(9 votes)
(9 votes)
Read 2081 times | Diposting pada

Death to False Stoner: Misteri Cacing High On Fire

 

Sering kita dengar pendapat seperti ini: band setelah album ketiga biasanya akan meredup. Percaya tidak percaya memang. Tapi melihat bukti-bukti diluar sana mungkin ada benarnya. Tapi juga tak selalu. Ada yang bubar tapi dikenang. Ada yang tetap hebat. Ada yang tetap biasa saja (baca: stabil). Tapi banyak pula yang lantas terpuruk, bikin sensasi, bubar, ganti proyek lain, dan kemudian reuni (lebih efektif untuk meraup jutaan dollar daripada bertahan dengan album-album buruk).

Berapa album yang dimiliki band medioker macam Godsmack, Puddle of Mudd, Nickelback? Lebih dari satu. Apakah mereka bersinar atau terpuruk? Tidak keduanya. Mereka tetap stabil tapi dengan satu catatan: tetap menyandang status medioker. Lalu berapa jumlah album yang dirilis Limp Bizkit? Lumayan banyak. Beberapa dulu sempat booming, meroket, tapi sayangnya keburu meledak dan hancur berantakan di Bumi sama seperti pesawat ulang-alik Challenger. Hal tersebut biasa terjadi dalam dunia seni.

April tahun ini band metal asal Oakland, California High on Fire merilis album ke-6 nya, De Vermis Mysteriis (Misteri Cacing) lewat label eOne Music. Setiap band, dikatakan, harus punya album kuncian. Sebuah game changer. Yang menentukan seberapa besar kreativitas mereka. Yang paling tidak, dapat memancangkan eksistensi mereka. Iann Robinson dari situs CraveOnline menulis bahwa album ini adalah game changer bagi trio High on Fire. Situs itu menghadiahi album ini dengan angka rating 10. Andai semudah itu, mister Robinson.

Yang cukup menggelikan, Robinson menulis bahwa sebuah band butuh game changer bila mereka tidak mau tergulung oleh horison waktu. Metallica punya Master of Puppets, Slayer punya Reign in Blood, Black Sabbath dengan Paranoid, atau Guns ‘n Roses dengan Appetite for Destruction. Daftarnya bisa berkilometer panjangnya bila diteruskan.

Game changer tak bisa dijadikan tolok ukur. Toh, banyak juga band yang tidak memiliki album bagus sepanjang karir tapi bertahan dalam waktu yang cukup lama bukan? Bagi saya yang terpenting bukan albumnya, tapi efek yang ditinggalkan album itu bagi generasi kedepannya. Dan album-album milik Slayer, Black Sabbath, dan Metallica tersebut diatas telah berhasil. Album-album itu lebih dari sekadar game changer. Dan bukan hanya sekedar kamus riff dan shredding yang gila-gilaan, tapi artefak budaya yang timeless dan irreplaceable.

Jika album De Vermis Mysteriis dianggap sebagai kuncian, jangan samakan dengan album-album legendaris tersebut. Puncak kreativitas musisi itu pasti ada, dan menjadi hal biasa dalam proses kreatif. Lagipula album game changer milik band-band metal diatas selalu lahir dari kecerdasan serta suasana sosial budaya yang memang sangat kondusif kala itu – sebuah era thrash/metal sebagai hasil evolusi rock n roll, punk, hardcore dan heavy metal. Kontribusi mereka bukan hanya album-album yang cult dan laris terjual, tapi juga sebuah kebudayaan. Dan itulah yang membedakan Slayer, Anthrax, dan Black Sabbath dari band-band lain.

Sekalipun band-band itu sempat merajai blantika musik internasional dengan album-album yang menggebrak, tetap saja ada jalan menurun yang mesti dilalui. Jika ada puncak tentu ada titik nadir. Masih ingat Slayer di era 90-an? Tak bisa dikatakan berhasil (meski penggemar fanatiknya tetap berjubel). Metallica apalagi, mereka sampai masuk rehab, hampir pecah, dan menjual konflik internal untuk beberapa ribu dollar. Game changer tak penting bagi saya, karena hal itu bagian dari proses dan sudah menjadi kewajiban serta bentuk pertanggungjawaban band terhadap publik.

Lantas apa mungkin album High on Fire ini bakal membuatnya semelegenda band-band metal kugiran diatas? Bagi saya tidak. Era itu takkan terulang. Scene metal akan tetap sama meski banyak album baru bermunculan. Saya tidak sependapat dengan Robinson. Game changer High on Fire sudah dibuat bertahun-tahun yang lalu dan telah meninggalkan kesan cukup dalam bagi scene metal. Dan ibarat grafik yang naik turun, saat ini mereka tengah terjun.

Jika boleh bertanya, apa yang anda harapkan dari sebuah album milik musisi/band dalam era hibrid seperti ini? Bagi penggemar fanatik sebuah band/musisi pertanyaan itu tak bakal dilontarkan. Berani taruhan, bagi sebagian orang mungkin karena suka dengan lagu yang memiliki melodi atau hook yang catchy plus personel yang cantik/ganteng ala manekin.

Kadang lagu itu terdengar sangat catchy hingga anda mabuk kepayang dan terus menerus memutarnya. Tapi percayalah, dalam tempo 4 bulan anda akan lupa sebagian atau bahkan setiap bait lirik atau nadanya begitu saja (Krisna J. Sadrach apakah anda sadar?).

Pendeknya, saat ini sulit sekali menilai album itu begitu hebat atau quintessential karena kebanyakan musisi hanya mementingkan melodi dan refrain yang catchy tanpa memikirkan makna. Era ini adalah era pengulangan dari materi yang sudah ditemukan. Kita hanya tinggal mengolah dan mendaur ulangnya lagi. Tak akan ada lagi Reign In Blood yang bengis, Paranoid yang bikin parno, atau Spreading the Disease yang nakal di era seperti ini.

Bicara High on Fire tak bisa lepas dari Sleep - band stoner doom yang dikultuskan (saya tak membual) – yang bubar di tahun 1995. Haram hukumnya jika bicara stoner doom tapi tak menyebut nama Sleep. Sleep menjadi salah satu kiblat, bahkan bagi banyak band yang berlagak “stoner-stoner-an”. Band ini bubar setelah merilis 3 album yang semuanya influensial (Vol.1, Holy Mountain, dan Jerusalem/Dopesmoker).

Kemudian Matt Pike (gitar/vokal) membentuk High on Fire pada tahun 1998, sedangkan dua personel lain – Al Cisneros dan Chris Hakius – membentuk Om. Sleep jadi legenda dan reuni dari 2009 lalu, Om sedang meniti karir dan telah menghasilkan 3 album dan 1 album live, sedangkan High on Fire belum puas dengan 5 album.

Jangan salah sangka. Saya sangat menyukai High on Fire, khususnya 4 album di awal karir mereka. 3 album diantaranya (Surrounded by Thieves, Blessed Black Wings, dan Death is This Communion) masuk daftar album favorit sepanjang masa versi saya. Hingga saat ini saya masih ternganga jika mendengarkan komposisi mereka. Sangat cerdas!

Menginjak album kelima pada 2010 lalu - Snakes for the Divine, yang diproduseri Greg Fidelman - saya agak kecewa. Saya tak peduli jika album ini berada pada nomor 62 Billboard 200 Chart atau jika New York Times dan Chicago Tribune memuji album ini “wonderful” dan “an exhilarating rush” (jangan biarkan media mendikte selera anda). Komposisi mereka tipikal. Produksinya kelewat bersih, serta “asal ngebut”. Temanya juga agak lain dari biasanya (ada judul lagu Bastard Samurai disitu, seperti membayangkan Musashi Miyamoto membantai pasukan Tenno Haika sambil mengganja).

Apa masalahnya? Boring tentu. Mereka tidak tahu harus kemana lagi, seolah-olah semua energi kreatif mereka habis tersedot oleh ketiga album terdahulu. Dan kata-kata paling ampuh pun keluar, “kami mencoba kembali ke akar.” Oh, ayolah masbro! Harus seberapa sering kita mendengar kata-kata “aman” itu. Itu sama saja seperti berkata, “maaf kami tak tahu arah jalan jadi kami memutuskan kembali.” Sebuah band metal tidak hanya menonjol dari seberapa ngebut, berat, atau kegarangan riff-nya, tapi juga dari seberapa kreatif mereka dalam mengolah komposisi.

Album Surrounded by Thieves yang rilis tahun 2002 masih kental nuansa stoner doom yang primitif dengan ketukan drum tribal dan kunci gitar yang repetitif. Hal ini wajar karena bayangan Sleep masih menghantui Matt Pike sehingga nuansa Sleep-esque masih kental. Nomor Hung, Drawn, Quartered; Speedwolf; dan Eyes and Teeth adalah serangan mematikan.

Tahun 2004, Blessed Black Wings dirilis dengan Steve Albini sebagai produser. Mereka mempercepat tempo. Lebih berat dan kejam. Sound-nya kasar dan crispy. Semua departemen saling mengisi dengan rapatnya. Nomor seperti Devilution, Face of Oblivion, Brothers in the Wind, Cometh Down Hessian, plus cover song garang dari Judas Priest Rapid Fire, sangat, sangat direkomendasikan.

Puncak dari ledakan klimaksnya adalah Death is This Communion di tahun 2007. Dengan komposisi lick-lick gitar ala Timur Tengah dengan sound yang “gemuk” nan bersih berkat tangan dingin Jack Endino. Bisa disimak dari nomor Fury Whip dan Rumors of War. Tak ada yang dapat menyamai trio ini kala itu. Ini adalah masterpiece yang cukup influensial. Hasilnya di tahun 2007 Matt Pike pun masuk dalam daftar The New Guitar Gods versi majalah Rolling Stone.

Bagi seorang gitaris, gitar itu bukan hanya sekedar instrumen tapi perpanjangan tubuh, jiwa, dan pikiran. Dan Matt Pike adalah salah satu contoh musisi yang menjiwai perpanjangan tubuhnya. Ia mengeksplornya. Menyalurkan tenaganya. Dan menghidupinya.

Saya sempat berpikir bahwa High on Fire lebih baik bubar saja setelah album Death is This Communion. Mereka akan dikenang dan saya tidak perlu capek-capek menulis artikel ini.

H.P. Lovecraft dan De Vermis Mysteriis

“Power is not revealed by striking hard or often, but by striking true.” Kata-kata sastrawan Perancis termasyhur Honoré de Balzac itu adalah prinsip dan filosofi yang selalu dipegang High on Fire sampai kapanpun. Mereka tidak berpura-pura menjadi “keras” atau mencoba menyeleweng ke arah tren-tren masa kini. Dan itu yang membuat saya salut, seburuk apapun album mereka.

Situs label rekaman Century Media (yang mendistribusikan album ini untuk wilayah Eropa) menulis dengan sedikit nada humor bahwa High on Fire adalah “savage bull in the china shop of modern metal”. Apakah sang “banteng ketaton” mau berbelanja obat-obatan Cina? Belum jelas apa maksudnya. Tapi kali ini memang ada tema dari Cina daratan. Mungkin karena saat ini Cina sedang menjelma menjadi salah satu kekuatan dunia. Yang jelas ini adalah sesuatu yang baru dan jarang diangkat. Ketika banyak band mengadopsi tema-tema pagan, mitos-mitos Yunani atau Latin, mereka berani mengangkat tema yang kurang populer. Tapi sayangnya tema yang baru dan beda saja belum cukup untuk sebuah album.

Serums of Liao, nomor pertama, bercerita tentang serum yang dibuat dari lotus hitam oleh tabib Cina kuno. Mungkin saja serum tradisional ini digunakan secara turun temurun dan rahasia. Track ke-9 berjudul Romulus and Remus, yang dari judulnya segera ketahuan. Lagu ini mengangkat cerita legenda rakyat Roma tentang dua anak yang diasuh oleh serigala dan kemudian membangun kota.

Judul yang lain juga tetap gahar khas metal. Ada Bloody Knuckles yang memiliki groove klasik khas High on Fire; ada juga track Fertile Green – single pertama yang dirilis via Pitchfork pada Februari lalu – yang berisi metafora tentang bong dan “hijaunya” kebiasaan menggganja, dan dibuka dengan heart-pounding drum yang bikin semangat; Serta Warhorn yang menjadi nomor pamungkas dan meneruskan tradisi stoner klasik sebagai lagu perang.

Sama seperti album-album High on Fire terdahulu, album De Vermis Mysteriis juga terpengaruh cerita-cerita ajaib dan sci-fi karya H.P. Lovecraft. Karya-karya Lovecraft - khususnya At the Mountains of Madness yang bercerita tentang William Dyer, seorang geolog yang berekspedisi ke Antartika dan menghadapi hal-hal aneh - menjadi referensi bagi banyak musisi.

Album De Vermis Mysteriis ditakik dari fiksi horor garapan Robert Bloch berjudul The Shambler from the Stars yang terbit di tahun 1935. Awalnya Bloch yang ternyata penggemar berat Lovecraft meminta pendapatnya atas karya ini. Frase itu tadinya hanya sebuah mantra berbahasa Inggris yang dibaca oleh salah satu tokoh dalam cerita pendek itu. Lovecraft yang ternyata menyukai karya Bloch kemudian mengusulkan frase dalam bahasa latin: De Vermis Mysteriis. Beberapa tahun kemudian Lovecraft juga memasukkan frase itu lagi dalam salah satu fiksinya.

Konsep De Vermis Mysteriis – yang menurut Bloch adalah rahasia tergelap yang pernah dipelajari manusia - diambil dari kisah tentang Ludwig Prinn, seorang ahli kimia yang dibakar dalam rangkaian perburuan tukang sihir di Brussels pada akhir abad ke-15. Disamping itu Bloch mengaku terinspirasi dari karya Lovecraft berjudul The Call of Cthulhu yang terbit pada tahun 1928 – sebuah fiksi fantasi tentang monster laut aneh bernama Cthulhu yang menghancurkan kota fiktif bernama R’lyeh di Pasifik Selatan. Sebuah hubungan resiprokal nampaknya telah terjadi: Lovecraft mempengaruhi Bloch dan Matt Pike terpengaruh keduanya.

Matt Pike tampaknya seseorang yang haus akan referensi literatur, dan itu lebih dari cukup sebagai bahan bakar untuk membuat sebuah album tematik. Perkawinan antara literatur dan musik memang bukan hal baru. Tapi selalu mengasyikkan jika kita dapat menemukan interpretasi musisi atas bentuk karya seni lain yang ada dibelakang lagu maupun album.

Selain itu Matt Pike mengaku mendapat ide tentang Kristus dan Konsepsi Immaculata. Ia menjabarkan idenya itu sebagai kembaran Kristus yang meninggal saat dilahirkan untuk memberikan hidupnya pada sang Kristus. “Kemudian keduanya menjadi penjelajah waktu.” Katanya dalam suatu wawancara. Agak aneh memang, tapi begitulah.

Satu yang layak menjadi catatan, High on Fire kerap berganti-ganti produser di setiap albumnya. Pergantian ini sedikit banyak mempengaruhi pendekatan album baru ini. Kali ini Kurt Ballou dari GodCity Studios di Salem, Massachusetts ditunjuk untuk memproduseri album ini. Beberapa tahun belakangan ini Ballou memang naik daun. Gitaris Converge ini telah menangani banyak band-band “bengal” dengan brilian, dari Doomriders hingga Kvelertak.

Ballou bukan Midas. Tapi sentuhannya memang terasa. Sound yang dihasilkan cukup tajam, terpoles, dan “penuh”. Sedangkan dari segi komposisi dan musikalitas, dari kesepuluh track dalam album ini tak ada yang istimewa sebetulnya. Kreativitasnya mandeg. Jalan ditempat. Tak ada kejutan yang diberikan. Dari raungan gitar Matt Pike yang cepat dan berat, kemudian ditimpali sengatan megaton bass Jeff Matz dan drum Des Kensel, semuanya masih khas dan sama.

Di album barunya ini High on Fire ingin melepaskan diri dari bayangan Sleep, dan itu berhasil. Memang sudah sekian lama mereka selalu dikaitkan dengan Sleep, dan itu terkesan tidak adil apalagi bagi personel yang lain. Meski begitu dengan album ini reputasi High on Fire paling tidak tetap terjaga. Sehingga adagium “death to false stoner” masih layak mereka teriakkan.

Selebihnya ini hanyalah album biasa. Sebuah album yang dirilis hanya sebagai survival tool di belantara musik. Tak ada sesuatu yang baru. Pekerjaan rumah mereka lumayan berat jika tetap ingin berada diatas angin. Hal ini memang biasa terjadi, so, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Keberhasilan hanya bisa dilihat secara post-factum, jadi kenapa harus buru-buru menilai sebuah album sebagai game changer?


Last modified on: 4 September 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni