(5 votes)
(5 votes)
Read 850 times | Diposting pada

Sebentar-sebentar, Kau Beralih pada Freud

''Log Dog'' karya Aleks Danko ''Log Dog'' karya Aleks Danko Sydney's Museum of Contemporary Art

 

Kalau benar Rei teman sekelasku, maka tahun ini usianya kurang lebih 28 tahun. Aku tidak tahu apa yang membedakan 28 dari usia-usia lainnya, tetapi aku pernah memiliki kekhawatiran di umur 26 yang mungkin masih relevan untuk dibawa dua tahun kemudian: apakah aku telah berbuat cukup? Pertanyaan itu kauajukan ketika berada di antara keinginan untuk terus atau sudahan – menikmati hasil pekerjaanmu, berumah tangga, mengajari anakmu naik sepeda, belajar bercocok tanam. Kalau pilihanmu adalah yang kedua, maka kau akan berhenti bereksperimen atas hidupmu, dan bagi sebagian orang itu adalah kematian. Rutinitas.

Apakah Rei terantuk pada pertanyaan yang sama ketika menulis cerpen ‘Hangat’?

Sekilas cerita itu mirip dengan karangannya yang lain: sederhana, singkat, dan penuh konflik batin. Rei pernah bilang bahwa ia bercita-cita menjadi penulis hal sepele. Daripada menulis tentang perang atau saga cinta, ia lebih suka memaksa pembaca membayangkan pengamen yang salah turun halte, bos yang suka mengigit kuku, istri yang lupa membeli sosis di supermarket.

Setelah memaparkan keputusan atau kebiasaan atau kesalahan kecil tokohnya, ia menjelaskan makna tersembunyi di dalamnya. Metodenya psikoanalisis. Inspirasi utamanya datang dari buku Sigmund Freud yang berjudul Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari. Para kritikus sering berkata bahwa cerita Rei adalah plot di dalam plot, sebab rangkaian cerita alam bawah sadar berkontribusi, mengkonstruksi, dan merepresentasikan rentetan peristiwa yang terjadi sebenarnya.

Tapi pujian seperti ini tidak didapatkannya untuk cerpen ‘Hangat’ sekalipun metode pembuatannya sama.

Cerpen ‘Hangat’ memperkenalkan tokoh bernama Grupa, seorang nenek yang tinggal di panti jompo. Sukarelawan sering datang untuk membantu panti jompo itu; salah satunya, suatu ketika, adalah seorang mahasiswa pria. Mahasiswa itu “begitu jangkung hingga membuat: (1) tubuhnya tidak proporsional, (2) tulang pipinya tertarik hingga tirus, dan (3) Grupa ingat pada anaknya” (paragraph 10).

Grupa adalah orang jujur tetapi di hadapan mahasiswa itu ia merasa perlu melebih-lebihkan fakta. Ia berkata bahwa ia sebatang kara padahal ia masih punya handai tolan, ia berkata bahwa dulu ia adalah pejabat yang sukses meski sebenarnya ia dipecat karena sering bolos, ia berkata bahwa dahulu ia sangat cantik dan itu benar kalau ia berhenti sampai di sana dan tidak menambahkan cerita bagaimana suami dan teman laki-lakinya memperebutkan dirinya sampai terlibat adu silat.

Suatu kali, ia tidak tahan untuk melebih-lebihkan perlakuan buruk para perawat di sana pada malam hari. Memang, mereka sering membentak dan menyindir para lansia yang telat dari jadwal yang sudah disediakan, tetapi Grupa menggambarkan mereka sebagai orang-orang brutal yang berharap agar para lansia cepat mati, dengan begitu lansia baru akan datang dan pendapatan bertambah. Mahasiswa itu tidak percaya, jadi Grupa mengundangnya untuk melihat langsung dengan bersembunyi di kamarnya. Di malam hari, Grupa mengunci kamarnya dan ketika mahasiswa itu belum sadar apa yang terjadi, ia membuka bajunya. Ia mengancam jika mahasiswa itu tidak bersedia bersetubuh dengannya, ia akan berteriak minta tolong dan berkata telah diperkosa. Oleh kebingungan dan ketakutannya, mahasiswa itu setuju untuk bersetubuh.

Rei memotong adegan itu di sana dan menjelaskan bahwa kebohongan-kebohongan kecil itu bukanlah akibat perasaan rindu akan sensasi bersetubuh, melainkan karena kebencian pada anak laki-lakinya yang, setelah menikah, mendadak lupa akan janji untuk merawatnya.

Para pembaca mengkritik cerita Rei, mulai dari yang sopan, seperti berpendapat bahwa karakter tokohnya kurang koheren dengan tindakan mereka, sampai yang kurang sopan, seperti yang berkata bahwa penulisnya horni ketika menulis cerita. Ada seorang kritikus yang jeli; ia mengatakan bahwa biasanya tokoh dalam cerita Rei sekadar menyadari hasrat terepresi dalam diri mereka, tetapi Grupa berbuat lebih dari itu. Ia melakukan aksi untuk menggenapi hasrat itu.

Apakah Rei juga sedang melakukan yang sama?

***

Pada tanggal 10 Februari 2016, seorang wartawan mengatakan bahwa ia telah mengenalku sejak dua belas tahun yang lalu, atau tepatnya saat aku baru masuk SMA. Ia tidak marah ketika kubilang aku lupa, malah ia berbaik hati untuk menjelaskan mengapa.

“Namamu Raymond, dan teman-teman suka memanggilmu Ray. Pikiran alam bawah sadarmu tidak senang dengan orang yang memiliki nama mirip, apalagi ketika kau merasa lebih hebat daripada orang itu.”

Harus kuakui bahwa, pada hari itu, bertepatan dengan ulang tahun kedua kantor konsultan pajakku, lagakku pongah. Komentarnya membuatku tersudut. Memperbaiki sikapku, aku bertanya apakah dia sudah lama menjadi wartawan. Ia berkata bahwa ini pekerjaan sampingan saja, baru jalan 2 tahun. Pekerjaan sampingan dari apa, aku bertanya lagi. Dia bilang ia adalah penulis cerita. Sudah berapa lama ia menulis cerita?

“Sejauh yang bisa kuingat, aku selalu ingin menjadi penulis,” jawabnya.

Sampai sekarang, kata-kata itu tetap tertancap ke kepalaku seperti kutukan. Apakah penulis diwajibkan untuk selalu menemukan kalimat dengan susunan kata tidak biasa sehingga terkesan baru? Kalimat itu, sekalipun nantinya kusadari telah menyalin kalimat pembukaan film Goodfellas dengan mengganti kata ‘gangster’ menjadi ‘penulis, menjadi awal ketertarikanku dengan Rei.

Setelah wawancara itu, aku mencari buku tahunan sekolahku tapi tidak ketemu. Seorang teman yang kukontak juga lupa siapa itu Rei. Ketika kujelaskan ciri-cirinya, ia menyebutkan nama-nama yang lain.

Sementara pencarian identitasnya masih berlangsung, aku bertemu dengan Rei lagi. Kali ini di sebuah pameran tunggal seorang perupa yang merangkai gelondongan kayu menjadi diorama. Sebagian diorama dipaku, sebagian diikat dengan tali tambang, sebagian lagi hanya digeletakkan.

Di depan sebuah monumen berjudul ‘Godaan’ yang terdiri dari dua batang kayu trembesi dan sepuluh batang kayu damar disusun seperti rangka tenda, Rei sedang berdiri. Ia memakai blazer berwarna hitam, sepatu berhak, dan ia menenteng tas kecil.

“Hai,” aku menyapanya. “Betapa kebetulan.”

“Kebetulan bagaimana?” tanya Rei.

“Rasanya belum lama sejak wawancara itu, sekarang kita sudah bertemu lagi.”

Ia tersenyum dan wajahnya berpaling lagi ke karya di hadapannya. “Aku tidak percaya kebetulan. Kupikir ada penjelasan lain yang lebih mumpuni.”

“Seperti?”

“Sehabis wawancara itu, tentu kau membuka situs kami, melihat apakah hasil wawancaramu sudah diterbitkan atau belum. Kemudian kau beralih ke kolom-kolom yang lain. Di kolom ‘Seni’, kami selalu memberikan kalender ‘Acara Pekan Ini’ dan, kebetulan, pekan ini cuma ada satu acara. Pameran seni rupa Batsir Sukahesi. Terkait dengan alasan mengapa kau sampai datang, aku sudah memberitahumu: aku bertanggung jawab menulis laporan di desk Seni. Mewawancaraimu kemarin hanyalah akibat rekanku berhalangan.”

“Kau berkata bahwa aku ingin bertemu denganmu?”

“Ya.”

Kini, ia memandangku langsung, “Kau punya penjelasan yang lebih baik?”

Seperti sebelumnya, analisis yang ia berikan membuatku linglung. Aku tidak bisa memastikan apakah tuduhan itu benar atau tidak. Maksud tersembunyi itu benar terpikirkan, tetapi tidak jelas mulai kapan. Mungkin ia tahu pikiranku lebih baik ketimbang diriku sendiri.

“Dan kau sendiri?” aku bertanya. “Aku tidak melihat kau sedang liputan.”

“Memang tidak.”

Setelah ia mengatakan demikian, sekumpulan orang lewat ke depan kami. Jumlahnya mungkin 8 orang. Ada satu orang yang memimpin di depan dan menunjuk ke berbagai karya yang tergeletak di lantai, menggantung di udara, terpancak di dinding. Ia menjelaskan pengalamannya hampir dikeroyok warga karena dianggap menebang pohon keramat. Kupikir dia Batsir Sukahesi.

Rei menghampiri pemimpin rombongan, menariknya keluar dari kelompok ia berasal, dan membawanya ke hadapanku. Aku telah menyingkir dari depan monumen ‘Godaan’. Rei memberikan konfirmasi bahwa itu benar Batsir Sukahesi dengan memperkenalkan kami. Telapak tangannya terasa lapang dan pejal.

“Akhirnya kau punya teman yang bisa dikenalkan,” kata Batsir pada Rei. “Aku hampir mengira kau alien.”

Ketika tamu-tamunya sudah banyak pulang, kami bertiga berbincang. Batsir seperti memaklumi ketidaktahuanku tentang seni rupa dan mengalah untuk berbicara hal-hal yang lain. Dia juga teman bicara yang menyenangkan.

Sebelum pamit, aku meminta nomor telepon mereka berdua.

***

Sebulan sebelum cerita tentang nenek Grupa dipublikasi, Rei putus dengan Batsir. Aku sedang menelponnya untuk bertanya suatu hal sepele ketika ia memberitahuku begitu saja bahwa ia tidak lagi bersama Batsir. Ia meyakinkanku bahwa ia baik-baik saja, serta berkata bahwa perpisahannya ini memberikannya ide cerita. Tapi, perihal apa ceritanya itu, Rei tidak mengabarkan.

Tiga hari setelah mendengar kabar itu, aku bertemu Batsir di sebuah kedai kopi tanpa sengaja (masih bolehkah kugunakan ungkapan ini?). Aku membuka laptopku untuk mengerjakan laporan pajak sebuah perusahaan sambil ditemani secangkir Americano, sementara Batsir berkumpul dengan beberapa temannya. Ketika diskusi mereka usai, ia menghampiriku dan bertanya apakah aku keberatan apabila kami berbincang. Aku bilang tidak.

“Aku khawatir dengan temanmu itu,” kata Batsir.

“Maksudmu: mantan pacarmu?” Sebab aku memiliki banyak teman dan ia kurang spesifik.

Ia tertawa kecil. Tangannya memutar-mutar sedotan gepeng di pinggir gelas kertasnya. Batsir berkata iya lalu menyatakan bahwa perpisahan itu terasa berat ketika ia mengingat bagaimana selama ini Rei begitu suportif terhadap pekerjaannya, tapi oleh karena pertengkaran-pertengkaran yang sekalipun kecil tetap meletihkan, sayang sekali, perpisahan adalah jalan terbaik untuk mereka berdua.

“Sekalipun hubungan kami sudah berakhir, aku tetap perhatian dengannya. Ray, kurasa kau bisa membantunya.”

“Dalam hal?”

“Dia tidak puas dengan hidupnya.”

“Kau berkata bahwa dia ingin bunuh diri?”

“Lebih parah: ia beralih ke Freud,” kata Batsir.

Menurut pengamatan Batsir, Rei sudah memanfaatkan psikoanalisis secara kebablasan dengan menggunakannya untuk mencari keinginan tersembunyi dari setiap kesalahan, kebiasaan, dan keputusan kecil – tidak peduli apakah sedari awal keinginan tersembunyi itu ada atau tidak. Akibatnya, hasrat inilah yang menjadi realitas bagi Rei, bukan lagi maksud yang terpikirkan. Setiap kali ia ingin makan apel, contohnya, ia harus merefleksikan terlebih dahulu keinginan liar yang mungkin terbentuk atas pengalamannya tetapi mengalami represi oleh kondisi sekitar, sehingga ia menyadari pada akhirnya bahwa ia sebenarnya bukan mau makan apel melainkan ingin berjumpa kembali dengan ibunya yang sudah meninggal.

“Menebak pikiran seseorang saja sudah susah, sekarang dia menyuruh aku menebak apa yang tidak dia pikirkan,” kata Batsir.

“Kau berlebihan. Aku bertaruh dia juga tidak memintamu menebak.”

Ia menceritakan pertengkaran terakhir mereka, seminggu sebelum keberangkatan Batsir ke Singapura untuk pameran. Rei berkata, sebagai ganti dirinya karena tidak bisa menemani, Batsir harus membawa jimat keberuntungan kepunyaan Rei. Batsir mengejeknya yang sudah terlalu tua untuk percaya hal semacam itu, tapi ia menyatakan bahwa ia akan membawanya. Tiba-tiba Rei terdiam lama, kemudian berkata bahwa Batsir tidak perlu membawa jimat itu, bahkan ia minta agar jangan dikabari apapun selama pameran itu berlangsung.

“Dia harus menghentikan kebiasaan itu. Beri dia cara untuk menghargai hal-hal kecil di sekitarnya, tidak dengan memberi makna tersembunyi padanya, tapi dengan menerimanya. Itu sudah kodratnya hal kecil.”

Aku mengemasi laptopku tapi tidak menghabiskan minumku. Sebagai kata perpisahan: “Aku pikir sebesar apa pun seseorang, ia tetap tidak punya hak untuk menghakimi takdir orang-orang kecil.”

Aku tidak mengindahkan peringatan Batsir dan sekonyong-konyong Rei terlibat dalam skandal cerpen ‘Hangat’. Batsir mungkin benar dan itu wajar karena Batsir lebih mengenalnya daripada aku. Alih-alih merasa bersalah karena tidak mengindahkan peringatannya, aku lebih tertekan oleh perasaan kalah.

***

Suatu pagi aku terbangun dengan rasa pedih yang tertinggal akibat mimpi. Aku bermimpi melihat Rei kembali berpacaran dengan Batsir, dan ketika mereka bergandengan tangan aku ada di sana. Tidak jelas untuk apa. Mungkin aku ada di sana untuk berpisah, tetapi sampai bangun tidak ada dari kami yang mengucapkan selamat jalan.

Ketika sedang menyeduh kopi, teman SMA yang kutanya perihal Rei menghubungi. Ia berkata, “Aku telah mengecek bolak-balik buku tahunan. Aku juga sudah bertanya ke semua alumni. Tidak ada orang yang namanya Rei di sekolah kita.”

Aku mengucapkan terima kasih, tapi tidak benar-benar memikirkan perkataannya; mimpi itu masih jadi perhatianku.

Siapa lagi yang bisa memberikan makna atas mimpi itu selain orang yang kumimpikan sendiri? Aku menelpon dia dan tidak menyadari ketika suara nada tunggu telah beralih jadi suaranya.

“Aku ingin minta kau menjelaskan apa arti mimpiku.”

“Tentang apa?” ia tampaknya juga baru bangun tidur.

“Tentangmu.” Rei tertegun, suaranya jadi lebih jelas.

“Boleh. Bagaimana ceritanya?”

“Terlalu panjang untuk kuceritakan di sini. Bisakah kita bicara di apartemenmu?”

Ia diam sejenak sebelum berkata, “Baiklah.”

Pagi itu kopi yang kudidihkan tidak jadi diminum. Saat kembali di tengah malam, aku mencicipinya dan sadar pagi tadi telah merebus kopi yang sempurna seandainya sempat kurasakan. Kini ia telah dingin.

Last modified on: 4 Juni 2017

    Baca Juga

  • Kucing Mati dan Perihal Lain yang Nyaris Terjadi


    Nyaris menabrak kucing dan benar-benar menabrak kucing adalah dua hal berbeda. Yang pertama adalah kejadian biasa. Hampir semua pengendara—bermotor maupun tidak—pernah mengalami. Memang belum ada catatan statistik yang pasti. Namun,…

     

  • Nubuat


    Anakku yang kukasihi, di dalam tidurku semalam aku telah melihat malapetaka yang akan datang menimpa kita semua. Dunia akan diliputi ratap tangis dan kelaparan. Kita akan hidup dalam penderitaan. Langit…

     

  • Vladimir Hussein


    “Haram jadah,” si lelaki gendut mengomel dan meninju bangku perhentian bus. Vladimir tetap memandangi foto-foto di surat kabar, tidak mengacuhkan keterangan beritanya. Waktu bergerak lambat. Vladimir tak suka menunggu bus.…

     

  • Pohon Caringin dan Peri Teladas


    Di antara awan bergulung-gulung di kaki langit, ada puncak pohon caringin menyembul. Lalu, kudengar kau mempertanyakan cuaca yang tak lagi seperti pola-pola yang pernah diperkirakan. "Tidakkah akhir-akhir ini awan terbang…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni