(4 votes)
(4 votes)
Read 4186 times | Diposting pada

Lelucon Raksasa Semakbelukar

Lelucon Raksasa Semakbelukar Kredit Foto: Obay Minoral

 

 

Bukannya tidak beralasan untuk bertanya-tanya mengenai Semakbelukar. Musik yang mereka sajikan sekilas memang terdengar sangat mudah dikotak-kotakkan.

Mendengarkan single ‘Kalimat Satu’, telinga anda akan segera disambut sensasi sonik dari dinding akordion yang berdesing seolah memainkan melodi jalanan Paris, sebelum tabuhan gendang yang menggedor dan gitar akustik yang berbunyi samar di latar belakang memenuhi kuping anda.

Lantas, vokal itu masuk, melecut tinggi melantunkan balada yang meliuk bagaikan muadzin sore hari:

Ini tangan kecilku, mengepal keras membatu. Menghunus kalimat satu, hadapi baku/ Ini kaki kecilku, menapak tanah dan debu, melangkah tiada ragu, menuju baku/ Ini tubuh kecilku, dipasung ruang dan waktu, dinista mata peragu, pengingkar satu / Ini suara kecilku, berhuruf angka menyeru, akhirku mungkin dideru butir peluru/ Biarpun rebah, tiada alasan untuk berubah, biarpun terbuang, tiada henti berjuang

Begitu intro akordion itu menegur pendengaran anda, otak mungkin terburu-buru berkonklusi bahwa band asal Palembang ini adalah Beirut versi Indonesia. Bagian dari gelombang baru berbagai band folk yang terpengaruh musik Balkan dan hobi memakai instrumen baroque, satu hajatan dengan Aurette and the Polska Seeking Carnival yang mulai naik daun.

Saya pun begitu, terburu-buru berkonklusi. Ah, ini tren baru. Beirut dan Aurette sukses, akhirnya banyak band mulai berani main Balkan Folk. Bahkan nama akun Twitter Semakbelukar adalah ‘Belukaria Orkestar’. Saya mendengus: “Kalau mau mencium kaki Zach Condon, setidaknya lakukanlah dengan lebih subtil!

Namun setelah diperdengarkan lebih lanjut, mungkin bukan luasnya pegunungan Balkan yang hendak diresapi oleh Semakbelukar. Melainkan sejenis peradaban lama, sebuah tempat magis pada jaman dahulu kala yang masih mengenal para Sultan dan para Syaikh. Kerajaan Melayu era-era fantasi, ketika fotografi pun masih belum mengenal hitam ataupun putih, hanya buram.

Semakbelukar seperti ingin mencoba untuk menggali dan mengeksplorasi kembali warna musik dari tradisi Melayu Palembang, yang menghiasi Bumi Sriwijaya tempat mereka berjejak. Lalu, tradisi ini mereka rombak dan mereka bawa ke dalam dunia masa kini yang penuh dengan otot-ototan antar budaya. Kekunoan, kekinian. Modernisme, Primordialisme.

Keunikan Semakbelukar

Mungkin inilah dia yang unik tentang Semakbelukar. Mereka tidak memainkan sesuatu yang baru. Namun, mereka memainkan sesuatu yang begitu kuno, sampai-sampai musik tersebut terdengar novelty dan mendobrak. Besar tidaknya bumbu dan influence masa kini yang masuk ke dalam musik Semakbelukar entah kenapa jadi tidak terlalu penting bagi saya.

Musik yang dibawa oleh Semakbelukar begitu lama, begitu ketinggalan jaman, begitu terlupakan, dan begitu konservatif, sampai-sampai kehadirannya kini terasa baru dan berbeda. Saking kuno-nya mereka, Semakbelukar malah terdengar lebih modern dan baru daripada band-band lain.

Perkara hasilnya bagus ataupun tidak, semua jelas kembali ke penilaian subjektif pendengar. Saya sendiri tidak bisa berhenti mendengarkan folk Melayu/Balkan yang memabukkan ini. Ada elemen hipnotis tersendiri dari wall of sound akordion dan dentuman gendang yang repetitif. Vokal sang penyanyi, David Hersya, terdengar edan. Seperti hantu penyanyi istana yang mengingatkan para makhluk-makhluk modern tentang datangnya kiamat.

Ah! Kalaupun hadirnya band folk tradisionalis macam Semakbelukar hanya tren belaka, maka benar-benar tren yang luar biasa! Cukup mengobati kejenuhan saya pada folk nelangsa penuh melodrama yang sekarang jadi makanan para muda-mudi kasmaran.

Tapi bukan musik mereka saja yang membuat mereka menarik. Semakbelukar, di lagu 'Kalimat Satu', nampaknya sedang berguyon. Satu hal terbersit saat membaca lirik tersebut. Lima belas tahun lalu, kita menggulingkan seorang Tiran dan mengakhiri fase kelam dalam sejarah negara kita. Fase yang seolah penuh dengan kepastian, keamanan, dan kenyamanan. Namun pada akhirnya justru menyisakan duka, amarah yang meluap, dan pertanyaan yang sampai sekarang pun belum terjawab.

Guyonan Reformasi

Reformasi, begitu kita menyebutnya. Sebentuk pemilihan kata yang optimis. Hancurkan segala sistem dan orde yang tadinya ada! Sekarang waktunya perubahan! Ya Tuhan. Harapan memacu adrenalin kita seperti heroin.

Saya sendiri tidak ada di jalanan pada waktu itu. Tahun 1998, saya masih balita. Tapi sekarang ini saya adalah bagian dari generasi yang hidup dari sisa-sisa bara abu Reformasi. Bisa dibilang, generasi Munir dan Wiji Thukul memulai revolusi. Sekarang, generasi saya hidup dengan reruntuhan revolusi, selagi mencoba melanjutkannya.

Menilik ke belakang, Reformasi terasa seperti sebuah momen yang luar biasa. Sebuah saat tak tergantikan di mana, kelihatannya, kejayaan dan kemerdekaan sesungguhnya ada di depan mata. Institusi raksasa itu sudah kita bongkar, pemimpinnya sudah kita gulingkan, dan kini kita tinggal di negara yang bebas. Akhirnya, Tuhan, negara yang bebas!

Saya masih merinding setiap kali melihat tajamnya tatapan mereka-mereka yang berkisah tentang hidup di bawah sang Tiran. Saya masih merinding saat ingat kisah para eks Tapol yang dipenjara tanpa pengadilan. Dan di saat itulah saya menyadari, betapa besarnya musuh yang kala itu kita tumpas. Saya pun sadar, bahwa generasi saya berdiri di sisa-sisa kejayaan itu. Kejayaan, di mana rakyat akhirnya mampu digdaya di atas kekuatan opresi dan kebohongan.

Astaga, pikir saya. Lirik itu mengingatkan saya tentang kisah-kisah Reformasi. “Ini tangan kecilku, kaki kecilku, tubuh kecilku, suara kecilku.” Pilihan kata yang menarik! Sang narator tak takut mengakui bahwa dia memang kecil. Bahwa memang, di atas kertas, dia bukan apa-apa. Ibarat David melawan Goliath (mungkin inilah pertanda Komedi Illahi, ketika nama penyanyi Semakbelukar pun David!).

Namun, semua itu bukanlah alasan untuk berkecil hati. Bukan alasan untuk berhenti. “Akhirku mungkin dideru butir peluru. Biarpun rebah, tiada alasan untuk berubah. Biarpun terbuang, tiada henti berjuang.” Mereka adalah buangan bagi pemerintah dan orde yang ada. Generasi masa depan yang tidak berguna karena tidak mau menurut para peraturan. Tapi itu bukan alasan untuk berubah. Hajar terus sampai mampus. Exterminate all the brutes!

Gila. Bolehlah dibilang kalau di tahun 1945 kita terlahir kembali, maka di tahun 1998, kita moksa.

Mungkin anda bertanya, “Tahu apa kamu soal Reformasi?” Tidak banyak. Saya tidak tahu bagaimana rasanya menduduki gedung DPR. Saya tidak tahu bagaimana rasanya menjarahi pusat perbelanjaan dan membakar mobil. Tapi saya tahu bagaimana rasanya hidup di nihilisme pasca revolusi.

Saya tahu bagaimana rasanya hidup di sekitar revolusioner yang memegang sisa-sisa idealisme samar. Saya tahu bagaimana rasanya diingatkan kembali akan betapa ‘kecil’-nya kita, dan bagaimana perjuangan sekeras apapun nampaknya tak akan membuahkan hasil.

Di ‘Kalimat Satu’, Semakbelukar bicara tentang kekuatan ini. Kekuatan diri dan idealisme “Kita bisa menumpas semuanya!” yang mungkin dulu ada di era Reformasi. Saya sendiri bicara tentang dunia setelah kekuatan itu memudar dan mulai meragukan dirinya sendiri.

Lelucon Raksasa

Menggoda sekali untuk menyebut bahwa Reformasi adalah revolusi gagal. Gurita-gurita konglomerasi itu masih ada dan menggerogoti kocek rakyat kita. Politisi racun masih hidup dan ada di sekitar kita. Mereka tersenyum, menebarkan pundi-pundi uang, lantas tertawa terbahak-bahak saat rakyat tertipu dan memilih mereka lagi.

Ah, sudahlah. Menyampahi politik itu bukan barang baru. Bukan inovasi dalam bidang kepenulisan. Saya tidak perlu panjang lebar menghujat kondisi pemerintahan negara. Profesor Politik sampai Tukang Bakso pun sudah tahu bagaimana negeri ini.

Di sinilah letak punchline-nya. Di sinilah letak lelucon raksasa yang digemakan oleh Semakbelukar dengan sound Melayu mereka, tabuhan gendang mereka, strumming gitar akustik mereka, dan cengkok muadzin Balkan mereka. Bagi saya, lirik Kalimat Satu adalah lirik paling kurang ajar yang pernah saya baca. Lebih kurang ajar daripada sumpah serapah Punk sekalipun.

Saya jadi heran, kenapa mereka mengungkat-ungkit idealisme lama ini lagi? Okelah, belum tentu mereka hendak mempolitisirnya seperti saya. Siapa tahu maksud lagu ini lebih umum, dan lagu ini adalah sebentuk ekspresi kekuatan menghadapi dunia sehari-hari. Anggap saja, sejenis lagu motivasi.

Tapi momentum saat ini ada pada perayaan 15 tahun Reformasi. Mendengarkannya sekarang, bahkan di bulan Juni, terasa aneh. Interpretasi pribadi saya, Semakbelukar seolah hendak mengingatkan kita tentang idealisme yang ada pada Reformasi dulu. Atau malah, justru maksudnya lebih dalam. Jangan-jangan mereka sedang nyinyir.

Jangan-jangan mereka sedang menyindir fakta bahwa kita tampak seperti negara yang sudah kehilangan kepercayaan dengan dirinya sendiri. Ide ‘Menjadi Indonesia’ adalah sesuatu yang mengerikan dan dijauhi. Apatis ria merajalela, dan bukan lagunya Sore yang saya maksud. Hadirnya optimisme dan pernyataan “Persetan denganmu! Aku tidak akan menyerah!” dari Semakbelukar di tengah negara yang lemas seperti ini terasa seperti sindiran tingkat tinggi. Seperti tusukan dan tantangan luar biasa.

Tapi, ah, sudahlah. Saya ingin berhenti di sini sebelum esai ini berubah menjadi satu lagi teriakan pro-nasionalisme yang usang dan membosankan. Toh, saya sendiri juga bukan seorang nasionalis.

Mencintai Indonesia

Mungkin benar apa kata Anantagita Mithuna, seorang blogger, kepada saya: “Mustahil untuk mencintai Indonesia. Karena, Indonesia ini terlalu absurd untuk dicintai. Lebih baik, saya mencintai diri sendiri.” Absurditas yang mengakar ke dalam pembuluh darah dari apa yang dimaksud sebagai Indonesia. Korupsi, inkompetensi, stagnansi, macet, polusi, separatisme, konflik antar agama. Apalah.

Dan mungkin mentalitas inilah yang menjadi karakter Indonesia. Mungkin pernyataan teman saya itu sudah begitu pas merangkumkan Indonesia. Ini bukan negara pasrah. Bukan negara lepas harapan. Bukan negara tidak peduli. Namun sudah begitu gila dan carut marutnya, sehingga terkesan absurd. Dan di tengah absurdisme, apa lagi solusi selain untuk tertawa dan mencoba bertahan, selagi mendengus jijik?

Mungkin, inilah guyonan dari Semakbelukar. Saya rasa mereka pun sadar tentang absurdisme ini. Dan Kalimat Satu adalah usaha mereka untuk mengajak kita mengingat kembali idealisme lama dari satu masa di mana kita masih percaya pada Indonesia. Perkara anda akan percaya pesan lama mereka, atau malah tetap menertawakan absurdisme Indonesia, semua dikembalikan ke kebijakan masing-masing pendengar.

Saya sendiri justru merinding, heran. Karena pikiran mendadak bertanya: apakah justru absurdisme ini adalah identitas Indonesia sesungguhnya? Kalau benar demikian, maka mungkin post-reformation blues yang didengungkan Semakbelukar jadi berlebihan. Mungkin orang yang masih percaya pada kekuatan diri, seperti mereka, sebenarnya sedang menipu diri sendiri. Sementara kita, yang menerima keadaan, lebih masuk akal.

Kalau benar ini adanya, menyenangkan sekali menjadi orang Indonesia!

Last modified on: 4 November 2013

    Baca Juga

  • Bad Romance: Engcarnation 2018 di UI


    Sejak tahun 2015, English Carnival and Celebration atau Engcarnation sudah rutin menjadi acara tahunan dari IKMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Program Studi Inggris) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini…

     

  • Arwah


    Tubuh perempuan ini sekarat. Maka dengan sisa-sia kekuatan, aku memaksanya mengetik kisah ini. Aku ingin mencari tempat tinggal setelah mati. Tempat tinggal yang bukan akhirat, tapi di antara kehidupan. Tempat…

     

  • Terapi Urine Pasca 'Kehiduvan yang twewew ini'


    Seakan tak mau lepas dari swag hegemoni, suburnya isu SARA dan anomali sosial lainnya, EP Om Telolet Om menawarkan kesemuanya tadi dalam rangkaian aroma thrash metal ditambah single Buju Buneng…

     

  • Dolly yang Menghantui Dalam Videoklip Sang Pelanggan Silampukau


    Kami menemukan video klip ini horor. Satu shot menunjukkan kamera bergerak dari satu angle, dengan lembut menyorot foto pengantin di tengah kamar yang agak berantakan dan kosong sedari malam. Lelaki…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni