(0 votes)
(0 votes)
Read 769 times | Diposting pada

Anderson-Stolt Lebih Puaskan Dahaga Fans Yes

 

Sulit dipungkiri kehadiran grup legendaris progresif rock Yes tak bisa lepas dari Jon Anderson. Apa daya ketika Anderson mengundurkan diri sejak 2008 dari Yes yang belum lama ini ditinggal pendirinya, Chris Squire, beberapa album Yes tanpa Anderson walau tak sepenuhnya buruk tetap saja kharisma grup yang terbentuk sejak 1968 ini memudar. 2016 Jon Anderson bersama Roine Stolt, pentolan grup progresif Flower Kings, Transatlantic, dan Kaipa, merilis album “Invention of Knowledge” yang lebih kuat aroma progresifnya ketimbang dua rekaman album studio Yes terakhir, “Heaven & Earth” (2014) dan “Fly from Here” (2011). 

Tanpa bermaksud mengecilkan, dua album terakhir Yes tersebut malah jarang diulas oleh pengamat/jurnalis musik meski Jon Davison sebagai pengganti Jon Anderson bukan nama sembarangan dan juga mampu menulis lagu selain suaranya mirip vokalis Jon Anderson. Sambutan publik terhadap 2 album ini kurang antusisas, meski Yes sampai kini pun belum menyatakan resmi bubar, sementara konser Yes masih didominasi lagu-lagu lama mereka. Meski tak buruk, khususnya album Yes “Heaven & Earth” akhirnya tak bisa dipungkiri hanya menjadi semacam catatan kaki pelengkap karir musik Yes. Dengan kata lain, meski masih layak dikoleksi khususnya penggemar musik prog, namun kurang meninggalkan kesan tersendiri buat penggemar Yes.

Konon Yes semenjak ditinggal pendirinya Chris Squire yang wafat 28 Juni 2015 karena penyakit leukemia kontan menjadi grup nostalgia dengan menyelesaikan sisa kontrak manggung yang telanjur sudah dikerjakan setelah tur promosi album “Heaven & Earth”. Billy Sherwood yang sementara menggantikan posisi pemain bas setelah Squire meninggal untuk menyelesaikan tur tersebut malah mengaku belum punya rencana untuk terus bergabung dalam Yes atau tidak. Sherwood sendiri adalah sobat lama Squire dan sudah lama bekerja sama dengan Yes sebagai produser. Mereka sempat bikin album projek “Conspiracy (2003), selain Sherwood dikenal pernah bekerjasama sebagai produser Motorhead, Toto, album solo Rick Wakeman dan Bobby Kimball (vokalis Toto).

Berisi 9 trek, yang dibagi menjadi 3 jilid “The Invention of Knowledge”(22 menit), “Knowing”(17 menit) dan “Everybody Heals”(13 menit), konsep album ini mengisahkan pergerakan dunia yang harus berubah salah satunya evolusi pemikiran. Album ini seolah berkata kepada kita, bahwa manusia selayaknya terus beradaptasi dengan zaman yang cepat berubah tanpa harus meninggalkan identitas. Beberapa pengamat musik ternama khusus progresif, seperti Chris Roberts dari media Prog Magazine All About Rock memuji album ini. Thom Jurek dari allmusic.com malah menyebut album ini “membuat grup Yes tanpa Jon Anderson seharusnya berpikir ulang bagaimana seharusnya musik progresif dimainkan,”

Saya sendiri terpukau lantaran lagu-lagu di album ini mengingatkan pada trek-trek menawan seperti album Yes terdahulu yang sangat dibanggakan dan menjadi salah satu masterpiecenya, “Tales from Topographic Oceans” (1973) dan “Relayer” (1974). Sungguh unik menyimak trek demi trek di sini. Anderson dan Stolt sama sekali bebas berekspresi dengan bebunyian sound yang tetap terasa evergreen (tidak kuno). Sangat spesial di abad 21 menyimak album musik konseptual seperti ini di tengah masa keemasan grup sezaman Yes yang masih aktif rekaman terjebak menjadi grup nostalgia saja. 

Dirilis 24 Juni 2016, album yang dirilis dan dibiayai sepenuhnya oleh label independen Jerman, InsideOut Music ini kontan mendapat penghargaan album progresif terbaik versi All Music, Progressive Music Planet, dan The Prog Report, serta meraih penghargaan Album of The Year 2016 Progressive Music Award. Konon penghargaan ini bukan diberikan semata lantaran kesenioran Jon Anderson dan  Roine Stolt di jalur progresif sejak lama, melainkan memang keberanian mereka sendiri menonjolkan kepiawaian tanpa harus memaksakan diri mengikuti selera pasar industri musik saat ini. 

Paduan suara yang memukau terutama dalam lagu “Knowing”(trek 4) dan “Everybody Heals” (trek 6) mempercantik album ini. Semua lirik lagu dikerjakan Anderson, selain Anderson di sini juga memainkan  synthesizer. Stolt menyiapkan ada 10 personil, salah satunya adik Stolt sendiri, Michael Stolt sebagai pemain bas. Uniknya, album ini dikerjakan total selama 18 bulan di mana mereka mengerjakannya di dua tempat yang berjauhan, Anderson di California dan Stolt di Swedia. Ide awalnya bermula ketika Jon Anderson manggung di acara “Progressive Nation at Sea” 2014 di Inggris bertemu dengan Stolt yang tampil bersama dengan Flower Kings. Seusai manggung, mereka sepakat membuat projek bersama yang menurut Stolt membuatnya terpukau. 

“Baru kali ini saya bikin album dengan surat perjanjian kontrak yang dibuat begitu cepat. Karena perbedaan lokasi produksi, yang tertera di kontrak dengan InsideOut adalah sekitar 6 bulan kerjasama Anderson, padahal saya paham betul pastinya nantinya akan makan waktu lebih dari seperti yang tertera di kontrak karena maunya dikerjakan tanpa beban harus terjual berapa secara nominal sebagai tuntutan label industri musik.Jadi, surat itu saya buat hanya sekedar legalisasi saja,” jelas Stolt.

2014 sebenarnya tahun yang berkesan buat Anderson yang baru saja pulih dari penyakit yang mengganggu pita suaranya hampir 5 tahun lebih hingga ia mundur sejenak dari dunia musik yang sudah membesarkan namanya. Rekaman dilakukan terpisah, sementara komunikasi lainnya lebih banyak dilakukan via telepon. Stolt memang sudah lama bersahabat dengan Anderson, apalagi Stolt pernah melesat di era 1970-an bersama grup progresif “Kaipa”. Kaipa di masa 1970-an dikenal sebagai salah satu pionir progresif daratan Skandinavia dan dulu dikenal berani lantaran berhasil menembus dunia musik internasional walau tetap menggunakan bahasa Swedia. 

Sayang, meski album ini sangat menonjol dari segi kualitas Stolt belum bisa memberi keputusan kapan menggelar konser khusus membawakan album “Invention of Knowledge”. Padahal jika konser ini bisa diwujudkan tentu akan memuaskan dahaga fans Yes di seluruh dunia selain mendongkrak penjualan album tersebut yang konon juga bergaung di kalangan peminat musik jazz terutama di Belanda, Jerman, Perancis, Belgia, Inggris, dan Austria sepanjang 2016-2017. Meski mendapat pujian positif, tentunya agak langka di zaman sekarang masih ada pemusik yang mengandalkan kemunculan hanya dari album rekaman saja. Padahal selain untuk mendongkrak penjualan, tentunya jika aktif konser akan meraih sambutan lebih banyak lagi dari penggemar musik, terutama kebanyakan generasi sekarang yang lebih akrab dengan penjualan album musik secara digital. Robert Plant, Whitesnake, Kiss, Aerosmith dan sejumlah grup punggawa classic rock lainnya saja masih aktif mengadakan konser sampai sekarang. 

Sekedar info, pada era 1980 hingga 1990-an bermunculan sekian banyak musisi, terutama yang memainkan kategori “world music” dan eksperimental yang sedari awal diniatkan sebagai “album rekaman” dengan hanya mengandalkan penjualan rilisan fisik,bukan konser. Enya, Enigma, DNA, Suzanne Vega, Vangelis, atau Gregorian (untuk rock ada Tony MacAlpine, David T. Chastain, Vitalij Kuprij) adalah beberapa contoh pemusik “album rekaman” yang melesat kala itu. Untuk di zaman sekarang tentunya konsep seperti ini agak menyulitkan buat sebagian besar peminat musik dan tentunya sangat jarang ada yang mau bermain di jalur itu. Mungkin karena kondisi tersebut, Stolt baru bisa janji saja akan tampil bersama Anderson kepada pencintanya….    

Last modified on: 3 Juli 2017
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni