(3 votes)
(3 votes)
Read 666 times | Diposting pada

Sepuluh Menit Terakhir dan Satu Menit Setelahnya

Peshtigo Fire Peshtigo Fire http://listverse.com

 

Satu menit terakhir.
Dari mana datangnya maut? Dari waktu atau dari Izrail yang dari tadi telah aku rasakan kehadirannya? Sayap kelam dengan mata menyalang yang telah menelanjangi keberanianku. Siapa yang akan membunuh? Panas? Api? Jantung yang menghentikan detaknya? Ataukah Izrail yang sesabar bebatuan di dasar palung telah menanti?

Kepada takdir yang aku pilih, Izrail akan laksanakan tugasnya dengan tepat. Telapak tangan dan kakiku mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat. Dingin rasanya. Dari mana kelak ruh akan dicerabut? Dari kaki? Dari mulut? Dari ubun-ubun? Dari mana, Izrail?

Dua menit terakhir.
Puluhan tahun setelahnya, masih adakah jiwa kanak-kanak dalam tubuhku? Jiwa yang dahulu gemar berlari hingga lelah sambil menyesapi dengan khidmat kedalaman sungai dan hutan-hutan sepi di kaki gunung. Jiwa itu, kekanak-kanakkanku, masih adakah?

Kota dibangun dari hal-hal yang tak kumengerti. Dari mana ia dapatkan keindahan yang mampu menyihirku. Dan mengapa kuputuskan pindah jika ari-ariku terkubur tenang di sebuah desa yang jauh dari tempatku kini berada? Jiwa kanak-kanakku, adakah kau ikut pindah bersamaku atau kau lebih senang menemani ari-ariku?

Tiga menit terakhir.
Pikiranku tengah memikirkan peristiwa itu. Dua tahun lalu, yang mengawali semuanya. Jumat yang naas. Azan kedua tanda khotib akan segera naik mimbar sudah berkumandang. Kami, warga pemukiman, tidak ada yang ke masjid. Gerimis mulai turun tidak disertai keihklasan. Gerah masih mengelilingi tengkuk kami. Hatiku serasa dijilat azan dua kali saat tadi berkumandang dengan syahdunya. Gerimis pembawa kutukan ini untuk siapa? Untuk kami para warga, atau untuk mereka yang baru saja tiba? Mereka yang dibayar sebagai polisi pamong praja yang gemar menggusur? Gerimis ini untuk siapa?

Setengah tahun dari jumat yang naas itu, terhitung sudah empat kali upaya penggusuran yang dilakukan oleh polisi pamong praja. Setiap waktu, jumlah mereka semakin banyak. Mereka, dengan wajah yang disangar-sangarkan dan suara dingeri-ngerikan, datang dengan tameng dan bambu panjang untuk mendarah-darahi kami. Dan kami tidak lelah untuk melempari barisan formasi mereka dengan bom molotov dan gelindingan ban api. Barikade mereka selalu berhasil kami pecahkan. Tak apalah dengan pelipis kami yang sobek atau tangan yang terkilir karena kontak fisik jarak dekat. Tak apa, selama mereka dapat kami usir, itu harga yang layak dibayar.

Empat menit terakhir.
Sampai kapan aku ada, untuk kemudian sirna, setelah didera derita? Polisi pamong praja itu memang sudah tak pernah kembali, tetapi ketenangan nampaknya hal yang mustahil ada. Desas-desus dan gosip jalanan tentang aparat yang lebih kuat akan segera menertibkan kami terus menggema di langit dan telinga. Kegelisaha ini diam-diam menghantui pikiran dan menjelma derita. Aku belum menemukan yang lebih derita dibandingkan tidur yang tak nyenyak dan masa depan yang mengambang. Dan pertanyaan itu terus mengawang di pikiranku saat ini dan saat itu. Sampai kapan?
Lima menit terakhir.

Istriku, saat ini aku sedang ingin memikirkanmu. Sudah panenkah padi yang kau tanam dengan menyebut nama Tuhanku yang juga Tuhanmu? Sudahkah kau rasakan perasaan itu? perasaan serupa gembira ketika kau bangun pada dini hari yang cerah dan embusan napasmu mengeluarkan asap sebab udara begitu jernih. Lupakanlah kehidupanmu di sini. Abaikanlah peristiwa-peristiwa yang mengguncang keras detak jantungmu. Hiduplah di sana. Tak ada yang layak di sini. Sebentar lagi musim hujan. Pada hujan pertama, bau tanah kemarau akan menguarkan aroma yang menjernihkan pikiranmu. Hiduplah di sana.

Enam menit terakhir.
Anakku, usiamu masih cukup belia. Turutilah apapun yang ibumu katakan. Jalanan pernah masuk hingga ke dalam kata-katamu. Tenang, nak. Pemandangan yang lepas akan mengajarkanmu banyak kebaikan jika kau hayati dalam-dalam. Jiwa kanak-kanakku mungkin tertahan di sana dan itu akan menjadi teman yang menyenangkan selain tentunya kedalaman sungai yang terlihat, kicauan burung bebas dan yang pasti bocah-bocah seumuranmu. Selalu ada teman sebaya di manapun kau berada.

Tujuh menit terakhir.
Setengah tahun lalu, pada sore yang suram sebab hasil memulung selalu lesu, seseorang berpakaian rapih dengan aroma parfum yang menusuk-nusuk hidung datang menghampiriku. Saat itu aku tengah duduk di tepi trotoar. Punggungku mulai payah ditempa tas hasil pulungan dan usia. Ia tahu aku adalah salah seorang warga pemukiman dan aku tahu ia adalah seseorang dengan nama yang sama dengan nama yang ada pada plang yang tertancap mantap di atas tanah pemukimanku.

Ia datang membawa sebuah penawaran. Berat. Tapi aku pun mengajukan sebuah syarat; bangunkan sebuah rumah dan sawah untuk istri dan anakku di desa untuk hidup mandiri. Ia menyanggupi dengan entengnya seenteng anggukkan kepala dan sungging senyumnya. Maka setelah ia memenuhi syaratnya dan istri dan anakku telah tinggal di desa, giliranku dimulai.

Delapan menit terakhir.
Wargaku, perkataanku tidak akan pernah sampai pada kalian. Tetapi percayalah, mereka tidak membutuhkan kalian dan dengan begitu kalian tidak memerlukan mereka. Hidup semacam ini tidak pernah layak dijalani.

Aku sudah tidak bisa lagi peduli apakah aku telah menjelma seorang pengecut yang mengkhianati warga-wargaku. Apakah aku telah menjelma pecundang yang mengkhianati kematianku? Aku tak mampu lagi peduli betapa banyak derai tangis dan air mata tumpah dari isak istriku. Berapa banyak pertanyaan-pertanyaan dari anakku tentang bapak dan kepulangannya. Aku tak bisa lagi.

Sembilan menit terakhir.
Akhirnya aku berhasil menculik orang berpakaian rapih itu ketika ia tengah menekanku untuk segera melakukan persyaratan yang telah kami sepakati. Saat ia ingin masuk ke dalam mobilnya aku hajar tengkuknya. Ia tak sadarkan diri. Takkan cukup waktu kalau aku pikirkan kembali kronologisnya. Semua berjalan begitu saja dan memang ini takdir dirinya. Kini ia tengah pingsan di sampingku. Aku lebih ingin memikirkan hal lain di sisa menit-menit terakhir ini.

Sepuluh menit terakhir.
Rumah ini, bedeng ini tepatnya, menyisakan banyak peristiwa yang terkenang dan yang terabaikan. Kenang-mengenang hal-hal yang lebih banyak pahitnya dan itu tidak apa-apa. Tak perlu mengutuki yang sudah terjadi. Aku harus bakar bedeng ini demi perjanjianku dengan lelaki yang kini tergeletak di sampingku. Istri dan anakku sudah aman dan tak akan terlacak siapa-siapa.

Satu menit setelah satu menit terakhir.
Dini hari. Api menjilat-jilat sebuah pemukiman kumuh. Warga terlambat menyadari ada sebuah bedeng yang terbakar. Kini api tengah ganas menyambar kemana-mana. Damkar terlambat datang. Di sebuah atap gedung yang bisa menyaksikan kebakaran itu dengan leluasa, ada seseorang yang berdiri di sana. Ia pandangi pemukiman merah itu. Matanya kosong. Pikirannya kemana-mana, bisa ke istri dan anaknya yang tengah ada di sebuah desa dan bisa kemanapun. Belum bisa pulang ia.

Last modified on: 21 Juli 2017

    Baca Juga

  • Pesan Nenek Pendoa


    Semua orang di daerah Jakarta Utara memuji kemampuan Walikota baru. Menurut mereka, berkat kerja keras beliau memimpin daerah pinggir laut tersebut, Jakarta Utara sudah tidak mengalami banjir –yang bisa setinggi…

     

  • Seorang Pria yang Kehilangan Buku


    Saya pernah kepengin menulis cerita mengenai seseorang yang terlalu mencintai buku. Dia membaca buku dengan mendengarkan buku-buku itu bicara. Aku tidak tahu; tapi sepertinya ia memang begitu. Dia mampu mendengarkan…

     

  • Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang


    Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus…

     

  • Perkenalkan. Ia Penulis.


    Perkenalkan. Ia. Seorang pria yang terobsesi. Untuk jadi penulis. Pria yang bingung. Bingung memulai tulisan. Kalimat utama sulit. Sungguh sulit. Begini aja! Eh, kayaknya enggak oke. Kalau begini? Hmm kesannya…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni