(5 votes)
(5 votes)
Read 4465 times | Diposting pada

Blast from the Past: Keeper of the Seven Keys

Blast from the Past: Keeper of the Seven Keys Sumber Ilustrasi: Istimewa

 

Menurut Taufiq Rahmanco-founder saya saat mendirikan situs Jakartabeat.net ini– tanda-tanda penuaan adalah ketika kita mengulang-ulang mendengarkan sebuah album yang masanya sudah lewat. Ada benarnya, mungkin. Yang penting, being young is a state of mind, kata para orang tua. Agak apologetic memang.

Pasalnya, beberapa hari lalu sepulang dari menghadiri undangan pertemuan yang disebut-sebut sebagai “diplomasi mie Bangka/Belitung” di kawasan Menteng, saya mampir jajan rock di Musikplus, kawasan Gedung Sarinah Jakarta sambil menunggu agenda pertemuan lain. Adrenalin saya melonjak seketika ketika melihat album Keeper of the Seven Keys part 2 milik Helloween rilisan tahun 1988 terpajang di rak CD.

Belanja rock saya langsung selesai, saya merasa tercukupi melihat album itu, tak ingin melihat-lihat lagi apa yang tersedia di rak-rak lain. Sikat, ambil, dan bayar. Bungkus! CD Album inilah yang ketika saya dengarkan lagi sekarang, menjadi begitu bermakna.

Dulu, di masa SMA, saya tersihir saat pertama kali memandangi sampul album (dalam format kaset) yang saya pinjam dari seorang kawan. Bagi saya yang kala itu masih berusia 17 tahun, sampulnya seperti menuturkan kisah heroik ala Lord of the Rings: gunung, hutan, dan laut dengan tangan seseorang memegang kunci emas, yang sedang dicengkeram dua tangan monster (?).

Masih lekat dalam ingatan bagaimana saya terbenam berhari-hari dengan lagu-lagunya dan membolak-balik sampul kaset itu hingga kusam. Setelah habis saya 'siksa' lebih dari satu minggu lamanya, album tersebut akhirnya saya kembalikan. Karena kaset itu impor dan tidak ada ada di toko-toko kaset umum, saya lantas memutuskan beli sendiri setelah menahan lapar berhari-hari tidak jajan di sekolah, agar punya uang cukup membeli album ini.

Menjelang akhir tahun 1980-an itu, satu-satunya toko kaset yang menyediakan kaset import di Jakarta adalah Duta Suara di Jalan Sabang. Saya ingat harus naik turun bis dua atau tiga kali rute perjalanan sehabis jam pulang sekolah untuk mencapai Duta Suara, lantas pulang dengan hati berdegup kencang ingin segera memutarnya lagi di kamar. Album ini sarat dengan lirik-lirik metafora politik.

Di ranah musik dalam negeri, masa itu adalah era keemasan Iwan Fals dan Swami dengan lagu-lagu kritiknya, yang sebagian metafora (semisal: “oh singgalah sayang, pesawat tempurku, mendarat mulus di dalam sanubariku”) dan sebagian straight forward (“maling kelas teri, bandit kelas coro, itu kan tong sampah!”). Sedangkan di ranah politik, Soeharto –yang tengah berkuasa– sejatinya sedang mengeringkan wacana politik di mata anak-anak muda. Orde Baru adalah orde pemerintahan yang membosankan. Tidak ada kontestasi, karena yang dibangun adalah hegemoni wacana oleh rezim penguasa yang dikontrol oleh aparatus negara.

Dua hari belakangan inilah, baru saya tersadar bahwa sepertinya album studio ketiga Halloween ini memberi warna dan ikut membentuk orientasi politik saya sekarang –dan kemungkinan besar para remaja lain di masa itu juga. Saya baca ulang semua lirik album ini, lalu membayangkan bagaimana lirik-liriknya menghujam deras ke kepala (dan hati) seorang anak usia SMA kelas 1 saat itu.

Dengan membaca ulang Keeper of the Seven Keys, saya seperti menemukan mesin waktu saya sendiri sambil berusaha mengingat-ingat bagaimana dialektika berkecamuk di kepala saat memutar lagu pembuka album ini: Eagle Fly Free:

“People are in big confusion, they don’t like their constitution”.

Bagaimana seorang anak sekolah yang setiap hari dijejali Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dan betapa keramat nya UUD 1945 bereaksi terhadap lirik ini. Mungkin juga kala itu saya berdebar-debar mendengar sebagian lirik Rise and Fall:

“Some dictators felt progressive, and lay down in the sun, but his people were aggressive , they killed him with a gun”.

Michael Kiske, Michael Weikath, Kai Hansen, Marcus Grosskopf dan Ingo Schwichtenberg tentu tidak menyangka diktator komunis Rumania yang ditakuti –Nicolae Ceausescu– tumbang digilas revolusi anti komunis seiring dengan bubarnya Uni Soviet. Ceausescu lantas diadili dan mati di depan regu tembak pada tahun 1989, tepat setahun setelah album Keeper of the Seven Keys part 2 dirilis.

Album ini sendiri politis karena lirik-liriknya –seperti yang juga terdapat pada karya-karya Iwan Fals dan Swami– berisi metafora dan juga straight forward soal kondisi politik. Ia bercerita soal diktator, politisi, oppression, kebaikan yang selalu menang melawan kejahatan. Diramu dengan sound heavy metal dan vokal Michael Kiske yang clean dan vibrant, tak heran kalau dulu anak bau kencur seperti saya terbenam amat dalam dengan album ini.

“Dr. Stein grows funny creatures, lets them run into the night, they become great rock musicians, and their time is right…..Dr. Stein grows funny creatures, lets them run into the night, they become great politicians and their time is right…Dr. Stein grows funny creatures, lets them run into the night, they become a great oppression, and their time is right”.

Lirik lagu Dr. Stein di atas, saya rasa adalah respon ringan untuk Master of Puppets-nya Metallica (1986). Keduanya bicara soal para dalang. Dr. Stein-lah yang menciptakan monster Frankenstein, tapi Dr. Stein juga bisa menciptakan musisi, politisi dan opresi. Di balik semua gejolak politik, selalu ada si Dalang Utama, sang Master of Puppets yang pulling the strings, atau Dr.Stein yang kuasa mengkloning DNA dan membuat manusia-manusia palsu.

Dan tentu saja, nomor epic yang dijadikan judul album Keeper of the Seven Keys berdurasi 14 menit adalah puncak karya Helloween, band yang dulu sempat disebut sebagai the new Iron Maiden. Saya sendiri melirik Helloween lebih dulu, baru kemudian Iron Maiden gara-gara tertarik membandingkan lirik Keeper of the Seven Keys dengan Seventh Son of the Seventh Son milik Iron Maiden.

Sempat bertanya-tanya kenapa dua band metal ini terobsesi pada tema angka tujuh. Sial, masa itu eksistensi Google belum terbayangkan; jadi tidak ada dorongan yang justified untuk repot-repot mencari tahu soal “misteri” angka tujuh dari dua band metal ini.

Lagu Keeper of the Seven Keys ini mungkin juga memperkuat pemahaman banyak remaja kala itu soal pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, tema abadi kehidupan semesta:

“Our only hope’s your victory, Kill that Satan who won’t let us be – Kill!”

Atau simak juga ini:

“You’re the Keeper of the Seven Keys, that lock up the seven seas, and the Seer of Vision said before he went blind, hide them from demons and rescue mankind, or the world we’re all in will soon be sold, to the throne of the evil paid by Lucifer’s gold.”

Dengan standard musik era sekarang, kita boleh menilai karya apik Helloween dan artwork cover yang menyihir bocah 16 tahun itu mungkin terasa biasa. Tapi bagi saya, impresi dan kesannya rupanya menghujam pikiran dan terbawa hingga berpuluh tahun kemudian. Hingga kini.

Maka, mendengar ulang album ini saya tidak menyesal menjadi tua, namun mensyukuri bahwa dulu mendengarkan album ini dengan serius. Sebab dalam hal politik, saya hendak mematuhi pesan Helloween 25 tahun yang lalu: berusaha untuk tidak menjadi kelompok orang-orang yang merusak politik, menjauhi the throne of the evils paid by the Lucifer’s gold.

Last modified on: 12 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni