(1 Vote)
(1 Vote)
Read 8010 times | Diposting pada

Apa Album Lokal Paling 'Underrated'?

 

Salah satu hal yang sering menjadi sumber perdebatan tanpa ujung pangkal tentang musik pop adalah mana saja yang bisa dibilang overrated, underrated atau properly rated (lebih nyaman diucapkan dalam bahasa aslinya memang).

Overrated kurang lebih berarti sebuah band atau album memiliki musik dengan kualitas yang biasa-biasa saja namun reputasi dan penghargaan untuk band atau album tersebut melebihi apa yang seharusnya mereka dapat. Contoh produk asing yang overrated adalah Kanye West, The Doors bahkan Bob Dylan. Dari scene lokal salah satu album yang paling overrated mungkin adalah Pandawa Lima dari Dewa. Album bagus memang, tapi kita harus jujur bahwa album tersebut sesungguhnya hanyalah tiga single masterpiece ditambah setengah lusin lebih filler.

Properly rated adalah band dan karya mereka yang secara tepat dan proporsional mendapat penilaian dan menjadi subyek pemujaan. The Clash atau Velvet Underground & Nico adalah band dan album yang properly rated, sudah mendapat tempat yang selayaknya di buku besar rock and roll. Dari kampung halaman album semacam Dheg Dheg Plas milik Koes Plus atau Badai Pasti Berlalu adalah contoh karya yang properly rated, memang bagus dan sudah selayaknya terus diperbincangkan.

Nah, ada banyak album yang bagus, luar biasa bagus malah, yang tidak hanya tidak diperbincangkan, namun juga tidak dinikmati oleh banyak orang, entah untuk alasan apa. Album-album inilah yang bisa masuk kategori underrated dan daftar kami ini akan mencoba menghadirkan album yang ada di koleksi kami yang tidak banyak dibicarakan namun merupakan album dengan pencapaian artistik luar biasa.

Ini adalah semacam tulisan awal untuk membuka diskusi. Kontributor kami, atau mungkin anda, akan hadir dengan daftar semacam ini di masa depan (Terima kasih untuk Aldo Ersan Sirait yang pertama kali datang dengan ide ini. Dia berhutang satu tulisan soal ini).

Koes Plus In Hard Beat Volume 2 - Koes Plus

Ini mungkin album paling gelap dari Koes Plus, yang justru dibuka dengan lagu paling genit mereka "Mobil Tua". Tony dan Yon nampak begitu marah dan geram dengan perang, dengan kosongnya kehidupan dan ketiadaan arti hidup, dengan kesuksesan dan dengan media. Musik di album ini juga lebih terdengar menggeram, berdengung, dengan reverb yang lebih dalam.

Meski begitu, tetap ada hook-hook dan nuansa pop yang lama menjadi ciri khas Koes Plus. Album ini juga membuktikan kekuatan dan konsistensi Koes Plus, bahwa setelah satu dekade dan, mengutip lirik Tony "bekerja seperti kuda" menghasilkan satu album setiap enam bulan, mereka masih bisa kreatif dan marah. Mungkin kemarahan ini yang membuat banyak orang tidak terlalu suka, sama seperti orang lebih suka Dheg Dheg Plas ketimbang "To The So-called "The Guilties."

AKA, Do What You Like

Album ini underrated karena untuk album semegah ini, dia tidak masuk ke daftar album Indonesia terbaik versi manapun. Album ini padahal mungkin album debut pribumi yang paling baik. Tiga track keras berbahasa Inggris kini sudah menjadi milik dunia, jadi kita hanya punya track berbahasa Indonesia yang mungkin tidak disukai para adjudikator karena terlalu mendayu-dayu dan Melayu.

Untuk menjawab keraguan itu sesungguhnya hanga cukup mendengar track terakhir penutup album ini "Keagungan Tuhan" balada kusyuk interfaith karya Sunatha Tanjung (kristen) dan Sjech Abidin (Muslim) yang hanya bertumpu pada paduan paino dan violin khas dengan sound 1970-an yang sudah dipatenkan oleh Idris Sardi, seperti yang banyak mengisi film dari dekade sebelumnya. Masterpiece!

Belum lagi sampul Cak Mat yang ikonik lengkap dengan ikonografi yang kini didaur ulang oleh label asing untuk menjual kebangkitan AKA jilid dua.

Bandempo, Bandempo

Coba buka Google dan ketik kata "Bandempo" pasti anda tidak menemukan satupun artikel yang menulis tentang album ini subversif penuh enigma ini. Setelah bertahun-tahun hanya bisa bertanya siapa sesungguhnya vokalis effeminate di sepanjang album ini kami akhirnya mendapat jawabannya tahunlalu. Dan kami tidak tahu harus bahagia atau sedih ketika tahu itu adalah Anggun Priambodo.

Kami sendiri belum pernah melihat bentuk fisik album ini, apakah pernah dirilis dalam bentuk kaset atau CD. Kami dengar pernah ada upaya reissue dua kali, dua-duanya tidak jelas nasibnya sekarang. Pertama pressing plant minta track list yang lengkap dan keterangan bahwa semua hak cipta sudah diurus. Tidak ada follow up.

Setelah itu kami mendengar Kaimana Records, merencanakan reissue setelah proyek pertama mereka. Kami hanya bisa berharap semoga cepat terlaksana, karena ini mungkin adalah album paling orisinal dan paling segar yang pernah keluar dari scene 2000-an. Musik post-punk bouncy dan nakal dengan gitar meraung-raung, sama seperti vokal Anggun, bercerita tentang hal-hal non-konvensional, menonton Srimulat, menunggu kereta lewat atau makan permen lolipop, yang sangat teraduk warna lokal, jika bukan quintessentially Jakarta.

C'mon Lennon, Ketika La La La

Sesungguhnya semua yang kami tulis di atas adalah sebuah muslihat untuk bisa menulis tentang Ketika La La La, sebagai album paling criminally underrated sepanjang masa. Bagaimana mungkin album yang sempurna, nyaris tanpa catat ini, bahkan ketika di rilis ulang dalam bentuk piringan hitam tahun ini tetap tidak mendapat penghargaan selayaknya; tidak banyak media yang menulisnya, tidak banyak yang mengulasnya dan tidak banyak pula orang yang membicarakannya.

Indikator lain mungkin adalah bahwa piringan hitam album ini masih tersedia di banyak oulet. Padahal "Kikuk", "Jangan Kau Kalah," Ketika La La La" adalah beberapa dari komposisi terbaik yang pernah ditulis di scene indie Indonesia. Tidak hanya komposisi pop gula-gula yang mewah dan meriah, hampir di semua komposisi terdapat suguhan teknis permainan gitar solo, drum, rhythm section yang mencengangkan. Kami masih selalu termangu mendengarkan solo, entah gitar atau piano, di akhir "Jangan Kau Kalah" yang naik turun berjingkat dan berlari menutup lagu.

Belum lagi ramuan gitar-gitar teknik tinggi yang menggaung bersama ketukan drum yang jazzy di "Kikuk" yang tidak akan pernah habis ditelusuri. Atau betapa jenius mereka memasukkan koor suara anak-anak untuk "Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A.," sebelum masuk ke track kedua di mana kita diajak merenung dengan pelajaran menulis lirik Bahasa Indonesia kelas tingkat akhir Harlan Bin tentang keagungan tuhan yang harus dilihat dari kecacatan anak manusia. Butuh bantuan Kierkegaard untuk melakukan leap of faith semacam itu.

Juaranya tentu adalah vokal Harlan yang berada di ambang antara melankoli dan keriangan kecil tanpa pernah memutuskan mana yang harus dia pilih. Mendengarkan album ini dalam format kaset akhir-akhir ini, format pertama dia dirilis kami selalu tergoda berfikir bahwa ini mungkin album lokal terbaik sepanjang masa. Kami bisa salah tentu saja.

Last modified on: 2 Desember 2013
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni