(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2747 times | Diposting pada

Cosmology Fantasy: Kotak Musik Kosmos Rayhan Sudrajat

 

Creative Commons License
Grahita Kalandara by Rayhan Sudrajat is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 3.0 Unported License.

 

Nama Rayhan Sudrajat di ranah musik independen kita memang belum sebesar musisi lain seperti Zeke Khaseli, Harlan Boer, Marcel Thee, Sir Dandy dan seterusnya yang berangkat dari formula sama: membuat rilisan yang terbilang sukses bersama bandnya untuk kemudian mengerjakan project solo.

Rayhan sendiri lebih dulu dikenal sebagai otak di balik band indie-rock Vickyvette (kini Cathuspatha), dan mulai mencuri perhatian skena musik lokal, khususnya di Bandung, sejak dirilisnya dua EP, Unconscious Shimmering (2010) dan Into The Universe (2011) yang meski dipuji-puji dalam review beberapa webzine namun boleh jadi luput dari perhatian publik.

Saya pribadi mulai bersinggungan dengan Rayhan di tahun 2011 secara tak sengaja lewat salah satu lagu yang iseng-iseng di-forward oleh seorang kawan ke email redaksi Jakartabeat. Kebetulan Philips Vermonte, founder Jakartabeat sekaligus editor saya meminta lagu kiriman ini dipasang sebagai materi streaming pilihan minggu itu bersama dengan beberapa track dari band lain asal Bandung, Yogya dan Malang.

Meski dipasang begitu saja tanpa review pengantar, pesona space-rock dalam track Into The Universe tersebut justru membuka gerbang petualangan saya memasuki rekam jejak musikalitas Rayhan. Lewat pelacakan singkat dari notes di akun Facebook-nya, saya terlonjak seperti menemukan harta karun saat mengetahui betapa ia sudah merilis 6 EP dan 1 LP solo dalam jangka waktu 3 tahun saja (2008 – 2011). Belum lagi akun Soundcloud-nya yang di sepanjang masa vakum 2012 terus disesaki nomor covering songs mulai dari The Beatles, Nirvana, Chrisye, bahkan soundtrack film kartun Chibbi Maruko Chan & Crayon Shincan, serta berbagai lagumenghibur yang rutin dipostingnya secara berkala.

Yang patut dicatat, LP pertamanya Purification bukan hanya menampilkan kekayaan eksperimentasi beragam jenis musik mulai dari classical, folk, electronic hingga drone dengan mengesampingkan peran lirik dalam sebuah lagu, tapi juga menunjukkan pencapaian terbaik dari musikalitas pria yang saat itu belum genap 24 tahun.

Karenanya, ketika di 2013 ini Rayhan kembali dengan LP keduanya ini, saya agak terkejut menemukan betapa bocoran materi awal Cosmology Fantasy tidak lagi jadi tumpahan eksperimentasi keanehan bermusiknya yang apatah itu berniat membuat kening pendengarnya berkerut-kerut lagi seperti di sejumlah rilisan EP dan LP pertamanya. Rayhan, dengan uniknya kali ini tampil cukup sederhana dengan nomor-nomor potensial yang bernafaskan Pop!

Ya, Pop lengkap dengan cengkok mendayu-dayu di nomor Sendiri yang mengingatkan saya pada Letto, Ungu dan sebangsanya. Pada nomor Roti, rayuan sepi sendu Rayhan ditingkahi petikan gitar kopongnya sempat membawa saya balik ke masa-masa galau Bimbim Slank pada beberapa nomor solonya di album Lagi Sedih (1997). Nomor singkat favorit saya, Syaraf Jemari di Dalam Diri, bagi saya pribadi cukup sukses menerjemahkan bagaimana seharusnya Ahmad Dhani mempertahankan musikalitasnya bersama Dewa 19 paska album Pandawa Lima.

Rayhan bahkan secara khusus mengundang guest musician antah berantah Tazkya untuk mengisi beberapa part vokal dan piano dalam track Fish and Water dan We’ll Always Know, dua nomor yang sepertinya memang sengaja diciptakan sebagai tembang duet manis gula-gula.

Saya tidak tahu apakah upaya kreatif yang Rayhan lakukan di album ini bakal tetap mampu merangkul ‘pendengar lama’ nya dan menjangkau pendengar baru yang berangkat dengan selera lebih mainstream. Alih-alih selling out dan menjadi banal, anomali kreativitas Rayhan yang saya temukan di LP ini adalah transisi telanjang seorang musisi independen yang sudah cukup baligh untuk terus bermain-main dalam skena lokal.

Maka tanpa berniat untuk menjadi epigon bagi musisi mainstream yang sudah saya sebut di paragraf sebelumnya, album ini menyiratkan upaya kecil nan sederhana dari sebuah penemuan definisi pop itu sendiri versi Rayhan. Hemat saya, di sini pulalah letak kelemahan dan kelebihan Cosmology Fantasy; ia jujur sekaligus tidak konsisten pada dirinya.

Meski dihuni nomor-nomor menjanjikan, Cosmology Fantasy belum bisa saya sebut matang secara ideal-konseptual; ia lebih pada kumpulan lagu-lagu terakhir ciptaan Rayhan yang mengalir sepanjang tahun 2012-2013 dan terserak di folder karyanya untuk lalu dikumpulkan dalam sebuah kotak musik kosmos seorang Rayhan Sudrajat dalam kontekstualitasnya hari ini.

Toh, apapun asumsi saya di atas, album ini tentu perlu dikembalikan lagi pada audiens pendengar untuk menikmati, meresapi dan mengapresiasikannya sendiri. Sebab, Cosmology Fantasy juga layak dinilai sebagai lenturnya kreativitas Rayhan yang saya yakin belum berhenti sampai di sini.

Last modified on: 4 November 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni