(3 votes)
(3 votes)
Read 1731 times | Diposting pada

Vladimir Hussein

 

“Haram jadah,” si lelaki gendut mengomel dan meninju bangku perhentian bus. Vladimir tetap memandangi foto-foto di surat kabar, tidak mengacuhkan keterangan beritanya. Waktu bergerak lambat. Vladimir tak suka menunggu bus. “Haram jadah,” si gendut kembali berkata, kali ini banter, sambil meludah ke trotoar dekat kaki Vladimir. “Kau bicara kepadaku?” tanya Vladimir, agak kaget, dan mengangkat pandangan dari koran dan menatap mata mabuk si lelaki gendut. “Tidak, aku tadi mengobrol sama bokongku,” pekik si gendut. “Oh,” kata Vladimir dan kembali memandangi koran. Di sana ada foto berwarna tumpukan mayat yang amburadul di alun-alun balai kota. Vladimir melanjutkan sapuan matanya ke kolom olahraga. “Tentu saja aku bicara kepadamu, bajingan.” Si gendut bangkit dan berdiri menjulang di depan Vladimir. “Oh,” kata Vladimir, “awalnya memang kupikir begitu, tetapi kau bilang—” “Sudah-sudah, dasar Arab najis.” “Rusia,” kata Vladimir, dengan segera ia sembunyi di balik dahan pohon keluarganya yang saat ini tidak sedang dalam sorotan. “Ibuku dari Riga.” “Pastinya,” kata si gendut, dengan nada tak percaya. “Dan bapakmu?” “Dari Nablus,” aku Vladimir dan kembali menatap korannya. “Campuran dua darah kotor dalam satu tubuh,” kata si gendut. “Apa yang akan mereka pikirkan selanjutnya untuk mencuri lahan kerja kami.” Ada sebuah kartun tentang para cebol Kurdi gosong yang disangrai di dalam sebuah pemanggang besar, dan Vladimir yang gampang penasaran langsung menyesali momen manakala ia berjanji tak akan membaca caption .

“Berdiri,” kata si gendut. Vladimir akhirnya sampai ke kolom olahraga yang diminatinya dan melihat sebuah foto seorang atlet Kulit Hitam sedang bergelantungan di simpai arena bola basket. Vladimir tak bisa menahan godaan dan mengintip caption: “Para Fan yang Frustrasi Menuntut Darah Baru”. “Kubilang, berdiri kau,” ulang si gendut. “Aku?” tanya Vladimir, “bukan ka—” “Ya, kau,” kata si gendut. Vladimir bangkit. Atlet hitam di foto itu sudah bermain dua musim dengan North Carolina College sebelum bergelantungan di sebuah lapangan basket di Tel Aviv, itu dibaca Vladimir seraya ia berdiri, bertentangan dengan salah satu prinsipnya. Saat itu pukul lima dan bus masih belum juga datang. Dalam pidato radionya, Perdana Menteri telah menjanjikan sebuah banjir darah, dan si lelaki gendut itu sekepala lebih tinggi dibandingkan dirinya. Vladimir menghantamkan lututnya ke bola pelir si gendut, lalu menggebuknya dengan linggis yang disembunyikannya di dalam kertas koran. Si gendut ambruk dan mulai meraung, “Aku dianiaya orang Arab! Dia Rusia! Tolong!” Sekali lagi, Vladimir menetak kepalanya dengan linggis dan kemudian kembali duduk di bangku.

Bus tiba pukul 5:07. “Dia kenapa?” tanya supir, memberi tanda dengan kepalanya ke arah si gendut yang tergeletak di atas trotoar. “Dia tak ikut naik,” kata Vladimir. “Itu sih aku tahu,” kata supir, “tetapi apa tidak sebaiknya kita membantunya?” “Dia epilepsi,” kata Vladimir. “Mendingan jangan menyentuhnya.” “Kalau dia epilepsi, kok bisa keluar darah begitu?” tanya supir. Vladimir mengerdikkan bahu. “Darah dari pidato Perdana Menteri di radio.” Ia memasukkan kartu langganan busnya ke saku dan duduk di belakang, di sebelah seorang pria tua, mengenakan baret dan kacamata, yang sedang mengerjakan teka-teki silang. “Bulbul,” kata si pria tua. “Sebuah kicauan burung (enam huruf),” Vladimir membacakan dengan keras. “Siapa yang mengajakmu bicara, Arab kurap?” kata si pria tua. “Pernyataan/pertanyaan favorit polisi Patroli Perbatasan (duapuluh delapan huruf, tak termasuk tanda baca),” kata Vladimir tanpa ragu. “Tak buruk bagi seorang schvartze ,” geram si pria tua dengan kagum. “Aku suka teka-teki silang,” kata Vladimir, merundukkan kepalanya dengan sopan.

Saat bus sampai di perhentian Vladimir, si pria tua melepaskan baretnya dan meloloskan tali yang menjuntai di bagian belakangnya. “Nih, anak muda, hadiah dariku,” katanya, memberikan topinya untuk Vladimir. “Terima kasih, Pak Tua,” kata Vladimir, mengambil baret, dan menjejak trotoar. Bus itu melaju kembali, dan Vladimir, secara naluriah, membuang topi itu ke kotak sampah hijau dan bertiarap. Ledakan terjadi beberapa detik kemudian, membuat tubuhnya berlepotan sampah.

Ia bergegas masuk gedung yang bagian depannya berpualam tempatnya tinggal bersama keluarganya, melewati dua anak tangga sekaligus dalam sekali injak, dan sampai di atap dengan nafas tersengal. Nenek Natasha sedang duduk di dalam tenda menonton maklumat layanan masyarakat di TV. Sedang ada tayangan seorang model pirang berbalut bikini yang sedang berenang dengan gaya punggung di sebuah sungai darah yang mengalir di sepanjang Jalan Arlozorov. “Aslinya, dia tak berambut pirang,” Nenek Natasha menggerutu, menunjuk-nunjuk si model. “Pasti sudah di-bleach.” Ibu Vladimir masuk ke tenda membawa keranjang cucian. “Dari mana saja kau?” tanyanya dengan marah. “Kami mencarimu sepagian. Para fanatik anti polusi menyalibkan Kakek di terminal bus pusat.” Vladimir membayangkan dirinya tidur dengan si model TV. “Aku mau kau hadir di pemakaman, jangan seperti saat pemakaman bapakmu, sewaktu kau kabur, kau dengar aku?” Ia tak peduli apakah rambutnya di-bleach atau tidak, ia tetap menyukainya. “Vladimir? Kau punya kuping, kan?” Tambah marah, ibunya mulai memaki dalam bahasa Rusia. “Ibu bicara kepadaku?” tanya Vladimir dan menatapnya sesaat. “Tidak, aku sedang ngobrol dengan Tuhan,” kata ibunya dan kembali memaki-maki. “Oh,” kata Vladimir dan kembali menonton TV. Sekarang bagian bawah tubuh si model sedang disorot. Darah yang mengilap bertetesan, tidak lengket di kulitnya. Ada caption dan logo kota di bagian atas layar, tetapi Vladimir bisa menolak godaan dan menghindari untuk membacanya.

 

*

 

Catatan - Schvartze: sebutan menghina untuk orang berkulit hitam (Yiddish)

 

Etgar Keret adalah seorang pengarang Israel kelahiran 20 Agustus 1967. Ia menulis cerita pendek, novel grafis, dan skenario film serta acara televisi. Baru-baru ini ia menerbitkan sebuah memoar tentang pengalamannya sebagai seorang ayah, berjudul The Seven Good Years. 

Last modified on: 31 Maret 2017

    Baca Juga

  • A Room of One's Own: Ayu Utami


    Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini…

     

  • Sepuluh Menit Terakhir dan Satu Menit Setelahnya


    Satu menit terakhir.Dari mana datangnya maut? Dari waktu atau dari Izrail yang dari tadi telah aku rasakan kehadirannya? Sayap kelam dengan mata menyalang yang telah menelanjangi keberanianku. Siapa yang akan…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Perkenalkan. Ia Penulis.


    Perkenalkan. Ia. Seorang pria yang terobsesi. Untuk jadi penulis. Pria yang bingung. Bingung memulai tulisan. Kalimat utama sulit. Sungguh sulit. Begini aja! Eh, kayaknya enggak oke. Kalau begini? Hmm kesannya…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni