye Humas dari film blockbuster yang sangat slick.

Bagi saya pahlawan sesungguhnya dari genre soundtrack tahun ini adalah Hans Zimmer dengan musik tanpa vokal yang di rekam untuk film Interstellar. Saya menonton Interstellar tiga kali, yang ke dua kali hanya untuk menyaksikan kemegahan Black Hole Gargantua hasil rumus sulit konsultan film ini Kip Thorne dan kali ke tiga saya menonton film ini saya hanya ingin mendengar soundtrack suara, musik dan kesunyian yang diramu Hans Zimmer untuk film eksistensialis "are we alone in the universe ini?"

Hans Zimmer begitu yakin akan kepaduan film dan musik soundtracknya sampai dia tidak mau merilis album ini sebelum filmnya sendiri tayang. Dan memang benar, jika anda dengarkan soundtrack ini dengan surround sound 7.1 di gedung bioskop, anda akan tahu begitu dalamnya makna religius dari musik yang sebagian besar direkam dan dimainkan dengan pipe organ dari salah satu gereja terbesar di London. Sama seperti Also Sprach Zarathustra Richard Strauss yang dipakai oleh Stanley Kubrick di 2001: Space Odyssey, keduanya adalah saat dimana seni, musik terutama, menjadi lebih bermakna dari hanya sekedar note dan komposisi.

Salah satu bagian terbaik dari soundtrack ini adalah apa yang di CD album ini (begitu kagumnya, kami sampai membelinya dari situs amazon.com) yang diberi judul "Cornfield Chase" ketika karakter Matthew McConnaghey dan dua anaknya mengejar drone tua buatan india. Ada semacam pertanda gaib bagi kiamat yang memang akan segera datang.

Budapest, George Ezra

Setelah seharian lelah mendaki puncak tertinggi gunung Alpen dengan temperatur dibawah 6 derajat celcius, minggu lalu saya tiba kembali di hotel kecil penginapan kami yang nyaman dengan penghangat ruangan yang bekerja sempurna. Sambil menunggu bak mandi penuh air hangat, saya menyalakan televisi yang penuh dengan channel berbahasa Jerman dan Pranacis. Kemudian remote control mengarahkan saya ke Channel BBC 4 yang sedang menyiarkan acara BBC Music Award secara live, tepat ketika seorang anak muda naik panggung setelah Ed Sheeran.

Saya tidak percaya apa yang saya dengar! Seorang anak muda 21 tahun dengan baritone suara setua Ledbelly dengan sengau Bob Dylan, bernyanyi sangat berwibawa tentang Budapest, kota tua di Eropa Timur. Dengan orkestra yang mengiringi dengan ketukan pizzicatto violin dan stand up bass. Saya tahu bahwa saya barusan mendengar sebuah masterpiece. Sudah lama saya tidak mendapatkan perasaan sebahagia ini ketika menemukan musik baru. Semalaman di hotel hangat itu saya putar video YouTube versi asli Budapest dengan aransemen yang lebih sederhana namun tidak kalah megah dan menyentuh.

As the cliche goes, dunia tidak pernah sama lagi, petikan gitar renyah, backing vocal doo wop dengan vokal sengau baritone yang tiada duanya. Kritik musik terbaik kenalan saya adalah perempuan kecil berusia 10 tahun. Saya kirim link video youtube itu melalui line dia. Sesampai di rumah, saya terkejut ketika sadar bahwa dia sudah hapal semua lirik, chorus dan liukan vokal indah George Ezra.

Tadi sore kembali dari makan malam di luar, saya minta dia mencari soundcloud streaming Budapest di i-Phone tua saya untuk kemudian disambung ke stereo player mobil kami. Kami buka kaca jendela pintu depan, kami menyanyi berdua mengikuti George Ezra dengan hembusan angin sore yang surgawi.

The Clientele, Suburban Light

Berbicara tentang britpop seperti orang Midwest bicara soal temperatur dibawah minus atau orang Jakarta mengeluh soal macet, the mother of all cliche. Hampir tidak ada satu halpun dari scene lokal yang tidak terhubung dengan britpop, Radiohead, Stone Roses, Pulp, Morrissey (dan bukan The Smiths) atau Oasis. Semua pengaruh yang datang dengan mudah karena akses MTV, media cetak macam Majalah Q dan kemudian Interrnet.

Tidak ada yang salah dengan semua ketaklidan itu, cuma kadang justru hal tersebut menutup mata kita untuk hal yang tidak banyak mendapat lampu sorot dan mengalihkan perhatian dari mereka yang bermusik justru dengan keinginan untuk tidak di sorot. Salah satu yang terlupakan dari era britpop awal 2000-an, selain Elbow adalah The Cleintele.

The Clientele memainkan musik yang terlepas dari hingar-bingar britpop kala itu. Musik mereka sangat pelan, hampir mono dan monokromatik yang berkisah tentang hujan bulan October, sinar matahari, hari Sabtu serta kegelapan kota tua. Di tengah-tengah kompisisi ada figur gitar bercahaya redup yang hampir nyaris hilang di telan proses mixing. Album mereka Suburban Light dirilis tahun 2001 dan di bungkus ulang oleh Merge Records entah tahun ini atau tahun lalu. Ada sedikit upaya remastering tapi yang mendominasi tetap kabut dan asap putih yang keluar dari cerobong rumah tua di pedalaman Inggris.

Leonard Cohen, Popular Problems

Tidak ada yang mengharapkan Leonard Cohen bertahan begitu lama. Mantan penyair Kanada ini sekarang berusia 80 tahun, dan kalau Bono yang berusia 50-an saja sudah bangkrut secara artistik, akan sangat sulit mengharapkan kakek setua Cohen untuk menghasilkan sesuatu yang bahkan layak direkam ke cakram padat.

Tapi Leonard Cohen adalah spesies yang berbeda, sama seperti Robert Plant, Loudon Wainwright atau almarhum Johnny Cash mereka adalah hipster abadi, mereka yang selalu mencari sampai cahaya benar-benar berhenti menyala. Popular Problems justru adalah Cohen dengan segala keterbatasannya, vokal yang hanya tinggal satu nada bariton dan pilihan instrumen yang makin tidak banyak.

Yang membuat Popular Problems istimewa adalah kemampuan Cohen untuk tetap cerdik dengan ironi. Nevermind ditulis oleh Cohen dengan niat seperti ingin membayar hutang kepada Kurt Cobain yang menjadikannya berhala di Pennyroyal Tea. Di You Got Me Singing, Cohen seperti memberi kedipan mata nakal dengan menyerahkan satu bait lagu kepada penyanyi backing vokal perempuan "You got me singing Hallelujah", Cohen bahkan tidak sudi mengaitkan dirinya dengan salah satu karyanya yang paling monumental. Nevermind juga menjadi adalah semacam permintaan maaf Cohen bagi sikap politiknya yang mendukung negara Yahudi di Tanah Arab, terutama dengan vokal perempuan berbahasa Arab tentang pesan perdamaian, "ya salam, ya salam".

Ketika mampir di sebuah toko musik di dekat kota Montreaux beberapa hari lalu, saya melihat vinyl Popular Problems terselip di antara beberapa vinyl album-album reissue. Saya mengambil double LP Led Zeppelin IV dan Endtroducing dari DJ Shadow. Sampai di Betawi, penyesalan itu tak pernah berhenti.

***

Telusuri #Retrospektif 2014
Last modified on: 30 Desember 2014
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni