(6 votes)
(6 votes)
Read 1634 times | Diposting pada

Tentang Melihat Gadis yang 100% Sempurna di Suatu Pagi yang Indah di Bulan April

Tentang Melihat Gadis yang 100% Sempurna di Suatu Pagi yang Indah di Bulan April Harajuku street potography oleh Aaron Joel Santos

 

Pada suatu pagi yang indah di bulan April, di sebuah trotoar sempit di area Harajuku Tokyo yang modis, aku berpapasan dengan gadis yang seratus persen sempurna.

Kalau mau jujur ia sebetulnya tidak cantik-cantik amat. Ia tidak memukau mencolok mata dalam artian apa pun. Pakaiannya biasa saja. Bagian belakang rambutnya masih acak-acakan bekas tidur. Ia tidak muda, pastinya hampir tiga puluh, bahkan tidak mendekati deskripsi “gadis” yang semestinya. Tapi tetap saja, aku sudah tahu bahkan dari jarak lima puluh kaki: Ia seratus persen gadis yang sempurna buatku. Begitu aku melihatnya, langsung ada gemuruh di dadaku, dan bagian dalam mulutku jadi kering-kerontang bagaikan gurun pasir.

Barangkali kau punya tipe favorit sendiri dari seorang gadis—yang pergelangan kakinya ramping, misalnya, atau matanya besar, atau jari-jarinya lentik, atau kau tertarik tanpa alasan masuk akal kepada seorang gadis yang kalau makan lama sekali. Aku pun punya tipe favoritku sendiri, tentu saja. Kadang di restoran aku akan mendapati diriku mengamati gadis yang duduk di sebelahku karena aku suka bentuk hidungnya.

Tapi tak seorang pun bisa ngotot bahwa tipe gadis yang seratus persen sempurna baginya cocok dengan tipe-tipe yang ajeg. Meskipun aku suka sekali hidung, aku tak ingat bagaimana bentuk hidung gadis ini, atau apakah ia bahkan punya hidung. Yang kuingat hanyalah bahwa ia tidak cantik-cantik amat. Memang aneh.

“Kemarin aku berpapasan dengan seorang gadis yang seratus persen sempurna,” ingin kubilang pada seseorang.

“Oh ya?” kata orang itu. “Cantik?”

“Enggak juga.”

“Kalau begitu, tipe kesukaanmu?”

“Entahlah. Sepertinya aku tidak bisa mengingat apa-apa tentang dirinya—bentuk matanya atau ukuran buah dadanya.”

“Aneh.”

“Ya. Aneh.”

“Nah, jadi,” kata orang itu, yang sudah mulai kubuat bosan, “apa yang kaulakukan? Mengajaknya bicara? Membuntutinya?”

“Enggak. Cuma berpapasan saja di jalan.”

Gadis itu sedang berjalan dari arah timur ke barat, dan aku sebaliknya. Saat itu suatu pagi bulan April yang betul-betul indah.

Kuharap aku bisa bicara dengannya. Setengah jam saja akan lebih dari cukup buatku: aku akan bertanya mengenai dirinya, aku akan bercerita mengenai diriku kepadanya, dan—yang benar-benar kuinginkan—menjelaskan mengenai kompleksitas yang telah mengarahkan kami berdua kepada suatu pagi yang indah di bulan April, di sebuah trotoar sempit di area Harajuku Tokyo di tahun 1981, di mana kami saling berpapasan. Pastinya ini akan penuh rahasia yang hangat, bagaikan sebuah jam antik yang dibuat ketika dunia masih dipenuhi kedamaian.

Setelah mengobrol, kami akan makan siang berdua di suatu tempat entah di mana, lalu barangkali menonton film Woody Allen, lalu mampir ke hotel untuk minum koktail. Dengan sedikit keberuntungan, kami berdua barangkali akan berakhir di ranjang.

Kemungkinan ini mengetuk pintu hatiku.

Kini jarak di antara kami berdua berkurang menjadi hanya lima belas kaki.

Bagaimana aku akan mendekatinya? Aku harus ngomong apa?

“Selamat pagi, Nona. Menurutmu kau bisa meluangkan setengah jam untuk ngobrol-ngobrol?”

Menggelikan. Aku bakal kedengaran seperti penjual asuransi.

“Mohon maaf, tetapi apakah kau mungkin bisa memberitahuku di mana tempat laundri 24 jam di daerah ini?”

Tidak, itu sama saja konyolnya. Aku tidak membawa pakaian kotor, pertama-tama. Siapa yang akan percaya ucapan seperti itu?

Barangkali berterus-terang malah akan berhasil. “Selamat pagi. Kau adalah gadis yang sempurna seratus persen buatku.”

Tidak, ia takkan percaya. Atau meskipun percaya, ia takkan mau bicara denganku. Maaf, ia bisa saja bilang, aku mungkin gadis yang seratus persen sempurna buatmu, tapi kau bukan lelaki yang seratus persen sempurna buatku. Bisa saja, kan? Dan jika aku sampai berada di situasi seperti itu, aku barangkali akan hancur berkeping-keping. Aku tidak akan pernah pulih dari syok. Usiaku tiga puluh dua, dan begitulah rasanya menjadi tua.

Kami berjalan melalui sebuah toko bunga. Gelombang udara yang lembut dan hangat menyentuh kulitku. Aspalnya tampak lembap, dan aku mencium aroma mawar. Aku tidak bisa membuat diriku bicara dengannya. Ia mengenakan sweter putih, dan di tangan kanannya ia memegang sebuah amplop putih kaku yang tidak berperangko. Jadi: ia telah menulis surat untuk seseorang, barangkali malah menghabiskan semalaman menulis surat itu, kalau ditilik dari ekspresi mengantuk yang membayang di matanya. Amplop itu bisa jadi memuat setiap rahasia yang pernah ia punya.

Aku mengambil beberapa langkah lagi dan berbalik: gadis itu telah hilang dalam keramaian.

-

Sekarang, tentu saja, aku tahu betul apa yang seharusnya kukatakan padanya. Tetapi bakalan panjang, terlalu panjang buatku untuk dapat menyampaikannya dengan semestinya. Gagasan-gagasan yang muncul di kepalaku biasanya tidak praktis.

Yah. Seharusnya bisa saja kumulai dengan “Pada suatu hari” dan kuakhiri dengan “Sebuah cerita yang sedih, tidakkah kaupikir begitu?”

 

PADA suatu hari, hiduplah seorang anak lelaki dan seorang gadis. Anak lelaki itu berusia delapan belas dan gadis itu enam belas. Anak lelaki itu tidak ganteng-ganteng amat, sementara si gadis juga tidak cantik-cantik amat. Mereka berdua hanya anak lelaki yang kesepian dan gadis kesepian biasa, seperti yang lainnya. Namun mereka mempercayai dengan sepenuh hati bahwa di suatu tempat di dunia ada anak lelaki dan gadis yang seratus persen sempurna buat mereka. Ya, mereka percaya keajaiban. Dan keajaiban itu benar-benar telah terjadi.

Suatu hari mereka berdua saling berpapasan di sebuah sudut jalan.

“Ini menakjubkan,” kata si anak lelaki. “Aku telah mencarimu seumur hidupku. Kau mungkin tak mempercayaiku, tapi kau gadis yang seratus persen sempurna buatku.”

“Dan kau,” si gadis berkata padanya, “adalah anak lelaki yang seratus persen sempurna buatku, persis betul seperti apa yang kubayangkan di setiap detailnya. Ini bagaikan mimpi.”

Mereka duduk di sebuah bangku taman, berpegangan tangan, dan saling bercerita selama setengah jam. Mereka tidak kesepian lagi. Mereka telah menemukan, dan ditemukan oleh, pasangan mereka yang seratus persen sempurna. Dan betapa luar biasa rasanya untuk saling menemukan dan ditemukan oleh pasanganmu yang seratus persen sempurna. Ini keajaiban, sebuah keajaiban kosmis.

Akan tetapi ketika mereka duduk dan mengobrol, sebuah keraguan yang kecil, kecil-mungil, dan keperakan, mulai tumbuh di hati mereka: Apakah benar tak apa apabila impian seseorang menjadi nyata sedemikian mudahnya? Dan dengan demikian, sewaktu obrolan mereka terseling oleh kesunyian singkat, si anak lelaki berkata kepada si gadis, “Marilah kita menguji diri sendiri—sekali saja. Jika kita benar-benar pasangan yang seratus persen sempurna untuk satu sama lain, maka suatu saat, di suatu tempat, kita pasti akan berjumpa lagi. Dan ketika itu terjadi, kita tahu pasti bahwa kita benar-benar pasangan yang seratus persen sempurna untuk satu sama lain, dan kita akan menikah pada saat itu juga dan di situ juga, Bagaimana menurutmu?”

“Ya,” kata gadis itu, “itulah yang akan kita lakukan.”

Dan dengan demikian mereka berpisah jalan, si gadis ke arah timur, dan si anak lelaki ke arah barat.

Ujian yang telah mereka setujui, meskipun demikian, ternyata sama sekali tak perlu. Mereka seharusnya tidak usah mencetuskannya, karena mereka memang benar pasangan yang seratus persen sempurna untuk satu sama lain, dan keajaiban telah mempertemukan mereka. Namun mustahil untuk mengetahuinya karena mereka saat itu masih muda. Takdir yang dingin dan kejam telah memisahkan mereka tanpa belas kasihan.

Pada suatu musim dingin, si anak lelaki dan si gadis terserang flu musiman yang parah sekali, dan setelah terkatung-katung selama dua minggu antara hidup dan mati, mereka kehilangan seluruh ingatan akan kehidupan awal mereka. Ketika siuman, kepala mereka sekosong celengan babi milik D. H. Lawrence muda.

Kendati demikian mereka berdua sama-sama anak muda yang cemerlang dan berkemauan besar, dan melalui kerja keras mereka berhasil memperoleh kembali pengetahuan dan perasaan yang memungkinkan mereka untuk kembali menjadi bagian masyarakat yang berfungsi sepenuhnya. Berkah dari surga—mereka menjadi warga hebat yang mampu berpindah-pindah dari satu jalur kereta bawah tanah ke jalur lainnya, sepenuhnya mampu mengirim surat kilat khusus di kantor pos. Tentu saja, mereka menjalani kembali berbagai kisah kasih, terkadang dengan kadar cinta sebesar 75% atau bahkan 85%.

Waktu berlalu dengan kemulusan yang mengejutkan, dan segera saja anak lelaki itu menjadi berusia tiga puluh dua, si gadis tiga puluh.

Pada suatu pagi bulan April yang indah, ketika sedang memburu secangkir kopi untuk mengawali hari, si lelaki berjalan dari arah barat ke timur, sementara si gadis, bermaksud mengirimkan surat kilat khusus, berjalan dari arah timur ke barat, keduanya sama-sama melalui trotoar sempit di area Harajuku di Tokyo. Mereka saling berpapasan tepat di persimpangan jalan. Secuil ingatan mereka yang hilang bergelimang dengan sangat singkat dalam hati mereka. Masing-masing merasakan gemuruh di dada. Dan mereka sama-sama tahu:

Gadis itu seratus persen sempurna buatku.

Lelaki itu seratus persen sempurna buatku.

Namun gelimang ingatan itu rupanya terlalu redup, dan pikiran mereka tak lagi memiliki kejernihan ingatan empat belas tahun sebelumnya. Tanpa kata-kata, mereka saling berpapasan, lalu menghilang dalam keramaian. Selamanya.

Ceritanya sedih, bukan?

-

Ya, betul itu. Itulah yang seharusnya kukatakan kepada gadis itu.

 

 

--

 

Haruki Murakami lahir di Kyoto, Jepang, tahun 1949, dan tumbuh besar di Kobe. Ia pindah ke Tokyo ketika menimba ilmu di Universitas Waseda. Ia telah menghasilkan banyak sekali buku fiksi, di antaranya Sputnik Sweetheart, Kafka on the Shore, Norwegian Wood, IQ84, dan masih banyak lagi. Karya fiksi terbarunya, sebuah kumcer berjudul Men Without Women, akan terbit bulan Mei tahun 2017 mendatang. Murakami juga menulis berbagai karya non-fiksi. Ia telah memenangkan berbagai penghargaan sastra nasional maupun internasional dan telah bertahun-tahun dijagokan untuk Hadiah Nobel Sastra. 

Last modified on: 24 Februari 2017

    Baca Juga

  • Pohon Caringin dan Peri Teladas


    Di antara awan bergulung-gulung di kaki langit, ada puncak pohon caringin menyembul. Lalu, kudengar kau mempertanyakan cuaca yang tak lagi seperti pola-pola yang pernah diperkirakan. "Tidakkah akhir-akhir ini awan terbang…

     

  • Perempuan dalam Pelukan


    Tak ada yang istimewa dari hidupmu, semua rutinitas kau jalani datar-datar saja. Kau senang memotret dan hobi itu kini menjadi pekerjaanmu. Tetapi yang kau impikan adalah menjadi fotografer untuk momen-momen…

     

  • Tafsir Sosial Atas Kenyataan: Van Williams dan Valentine Yang Terlewatkan


    Semangat dan gegap gempita kehidupan kaum urban terus mewarnai hari-hari bersama sepaket riuh rendahnya dunia. Penanggalan Masehi kini memasuki bulan kedua dan tepat pada pekan kedua. Tentu saja sudah banyak…

     

  • A’bonenos dan Perempuan yang Agung


    PARA pinitua mulai merapalkan doa sembari menepuk-nepuk lembut permukaan kolam air terjun yang sudah merah darah babi. Semua yang hadir memancarkan rasa was-was yang sama. Tiba-tiba munculah seribu belut menggotong…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni