(13 votes)
(13 votes)
Read 4222 times | Diposting pada

Tanda

 

TELEVISI masih menyala. Ikan-ikan di akuarium bergerak-gerak cepat. Dua orang di ruangan itu masih terjaga, duduk berhadapan di sofa yang dipisahkan sebuah meja. Musik klasik menemani mereka yang saling memberi jarak.

Selama dua jam, mereka sesekali menatap kepada satu sama lain. Si gadis dengan laptop di atas bantal pada pahanya, si pria dengan buku bacaan tebalnya. Sebuah mug besar berisi kopi kental di hadapan si pria, satu botol mineral besar di hadapan si gadis. Satu mangkuk bekas mi kari dan sebungkus besar roti rasa stroberi.

“Kau tak pulang?” tanya si gadis pada pria di hadapannya.

Si pria menggeleng, “Terlalu larut.”

Si gadis tak menyahut lagi. Hening cukup lama.

Si pria tiba-tiba tertawa, dadanya cukup sesak untuk mengikuti drama si gadis. Ia tahu gadisnya akan kembali lenyap dini hari itu. Pertemuan-pertemuan mereka hanya akan berlalu sekelibatan, sekedipan mata.

“Tulisanmu sudah jadi?” tanya si pria, mengalihkan pembicaraan.

Gadis itu menggeleng, “Nanti begitu aku pergi, pulanglah. Masih ada kereta untuk kembali ke Kyoto sebelum dini hari. Bacaanmu sudah habis, kan?” tukas si gadis.

Tiga buku tebal yang telah habis dibaca oleh si pria tertumpuk di atas meja di sebelah bekas mug kopi dan mangkuk mi. “Kita sudah terlanjur memesan kamar hingga esok. Aku sebenarnya berharap kau tidak tiba-tiba pergi lagi. Buku-buku ini bisa kubaca ulang, bahkan kubacakan untukmu.”

“Memangnya kau tak lelah?”

“Aku akan mulai ceritakan apa yang kubaca tadi, oke?” Si pria mengambil buku-buku yang telah diletakannya di atas meja; di sana si pria mulai menceritakan apa-apa saja yang ia baca.

Si gadis tak memedulikannya. Dia terus mengetikkan sesuatu pada laptopnya.

“Pulanglah,” rajuk gadis itu lagi.

“Bukankah seperti biasanya, seperti ketika kita masih sangat muda, hidup bertetangga, tinggal di kota Jakarta yang tak ramah. Tetapi kita bahagia. Aku selalu menemanimu sampai larut. Sudahlah, tak usah pikirkan aku. Selesaikanlah tulisanmu.”

“Tapi nanti bila aku pergi, kau bisa langsung pulang … Kau terlihat sangat lelah,” pinta si gadis.

“Tidak, aku akan tetap di sini. Aku akan menangis sampai pagi.”

Mendengar hal itu, si gadis memejamkan mata, “Jangan bilang begitu.”

“Kau tahu aku rindu bertengkar denganmu. Aku begitu rindu hingga aku dapat berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku tak mau kehilanganmu.”

“Jangan bilang begitu …”

“Aku tak akan bilang begitu bila kau mau berjanji. Jangan menghilang dengan tiba-tiba. Jangan pernah pergi lagi dariku.”

“Itu tak mungkin. Kau sudah sangat tahu kenapa aku selalu berusaha mengusirmu, kan?”

Pria itu mengulum senyum, dadanya perih ketika melihat tubuh gadis di hadapannya perlahan-lahan berubah menjadi asap. Air mata menetes di pipi si gadis ketika sebagian tubuhnya telah lenyap. Hingga kemudian, tubuh gadis itu menghilang sepenuhnya.

 

PARTIKEL-PARTIKEL mentari melewati ventilasi. Debu-debu kecil itu bergerak berputar-putar hingga menyentuh wajah pria yang sedang tertidur di sofa. Di luar kamar hotel, orang-orang telah sibuk membereskan banyak hal.

Si pria terbangun dengan linglung di dalam sebuah kamar. Matanya sembab akibat menangis semalaman. Agak terhuyung ia berjalan ke arah toilet. Pada cermin di toilet itu, ia menatap wajahnya lekat-lekat.

Ia lupa sejak kapan telah tumbuh brewok di dagunya, bahkan rambutnya kelihatan sudah layak untuk dipangkas. Yang terakhir ia lakukan, ia memegang pinggangnya, dan ia merasa tubuhnya telah menjadi cukup ringkih.

Ketika ia tersadar sepenuhnya akan apa yang terjadi pada malam sebelumnya, ia buru-buru berlari kembali ke arah sofa tempat ia terbangun. Ia tertawa dengan hati yang perih membaca apa yang tertinggal di laptop kekasihnya.

Sebuah surat, lagi. Untuknya. Gadis itu telah lenyap seperti sebelum-sebelumnya.

Aku, lagi-lagi, tak bisa menceritakan apa yang terjadi padaku di alam arwah. Tapi karena aku bisa kembali, tentu kau tahu aku baik-baik saja.
Masih baik-baik saja.

Karena aku pun tak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti. Aku tak akan menceritakan bagaimana-bagaimananya. Tapi, aku pasti akan kembali lagi kepadamu.
Mungkin.
Kurasa aku beruntung dapat kembali berkali-kali. Temanku hanya sekali dua kali.
Oh ya, aku telah melanjutkan novelku yang belum selesai. Dan aku menulis beberapa cerita pendek lagi. Hanya slice of life. Sebegitu tak inginnya aku untuk mati, ya? Rasanya aku ingin tertawa ketika melanjutkan semua ceritaku itu. Ya, ya, seperti biasa, tolong kirimkan karya-karya itu atas namaku, seolah aku masih hidup.
Rahasiakanlah kematianku. Lagipula memang tak seorang pun perlu tahu, kan?
Aku tentu lebih senang bila kau dapat membuka dirimu kepada gadis lain. Berhentilah mencintaiku terlalu dalam.

Lagi-lagi, pada laptop itu ia menemukan sebuah naskah novel yang belum tuntas, juga beberapa cerita-cerita singkat yang seperti biasanya harus ia kompilasikan dan kirimkan ke agen penerbitan. Ia membaca cerita-cerita singkat itu perlahan, menyortirnya, dan ia sadar semua yang ia baca di sana akan mendatangkan uang ke rekeningnya. Meski semua uang itu lantas akan ia sumbangkan ke panti atau ke orang-orang yang membutuhkan. Tak sepeser pun pernah ia pergunakan untuk kepentingan pribadinya.

 

TERLEPAS dari banyak hal yang diceritakan si gadis kepadanya, pria itu tidak tahu di mana jenazah si gadis bersemayam.

Tetapi paling tidak si gadis selalu mengunjunginya. Si pria tentu mencintai si gadis dengan begitu dalam, si pria pun tahu betul si gadis mencintainya sama dalamnya. Karena itu gadis itu selalu datang. Bahkan setelah dia mati.

Meski sejak lama mereka telah saling tahu perasaan satu sama lain, bagaimanapun mereka tak sempat menjalin hubungan kasih sampai suatu ketika si gadis hilang begitu saja dari kehidupan si pria. Tidak dapat  ia kontak sama sekali. Bahkan ketika ia berkunjung ke rumah si gadis, orang tua si gadis mengaku tak tahu-menahu ke mana putri mereka pergi berkelana.

Cukup lama, dan selama itu —meski tak sempat meresmikan— si pria masih menganggap si gadis sebagai kekasihnya. Begitu lama, hingga pada suatu sore mereka bertemu kembali.

Berkelana jauh berkilo-kilometer jaraknya dari Indonesia, si pria tak menyangka akan menemukan si gadis di sebuah taman di Osaka, Jepang. Si gadis memegang kembang gula di tangan, dua buah; satu diserahkannya kepada si pria, satu digigitnya ketika bergerak duduk di kursi taman. Pada pertemuan itu, mereka lantas menghabiskan waktu dengan mengobrol di kedai dekat kuil.

“Lama tak jumpa,” ujar si gadis ketika itu, “jadi kau telah pergi sejauh ini?”

Saat itu si pria masih terkesima dengan takdir yang dialaminya. Telah bertahun-tahun lewat, ia bahkan tidak menyangka dapat kembali bertemu dengan si gadis. Barangkali satu waktu dalam hidupnya harapannya mencapai langit. Mungkin itu ia lakukan di alam bawah sadarnya.

“Sudah bisa menyanyikan lagu seriosa?” Justru itu hal pertama yang ia tanyakan kepada si gadis setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Entah saking bahagia, entah hanya itulah satu-satunya hal yang ia ingat di kepala.

Gadis itu tertawa terpingkal, lantas mulai menyanyi. “Ah, suaraku masih bagus,” bisik si gadis seusai menuntaskan sejumlah lagu.

“Kau pun masih suka minum susu kental,” ujar si pria.

“Begitulah. Jadi pria penyuka kopi karamel ini apakah sudah menikah?” Namun  ke sanalah si gadis mengarahkan pembicaraan mereka.

Pria itu menggeleng, “Semuda ini, menikah? Tentu belum bila belum ada yang tepat. Nona sendiri?” candanya, lantas mengamati jemari si gadis.

Belum ada cincin tersemat di jari manis.

“Tidak akan bisa menikah,” jawab si gadis.

“Mengapa?”

“Tuan akan segera tahu.” Kedip mata si gadis kala itu menyiratkan sesuatu.

“Bahkan sekalipun aku yang melamar nona?”

Saat itu tawa sang gadis pecah. “Bahkan sekalipun Tuan yang melamarku. Maaf mengecewakanmu.”

Sirat mata sang gadis menemukan artinya di penghujung hari. Karena pada dini hari yang terasa cukup pendek itu, untuk pertama kalinya, si pria menyadari ia dan si gadis telah berbeda dunia; karena di beranda kamar apartemennya dini hari itu, si gadis lenyap menjadi debu, terbang ke langit ke arah bintang-bintang.

“KAU tahu apa yang dapat kulihat sekarang?” Pada pertemuan mereka selanjutnya si gadis muncul kembali dengan teramat tiba-tiba. Saat itu si pria berniat membeli sesuatu untuk dijadikan makan siang.

Setelah berbulan-bulan lamanya ia menganggap pertemuan mereka yang pertama hanya sekadar mimpi, pada pertemuan kali itu ia justru terpaksa mengira dirinya barangkali telah mengidap skizofrenia; kelainan jiwa tahap akut di mana seseorang tak dapat membedakan mana yang nyata mana yang maya.

Si gadis mendekatkan matanya ke arah mata si pria. Sejenak mengerjap-ngerjap. Dada si pria berdegup.

“Hari ini aku mau makan dim sum, mi seduh, rumput laut, dan nasi bumbu kari,” ujar si gadis kala itu. Senyumnya yang lugu dan binar matanya yang cerah menghangatkan siang yang mengantarkan titik-titik air dari angkasa.

“A-p-a k-a-u… nyata?” tanya si pria dengan terbata.

Si gadis tersenyum sepintas. Lantas terpingkal. Lantas menggeleng. “Mungkin sebentar lagi tidak.”

“Kau akan lenyap lagi?”

Si gadis menggenggam tangan si pria, “Barangkali, ketika aku genggam tanganmu seperti ini, dan kita berjalan dari sini mengelilingi Okachimachi, mencicipi beraneka makanan —mungkin, di tengah jalan genggamanku akan lepas.”

“Dan kau hilang?”

Si gadis mengangguk.

“Jadi, apa kau nyata?”

Si gadis tersenyum. “Mungkin kini, tidak.” Perlahan-lahan, tubuh si gadis lenyap lantas terbang menyatu dengan butiran-butiran air yang jatuh dari angkasa.

“KITA tak pernah punya kesukaan yang sama, ya?” Itulah malam pengakuan cinta mereka, jauh di masa lalu, ketika mereka berbincang berhadap-hadapan pada ayunan di belakang rumah si gadis.

Mereka bertetangga. Mereka saling mengenal sejak usia lima tahun. Ketika itu mereka belum benar-benar jatuh cinta kepada satu sama lain.

“Kurasa begitu,” sahut si pria. “Aku merasa bodoh duduk di sini menemanimu.”

Si gadis tertawa lepas, “Kau tahu aku tak punya saudara, mungkin kau kasihan kepadaku?”

“Bukan,” lontar si pria cepat-cepat, “aku hanya merasa bodoh ketika menemamu berbisu ria di sini. Sementara, kupikir, seharusnya kita membicarakan sesuatu …”

Si gadis menyipitkan mata. “Adakah hal lain lagi yang masih perlu kita bicarakan?”

“Sudahkah kita membicarakan segala hal?” sedikit membelalakkan mata, si pria kala itu mencoba mengingat-ingat keseluruhan jalan cerita mereka sedari pertemuan pertama.

Cukup lama lantas mereka saling berdiam diri. Ayunan masih tetap bergerak sejengkal-sejengkal.

“Kita tidak pernah punya kesukaan yang sama, kan?” Si gadis menekankan lagi.

Si pria, entah karena tersihir, atau sedang melamun —entah karena tak pernah mengingat mereka pernah memiliki ketertarikan yang kuat pada hal yang sama— menganggukkan kepala, “Nampaknya.”

Si gadis tersenyum. “Lalu, menurutmu, apa hal yang mungkin akan bisa sama-sama kita sukai?” tanya si gadis.

Si pria menatap ke dalam bola mata si gadis. “Saat ini aku menyukai diriku. Mungkin kau bisa mencoba menyukaiku juga?”

Si gadis terpingkal-pingkal, “Ya, ya, aku bisa menyukaimu. Meski mungkin butuh waktu.”

 

JAM di hotel berdentang sekian kali. Peringatan bahwa ia telah harus check-out dari tempat tersebut, namun ia tetap tak bergeming. Sesuatu merusak saraf motoriknya hingga ia merasa tak dapat bergerak sejengkal pun. Di sana, setelah hanya melahap dalam sekali telan sarapan roti sisa yang dibeli si gadis, setelah juga mengingat-ingat sebagian besar kisah yang terjadi di masa lalu, si pria mulai membaca ulang naskah novel yang ditinggalkan si gadis.

Sepembacaannya, si gadis tidak mengisahkan ceritanya dari bagian awal hingga akhir. Dia hanya menulis sepotong-potong. Si gadis teramat sering menggunakan penceritaan non-linier. Dia mengawali ceritanya dengan klimaks, barulah meloncat ke seperempat bagian awal dari cerita, lantas menuju ke prolog dan bagian itu, kembali ke tengah, dan begitulah. Menyatukan semua itu kelak pastilah seperti menempel dan menambal; dan akan cukup makan waktu. Si pria sangat menyadari, kerumitan gadis itu tercermin juga dalam tulisannya.

Pikir pria itu, dulu sekali ia pun pernah bercita-cita menjadi penulis. Hingga pada suatu ketika orang tuanya memintanya berkuliah Teknik, dan ia hampir-hampir melupakan segala hal yang pernah disukainya. Saat itu, ia menuruti kehendak orang tuanya.

 

SORE itu, ketika si pria hendak meninggalkan hotel, setelah membayar sejumlah uang tambahan akibat ia terlambat check out, seorang petugas hotel berlari mengejarnya membawa sebuah kotak yang dibalut kain. Ketika kain disingkap, terdapat kandang aluminium yang berlubang banyak dengan seekor kucing yang tepat menatap mata si pria.

“Maaf, Tuan. Kucing Anda tertinggal,” ujar petugas tersebut dengan bahasa Jepang yang sopan.

Mata si pria membelalak; kucingnya? “Mungkin Anda salah orang?” Ia menjawab dengan bahasa Jepang.

“Tidak, tidak salah. Pagi tadi nona yang bermalam bersama Anda menitipkan kucing ini kepada saya.”

Tidak mungkin. Gadisnya telah hilang lenyap dini hari itu. Bagaimana bisa menitipkan kucing pagi itu, batinnya. “Mungkin Anda salah.”

“Tidak, Tuan. Saya ingat betul. Ia mengaku sebagai adik Tuan, gadis dengan syal abu-abu dan rambut panjang ikal, bertopi kepala rubah, dan ia menyelipkan surat ini.”

Si pria membuka surat tersebut.

Kucing untukmu. Aku tak tahu mengapa aku membelinya dan memberikannya kepadamu.
Berdasarkan cerita teman-temanku di alam arwah, saat kau dapat mengunjungi dan tinggal di dunia dalam waktu yang lama, itu pertanda saatnya kau tak akan boleh lagi pergi ke sana nantinya.
Entahlah, mendengar itu, terpikir olehku membelikan kucing ini untukmu. Omong-omong, aku lupa, apa kau suka kucing?

Nota Bene: sore tadi sebelum menemuimu, aku telah membeli kucing itu dan aku meminta seorang gadis mengantarkannya kepadamu. Mungkin dengan itu, dia harus membohongi petugas shift pagi hotel. Aku tak tahu, tapi kalau surat ini telah sukses sampai kepadamu, itu artinya ia berhasil berbohong.

Si pria menatap lekat kucing kecil di dalam kandang. Ia bertanya dalam hati, entah apakah ia pernah menyukai kucing. Kucing itu, dengan bulu keemasan, telinga mungil yang tinggi, dan tatapan lembut, mengeong kepadanya. “Betul, ini kucing adik saya. Terima kasih,” jawabnya seraya lantas mereka saling membungkukkan badan.

Sebelum pulang ke flatnya dengan menumpang kereta Nagoya-Kyoto, ia membeli beberapa kaleng susu cair dan sekaleng ikan tenggiri. Mungkin nanti ia perlu bilang kepada pemilik flat dan membayar sejumlah uang tambahan untuk mengajak si kucing tinggal bersamanya.

Kau mengusirku tadi malam. Padahal kau menitipkan kucing untukku. Ternyata kau masih sepelupa itu.

 

SETELAH perjalanan empat puluh menit dalam kereta Nozomi, dan mengambil sejumlah dokumen ke kampusnya di Universitas Kyoto —selama itu ia masih menjinjing kandang, di mana di dalamnya si kucing malah pulas tertidur— serta meminta izin kepada pemilik flat, ia kemudian meletakkan kandang kucing yang dinamainya Tanda —yang dalam bahasa Inggris lebih bermakna Mark ketimbang Sign— itu di sebelah sofa di dalam kamarnya.

Segalanya telah beres pagi itu. Namun ada beberapa tugas yang masih harus ia kerjakan. Proyek kampusnya.

Ia membuka kandang, Tanda belum kunjung terjaga. Namun ia tetap menuangkan sekaleng ikan tenggiri dan susu cair yang dibelinya di minimarket tadi, masing-masing pada mangkuk besar yang biasanya ia gunakan sebagai tempat mi udon.

Lantas diputarnya film Tokyo Story dan dibiarkannya televisi memutar film tersebut ketika ia mulai memasukkan cucian ke dalam mesin cuci. Duduk di atas sofa sambil hanya mendengarkan sebagian besar dialog film, ia mulai mengerjakan tugas yang diterimanya pagi tadi dengan laptop yang ia topang di pangkuan.

Sejumlah program komputer untuk proyek Bioprinter harus ia tuntaskan hari itu.

Saat itu Tokyo Story bercerita tentang sepasang orang tua yang untuk pertama kalinya pergi ke Tokyo, mengunjungi anak-anak mereka yang sudah berkeluarga. Samar-samar terlintas di benaknya kenangan akan orang tuanya di Indonesia.

Ia baru menyadari, sudah lama ia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Orang tuanya pun tak pernah pergi ke Jepang untuk menemuinya. Telepon yang ia terima barangkali hanya sekali dalam setahun. Sekalipun mereka datang mengunjunginya ke Kyoto, mungkin ia tidak memiliki waktu untuk mengajak berkeliling.

Lagipula ia masih memiliki tujuh adik, batinnya. Dipikirnya mungkin orang tuanya lupa betapa gigih perjuangan mereka dalam memaksa si pria berkuliah Teknik pergi jauh dari tanah kelahiran. Betapa dulu mati-matian ia mengejar beasiswa satu melawan sejuta.

Baginya bayangan masa lalu sudah terlihat lucu, genap dua belas tahun ia tinggal di Kyoto, telah bergelar Ph.D. dan seringkali melakukan proyek-proyek yang mengancam nyawa saking rahasianya hal-hal yang biasanya ia lakukan.

Tidak ada seorang pun yang tahu betapa lucunya si pria melihat kehidupannya kini.

Saat itu pun, ia sadar tidak ada seorang pun warga Indonesia tahu ia sedang merancang printer yang dapat mencetak utuh bagian-bagian tubuh manusia. Apa yang ia kerjakan akan menjadikan dunia jauh berbeda di tahun 2050.

Berbeda seperti yang dilaporkan ke negaranya, saat itu si pria ditugasi instruksi yang berlainan dibandingkan apa yang tertera di dalam kontrak ketika ia menyanggupi beasiswa yang diberikan. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur menandatanganinya. Meski, ia yakin sekali orang lain tidak akan mengerti mengapa si pria bersedia merahasiakan hal itu —atau yang paling dasar, mengapa ia mau.

“Mungkin, suatu saat aku akan mati kesepian, seorang diri, tak dikenali siapa-siapa,” bisiknya kepada diri sendiri, “jenazahku mungkin tidak akan ditemukan siapa pun, seperti dia.”

Ketika itu, Tanda di dalam kandang telah menghabiskan susu dan ikan tenggiri di mangkuknya. Si pria tak menyadarinya.

 

KETUKAN di pintu. Tanda berlari ke arah ketukan. Si pria menatap dua mangkuk yang telah kosong. Film telah habis, tetapi cakram memori di otaknya masih memutar film kehidupannya selama berpuluh-puluh tahun. Ia merenggangkan tubuh, meletakkan laptop di atas meja, dan berjalan menuju pintu.

Tanda mengengong manja ke arahnya. Si pria membuka pintu.

Si gadis berdiri di sana, tersenyum, menjinjing dua tas belanja yang nampak penuh.

“Kau beri nama apa akhirnya?” tanya si gadis seraya menyerahkan tas belanjanya kepada si pria dan mengangkat Tanda ke dalam pelukannya.

“Tanda.”

“Tanda, namanya lucu. Sedang melakukan apa?” tanya si gadis, masuk ke dalam flat si pria.

“Membereskan hasil konferensi minggu lalu, menggabungkan beberapa data yang diberikan oleh klienku di Nagoya kemarin, dan menghimpun semuanya menjadi satu,” jawab si pria sambil memasukkan belanjaan si gadis, yang hampir semuanya adalah bahan makanan, ke dalam kulkasnya yang sebelumnya kosong.

Tokyo Story? Rindu keluarga di Indonesia?”

“Tidak. Iseng membelinya ketika mengunjungi toko DVD, sebelumnya tidak tahu ceritanya semelankolis itu,” jawab si pria sambil menyuguhkan manju dan dua gelas teh hijau di atas meja di sebelah tumpukan buku dan laptop si pria yang masih menyala.

“Menyedihkan, anak yang lupa kepada orang tuanya. Dan begitulah memang, hidup —lama-lama— memang hanya soal melupakan dan dilupakan,” komentar si gadis, kemudian melempar tubuhnya ke atas sofa, “tapi setidaknya ada Noriko si menantu yang akhirnya menemani mereka.”

“Begitulah. Aku membayangkan bila nanti orang tuaku datang dan aku terlalu sibuk, lalu mengabaikan mereka. Sialnya, aku belum punya istri,” jawab si pria duduk di sebelah si gadis dan menggenggam tangannya. “Ah ya, mengapa kau datang begitu sering belakangan ini?”

“Aku juga tak tahu,” sahut si gadis seraya merebahkan kepala di pundak si pria, “aku tiba-tiba muncul di depan pintumu dan membawa dua tas belanja. Aku tak tahu harus melakukan apa selain mengetuk pintu.”

“Apa benar —seperti dalam suratmu— itu tandanya, suatu saat kau mungkin akan berhenti datang?” tanya si pria sambil mengecup ubun-ubun si gadis.

Tanda meloncat ke tengah-tengah mereka. Pada pangkuan si gadis lantas si kucing menggesek-gesekkan tubuhnya dan tidur dengan lelap.

“Aku masih ingin menikah denganmu,” lanjut si pria, “dan aku ingin punya anak yang lahir darimu.”

Si gadis tertawa. “Melepaskan apa yang tak bisa menjadi milikmu lebih baik daripada kau berlarut-larut dalam kesedihan.”

“Aku tak sedih,” jawab si pria. “Tapi aku hanya heran. Kalau kau pada akhirnya akan benar-benar pergi untuk selamanya, mengapa kau terus menerus datang dan membuatku tidak bisa kehilanganmu?”

Si gadis menarik napas, “Aku pun tak tahu mengapa. Aku hanya datang kepadamu. Aku tidak muncul di tempat lain. Aku hanya muncul di dekatmu,” jawab si gadis cepat hingga tiba-tiba tenggorokannya tersekat, “aku ingin mengunjungi kedua orang tuaku di Indonesia, tapi aku tak bisa melakukannya.” Dia melanjutkan. Air mata mengalir di pipinya.

Si pria menghapus tangis si gadis dengan menempelkan wajah di pipi si gadis. “Apa kau mati di Jepang?”

Namun si gadis terdiam, memejamkan matanya rapat-rapat, “Jangan bicarakan itu.”

“Aku hanya ingin tahu. Aku penasaran mengapa kau juga bisa ada di sini,” jawab si pria sungguh-sungguh.

“Jangan ingatkan aku pada kejadian itu, kumohon …"

“Bagaimana rasanya mati dan jiwamu lepas dari tubuhmu?” tanya si pria.

“Aku tak tahu. Aku lupa.”

“Mengapa kau tak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di alam arwah?”

Si gadis memeluk tubuh si pria erat, kemeja si pria basah air mata. Si pria mengecup ubun-ubun si gadis dan memeluknya semakin erat. Hingga lagi-lagi, si gadis tiba-tiba hilang begitu saja. Meninggalkan si pria yang ketika itu justru berakhir dengan memeluk Tanda.

 

MALAM ITU si pria tidur satu ranjang dengan Tanda. Tanda mendengkur di kaki si pria.

Di dalam mimpinya, si pria mengikuti seorang gadis yang wajahnya samar-samar mirip seseorang yang dikenalnya. Dari bandara menuju ke sebuah rumah. Tiba-tiba ia menyadari siapa gadis itu ketika melihat dengan siapa si gadis berbicara.

Paman dan bibi yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun.

Seingat si pria, seharusnya mereka telah meninggal lima tahun lalu, tepat ketika si pria menyabet gelar magisternya di Jepang. Ia tidak pulang ke Indonesia kala itu, tetapi katanya jenazah paman dan bibi telah disemayamkan di rumah keluarga. Saat itu putri mereka satu-satunya, si gadis —hingga saat paman dan bibi meninggal karena kecelakaan dan kemudian dimakamkan— masih tidak jelas keberadaannya.

Tetapi —gadis itu ada di sana? Si pria membatin dalam mimpinya.

Ia terus mengikuti si gadis hingga si gadis berkunjung ke rumah si pria. Kedua orang tua si pria terlihat menyambut si gadis dengan sukacita. Di sana si gadis dipeluk dan diajak mengobrol berjam-jam. Adik-adik si pria pun nampak asyik memperhatikan pembicaraan si gadis dengan kedua orang tua mereka.

Hingga, pada satu titik, mimpinya kemudian berpindah ke masa berbeda. Saat itu si pria berada di dalam pesawat. Si gadis sedang bersama dengan seorang lelaki, menyenderkan kepalanya kepada lelaki itu dan si lelaki membelai rambut si gadis setelahnya.

Si pria kembali meloncat lagi ke tempat berbeda. Kini pada sebuah kapal pesiar. Si gadis dan si lelaki di pesawat tadi nampak bertengkar hebat di dalam suatu kamar. Si gadis menunjuk-nunjuk ke arah foto di dalam bingkai yang dipegangnya. Ketika si pria mengamati lebih dekat, di sana ia menemukan fotonya belasan tahun lalu. Si gadis dan si lelaki terus beradu mulut dan saling melempar apa pun yang ada di dalam kamar.

Hingga kemudian si lelaki membekap wajah si gadis dengan bantal.

Di sana, dilihatnya si lelaki mengikat tangan dan kaki si gadis, memperkosa si gadis yang telah tak bernyawa. Di sana pula, dilihatnya si lelaki memasukkan banyak hal ke dalam tas dan mengikat tas tersebut ke tubuh si gadis.

Pada malam hari, si lelaki terlihat memberikan uang kepada sejumlah orang. Orang-orang bayaran itu mengangkat tubuh si gadis ke luar kamar.

Si pria berusaha mengejar. Tetapi ia kembali meloncati masa.

SI PRIA terbangun dari mimpi buruknya. Keringat membasuh tubuh. Tanda meliuk-liukkan badannya dengan manja di kaki si pria.

Tanpa sadar, air mata satu demi satu menetes di pipinya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah mimpi yang barusan ia alami adalah kejadian nyata?

Seseorang mengetuk pintu pagi itu.

Si pria berlari cepat ke arah pintu, ia berharap menemukan gadisnya di sana.

Tetapi seorang perempuan yang tak dikenalnyalah yang ada di hadapannya. Tersenyum dan memanggil sebuah nama. Ketika nama tersebut dipanggil, si kucing yang tadinya ditinggalkan si pria di atas kasur berlari melintasi si pria, lantas melompat ke arah si perempuan.

Si perempuan memeluk Tanda dengan sayang. “Aku telah mencarinya ke mana-mana. Kucingku yang hilang cukup lama,” ujar si perempuan dengan bahasa Jepang.

Si pria menatap takjub. Pikirnya, tentu tidak mungkin. Kucing itu diberikan oleh petugas hotel di Nagoya, kucing itu dibeli oleh gadisnya di suatu tempat di Nagoya.

Akan tetapi —ternyata si kucing adalah kucing yang sebenarnya berasal dari Kyoto dan dimiliki oleh tetangga flatnya?

“Tetapi kucing ini kubeli di Nagoya,” jawab si pria cepat dengan bahasa Jepang, merebut si kucing dari pelukan si perempuan.

Tentu, meski jarang bersosialiasi, ia mengenal siapa perempuan yang berdiri di hadapannya. Telah puluhan kali mereka berpapasan di tangga dan tidak saling menyapa, ketika dalam kondisi hati yang begitu baik pun si prialah yang memulai bertukar senyum.

“Tidak mungkin. Aizu hilang ketika aku mengajaknya berdoa ke Shrine,” tukas si perempuan.

Si pria mengerutkan dahi, “Aizu?” tanyanya kaget. Aizu —Tanda, dalam bahasa Jepang.

“Ya, nama kucingku ini,” jawab si perempuan, membelai rambut lebat si kucing, “sungguh terima kasih telah menyelamatkannya,” lanjut si perempuan sembari membungkukkan tubuh dan lalu tersenyum gemas ke arah si kucing.

“Tapi …” ia menghentikan kalimatnya, tidak tahu harus bicara apa.

“Maukah kau makan bersamaku dan Aizu di flatku pagi ini? Aku akan memasak makanan yang enak sekali untuk penyelamat Aizu,” undang si perempuan dengan bersemangat.

Sebenarnya si pria enggan. Tetapi ia pun tidak tahu harus bagaimana caranya menolak. Maka ia mengunci pintu kamar flat, mengikuti si perempuan yang menggendong Tanda dengan sayang di pelukannya. Sepanjang lorong menuju kamar si perempuan, mereka mulai berkenalan.

Sementara itu, televisi yang masih menyala di kamar flat si pria menampilkan siaran berita mengenai penemuan tulang tengkorak seorang gadis di dalam sleeping bag yang terikat batu di dasar laut. [*]

Last modified on: 5 November 2013

    Baca Juga

  • A Room of One's Own: Ayu Utami


    Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini…

     

  • Sepuluh Menit Terakhir dan Satu Menit Setelahnya


    Satu menit terakhir.Dari mana datangnya maut? Dari waktu atau dari Izrail yang dari tadi telah aku rasakan kehadirannya? Sayap kelam dengan mata menyalang yang telah menelanjangi keberanianku. Siapa yang akan…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Perkenalkan. Ia Penulis.


    Perkenalkan. Ia. Seorang pria yang terobsesi. Untuk jadi penulis. Pria yang bingung. Bingung memulai tulisan. Kalimat utama sulit. Sungguh sulit. Begini aja! Eh, kayaknya enggak oke. Kalau begini? Hmm kesannya…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni