(5 votes)
(5 votes)
Read 1303 times | Diposting pada

Sebastian Bejo yang Fenomenal

Doni Ahmadi
Oleh:
Doni Ahmadi
 Prosa
Sebastian Bejo yang Fenomenal http://www.wallpapers-web.com

 

“Malam itu, Dodit hanya membutuhkan guling, bukan agama ataupun wanita.”

Begitulah ending dari cerita setebal dua ratus lima puluh halaman karya Sebastian Bejo yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan oleh orang banyak di kalangan teman-teman kantorku apalagi, yang seingatku memiliki kegemaran membaca buku.

Cerita buatan Sebastian Bejo ini juga kerap dibicarakan. Bukunya sering kali nongol, baik berupa resensi serta ulasan di media cetak, maupun berupa foto dari orang-orang yang hanya pamer bacaan di media daring. Bahkan, seingatku awalnya  melalui gosip seliweran dari media yang kubaca, Sebastian Bejo ini bakal digadang-gadang sebagai penulis terbaik versi majalah Tempe.

Dan benar saja, gosip yang kubaca dari media-media kala itu mulai mencapai titik terangnya ketika buku Sebastian Bejo ini masuk dalam berbagai ajang nominasi penghargaan buku terbaik. Bukan hanya di majalah Tempe, tapi berbagai penghargaan lain pun turut menyertakan buku karya Sebastian Bejo ini.

Dan hasilnya sudah seperti pada prediksi awal, buku Sebastian Bejo pun memenangi seluruh penghargaan dari Anugrah Hari Prosa, Fiksi Terbaik versi majalah Tempe, Bujur Barat Literary Award, dan pelbagai penghargaan lainnya. Berkat berbagai penghargaan bergengsi macam itulah, tak pelak buku Sebastian Bejo ini pun mulai cetak ulang hingga ribuan eksemplar, baik yang orisinal maupun yang bajakan, baik dengan kualitas kertas yang tinggi mapun kualitas kertas yang rendah, baik dengan sampul yang lama maupun sampul yang baru, baik edisi bahasa Indonesia maupun edisi bahasa-bahasa lainnya. Oh iya, setelah mendulang sukses, buku Sebastian Bejo ini juga turut dialih bahasakan untuk disebarkan dan dibaca oleh orang-orang lain di belahan bumi lainnya, buku ini kurang lebih sudah tersedia dalam 45 bahasa.

Fenomena buku Sebastian Bejo inilah yang pada akhirnya membuatku kembali membeli buku dan –seingatku– aku membacanya sampai habis. Barangkali karena aku ingat betul bagaimana jalan cerita sampai pada ending-nya, makanya aku berasumsi begitu. Aku menarik kesimpulan, bahwa buku ini sebenarnya sederhana saja dan aku pun sepertinya sudah pernah membaca cerita yang macam begini. Hingga pada akhirnya, aku pun mulai menulis resensi tentang buku Sebastian Bejo yang fenomenal itu di blog miliku, yang biasanya dipenuhi dengan semacam memoar atau catatan harianku. Ini juga barangkali kelewat gila, belum genap satu menit aku mengunggah tulisanku, sudah ada puluhan komentar yang masuk, hingga puncaknya, sepuluh menit kemudian ulasan atas buku Sebastian Bejo itu sudah resmi diblokir dari jejaring internet. Tak sampai di situ, setelah tulisanku di situs resmi diblokir, para komentator itu turut mengirimkanku pesan melalui surat elektronik maupun akun sosial media. Maklum saja, dalam situs blog milikku itu juga turut kusertakan surat elektronik maupun akun media sosial milikku. Untungnya aku tidak pernah memasang foto asli, alias memasang gambar-gambar lain. Jadi aku tak perlu repot-repot untuk mengumpat agar tak kena amukan mereka.

Banyak dari mereka berkata bahwa aku hanya sok tahu dan tidak mungkin bisa menebak jalan ceritanya, lalu ada pula yang berkata bahwa buku itu sudah mengalami proses kurasi oleh para ahli dan mereka menuduhku sudah pasti keliru dan masih banyak lagi yang tak bisa kuceritakan semuanya. Maklum saja, ingatanku payah betul.

Sebetulnya tulisan yang kubagikan dalam blog pribadiku itu biasa saja, aku tidak menghina apalagi mencerca cerita milik Sebastian Bejo itu. Aku hanya menulis, bahwa aku pernah membaca cerita yang serupa dengan cerita Sebastian Bejo itu. Jadi aku mampu menduga jalan sampai akhir ceritanya dan cerita itu menurutku sederhana saja. Sialnya orang-orang itu (para komentator) tidak sependapat denganku. Mereka menganggap bahwa kadar estetika dari karya Sebastian Bejo ini sungguh luar biasa baru, bahkan belum pernah ada sebelumnya dan atas dasar inilah Sebastian Bejo begitu digandrungi dan digilai. Meskipun banyak yang melayangkan kritik kasar terhadap tulisanku itu, ada juga beberapa yang menanyakan kebenaran argumen dalam ulasanku dan buku apakah yang kumaksud serupa dengan cerita Sebastian Bejo itu. Sialnya aku sudah menjadi pelupa. Aku bahkan lupa buku apa yang kumaksudkan itu.

Hal yang menyebabkanku menjadi pelupa ini terjadi kira-kira dua tahun lalu. Waktu itu aku keluar dari kedai kopi –yang saat itu kurasa terlalu berisik– untuk mengangkat telepon dari ibuku, aku tidak sadar bahwa terdapat lubang galian di sekitar kedai itu, dan lagipula seingatku tidak ada tanda pemberitahuan, atau biasanya dipasangi cone untuk menunjukan sedang ada pekerjaan. Entahlah, aku yang lalai atau para pekerja galian itu yang luput, aku tidak mampu memastikannya betul. Hal itulah yang membuatku terjerembab dalam kubangan sedalam tiga meter yang membuatku pingsan sampai beberapa hari. Sebetulnya aku telah melupakan kejadian itu, namun setelah aku mengingat-ingat di antara ingatanku yang payah itu, aku menganggap kecelakaan itu sebagai kesialan berganda. Sebetulnya aku sangsi akan kejadiannya, tapi setelah mendapat berbagai penguatan atas peristiwa itu, aku jadi yakin bahwa itu memang kesialan yang berganda. Pertama, kencanku dengan seorang wanita yang seingatku baru kukenal saat itu kandas. Kedua, aku kehilangan ponselku dan beberapa barang bawaanku. Ketiga, peristiwa itu terjadi pada hari Jumat malam, ketika para pekerja pulang cepat dan baru bekerja dua hari kemudian. Dan puncaknya adalah aku yang kini menjadi pelupa. Entah karena kepalaku membentur sesuatu atau apapun penyebabnya, kini aku sudah terlanjur menjadi seperti ini.

Teman-temanku sering mengatakan bahwa aku kerap menuturkan cerita yang sama sampai berkali-kali, aku juga terkadang lupa dengan apa yang baru saja kukatakan, bahkan pernah sekali aku lupa dengan namaku sendiri. Dan hal inilah yang pada akhirnya membuatku tidak lagi membaca buku-buku seperti dulu. Maklum saja, aku pernah membaca buku sampai seratus halaman lebih dan saat bertemu seorang tokoh, aku lupa tokoh itu siapa, kok tiba-tiba muncul dan terkesan karib, pikirku. Dalam kebingungan itu, aku akhirnya mengalah dan memulai kembali membuka halaman-halaman yang sebelumnya sudah kubaca. Aku juga kerap lupa buku apa yang belum kuselesaikan pada hari sebelumnya, dan hal itu membuatku kembali memulai dari awal pada keesokan harinya. Dari situlah aku mulai menjalani terapi dan berobat ke dokter. Dokter berkata kepadaku bahwa aku harus sering-sering makan pisang agar tidak menjadi pelupa dan terapisku bilang bahwa aku harus membeli buku kecil dan sering-sering mencatat, dan berkat ia pulalah aku memiliki blog yang kuisi dengan semacam memoar dan catatan-catatan pribadi. Ah iya, sebetulnya pertanyaan dari komentator tadi itulah yang membuatku sibuk berpikir sekaligus mencari. Apakah buku yang kumaksudkan dalam resensiku itu, yang menurutku hampir sama dengan buku Sebastian Bejo itu. Sial memang menjadi seorang pelupa, bagiku, hal ini adalah kutukan terbesar.

Pada pencarian pertama yang kulakukan, aku tidak mendapatkan hasil sama sekali, malahan aku yang kewalahan. Jadi, saat itu aku pergi ke perpustakaan kecil milikku yang terdapat di bagasi. Aku mengambil berbagai buku yang dulunya pernah kubaca dan kini kulupakan, aku pun akhirnya membaca kembali meskipun hanya beberapa bagian saja dan tak kutemukan yang benar-benar mirip. Meskipun aku menemukan bahwa pada bagian awal cerita mirip dengan penulis "anu" yang aku lupa namanya atau dengan bentuk yang mirip dengan penulis "anu", dan sebagainya. Pencarian pertamaku itu terbilang gagal, keesokan harinya aku tidak melanjutkan pencarianku, namun itu bukan karena aku menyerah, tapi karena penyakitku ini. Dan aku baru kembali mencari setelah aku melihat buku catatanku. Di penghujung pencarianku yang aku sendiri lupa sudah sampai pencarianku yang ke berapa, aku menemukan sebuah kumpulan puisi milikku sendiri yang dahulu kalau tidak salah pada masa kuliah kucetak dan kubagikan kepada teman-teman kampusku saja untuk diskusi. Di situ, dalam biografi singkat, aku menulis dengan nama penaku, yaitu Sebastian Bejo. Ini aneh menurutku, aku juga lupa pernah memakai nama itu. Dan setelah kuingat-ingat, sebetulnya aku tak bisa menjamin ingatanku ini valid, terlebih tentang penyakitku itu. Pantas saja waktu itu, teman semasa kuliahku turut memberiku selamat atas novel pertamaku yang telah dicetak dan mendapat antusias. Sesungguhnya aku merasa aneh, seingatku aku tidak pernah menuliskan novel, apalagi menerbitkannya. Dan lagipula aku juga lupa apakah dia benar-benar teman semasa kuliahku dulu atau bukan, meskipun aku ingat aku pernah lulus dari jurusan sastra dan kini bekerja sebagai editor. Ucapan itu kuabaikan, aneh menurutku. Tapi barangkali buku puisi inilah yang membuatku tambah merasa aneh lagi. Semakin aku mengingat-ingat, semakin hilang ingatanku itu. Sial betul.

Akhirnya aku pun mencari tau siapa Sebastian Bejo itu. Dalam biografi penulis –yang terdapat dalam bukunya– yang kudapatkan hanyalah omong kosong (dalam buku itu ditulis: Sebastian Bejo, pengarang adalah seekor manusia yang kelak menjadi kupu-kupu, berteman dengan ulat bulu dan semut rangrang. Kini tinggal diantara rumah nanas dan trayek angkutan antar planet. Penulis bisa ditemui lewat nomor telepon atas prantara/izin editor buku ini). Foto beliau pun ternyata tidak ada dalam bukunya. Lalu kucari lewat daring, namun yang kudapatkan hanyalah foto sampul bukunya dan akun halaman penggemarnya saja. Bahkan, kuketahui lewat berita saat pemberian hadiah pun, Sebastian Bejo itu tidak muncul dan yang menerima penghargaan itu adalah perwakilan dari penerbitnya. Aneh menurutku, mana mungkin orang menolak untuk terkenal, apalagi Sebastian Bejo ini juga kerap menolak berbagai panggilan undangan seminar maupun siaran wawancara di televisi.

Sampai pada akhirnya aku mendapatkan sebuah fakta, yang juga sekaligus membuat khalayak terkaget-kaget, bahwa ternyata Sebastian Bejo itu hanyalah sebuah nama pena dan seorang yang menulis dengan nama pena itu adalah seorang wanita. Hal ini pun diamini oleh berita yang kutonton, dan berkat pencarian oleh beberapa penggemar fanatik untuk menemukan siapa sebenarnya Sebastian Bejo ini. Menurut penuturannya, wanita itu berasal dari Padang. Akupun akhirnya berhasil melihat wajahnya. Wajah wanita itu tak tampak asing, pikirku. Tapi aneh juga, kenapa aku bisa berpikir bahwa wanita itu tak asing. Oh iya, ngomong-ngomong tentang wanita Padang, aku jadi teringat pernah kencan dengan seorang wanita Padang yang aku sendiri lupa siapa namanya, yang kuingat, wanita itu memang berasal dari Padang, atau setidaknya lahir di bumi Sumatra. Entahlah, ingatanku memang payah betul. Ternyata pisang-pisang yang rutin kumakan itu, sama sekali tidak membantu banyak.

Oh iya, aku akan lanjutkan. Jadi lewat penuturan sang editor, katanya wanita itu –yang tak lain adalah Sebastian Bejo– dulu menitipkannya sebuah tas. Wanita itu awalnya bertanya kepada sang editor, apakah ia masih lama di tempatnya (yang tak lain adalah kedai kopi). Editor itu mengiyakan, dan wanita itu menulis nomor teleponnya jika tidak ada yang mengambil tas itu. Editor yang awalnya merasa ganjil dan curiga itupun akhirnya membuka tas yang dititipkan oleh wanita itu. Ternyata isinya tak lain adalah naskah cerita luar yang biasa. Tanpa pikir panjang editor itupun segera menghubungi penerbit dan wanita itu. Awalnya wanita itu tak mengangkat, namun atas inisiatif dari editor itu dan berbekal biografi singkat yang terdapat di dalam naskah serta nomor telepon dari si wanita, naskah itupun naik cetak. Editor itupun menceritakan bagaimana ia mengetik ulang semua naskah itu dari bentuk fisiknya yang berupa kertas berukuran A4 karena tidak diberikan softcopy naskah itu oleh si wanita. Dan begitulah awal ceritanya sampai pada meledaknya naskah cerita itu.

Sebetulnya aku kini sudah tak memikirkan pertanyaan yang dahulu membuatku kepikiran itu. Dan karena ingatanku yang payah itu, sepertinya aku juga tak sampai habis membaca cerita Sebastian Bejo itu. Aku hanya membaca sinopsis yang terdapat di belakang buku, membaca beberapa halaman awal dan tiba-tiba aku kepikiran dengan akhir ceritanya. Ternyata tepat dengan apa yang ada di pikiranku.

 ***

Aku sebetulnya berharap bahwa andai kisah ini kutulis, para pembaca kelak tidak akan berasumsi bahwa aku adalah penulis cerita yang mengagumkan itu. Jujur saja, bukanlah aku penulis cerita itu. Meskipun aku pernah menulis dengan nama pena Sebastian Bejo, namun bukanlah aku Sebastian Bejo yang dimaksud itu. Lagipula, orang-orang sudah tahu bahwa Sebastian Bejo itu ternyata adalah seorang wanita yang berasal dari Padang dan bukan aku. Terlebih, ingatanku itu memang betul-betul payah.

2017

Last modified on: 4 Juli 2017
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni