(2 votes)
(2 votes)
Read 897 times | Diposting pada

Sampai ke Bulan dan Kembali Pulang

A dad is flying a drone with his son A dad is flying a drone with his son www.nytimes.com

 

Aku merayakan ulang tahun anakku sehari setelahnya. Selalu sehari setelah atau sehari sebelumnya, dan tidak pernah di tanggal yang tepat. Selalu begitu. Kenapa? Karena hakim memutuskan bahwa anak itu harus bersama ibunya pada hari ulang tahunnya, meskipun ibunya seorang pecun dan pembohong –yang meniduri banyak cecunguk yang senantiasa tersenyum kepadanya di kantor tempat ia bekerja. Mungkin, seorang ayah tidaklah begitu penting.

Lidor (anakku) dan aku pergi ke mal bersama, perjalanan  kali ini tidak untuk membelikannya hadiah; terakhir kali ketika aku berada di sebuah toko mainan, aku membelikannya sebuah helikopter drone beserta remot kontrol. Delapan puluh sembilan dollar —delapan puluh sembilan!— dan tanpa baterai untuk remot kontrol di dalam kardus. Jadi (saat ini) kami pergi ke mal untuk membeli baterai, tapi yang kukatakan kepada Lidor adalah kami akan bersenang-senang. Apa lagi yang bisa aku katakan? Tidak hanya memberikan hadiah telat, tapi bahkan lupa mengecek apakah ada baterai di dalamnya? Bodoh!

Kemarin sudah kukatakan kepada pecun itu, agar aku datang ke pesta, hanya sepuluh menit paling; memberikan ciuman kepada anakku, mengambil foto dirinya ketika ia tengah meniup lilin, dan kemudian aku akan pergi. Nyatanya ia malah mengancamku dan mendesakku, mengirim pesan ke pacarnya yang seorang notaris itu saat dalam sambungan telepon —aku bisa mendengar dengan jelas saat ia tengah mengetik—, lalu mengatakan kalau sampai ia melihatku di sekitar rumahnya, ia akan membuat hidupku serasa di neraka.

Sebetulnya Lidor ingin aku menerbangkan drone dulu, baru sehabis itu pergi ke mal. Tapi tidak ada baterai di dalam remot kontrolnya, dan aku tidak ingin mengatakan itu kepadanya, jadi kukatakan saja, kita akan pergi bersenang-senang ke toko permen di lantai tiga, dengan disambut oleh balon helium berbentuk Spongebob Squarepants dan seorang perempuan yang bersorak, “Mari  sini, Mari sini! Belilah permen untuk anakmu!”, dan aku akan membelikan ia hadiah yang lain, apapun yang disukainya.

Lidor bilang mal ide yang bagus, tapi pertama-tama drone dulu. Aku pun berbohong kepadanya, bilang kalau mal tutup lebih awal sekarang. Beruntung, ia masih kecil dan gampang percaya.

Jam tiga siang, mal kelihatan padat dan sibuk. Demi ulang tahunnya, aku harus merelakan setengah waktu kerjaku. Melihat bagaimana sesaknya mal, sudah pasti hanya akulah satu-satunya orang yang bekerja di kota ini. Tapi Lidor (sungguh anak yang manis), ia tertawa sepanjang waktu, tidak pernah mengeluh, bahkan ketika kami harus menunggu antrian yang terasa seperti selamanya hanya untuk memasuki tempat ini.

Di tangga eskalator, ia ingin sekali naik dengan menggunakan tangga untuk turun, dengan tujuan bersenang-senang, dan aku setuju saja dengan kemauannya. Hal ini menjadi hal menarik buat kami. Kau harus lari secepat mungkin agar kau tidak terseret, harus merasakan ketegangan sepanjang waktu untuk tidak jatuh dengan posisi pantat terlebih dahulu. Tiba-tiba, Seorang nenek bungkuk yang datang dari arah berlawan, mencoba mendebati kami, mengatakan kenapa kami tidak lewat jalur yang seharusnya, layaknya orang lain. Dasar perempuan bau tanah, aku bergeming saja, apakah bertingkah untuk menyenangkan anak sendiri itu mengganggunya? Aku tidak menjawab pertanyaan perempuan itu.

Saat kami sampai di toko permen lantai tiga, perempuan (yang biasanya menyabut) dengan gigi kuning tidak berada di sana, hanya ada pemuda jerawatan yang kurus seperti sumpit. Kukatakan kepada Lidor, “Ambillah apa yang kamu mau. Tapi hanya satu saja, oke? Apapun itu, bahkan yang harganya jutaan shekel sekalipun, Ayah akan belikan untukmu, Ayah janji. Jadi apa yang kamu mau?”

Anak itu kelihatan senang, berjalan mengelilingi toko seperti pecandu di sebuah apotek, melihat ke tumpukan mainan di rak, mengambil beberapa, dan mulai memutuskan mana yang ia pilih. Sementara itu, kugunakan waktuku untuk membeli sejumlah batere jenis AAA. Si pemuda jerawatan tidak segera membungkusnya, bahkan ketika aku sudah mengeluarkan uang di hadapannya. “Apa lagi yang kita tunggu?” tanyaku.

“Tunggu anak itu memilih,” katanya, sambil mengeluarkan permen karet dari mulutnya, “dan aku akan bungkus sekalian.” Dan sebelum aku hendak mengatakan sesuatu, ia mulai sibuk dengan handphone-nya.

“Pisahkan sajalah,”  kataku agak memaksa, sambil menaruh batere tadi ke kotak yang berisikan drone. “Sebelum anakku kemari. Ini kejutan untuknya.” Si pemuda jerawatan pun membungkusnya, dan laci mesin kasir terbuka dengan mengeluarkan bunyi Ding. Ia tidak punya lembaran uang kecil untuk memberikan kembalian kepadaku, jadi ia memberikanku sejumlah koin sebagai kembalian.
Kemudian Lidor datang ke arahku. “Apa yang kau beli, ayah?”

“Bukan apa-apa,”  kataku. “Hanya beberapa permen karet saja.”

“Mana?”  tanya Lidor.

“Sudah aku telan.”

“Tapi bukannya permen karet nggak boleh ditelan,” katanya. “Nanti bisa nempel di perut.”

Si pemuda jerawatan terbahak dengan cara yang bodoh.
“Kamu mau hadiah atau apa?” tanyaku, mengganti topik. “Ayolah, ambil sesuatu sana.”

“Aku ingin itu!” kata Lidor, menujuk mesin kasir. “Supaya aku bisa bermain dengan Yanir dan Lyri, dan kita akan punya toko permen.”

“Mereka tidak menjual mesin kasir,” kataku. “Ambil yang lain saja.”

“Aku ingin mesin kasir itu!” Lidor mulai memaksa. “Ayah telah berjanji.”

“Maksud Ayah, ambil barang yang dijual.”

“Ayah bohong!” Lidor berteriak dan kemudian menendang kakiku sekuat tenaganya. “Seperti apa yang ibu bilang, Ayah bisanya cuma banyak omong.”
Tendangannya itu benar-benar sakit, dan ketika aku merasakan sakit, biasanya aku langsung naik darah. Tapi hari ini aku berusaha mengendalikan diriku, karena aku menyayangi anakku lebih dari aku menyayangi apapun, dan karena hari ini adalah beberapa hari spesialnya, hari ulang tahunnya. Maksudnya, hari ini adalah hari setelah hari ulang tahunnya. Sial!

“Berapa banyak yang kau mau untuk mesin kasir itu?” tanyaku kepada si pemuda jerawatan, dengan gaya rileks yang aku buat sebisa mungkin.

“Apa maksudmu? dasar bocah umur enam tahun, memangnya bisa apa?” tanyanya dengan senyum menjijikkan. “Kau tahu kalau benda ini tidak dijual!” Ia berkata “enam tahun” seolah Lidor adalah anak bodoh atau istilah lainnya, dan aku sadar kalau kini ia telah menjebakku. Aku harus menentukkan –sependapat dengan dirinya atau dengan Lidor.

“Seribu shekels,” kataku sambil mengulurkan tangan. “Kita sepakat sekarang dan aku akan turun ke ATM lalu kembali dengan uangnya.”

“Ini bukan punyaku, aku hanya kerja di sini.” katanya.

“Punya siapa? Perempuan dengan gigi kuning itu?” tanyaku.

“Iya,” angguknya. “Tirza.”

“Ya sudah, sambungkan aku padanya,” kataku. “Aku ingin bicara. Dengan seribu shekels, ia akan mendapatkan mesin kasir yang baru dan sudah pasti lebih bagus.”

Lidor melihatku seperti aku adalah pahlawan super atau semacamnya. Tidak ada yang lebih menakjubkan ketika anakmu melihatmu dengan tatapan seperti itu. Ini lebih baik ketimbang liburan di Thailand. Ini lebih baik daripada diberikan blowjob. Ini lebih baik daripada harus menghajar orang yang datang menantangmu. “Baiklah, panggil temanmu,” kataku sembari sedikit mendorongnya. Bukan karena aku marah tentu saja, melainkan karena ia masih anak-anak.

Si pemuda jerawatan menekan tombol dan membelakangi kami, berbicara dengan sedikit berbisik ke benda itu. Kuikuti geraknya, Lidor di belakangku. Ia kelihatan bahagia. Ia sudah bahagia sebelumnya, ketika aku mengajaknya ke sini, tapi sekarang kuyakin ia seperti terbang.

“Ia bilang tidak.” Pemuda jerawatan menggerakkan bahunya seolah-olah kalimat tadi berasal dari Tuhan.

“Berikan kepadaku,” tanganku menadah ke arahnya.

“Dia bilang, toko tidak menjual mesin kasir,” katanya. Kurebut langsung handphone-nya, lalu kujauhkan benda itu darinya. Hal itu membuat Lidor tertawa. Aku senang membuat Lidor tertawa. Kau akan tahu rasanya; seperti dicubit, lalu dipanggang.

“Tirza,” kataku memulai. “Hai ini Gabi; pelangganmu yang baik hati. Kau memang tidak mengenal namaku, tapi kau akan tahu bagaimana wajahku dalam beberapa detik. Jadi begini, aku ingin sekali kau membantuku dalam hal ini. Seribu shekels, kau tidak hanya bisa membeli mesin kasir baru, tapi aku berhutang banyak kepadamu.”

“Terus bagaimana cara kita mengatur uang seribu itu, goblok?” Tirza bertanya dari ujung pembicaraan. Ia nampak seperti berada dalam keramaian; susah payah aku mendengar ia bicara.

“Ya jangan diatur,” kataku. “Memangnya aku ini apa? Pegawai pajak? Seribu shekels meluncur langsung ke kantungmu. Ayolah! Apa keputusanmu?”

“Berikan ia hanphone-nya,” katanya dengan rasa tidak sabar.

“Pemuda itu?” tanyaku

“Iya!” ia terdengar marah sekali. “Sambungkan ia denganku.”
Kuserahkan handphone itu kepada si pemuda jerawatan. Ia kemudian bicara kepada perempuan itu, lalu mematikan sambungan. “Ia bilang tidak,” pemuda itu memberitahuku. “Maaf.”

Lidor memegang tanganku. “Mesin kasir,” katanya dengan nada yang paling serius. “Ayah sudah berjanji.”
“Dua ribu,” kataku kepada si pemuda jerawatan. “Telepon dia lagi dan katakan kepadanya akan kubayar mesin kasir itu dua ribu. Seribu sekarang, seribu sisanya besok.”

“Tapi,” ia memulai.

“Aku tidak bisa memberikan padamu dua ribu langsung dalam sekali,” kupotong kalimatnya. “Aku akan bawa seribu sisanya besok pagi. Kau tak perlu khawatir, akan kuberikan juga hari ini SIM-ku sebagai jaminan”

“Ia bilang untuk tidak menelponnya lagi,” katanya. “Sekarang ia tengah berkabung; ayahnya meninggal. Ia tidak ingin ada yang menganggunya.”

“Aku juga turut berduka,” kataku sambil memegang bahu sebelahnya. “Jadi tolong pikirkan. Dua ribu itu uang yang banyak. Jika ia mengetahui tawaranku ini dan kau bilang tidak, ia akan menangis sekali lagi. Dengarkan hati nuranimu –Tidak sepadan kalau kau menciptakan masalah dengan hal-hal kecil seperti ini.”
Kupencet saja tombol pembuka mesin kasir itu, dan Bam, terbukalah mesin itu. Ini pelajaran yang kudapat saat aku bekerja di Burger Ranch, sesudah aku menempuh masa militer. “Ambil uangnya,” kataku, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Maka kukumpulkan uang di mesin itu dan menaruh uang tersebut di kantung celana jinsnya.

“Toko manapun tidak menjual mesin kasir,” katanya.

“Siapa peduli!” kataku. “Percaya saja, ini kesepakatan yang manis. Sekarang kau tunggu di sini, dan aku akan kembali dalam lima menit dengan seribu shekels, supaya kertas yang ada di kantungmu itu tidak kesepian.”

Sebelum ia bisa menjawabnya, aku sudah terlanjur meraih tangan Lidor dan mengajaknya turun ke ATM. Mesin ATM ini kadang membuatku kerepotan juga, tapi saat ini ia mengeluarkan seribu dan dua ratus shekels tanpa membuatku repot sama sekali.

Ketika aku dan Lidor kembali lagi ke atas, laki-laki gendut berkumis tengah mengobrol dengan si pemuda jerawatan. Aku tahu lelaki itu, ia pemilik toko es krim yogurt di sebelah. Ketika si pemuda jerawatan melihat kami datang, ia langsung menunjukku. Aku mengerling ke arahnya dan menempatkan uang seribu di atas meja tokonya. “Ini,” kataku. Kuambil bukti pembayaran dan kuletakkan bukti itu ke dalam kantungnya.

“Biarkan dia,” kata si lelaki gendut. “Dia masih bocah.”

“Tidak bisa,” kataku. “Aku sudah berjanji kepada anakku. Ini hari ulang tahunnya.”

“Selamat ulang tahun,” kata lelaki gendut sambil mengelus rambut Lidor tanpa melihatnya. “Mau es krim, sobat? Hadiah dariku—emm, satu cup dengan campuran krim dan sirup coklat serta permen berbentuk beruang di atasnya.” Saat itu Lidor memang berbicara dengannya, tapi matanya yang kecil itu menatap tajam ke arahku.

“Aku ingin mesin kasir,” Lidor berkata sambil menjauhkan dirinya dari lelaki gendut itu dan malah menekan tubuhku. “Ayah sudah berjanji.”

“Apa yang akan kau lakukan dengan mesin kasir?” lelaki gendut bertanya tapi tidak menunggu jawaban dariku. “Kami juga punya satu, tapi pegawai pajaklah yang membuat kita menggunakannya. Mesin itu tidak ada gunanya. Hanya bisa bikin berisik saja. Apa yang akan kau katakan? Ayahmu mengantarmu ke toko komputer di lantai dua dan membelikanmu Xbox. Dengan dua ribu shekels, kau akan mendapatkan Xbox yang bagus, dengan Kinect dan yang lainnya.”

Aku tidak bilang apa-apa. Kalau boleh jujur, aku sebenarnya suka dengan idenya, dan ide itu akan menyelamatkanku dari masalah ini, dan juga dari Lilia (sang pecun), begitu ia tahu aku membawanya pulang ke rumah. Karena kalau sampai Lilia melihat anak itu dengan mesin kasir, perempuan itu pasti akan memulai perangnya lagi.

“Jadi bagaimana?” tanya lelaki gendut itu kepada Lidor. “Xbox yang terbaik. Balapan, kejar-kejaran, apapun yang kau inginkan.”

“Mesin kasir,” kata Lidor, memeluk erat kakikku.

“Lihatlah malaikat lucu ini,” kataku sambil memberikan uang kepada si lelaki gendut. “Bantu aku untuk menyenangkannya. Ini ulang tahunnya.”

“Ini bukan tokoku,” protes si lelaki gendut. “Aku bahkan tidak kerja di sini. Aku hanya mencoba bantu.“

“Tapi kau tidak berhasil,” aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, hampir bersentuhan.

“Aku harus kembali ke tokoku,” si lelaki gendut berpaling dan mengatakan kepada si pemuda jerawatan, “jika dia mencoba mengacau, lapor polisi,” lalu kemudian pergi. Sungguh seorang pahlawan gendut!
Aku menaruh seribu shekels di atas meja toko, melepaskan mesin kasir dari tempatnya, dan kemudian menggulung kabel. Saat Lidor melihatku melakukan itu, ia bertepuk tangan.

“Kutelepon polisi!” kata si pemuda jerawatan, dan memulai memencet nomor dengan sekuat tenaga. Kurebut benda itu darinya.

“Kenapa?” tanyaku. “Ini hari ulang tahunnya. Semua orang senang, jadi jangan kau kacaukan.” Si pemuda jerawatan melihat ke handphone-nya, yang sudah berada di tanganku, dan kemudian ia melihatku sebentar, lalu lari keluar dari toko. Aku menaruh handphone si pemuda tadi di atas meja dan mengambil mesin kasir itu. “Sekarang kita akan pergi dari sini,” kataku kepada Lidor. Suaraku penuh kemenangan jika ini adalah sebuah pertandingan, aku pasti akan mengatakan “Kita akan ke rumah dan tunjukkanlah kepada Ibumu, apa yang kau dapat.”

“Jangan,” kata Lidor, menghentakkan kakinya. “Pertama kita terbangkan dulu helikopter, lalu habis itu kita pulang. Ayah sudah berjanji.”
“Iya,” kataku dengan kejantanan seorang lelaki. “Tapi mesin ini berat lho. Ayah tidak bisa membawanya dan menerbangkan helikoptermu di saat yang bersamaan. Sekarang mesin kasir dan besok, sesudah pulang sekolah, kita akan menerbangkan helikopter kita di taman.”
Lidor kelihatan sedang berpikir selama beberapa menit. “Sekarang helikopter,” katanya “dan besok mesin kasir.” Dan sesaat kemudian, si pemuda jerawatan muncul kembali di toko, ditemani seorang satpam.

“Kau pikir kau mau melakukan apa?” tanya si satpam. Ia pendek, dengan rambut lebat, kelihatan seperti  seekor anjing jenis pinscher daripada seorang satpam.

“Tidak melakukan apa-apa.” Kuberikan kedipan kepadanya dan menaruh kembali mesin kasir ke tempatnya. “Hanya sedang membuat anak ini tertawa. Sekarang hari ulang tahunnya.”

“Selamat ulang tahun, nak,” kata satpam itu kepada Lidor, sebagaimana ia tidak bisa ceroboh. “Semoga kau mendapatkan banyak kesenangan. Tapi sekarang, kau dan ayahmu harus segara meninggalkan tempat ini.”

“Baik,” kata Lidor. “Sekarang kami harus pergi dan menerbangkan helikopter kami.”

Di taman, Lidor dan aku bermain dengan helikopter drone. Dalam brosurnya, ada catatan bahwa benda ini bisa terbang sejauh empat puluh meter, tapi setelah menempuh lima belas meter, helikopternya tidak bisa menerima sinyal dari remot, baling-balingnya berhenti berputar, dan kemudian jatuh. Lidor menyukainya.

“Siapa yang paling sayang Lidor di dunia ini?” tanyaku, dan Lidor menjawab, “Ayah!”

“Dan bagaimana Lidor sayang ke ayah?” aku bertanya sementara helikopter berputar di atasnya, lalu ia berteriak, “Sangat sayang!”

“Sampai ke langit,” aku berteriak. “Sampai ke bulan dan kembali pulang!”

Handphone-ku bergetar dari dalam kantung, tapi kuabaikan saja. Sudah pasti itu Lilia si pecun. Di atas kami, helikopter itu menjadi mengecil dan semakin kecil. Dalam beberapa detik, benda itu sudah keluar dari jarak pandang dan akan jatuh. Kemudian kami berdua akan berlari di atas rerumputan dan mencoba menangkapnya. Jika Lidor mengalahkanku dalam perlombaan ini lagi, ia akan tertawa dengan tawa yang membunuh itu. Tak ada yang lebih baik di dunia yang bau ini ketimbang tawa anak kecil. ***

Catatan: Cerpen ini ditulis dengan menggunakan Bahasa Ibrani oleh Etgar Keret, lalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Sondra Silverston dengan judul To The Moon and Back, dan kemudian dimuat di newyorker.com, 26 September 2016. Terjemahan ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari sumber terakhir yang disebutkan.

________

Etgar Keret, lahir pada tahun 1967, merupakan cerpenis, komikus, dan penulis skenario kelahiran Israel. Ia menempuh studi di Ben-Gurion University of Negev dan University of Tel Aviv, serta memiliki dua kewarganegaraan, yakni Israel dan Polandia. Karya-karyanya antara lain The Nimrod Flipout (2003), The Bus Driver Who Wanted To Be God (2008), The Seven Good Years (2015). Pada tahun 2010, ia diundang ke Ubud Writers dan Reader Festival.

Last modified on: 8 Juli 2017

    Baca Juga

  • A Room of One's Own: Ayu Utami


    Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, "Kenalin, ini…

     

  • Sepuluh Menit Terakhir dan Satu Menit Setelahnya


    Satu menit terakhir.Dari mana datangnya maut? Dari waktu atau dari Izrail yang dari tadi telah aku rasakan kehadirannya? Sayap kelam dengan mata menyalang yang telah menelanjangi keberanianku. Siapa yang akan…

     

  • Perkenalkan. Ia Penulis.


    Perkenalkan. Ia. Seorang pria yang terobsesi. Untuk jadi penulis. Pria yang bingung. Bingung memulai tulisan. Kalimat utama sulit. Sungguh sulit. Begini aja! Eh, kayaknya enggak oke. Kalau begini? Hmm kesannya…

     

  • Sebastian Bejo yang Fenomenal


    “Malam itu, Dodit hanya membutuhkan guling, bukan agama ataupun wanita.” Begitulah ending dari cerita setebal dua ratus lima puluh halaman karya Sebastian Bejo yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan oleh orang…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni