(0 votes)
(0 votes)
Read 963 times | Diposting pada

Seorang Pria yang Kehilangan Buku

Seorang Pria yang Kehilangan Buku henriquedias.com

 

Saya pernah kepengin menulis cerita mengenai seseorang yang terlalu mencintai buku. Dia membaca buku dengan mendengarkan buku-buku itu bicara. Aku tidak tahu; tapi sepertinya ia memang begitu. Dia mampu mendengarkan apa keluh kesah buku itu. Tentang kata-kata yang tak nyaman berada di sebuah kalimat; tentang kapan seharusnya penulis meletakkan titik, koma, atau kata-kata tertentu. Bahkan yang lebih ekstrim; ia bisa mendengar sebuah buku memberi tahu kesalahan ketik dan cetak tanpa membacanya. Ia hanya memandang buku itu sebentar; lalu mengusap-usapnya.

Ada juga seseorang dalam dunia cerita itu; yang seperti Brauer dan Rumah Kertasnya seorang pengarang Argentina. Ia mampu mengajak bicara sebuah buku, dan menempatkannya di dalam lemari berdasarkan perasaan yang dimiliki pengarang buku-buku itu. Pengarang buku A di dunia nyata bertengkar dengan pengarang buku B. Maka jangan tempatkan bukunya dalam satu lemari. Pengarang buku C mengambil sumber buku D. Tempatkan berurutan. Ia mengenal pengarang bukunya dan juga buku itu, sebaik mengenal dirinya sendiri. Orang ini bahkan sangat mencintai buku dan menjadikan buku-buku sebagai bata rumahnya. "Ingatlah, bukankah tak ada buku yang retak dan pecah, sementara banyak bata merah pecah dan tak melindungi penghuninya?"

Di dalam cerita lain, ada tokoh yang memakan buah iblis yang menyebabkan ia memiliki kemampuan membuka dunia buku. Ia bahkan bisa memenjarakan musuh di dalamnya dan mereka tak bisa keluar dari dalam dunia buku itu. Tidak, dunia itu tidak absurd. Itu adalah dunia yang sangat mungkin yang benar-benar bisa ada, dan kita namakan saja: semesta buku.

Tetapi saya akan fokus pada tokoh pertama, Pria kita ini. Ia yang tidak membaca buku; tetapi bercakap-cakap dan berkawan baik dengan buku. Dalam bahasa lain, Dominguez mengatakan, lebih sulit membuang buku daripada mencarinya. Pria kita ini, sekarang, dengan segala kemampuannya bicara dengan buku, kehilangan bukunya.

Ia bisa saja mengitari rak buku di perpustakaan kecil rumahnya, dan bertanya pada tiap buku yang ia jumpai: "ke mana buku yang kumaksud itu?", dan tiap buku akan menjawab berbeda-beda. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia mencari buku itu justru di luar perpustakaannya. Ia susuri ruang-ruang di rumahnya itu.

Kamar. Di tempat ini, ia ingat pernah membaca buku bersampul --ia lupa-- tetapi isinya mengenai sejarah para Khalifah islam, sejak zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga Muawiyah bin Abu Sufyan. Buku itu ditulis sastrawan Aceh yang jadi ulama rasionalis, Joesoef Souyb. Ia menghalalkan bunga bank. Tapi bukan itu. Buku berkertas cokelat dengan ejaan Soewandi itu sebetulnya berkisah mengenai fenomenologi sejarah islam pada masa Khulafaur Rasyidin. Ia ingat itu semua dalam kamarnya, tapi ia masih belum mengingat buku apa dan di mana buku yang ia cari itu. Buku Joesoef tua itu sendiri sudah raib, dipinjam entah siapa. Tetapi, ia masih ingat apa yang diserukan tiap kata di dalamnya yang dijajarkan --yang matanya lihat-- bagai kobaran api.

Dapur. Kabar tentang seorang pria, Allan namanya, yang melompat jendela dan tak pernah kembali; diungkap masa lalunya oleh Jonas Jonasson. Penulis Swedia. Bahwa kakek itu pernah merundungi Kim Jong Un, bahwa pria itu juga pernah mengacaukan laboratorium nuklir Oppenheimer, atau berjalan-jalan di dataran tinggi Himalaya dan menikmati akhir usia di Bali, Indonesia: diceritakan Jonas dengan cara yang membuat kata-katanya bersinar biru hijau seperti warna samudera pada musim panas. Ia juga tak mengingat buku apa yang ia cari dan apakah benar di dapur ia letakkan buku itu. Dapurnya juga merangkap ruang makan dan juga ruang baca dengan beberapa buku terletak. Ia perhatikan buku-buku di dapur; mereka diam seperti pria-pria malas sehabis membetulkan truk di karoseri dan menghabiskan tenaga mereka.

Perpustakaan. Baiklah. Di ruang yang merangkap kamar tidurnya, sekaligus kamar tulisnya, pria kita ini menggumam-gumam sebentar dan tangannya menyisir buku-buku di lemari dan rak. Untuk memahami pria kita, kau harus paham bagaimana ia menyusun buku-buku di ruangnya ini. Buku-buku tua; yang usianya dua kali dirinya, ia muliakan dan ditempatkan di rak yang paling tinggi. Untuk melindunginya dari debu, ia meletakkan lapisan plastik di atasnya.

Di rak nomer dua ke bawah, ia taruh buku-buku yang bakal sering ia baca. Bukan buku kuliah, bukan juga novel. Ia meletakkannya secara acak. Jika pelayan atau pembantunya datang dan menggeser buku-bukunya yang tampak berantakan, ia akan marah dengan kemarahan seorang yang biasa bercakap-cakap dengan buku. Dengan kata-kata yang dalam dan tegas.

Di rak nomor tiga, empat, dan lemari-lemari lain, meja-meja, kardus, dan lantai serta kasurnya, ia letakkan buku sebagai seorang bibliophile yang punya dunianya sendiri. Ia menumpuk bukunya dengan cara yang tak lazim. Ia letakkan buku-buku itu berdasarkan tanggal ia membaca dan membelinya. Artinya, ia susun buku-buku di perpustakaannya itu; seperti hari demi hari hidupnya. Kalau kau mau tahu perkembangan pengetahuan di kepalanya, urutkan saja buku dari bawah ke atas. Kadang buku-buku itu tidak menunjukkan urutan yang ilmiah. Ia membaca atlas tokoh-tokoh pewayangan Mahhabarata hanya karena sebelumnya ia membaca sejarah penaklukkan India oleh Utsman bin Affan dalam buku Joesoef. Ia meletakkan disertasi Pelarangan Buku di Masa Kolonial Hindia Belanda, karangan peneliti Inggris, di atasnya, juga hanya karena serta merta ia mengingat bahwa dalam Mahhabarata ada beberapa sensor oleh ulama-ulama Indonesia yang menggubahnya kembali untuk keperluan penyebaran agama.

Namun untuk satu judul buku yang tak pernah ia ingat lagi judulnya dan bentuknya, serta di mana terakhir membacanya, ia belum juga menemukannya di manapun. Ini di luar kebiasaannya. Ia bahkan hapal setiap kata dan kalimat pertama ribuan buku yang pernah ia baca tetapi tidak untuk yang satu ini. Bahkan untuk buku Kiat Sukses Hancur Lebur Martin Suryajaya, Tuhannya Hudan, atau O-nya Eka, ia masih ingat. Lama kelamaan ia sadar satu hal. Ia tak kehilangan buku itu tapi ia kehilangan pengetahuan tentang buku itu. Ia tahu bisa jadi tangannya, matanya pernah menemukan buku itu ketika mencari di kamar, dapur, dan perpustakaan. Tapi ia tak tahu apakah benar buku itu yang sedang ia cari.

Tapi ia juga akhirnya mengerti. Sebuah buku puisi, mengingatkannya bahwa ia sebetulnya tak kehilangan buku atau pengetahuan itu. Ia sebetulnya kehilangan ingatan dan kenangan satu-dua hari saat membaca buku itu. Tak hanya ingatan soal buku, tapi ia baru sadar sesadar-sadarnya, ia melupakan waktu satu-dua hari bersama buku itu. Waktu itu dia di mana? Dalam keadaan bagaimana? Dan ia kembali sadar; ada yang mengubah tumpukan buku di kamarnya, yang berarti kemungkinan ingatannya diubah orang.

Siapa yang tega-teganya mengubah ingatan itu? Satu dua hari yang berharga bagi pria kita ini? Buku apa yang hilang? Buku apa yang diambil? Kita bukan bicara tentang buku-buku yang dipinjam dan tak kembali. Kita tak bicara soal buku-buku yang jika pria kita membacanya, ia akan memberitahukan berapa kali ia dicuri dari lemari, berpindah tangan, lalu berkelana keliling dunia dan membuat penulisnya justru terkenal. Penyair-penyair Belanda 1880, buku-buku mereka kemungkinan diselundupkan dari Belanda ke Hindia Belanda. Lalu diambil dan disimpan di perpustakaan pembesar. Dicuri oleh penyair Chairil Anwar. Ia menerjemahkan dan menyadurnya. Belakangan, buku Chairil Anwar sendiri dicuri dari perpustakaan sekolah oleh seorang anak, dan anak itu dianggap aneh karena bukannya mencuri buku paket pelajaran ujian, malah mencuri buku puisi.

Apakah itu sama dengan menghapus ingatan seseorang, dengan mencurinya bukunya? Pria ini mengingat-ingat detail yang tersisa dari hari-hari yang hilang, saat seseorang mencuri bukunya. Saat itu habis ashar, cuaca biasa saja. Sinar matahari bersiul-siul kecil masuk jendela. Ia membaca... Sejarah? Sastra? Agama? Ada dua buku yang ia baca waktu itu. Tapi apa dan bagaimana, itu masalahnya. Buku itu, sepertinya berisi sejarah. Yang juga diberi judul dengan kata kunci Hilang. Orang tak akan selera membaca buku itu karena seingat pria kita, judulnya tidak populis. Pengarangnya juga tidak.

Ia lalu melongok ke luar jendela. Ia kemudian ingat mengapa ia mencari-cari buku gaib yang entah ada entah tidak itu. Orang-orang ribut. Mereka juga kehilangan ingatan. Untuk ukuran bibliophile seperti dirinya kehilangan ingatan mudah terjadi karena ia punya banyak ingatan. Tapi di luar sana, orang-orang berteriak hilang ingatan untuk sesuatu yang tak pernah mereka ingat:

Bahwa buku tentang kekerasan dan kelembutan, buku tentang kebenaran dan kekeliruan, tentang kebetulan dan ketidakbetulan, hilang dari lemari-lemari mereka karena tak pernah dibaca!

Mereka meraung-raung seperti gorila. Matanya nyalang seperti mata orang dalam gambaran novel-novel tentang kemarahan. Hilang, hilang, teriak mereka. Mereka semakin barbar dalam hilang ingatannya itu. Ada sekelompok kecil yang masih waras, mengingatkan: buku kalian ada di rumah tidak hilang, cuma tidak dibaca! Tapi orang-orang gorila itu berkata:
Persetan dengan HAM, PKI salah, PKI setan!

September 2017

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni