(1 Vote)
(1 Vote)
Read 809 times | Diposting pada

Ritual Pemakaman

Claudia
Oleh:
Claudia
 Prosa

 

Pagi telah lama bersiaga ketika kutuntaskan urusan antara lidah dan kerongkongan dengan lepuh panas teh aroma melati. Pagi yang wajar, kecuali fakta bahwa pagi ini adalah langkah-langkah awal yang dilayangkan oleh hari Minggu: sebuah kabar gembira bagi karyawan dan karyawati kantoran yang telah dengan rapi dan telaten membagi hari-harinya antara hari kerja dengan hari istirahat. Telah kumulai hari dengan rapi, maka kulanjutkan sesuai urutan dan keharusan –kuperiksa tiap-tiap surat yang mampir, tiap-tiap tagihan dan iklan.


Rutinitas biasa pada pagi hari biasa dalam hidup biasa seorang wanita karier yang juga biasa saja – tetapi jangan sampai berani kalian katakan membosankan, karena apa bedanya hidupku dengan hidup kalian? Sama biasanya, sama bosannya! Kalian yang mengadopsi spontanitas sebagai salah satu sifat dan bakat lahir barangkali tidak akan mengerti polaku, maka tak perlu ribut mengomentari. Jajaran aktivitas adalah wajib hukumnya untuk menjadi runtun, rumpun, dan rukun. Jangan sampai saling berselisih, apalagi saling tindih! Tiap aktivitas perlu memiliki tindak lanjut yang sesuai agar tidak menjadi biang kerok yang berpotensi mengacaukan satu hari sempurna.

Maka – seharusnya dapat kalian tebak sendiri – betapa terkejut aku menemukan sepucuk surat yang asing. Ah, barangkali itu penggambaran yang salah, sejujurnya keterkejutan baru muncul di detik saat mataku bertubruk pandang dengan isi surat itu: sebuah “Apa kabar?” yang sederhana, tulisan tangan yang begitu buruk, yang begitu menyiksa tiap pasang mata manusia. Dan kemunculan dari keterkejutanku ini bukanlah dirangsang oleh kecanggungan yang diciptakan oleh ruang putih polosnya kertas dengan sebaris kesederhanaan dari sebuah “Apa kabar?”, melainkan oleh kenyataan lain yang disodorkan dari surat ini: aku begitu mengenal pengirimnya.

Seorang laki-laki yang menebus ruang dan waktu. Kepalaku disesaki oleh desakan beribu pikiran dan perasaan yang menggebukan kilasan kenangan di salah satu sudut ingatan, tetapi barangkali untuk merangkum segala kunyatakan saja keterkejutan, seperti seorang bayi yang baru lahir mengumpat di depan wajahku. Sesungguhnya, jika begitu perumpamaannya, aku mengharapkan satu dirijen umpatan bayi sudah banjiri tiap sel dalam tubuhku, tetapi apa kontinuitasnya untuk sebuah pagi? Dan lebih dari itu, apa kira-kira tindak lanjut yang sesuai dan pantas untuk laki-laki yang telah kedaluwarsa selama 10 tahun?

Kuperkenalkan surat itu kepada api, dan segeralah mereka berkawan.

* * *

Pagi telah lama bersiaga ketika para hadirin yang menyesaki ruang dengan balutan busana serba hitam telah bersiap dengan air matanya masing-masing. Aku sendiri tidak merencanakan untuk menangis, ketika itu orang-orang yang dapat kutangkap dengan mataku telah berjaga dengan sapu tangan atau tisu di tangan. Kuperhatikan sebagian orang tengah sibuk mengenakan mimik paling nelangsa yang mereka miliki – membuatku merasa bersalah karena tidak memilih untuk berduka – sedang sebagian yang lain telah mengambil ancang-ancang untuk menangis sejadi-jadinya. Matahari urung tandang, barangkali malu menampakkan air matanya yang hangat di tengah kerumun orang, “Ia pria yang baik,” suatu kali ia katakan kepadaku dulu.

Rasa bersalah itu semakin membuatku merasa jauh dari nyaman: ia menusuk-nusuk tengkuk yang kubiarkan lengang dengan satu-dua helai rambut lolos dari sanggul. Kubenarkan posisi dudukku, agak ke kiri, agak ke kanan, tetapi semakin lama tengkukku malah menjadi semakin panas dan membara, seperti hendak mencekik jenjang leher. Apakah ini rasa bersalah, ataukah hanya dalih agar aku memiliki alasan yang valid untuk lari dari sini? Sedetik itu gendang telingaku disiksa oleh denging yang luar biasa, memaksaku untuk segera bangkit menyusuri tiap-tiap mimik nelangsa, lantas dengan lekas meninggalkan ruang itu. Baju terusan hitam yang kukenakan terancam kuyup oleh peluh di lekuk tubuhku.

Dengan tertunduk, telah akan kutujukan gegas ke arah tempat mobil kuparkir, jika saja laki-laki itu tidak di sana – di ujung lorong dengan setelan rapi yang sama sekali tidak sepadan dengan wajah kusamnya. Komat-kamit ia mengulang-ulang frase-frase yang puitis bunyinya, kuperkirakan untuk pidato nanti: aku terpana. Rambut ikalnya memerangkap tuju tanganku, betapa ingin kuraih! Aku begitu yakin dengan keterpanaanku hingga tiba-tiba laki-laki itu mengalihkan matanya ke arahku untuk mengenal siapa sosok yang berbagi lorong dengannya. Barulah aku sadar, melalui matanya, bahwa tepatnya aku terpesona.

Gawat, aku sudah tidak tahan lagi.

“Hai.”

* * *

“Apakah kau bahagia sekarang?”

“Apa itu bahagia?”

“Entahlah.”

Kami terpisah oleh hening yang cukup lama – aku menyadari arah matanya mengikuti jemariku kala kuselipkan helai rambutku yang linglung ke balik telinga – hingga akhirnya kuputuskan untuk menjawab dengan hati-hati dan penuh kalkulasi.

“Bagiku kebahagiaan adalah surat yang kedaluwarsa. Adalah masa yang canggung dan tidak bijaksana.”

“Oh, “ ia berdeham sembari menata ulang letak dasinya, antara menyesal dan lega.

“Siapa kau? Siapa mata di balik ikal rambut itu? Reka aku!”

“Aku...,” ia hela napas yang cukup panjang lantas memberikan kalimat ini sebagai jawaban tanpa putus barang satu napas pun: “...Plato yang kembali menghadap Socrates dengan telanjang tangan. Maka begitu kau bunga paling indah yang kutinggalkan di bukit.”

“Lantas pun begitu tetap tak kaukabari aku perihal keinginanmu untuk mati?!”

“Kebutuhan, Puan, bukan sekadar keinginan! Lagipula untuk apa? Siapa kita ini? Sekadar dua orang asing yang saling tak mengenal.”

“Tengok aku, tengah tangisi seorang asing yang kedaluwarsa!”

Kulihat, di balik tirai rambut, matanya yang tajam melembut setenang embun, seperti hendak merengkuh dengan begitu. Kami dua orang asing yang canggung menghadap satu sama lain tanpa saling berbagi pandang, begitu dingin memeluk diri masing-masing. Kami menjadi semakin jauh dan memutuskan untuk menyudahi saja yang tak pernah dimulai – ia lebih dulu melangkah menuju ruang perkabungan, sedang dengan begitu lama aku menimbang-nimbang rasa apa yang paling pantas kukenakan sebelum akhirnya kembali memasuki ruangan tersebut. Masa lalu maupun masa kini, hidup maupun mati, hanya rasa enggan yang perih yang kami melulu tuai. Angin mengundang lebih banyak lagi gemawan hingga redup benar pagi itu.

Dari ambang pintu, aku melihat laki-laki itu dengan jelas. Di atas podium ia berpuisi – apa pun definisi yang ditimpakan atas orasi tersebut, aku berkeras hati untuk tetap mengenalinya sebagai puisi. Kedua tangannya sesekali terbuka, dengan heroik seperti Nabi Musa, mengemukakan dengan cara paling sederhana yang ia mampu perihal kehidupan.

Perihal keadilan dan kebajikan, perihal manusia, perihal cinta, perihal apa-apa yang terlewat dari akal manusia dan dari penjelasanku. Tetapi mimik-mimik yang hadir di sana justru menjadi luntur – menjadi dungu oleh karena tidak mengerti – menanggalkan keberkabungan menjadi bingung. Hampir kuterkikik karena geli jika saja laki-laki itu tidak menutup aksi musikalisasi puisinya dengan membanting mik.

“Yah, begitulah, tetap saja aku mati, ya. Nah! Tepat begitu! Tak ubahnya nyamuk menyebalkan yang baru saja nyonya itu pukul! Atau ah, coba rasakan, seperti oksigen yang terbakar dalam paru-paru kalian, walaupun yah, kenyataannya aku masih berdiri di depan pelupuk mata kalian – bukan berarti aku mati pura-pura. Tetapi tetap saja, ya, indah sekali. Terima kasih atas kunjungan kalian, aku begitu tersanjung. Aku harap gitarku dijual dengan layak, tidak lewat e-bay tidak jelas begitu. Semoga Tuhan memberkati,” ia keluarkan sepuntung rokok dan segera menyulutnya dengan pemantik. Cantik sekali.

“Oh, mengapa kau mati begitu lekas? Apa yang membuatmu bergegas!” Ah, lihat, mulai ada saja perempuan yang mendekatinya. Memang ia laki-laki yang baik, tapi ah, sial. Perempuan-perempuan cari muka.

“Aku pasti akan merindukan musikmu!”

“Lihat dirimu, begitu kurus! Harusnya aku lebih baik kepadamu, sekarang lihat, kau harus mati dengan jasad sekerontang kerangka.”

“Apakah permintaan maaf sudah terlambat untuk kuucap? Aku begitu menyesal, sungguh.”

“Terima kasih untuk semuanya!”

“Jangan lupakan aku di akhirat nanti, kau dengar?”

“Sial, kau belum membayar tagihanmu, bodoh.”

......

“Dengarkan aku!!”

Udara menjadi tenang dan diam, segan untuk bergetar. Begitu pun debu dan lidah. Kukunci mata laki-laki itu, yang tengah tercenung luar biasa takjub terhadap aksiku. Sedikit kutersenyum remeh penuh kemenangan. Detik berikutnya kugegaskan langkah ke arahnya dengan – jika aku tak keliru menafsirkan rasa – marah, yang kemudian dengan segera meluruh menjadi rindu yang bulat dan biru.

“Kau! Kau boleh saja mengaku mati, tetapi ini masih dunia orang hidup. Kemarikan bola matamu, pandang aku! Tidak adakah pesan satu-dua untukku? Ingin kabur seperti dulu? Begitukah? Kau takut dengan kedekatan dan kehangatan yang kauciptakan, tetapi kau jelas salah! Nyatanya kau tidak ciptakan apa pun: kau terjebak dalam permainanmu sendiri. Gila, aku begitu membencimu!

“Tunggu, kau kira aku cukup bicara? Menurutmu hanya segitu selama ini aku tersiksa? Betapa jantungku ingin mengoyak dirinya sendiri setiap melihatmu jingkrak-jingkrak seperti bocah berumur 17 tahun di atas panggung yang kumuh dan penuh buluk, pura-pura menganggapku sebagai perempuan-perempuan lain. Kau begitu menjijikan, kau tahu?”

Kuambil napas dalam satu tarikan yang panjang, cukup panjang untuk mengempaskan rumah jerami babi kecil. Aku serigala yang amuk, berpuasa demi babi yang mati. Jangan menangis, perempuan, kuhibur diriku sendiri. Ruangan ini tak cukup kedap untuk menahan raunganku dan tak cukup sabar untuk menghadapi cakaran-cakaran yang akan kulemparkan jika sampai aku lepas kendali. Kalian pasti mengira aku gila, tetapi kalian cukup salah dalam hal ini. Tak ada orang gila yang cukup sabar untuk menahan mengoyak jantungnya sendiri selama 10 tahun. Masuk akal?

“Kau orang asing kegemaranku. Mengapa menunggu begitu lama, mengapa begitu bergantung kepada maut? Tuan sok tahu, barangkali kau takut akan aku, tetapi jujur sajalah. Kau terlalu membutuhkanku, begitu pun aku. Kau sudah mati, apalagi yang kausangkal, apa yang kautakuti? Patahkan sumpahmu kepada maut, gamit tanganku dan lari!”

Ya, mari lari. Mari!

* * *

Dari ambang pintu, aku melihat laki-laki itu dengan jelas. Andai aku lebih berani, andai aku lebih romantis. Tetapi coba periksa jantungku yang belum juga terkoyak, masih juga berdetak, maka takutlah aku. Aku memilih untuk memandang dan diam, agar ia tidak telat dimakamkan dengan pantas. Barangkali aku menyesal atas penantian yang sia-sia, barangkali aku mengharapkan kemungkinan-kemungkinan yang akan lahir dari pemberontakan terhadap rutinitas dan kepantasan. Barangkali aku merindukan sentuhan, merindukan gejolak dan afeksi yang pernah terbagi lewat pancar mata, lewat gamit jemari, lewat napas yang satu frekuensi. Barangkali dalam medan ini kami pernah mengenal cinta, tetapi lantas apa? Lantas tiada apa. Maka tak usah ada apa.

Cinta adalah senyawa yang destruktif. Senyawa yang mampu, dengan cara tak menentu dan takaran tertentu, memberikan direksi yang keliru kepada kereta api-kereta api di seluruh muka bumi yang tengah melaju secara terjadwal sesuai kebutuhan dan kepantasan masing-masing. Senyawa yang mampu melahirkan beribu kecelakaan, beribu eksplosi, beribu kematian, beribu yang lebih parah dan pasrah daripada kematian: penyesalan. Tetapi tidak padaku. Karena aku telah memilih untuk tidak.

Maka dengan sopan dan sepantasnya aku maju, setelah laki-laki itu telah masuk ke dalam peti matinya yang sederhana, bahkan menurutku agak memberikan kesan lapuk dan bobrok. Bahkan aku dapat membuat peti mati yang lebih baik! Setelah lama menyaksikan dengan kaku dan gagu orang-orang memberi wewangi dan mawar putih, kini giliranku bertukar pesan-pesan terakhir dengan jenazah yang membujur cantik di hadapanku.

Kuletakkan mawar putih dan wewangi seperlunya, ketika kusadari mata itu lagi-lagi mengikuti gerak jemariku. Kurasa, walaupun tak ada orang yang mampu melihatnya, kami tengah berdansa kala itu, lewat jemari dan mata, melewati kembang, menyusuri udara, merambat dengan pelan, lembut, namun pasti menuju masing-masing jantung. Kurasakan kekosongan. Ia telah benar mati, apa yang kuharapkan? Laki-laki itu, hingga akhir, sesungguhnya tak dapat menebus ruang dan waktu. Tidak pun aku.

“Bagaimana rasanya?”

“Mati? Hmm. Agak sempit. Kurasa kotak ini membuatku terlihat bodoh.”

Kami terkikik, “Kau tampak baik-baik saja.”

Kuraih dua keping koin perunggu penuh ukiran yang tak kutahu – banyak yang tak kutahu, terlebih mengenai ia.

“Kurasa ini perpisahan.”

“Ya, perpisahan yang tertunda, keparat.”

“Jangan kasar-kasar kepada orang mati.”

“Kali ini biar aku yang menutupnya dengan rapi – jauh lebih rapi daripada kau. Jauh lebih tidak menyakitkan.”

“Ya. Sampai jumpa nanti.”

“Sampai jumpa,” kututup kedua matanya, yang untuk pertama kalinya kudapati begitu damai, dengan dua keping koin yang layak. Cukup layak untuk mengantar orang mati. Lihat, bahkan hingga akhir pun ia masih memberiku harapan kemungkinan pertemuan kembali pada nanti yang entah, dasar pengecut – tetapi, toh tetap aku tersenyum.

Para hadirin keluar dengan air muka yang masih sama menderitanya – bagaimana caranya mereka memalsukan penderitaan ketika begitu banyak orang berharap tidak ditimpakan penderitaan dan kesengsaraan? Beberapa petugas – atau tukang untuk lebih tepatnya – mengangkut peti mati yang lapuk tadi dengan sigap dan telaten. Aku sendiri berjalan menyusur nisan-nisan yang dingin tepat di samping posisi di mana kupercaya kepalanya tengah tergeletak.

Gerimis merintik dengan hati-hati, mengingatkan semua orang untuk segera membuka payung-payung mereka. Sementara itu, aku lebih mengkhawatirkan peti yang terbuka dapat menyebabkan jenazah ini masuk angin. Tentu tidak akan nyaman harus menempuh kematian dengan masuk angin.

Sesampai kita di sisi danau – atau rawa hisap? Danau itu terlalu misterius dan menakutkan untuk dinamai danau – para tukang menurunkan peti tersebut ke atas sekoci mungil. Gerimis membuat semua orang harus bergegas, sehingga tanpa basa-basi segera saja diluncurkan sekoci tersebut ke tengah danau – atau rawa hisap. Laki-laki itu, yang seharusnya sudah mati, melambaikan tangan untuk perpisahan terakhir.

“Bocah nakal, jangan menodai ritual suci ini dengan pura-pura hidup begitu!” ibunya mengoceh.

Kubayangkan ia tengah geli terkikik sendiri. Sendiri.

Setelah berapa lama, hujan berangsur menderas dan semua orang kembali pulang – para perempuan menyiapkan makanan yang lezat dan air mandi yang hangat, sedangkan para pria duduk di sofa menunggu acara olahraga kesayangan mereka. Aku tetap berdiri di sana, menyaksikan sekoci itu hilang ditelan kabut yang turun tanpa iba. Bukankah ia sendirian? Apakah ia kesepian? Bahkan seorang penyendiri pasti pernah merasakan sesak di dadanya oleh karena sepi yang menggelayut bak parasit. Mungkinkah dadanya menjadi terbakar oleh sepi di tengah deras hujan? Seberapa besar kobar api itu? Untuk sekali ini kereta api melabuh di stasiun yang keliru, tak apalah.

“Halo? Ah, iya, tentu aku ingat ulang tahun ibumu. Aku akan segera ke sana. Ya. Ya. Iya, aku akan memukaunya nanti. Baiklah, sampai nanti. Aku juga merindukanmu.”

Sebelum pergi, kulayangkan pandang terakhir ke arah kabut. Jangan kesepian lagi.

Kupasang payungku, lantas segera beranjak ke mobil. Aku tengah ditunggu.

Hari yang cukup sempurna, aku tersenyum.

 

17:11
31/5/2013
Ad

Last modified on: 14 Februari 2018

    Baca Juga

  • Love Heard: Depresi Cinta Bersama di Pasar Santa


    Iramamama & Pub Loesco Bar present #intimsession vol.1 "LOVE HEARD" A night for the broken hearts, yearning lover, secret admirer, jealous beau and lonely sweethearts Awwww.... ♡ A laid-back music…

     

  • Panduan Memelihara Belatung


    Lelaki itu menggandeng tangan seorang perempuan saat memasuki rumah kosnya yang sepi. Di halaman belakang, sebuah pohon mangga berdiri anggun dengan kerimbunan daun-daunnya yang meneduhkan. Mereka baru saja memasuki kamar…

     

  • Pengurus Pemakaman


    Saya selalu mengubur Muffin pada setiap pukul enam pagi. Saya tidak membutuhkan sebuah alarm untuk itu —saya hanya terbiasa terbangun pada jam segitu. setiap melakukannya, saya menuruni tangga dengan sangat…

     

  • Kolom Komentar


    Semenjak kejadian yang membahagiakan dirinya lewat reaksi setoronin, endorfin dan dopamin di sekujur wadaknya, hidup Pentol sebelumnya tidak pernah serumit ini. Kala itu, di sebuah hotel bintang tiga, Pentol menemukan…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni