(1 Vote)
(1 Vote)
Read 2027 times | Diposting pada

Extreme Decay Gelar Tur Singapura dan Malaysia

 

Band grindcore kawakan asal kota Malang, Extreme Decay, bakal menggelar tur mini ke negeri seberang bertajuk Grinding Assault: South East Asia Mini Tour 2015. Tempat yang akan mereka kunjungi di antaranya adalah Singapura pada 8 Mei, Johor Bahru di 9 Mei dan berakhir di Kuala Lumpur pada 10 Mei besok. Mereka rencananya akan tampil dalam tiga sesi konser bersama sejumlah band cadas setempat.


Menurut mereka, proyek mini tur ini sebenarnya sudah direncanakan sejak lama, sekitar tahun 2014 yang lalu. Bahkan konon sebelumnya, Extreme Decay sudah kerap diundang oleh komunitas musik metal untuk manggung di Singapura dan Malaysia, namun batal karena kendala jadwal.

Baru pada Mei 2015 ini, Extreme Decay berkesempatan untuk menjejakkan kaki di dua negeri jiran lewat bantuan komunitas musik setempat dan Grind Fucker selaku promotor tur. Extreme Decay sendiri sudah cukup dikenal dengan fanbasenya sendiri di dua negara tetangga ini, karena hampir setiap rilisannya juga beredar luas di Singapore dan Malaysia.

Dalam kesempatan tur kali ini, Extreme Decay bakal mengusung penampilan dari rilisan terbaru mereka yaitu CD antologi bertitel Destructive Progression yang berisi kumpulan lagu-lagu terbaik selama karir mereka dalam format double disc. Selain itu, satu label di sana juga dikabarkan akan merilis karya musik Extreme Decay dalam format kaset edisi terbatas yang bakal diedarkan khusus selama tur.

Extreme Decay sendiri merupakan unit pengusung musik grindcore yang terbentuk di kota Malang pada bulan Januari 1998. Mereka sudah berhasil merilis tiga album studio dan dua demo rehearsal melalui berbagai label rekaman di Indonesia maupun luar negeri. Belum lagi berbagai proyek split album dan kompilasi internasional yang sudah pernah mereka ikuti sejak berdiri hingga sekarang. Album terakhir mereka adalah Holocaust Resistance yang dirilis oleh Armstretch Records pada tahun 2010.

Formasi Extreme Decay saat ini digawangi oleh Afrl (vokal), Yuda (bass), Saheri (gitar), dan Eko (drum). Secara musikal, Extreme Decay berada dalam ranah suci grindcore – dengan berbagai aplikasi nada-nada crust, punk, dan metal. Belakangan mereka juga mulai memasukkan unsur-unsur elektronik dan noise/harsh sebagai penguat atmosfir musiknya. Semua lirik yang yang ditulis oleh Afrl bercerita lugas soal perang, bencana, tragedi, lingkungan, kritik sosial, dan juga politik. (Tiar)

Last modified on: 6 Mei 2015

    Baca Juga

  • Bad Romance: Engcarnation 2018 di UI


    Sejak tahun 2015, English Carnival and Celebration atau Engcarnation sudah rutin menjadi acara tahunan dari IKMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa Program Studi Inggris) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Acara ini…

     

  • Reuni dengan Enam Aku


    Aku gabung di Chanel72 gara-gara adik perempuanku yang programer hiperaktif dan mudah stres dan hobi mancing dan doyan nenggak alkohol dan baik hati dan punya banyak duit. Katanya: Ini pengembangan…

     

  • Terapi Urine Pasca 'Kehiduvan yang twewew ini'


    Seakan tak mau lepas dari swag hegemoni, suburnya isu SARA dan anomali sosial lainnya, EP Om Telolet Om menawarkan kesemuanya tadi dalam rangkaian aroma thrash metal ditambah single Buju Buneng…

     

  • Dolly yang Menghantui Dalam Videoklip Sang Pelanggan Silampukau


    Kami menemukan video klip ini horor. Satu shot menunjukkan kamera bergerak dari satu angle, dengan lembut menyorot foto pengantin di tengah kamar yang agak berantakan dan kosong sedari malam. Lelaki…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni