(0 votes)
(0 votes)
Read 2411 times | Diposting pada

Tanah Becek di Timur Jakarta

 

Sejak kematian ayah-ibunya, Tuan Dokter semakin terbiasa berbicara dengan orang yang jauh lebih tua darinya. Tuan Dokter bernama Mahamat, berusia 26 tahun, memiliki seorang adik laki-laki 24 tahun yang tinggal di apartemen, serta seorang istri dengan seorang anak laki-laki yang baru berumur enam bulan.

Saat seorang oma dari keluarga ibunya meninggal dunia, Tuan Dokter tiba di dalam lingkaran orang-orang yang dulu masih melihatnya sebagai kanak-kanak. Kabar itu datang di pagi hari saat ia baru saja mencium pelupuk mata istrinya untuk yang pertama kali dalam satu hari itu. Adik laki-lakinya yang rambutnya dicat sedikit merah menghubunginya melalui telepon.

“Lo udah dapet kabar?”

“Kabar apa?”

“Oma Laura meninggal tadi Subuh. Kanker”.

Dari rumahnya di Rangkas Bitung, Tuan Dokter memacu mobilnya menuju Bogor. Di Bogor, ia menjemput anak bayinya yang seringkali dititipkan kepada mertuanya. Lepas Zuhur, pasangan suami-istri itu duduk berdampingan di jok depan mobil. Sementara itu, sang bayi asyik mengunyah biskuit di pangkuan pengasuh yang mereka sewa dua minggu sebelum si istri melahirkan.

Dari sana, mereka menuju Depok. Di Depok, sebagian mobil sudah berjajar di depan rumah besar Oma Laura. Meski tinggal di pelosok, rumah itu cukup luas dengan teras panjang seperti rumah-rumah Jepang. Di sisi kanannya, sebuah garasi yang bisa memuat empat mobil sedan menganga kosong. Hanya ada satu sedan tua sisa-sisa kejayaan Opa, suami Oma Laura yang dulu bekerja sebagai pilot. Teronggok tak berjalan.

Karangan bunga dan papan ucapan belasungkawa memenuhi halaman hingga jalanan di depan rumah. Kebanyakan berasal dari koneksi menantu Oma yang bekerja sebagai Wakil Gubernur di Kepulauan Merantai. Welma, anak Oma yang menikah dengan Wakil Gubernur, terpilih sebagai anggota parlemen di wilayah jabatan suaminya.

Sesampainya di rumah duka, Tuan Dokter langsung memperkenalkan anak-istrinya kepada para kerabat. Saat keluarga muda itu melangkah ke dapur, ia mendapat sambutan hangat dari beberapa keluarga perempuan. Salah seorang menggoda bayi Tuan Dokter. Sementara yang lainnya menyapa dengan ucapan, “Pak Dokter, udah makan?”

Tuan Dokter menolak dengan alasan sudah makan beberapa jam sebelumnya. Selebihnya, Tuan Dokter lebih banyak berbincang dengan Opa sambil mencari pekerjaan yang bisa dikerjakannya.

***

Saat turun dari angkot di perempatan jalan besar, Tuan Pengacara sudah melihat sejumlah motor ojek yang parkir berderet. Tanpa perlu waktu lama, saat tiba di pintu kompleks, seorang ojek menanyakan tujuan Tuan Pengacara.

Tuan Pengacara menjawab, “gang Sahid”.

Jalan menuju gang yang dituju terlalu buruk. Berlubang dan mendaki-menurun. Tak sampai sepuluh menit, Tuan Pengacara berhenti di depan rumah besar Oma Laura. Tuan Pengacara beruntung, jika terlambat beberapa menit lagi, dia bakal ketinggalan upacara pemakaman.

Di pintu gerbang, Tuan Pengacara melihat sepupunya, Tuan Dokter, sedang sibuk bersiap berangkat ke pemakaman. Melihat Tuan Pengacara, Tuan Dokter seperti mendapat kejutan. “Wah, Tuan Pengacara. Berangkat dari mana? Dari Sumatera?”

“Enggak. Saya dari Jogja. Tadi berangkat naik pesawat siang”, kata Tuan Pengacara.

Setelah itu, Tuan Dokter langsung memperkenalkan anak-istrinya. “Ini keluargaku. This is my baby, Maureen,” ujar Tuan Dokter sambil menunjukkan anak bayinya.

***

Di mobil Tuan Dokter, ada lima penumpang: adiknya, istrinya, bayinya, pengasuh, dan Tuan Pengacara. Sepanjang jalan menuju area pemakaman, Tuan Dokter lebih suka menginjak pedal gas terlalu dalam ketimbang melaju dengan kecepatan sedang. Kebetulan, mobil yang dikendarainya keluar gang belakangan. Jadi, mobil Tuan Dokter tertinggal dari rombongan.

Di depan, ada sekitar 15 mobil yang bergerak berturutan. Saat melewati kemacetan sore di Cibubur, mobil Tuan Dokter menyeruak membuka jalan mencari-cari ekor rombongan. Iring-iringan itu mendapat keistimewaan karena dipimpin oleh seorang polisi bermotor besar Vor Rijder.

Mobil Tuan Dokter akhirnya mendapat ruang di badan rombongan. Saat sang pengendali setir melihat celah, dengan sekali sentuhan ia masuk ke dalam rombongan. Tiba di pemakaman, mobilnya melaju pelan di antara mobil para pejabat. Berhenti di tempat yang sejajar dengan liang lahat calon makam Oma.

***

Kedatangan Tuan Wakil Gubernur tidak terlalu terlihat. Tampaknya karena tak semua pelayat mengenal persis Tuan Wakil Gubernur. Saat di pemakaman, ia juga tak terlalu mencolok. Mungkin juga karena terlalu banyak orang yang pakaiannya pantas disebut sebagai setelan kelas Tuan Wakil Gubernur.

Tak ada yang menduga, insiden yang membuat para pelayat mengenal yang mana Tuan Wakil Gubernur bermula dari sebuah aksi menyingkirkan tanah becek.

Di pemakaman, Tuan Wakil Gubernur menyaksikan liang lahat yang menganga. Lubang persegi empat itu ditutupi tenda yang juga biasa digunakan untuk pesta pernikahan. Sementara itu, tanah bekas galian lembab. Semalam, hujan turun di sana.

Upacara pemakaman berlangsung terlalu cepat jika dibandingkan dengan yang lazim. Ketika bunga selesai ditaburkan, Tuan Wakil Gubernur naik ke tanah yang sedikit lebih tinggi tak jauh dari makam. Di atas sana, di balik rumpun bambu tua, ada sebuah warung yang dindingnya terbuat dari bilik. Dapur warung itu menghadap ke area pemakaman. Di tempat itulah Tuan Wakil Gubernur membersihkan tanah becek yang melekat di sepatunya.

Tuan Wakil Gubernur menggunakan tangan kirinya untuk menyingkirkan tanah yang menempel di sepatu kulit hitamnya. Sementara itu, tangan kanannya memegang slang yang kucuran airnya mengarah ke tangan kirinya. 

Saat selesai bersih-bersih, Tuan Wakil Gubernur mengeringkan tangannya dengan sehelai sapu tangan yang diambilnya dari saku celananya. Batu cincin berwarna merah tua yang tersemat di jari manis kirinya tampak redup. Di hadapan Tuan Wakil Gubernur, tersusun empat anak tangga yang ia perlukan untuk kembali menuju kerumunan.

Ketika Tuan Wakil Gubernur menjejakkan kaki, anak tangga alami itu masih terlalu licin. Ia terpeleset sambil berusaha mencari keseimbangan dengan berlari cepat.
“Tuan Wakil Gubernur!” ujar salah seorang pengawal Tuan Wakil Gubernur yang paling muda. Pengawal itu langsung mengejar Tuan Wakil Gubernur dengan maksud menyelamatkan tuannya. Saat sang pengawal hampir berjasa terhadap pemimpinnya, sang pemimpin cukup merentangkan tangan dan berkata, “sudah, tidak apa-apa”. Tuan Wakil Gubernur sukses melewati kejutan. Ia tak jadi jatuh.

Sebagian orang memerhatikan kejadian itu. Lebih banyak tidak. Tapi, aksi pengawal memanggil tuannya dengan panggilan “Tuan Wakil Gubernur” membuat sebagian saksi tahu sosok bertubuh gempal dengan kemeja merah tua itu adalah Tuan Wakil Gubernur.

***

Tak ada eulogia. Yang ada hanyalah doa usai penguburan yang dipimpin oleh pengurus yayasan pengelola jasa penguburan. Setelah semuanya rampung, Marty, anak perempuan Oma yang berusia 40-an, menghampiri Tuan Wakil Gubernur untuk mengatakan pembayaran jasa penguburan belum lunas. Tanpa menunggu lama, anak buah Tuan Wakil Gubernur memberi satu amplop putih untuk sang pendoa.

“Yang mana orang yayasannya?”

Seorang lelaki kurus, berbaju teluk belanga warna coklat muda, berpeci haji dan kain sorban yang melingkar di leher, mengangkat tangan.

“Saya, sayalah pengurus yayasannya,” jawab sang pendoa.

Setelah pembayaran beres, semua pelayat kembali ke mobil masing-masing. Beberapa pejabat anggota rombongan Tuan Wakil Gubernur menggoda perempuan yang menjajakan rambutan. Sementara itu, yang perempuan bertanya kepada penjual tentang asal rambutan itu tanpa berniat membelinya.

Tuan Wakil Gubernur membeli dua ikat rambutan yang konon pohonnya tumbuh di sekitar tanah pemakaman. Mulutnya berkecipak saat merobek daging rambutan dari bijinya. Ketika seluruh daging sudah tertanam di perutnya, ia membuang biji rambutan dengan cara meludahkannya.

***

Opa tak puas dengan si doa si pendoa. Dia merasa si pendoa berdoa seperti ingin cepat menyelesaikan pekerjaan. Maka, dia bertahan di sisi makam istrinya. Wajahnya menghadap tanah. Untunglah, Opa tak sendirian. Keluarga Tuan Dokter, Tuan Pengacara, dan beberapa pembantu di rumah Oma, rela menunggunya.

Sebagai bentuk rasa terima kasih, pulangnya Opa berganti mobil. Ia memilih menumpang di mobil Tuan Dokter. Kini, bertambah satu penumpang.

Opa duduk di jok depan mendampingi Tuan Dokter yang berada di belakang setir. Istri Tuan Dokter, yang pada perjalanan ke pemakaman duduk di tempat itu, berpindah ke bangku tengah bersama pengasuh bayi dan bayinya. Sementara bangku belakang diduduki oleh adik Tuan Dokter dan Tuan Pengacara.

Jalan pulang lebih longgar. Sebenarnya, mobil Tuan Dokter tak perlu terburu-buru. Rombongan Vor Rijder tak perlu dikejar. Namun, sang pengemudi memilih mengikuti denyut jantung mudanya. Saat mobilnya semakin kencang, si bayi menangis.

Bayi itu tak mau diam. Sampai-sampai si pengasuh memberikan si bayi kepada ibunya. Sang ibu membujuk buah hatinya dengan sekerat biskuit. Untuk sementara, tangis si bayi berhenti.

Di sela-sela itu, Opa sedang menahan kencing. Saat masih di pemakaman, Tuan Dokter tak tega membiarkan Opa kencing di toilet umum karena dianggap terlalu jorok.

Sambil memutar setir, Tuan Dokter memberikan saran, “nanti di Indomart aja Opa”.

Tak lama kemudian, Tuan Dokter menghentikan mobilnya di salah satu Indomart terdekat. Opa langsung memasuki waralaba itu untuk mencari kamar mandi. Sementara itu, adik Tuan Dokter meminta abangnya membelikan sebotol minuman ringan rasa jeruk.

Saat Tuan Dokter kembali, Opa sudah duduk di tempat semula. Tuan Dokter membeli beberapa sandwich selai kacang. Salah satunya ditawarkan kepada Opa. Sementara penumpang lain menolak tawaran Tuan Dokter.

“Omong-omong, Tuan Dokter saat ini sudah menjadi dokter pemerintah?” tanya Opa.

“Belum. Saya sih, penginnya begitu. Tapi belum coba daftar. Saya masih berhasrat mengambil spesialisasi”.“O, ya? Di bidang apa?”
“Kemungkinan bedah”.

Semua penumpang terdiam mendengar jawaban Tuan Dokter sebelum akhirnya Tuan Pengacara angkat bicara.

“Kenapa tidak coba daftar di Sumatera saja? Mungkin saingannya lebih sedikit”.

“Wah, boleh juga. Ada orang dalam yang bisa bantu?”

“Coba daftar saja dulu sambil mencari koneksi”.

“Oke, oke. Nanti saya pasti daftar. Kapan pembukaannya?”

“Mungkin tahun depan”.

Saat pembicaraan mulai terhenti, Tuan Dokter kembali berfokus pada setirnya. Di sebuah tikungan yang tak terlalu tajam, ia membelok dengan cukup kencang. Manuver itu membuat si bayi menangis lagi. Kali ini, bujukan apa pun tak menghentikannya.

“Hey, what’s up Maureen”? kata Tuan Dokter kepada bayinya.

Mendengar kalimat suaminya, sang istri membela si bayi. “Dia keselek biskuit”.

Semua penumpang sibuk memberikan saran ini-itu untuk menghilangkan tangis si bayi. Tak lama setelah keributan kecil itu, si bayi mulai diam. Dan mobil Tuan Dokter pun sampai di rumah Oma Laura.

Satu-satunya orang yang tampak sangat ingin beranjak dari sana adalah Tuan Pengacara. Namun, ia tak enak hati karena Tuan Dokter memilih berpamitan dulu dengan keluarga Opa. Maka, sopan-santun ala Tuan Dokter menjadi pilihan yang paling mungkin disepakati.

Di depan aula rumah Oma, sejumlah anak buah Tuan Wakil Gubernur duduk di kursi-kursi. Mereka bersiap ikut tahlilan. Tuan Pengacara berjalan di belakang keluarga Tuan Dokter menuju aula. Di depan aula, mereka menyalami istri Tuan Wakil Gubernur. Mereka tak meraih tangan pelayat lain karena merasa tak terlalu kenal. Sedangkan Tuan Wakil Gubernur tak kelihatan batang hidungnya.

Selanjutnya, dan yang paling puncak, berpamitan dengan Opa. Saat semua orang mencari Opa, yang bersangkutan entah di mana.

“Tadi di sini ngambil nasi kotak. Mungkin sedang makan di kamar,” kata salah seorang kerabat perempuan yang berada di dapur.

Salah seorang kerabat lainnya tiba-tiba datang dari arah kamar Opa. “Di kamar juga tidak ada”.

Sambil mencari-cari, kerabat yang lainnya meminta keluarga Tuan Dokter dan Tuan Pengacara makan sebelum berpamitan. Mereka menolak untuk alasan yang berbeda. Keluarga Tuan Dokter mengatakan mereka harus segera pulang karena si bayi lelah. Sementara itu, Tuan Pengacara beralasan mengejar jadwal pesawat pulang ke Jogja.

Pencarian itu cukup menyibukkan. Entah di mana Opa berada. Sampai akhirnya seorang anak menemukan Opa sedang berjongkok di sudut garasi. Si anak bercakap-cakap dengan Opa. Opa membalas percakapan dengan anak itu seraya memisahkan-misahkan daging ikan dari tulangnya. Daging-daging itu membuat Opa dihampiri belasan kucing piaraan Oma Laura.

Keluarga Tuan Dokter dan Tuan Pengacara akhirnya berpamitan tanpa berjabat tangan. Masalahnya, tangan Opa penuh dengan cabikan daging ikan. Tak perlu berkotor tangan. Seulas senyum dari wajah lelaki tua itu sudah cukup mewakili jabat tangannya.

Tuan Dokter pulang dengan tubuh yang lelah. Seluruh penumpangnya juga lelah. Sementara itu, Tuan Pengacara bergegas mengejar pesawat malam menuju Jogja. Di sana, seorang kekasih sedang menunggunya.

 

Jakarta, April 4 2013

Last modified on: 5 November 2013

    Baca Juga

  • Mata-mata Parramatta: Catatan Tulis Residency Bagian II (Parramatta)


    Mata-mata di Parramatta tidak melulu berwarna biru. Ketika duduk di dalam kereta, atau bus, atau ketika saya berjalan kaki menyusuri toko-toko, kafe, stasiun, taman, dan jembatan, saya akan melihat bahwa…

     

  • Panduan Memelihara Belatung


    Lelaki itu menggandeng tangan seorang perempuan saat memasuki rumah kosnya yang sepi. Di halaman belakang, sebuah pohon mangga berdiri anggun dengan kerimbunan daun-daunnya yang meneduhkan. Mereka baru saja memasuki kamar…

     

  • Inti Cerita yang Buruk


    Setiap harinya Justin Horgenschlag —seorang asisten juru cetak berupah tiga puluh dolar per pekan— melihat kurang lebih enam puluh wanita yang belum pernah ditemui sebelumnya. Maka, dalam rentang waktu empat…

     

  • Pengurus Pemakaman


    Saya selalu mengubur Muffin pada setiap pukul enam pagi. Saya tidak membutuhkan sebuah alarm untuk itu —saya hanya terbiasa terbangun pada jam segitu. setiap melakukannya, saya menuruni tangga dengan sangat…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni