(3 votes)
(3 votes)
Read 525 times | Diposting pada

Reuni dengan Enam Aku

Eko Triono
Oleh:
Eko Triono
 Prosa
Reuni dengan Enam Aku Steve Dressler untuk This American Life

 

Aku gabung di Chanel72 gara-gara adik perempuanku yang programer hiperaktif dan mudah stres dan hobi mancing dan doyan nenggak alkohol dan baik hati dan punya banyak duit. Katanya: Ini pengembangan dari salah satu hasil riset Harvard atau apalah. Faktanya: Ini program begundal kurang kerjaan dan manusia misterius dari sejumlah negara. Tapi, apa salahnya dicoba.

Kaca toilet bandara ini selalu berkabut dan mengapa selalu berkabut.

Dan busyet betul kalau aku bakal melihat enam orang yang kembar denganku pada saat yang bersamaan.

“Unggah fotomu dengan mengikuti petunjuk dan temukan keajaiban. Enam orang kembaranmu yang tersebar di seluruh dunia akan segera bersatu.”

Begitu cara Chanel72 memperkenalkan diri.

Mereka pakai berbagai bahasa. Kamu tinggal unggah foto sesuai petunjuk.

Mereka akan memproses. Sekitar empat hari mereka beri kamu laporan data yang mereka kumpulkan.

Tentunya ini bukan ecek-ecek; cocok-cocokan sembarangan kayak program murahan yang tujuan sebenarnya adalah menyerap datamu. Adikku yang matematikawati ngoceh begitu. Mereka, sst—sebenarnya aku membenci gaya bicara dengan sat, set, sat, set, kalau rahasia yang simpan saja di kelenjar pankreas atau getah bening atau di usus buntu—dan mereka, tim Chanel72 menjebol data-data kependudukkan dari seluruh dunia.

Kenapa bisa begitu?

Banyak negara goblok membuat rekam data kartu penduduknya di luar negeri.

Lebih dari itu, basis data tersimpan hanya di beberapa negara penting.

“Politik tidak lebih penting dari lele dumbo di kolam!” Aku teringat sesuatu. “Ibu minta kamu beri makan lele sama ayam di lemari es.”

Adikku, sebrengsek apa pun dia, tetap menurut kalau soal perintah ibu.

Menurut dalam keadaan ngoceh seakan tiap napasnya bukan hanya hembusan udara tetapi hembusan kosa-kata.

Tinggal jalan ke lemari es, ambil, lalu lempar bokong-bokong ayam telanjang dingin itu ke kolam belakang rumah, ‘kan beres, kenapa harus ngecuprus kayak sandiwara larutan kimia semacam ini: Kak, ibu memang kurang wawasan. Dia mengajari lele jadi karnivora total. Tapi karnivora manja. Tanpa perburuan. Tanpa heroisme. Harusnya ibu tahu kalau sikap semacam ini merusak alam semesta, melalui perusakan rantai makanan. Mestinya seperti ini! Dia melanjutkan dengan jeritan Charles Darwin yang sampai ke kamar kerjaku disusul peok-peok ayam sedemikian pilu.

Bahasa ayam sama di seluruh dunia. Apabila peoknya sedikit melengkung itu artinya dia mau mampus. Kalau melengkung-melengkung seperti musik jazz; mampusnya tidak wajar.

Benar prasangka linguistikku benar.

Betina malang berbulu hitam itu sedang berenang-renang—bukan berenang-renang kayak bule rileks, tapi menggapai-gapai—di kolam lele yang menyambar kaki-kaki inspiratifnya, mencabik dada berbulunya, atau melompat mematil matanya yang biasa bangun bagi. Belum cukup, adikku (yang kelebihan sel otak itu) melemparkan ayam-ayam lain hingga lele-lele menjadi dewasa dalam perburuan dan apa yang dia sebut kemudian sebagai proses pengembalian hukum alam yang sebenarnya.

Dia mewarisi kegilaan ayah sekaligus; kemampuan mengunyah dan memuntahkan matematika dalam berbagai persoalan dunia. Aku sendiri sepertinya lebih dekat dengan apa yang diberikan ibu perihal memasak, mendengarkan orang lain, kemampuan belasungkawa, dan tentu saja penyalin fakta.

“Aku sudah bertemu dengan enam aku yang lain.” Dia ngecuprus lagi dan bulu-bulu ayam mulai mengambang, lele bersendawa. “Waktu aku bilang pergi ke Praha, sebenarnya Chanel72 menempatkan titik pertemuan di sana. Karena di Praha ternyata ditemukan dua orang yang mirip denganku,”

“Dari pertemuan itu,” lanjutnya dan darah dan bau jeoran ayam di kolam dan aku membayangkan laut dan ikan hiu, “bukan hanya fisik, tetapi psikis mereka tidak jauh berbeda denganku dan sifatnya saling melengkapi. Cobalah!”

Bagiku sebuah kiamat lokal, saat melihat tujuh orang segila adikku berkumpul dalam satu tempat. Mereka bisa membuat nuklir antar benua, atau program penyedot pikiran manusia melalui kornea mata, saat manusia-manusia moderen menatap layar gadget atau komputer mereka. Tetapi, lihat perjalanan ini. Betapa aku telah mencoba saran gilanya.

Dan dari Bandara Changi ini aku mengikuti petunjuk yang dibuat oleh Chanel72 kemudian naik taksi yang sudah disediakan.

Dan sopir taksinya adalah diriku sendiri!

“Selamat datang diriku yang lain!” Dia bicara dalam bahasa Inggris. Telalu mirip. Ini sangat fantastis. Seandainya dia bisa bicara bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Jawa dialek Banyumasan, tentu akan semakin mantap jiwa rasanya.

“Hidup teori persebaran tujuh kesamaan!” Brum, brum, belok tajam, melesat, lalu lambat, “Ada apa?” Aku penasaran.

“Tidak, ini hanya soal perasaan,” katanya tersenyum sederhana. “Kamu mengenalku seperti kamu mengenal dirimu sendiri, bukan?”

Ya, kira-kira, aku juga sering dihantui perasaan yang tiba-tiba muncul. Atau pikiran yang tiba-tiba datang.

Di pinggir danau, kami berkumpul. Tepatnya di restoran pinggir danau. Bukan danau alam. Hanya celobekan buatan yang dimirip-miripkan danau. Meski begitu seandainya ada anak kecil yang belum pernah melihat laut, dia akan beteriak ke ayahnya dan berkata: Laut, laut! Empat aku yang lain tertawa dalam bahasa mereka sendiri.

Bahasa tawa manusia sama.

Yang tidak bisa tertawa hanya hewan. Kuda? Itu meringkik bukan karena ada yang lucu. Ayam ketawa? Itu julukan yang menyedihkan bagi kolonialisme unggas. Dua aku yang lain belum datang juga. Padahal hari sudah sedemikian senja.

“Aku cemas kalau-kalau dua kita yang lain itu anggota radikal dan melihat kebenaran seperti anak kecil yang belum pernah melihat laut dan hanya tahu konsepsi tentang laut.”

“Lalu,” tutur aku yang lain, “ketika melihat danau kecil kebenaran dia berkata bahwa itu adalah laut yang hakiki.”

“Atau ikan teri dikira hiu padahal lele dalam kolam,” sahut aku yang lain dan itu cukup membuatku terkejut. Apa mereka tahu apa yang terjadi denganku, kolam ikan lele, dan adikku yang hiperaktif?

Aku mendengar percakapan multidiri di mana aku sangat memahami percakapan itu dan bagaimana kelanjutannya.

Seorang aku yang tinggal di Macau, tentu wajahnya tidak sama persis, tetapi struktur utamanya sama. Pekerjaannya juga tidak jauh-jauh dari pekerjaan aku yang lain. Dia direktur buku-buku elektronik. Di samping itu, mengajar untuk anak-anak tuna rungu. Seorang aku yang hidup di Rusia bekerja sebagai penata letak majalah Tentara Angkaran Darat dan mengajar piano bagi anak-anak jenderal.

Aku yang tadi menyopir taksi sebetulnya adalah guru mengemudi, di lembaga kursus di Singapura.

Dia juga yang membuat buku-buku panduan mengemudi; membuat promo; dan menulis skenario film-film pendek lokal untuk festival terbatas. Aku yang berasal dari Brunei berkata bahwa dia bekerja sebagai penyair negara dan hidup dari gaji tetap berpuisi dan mengajar puisi-puisi ke sekolah-sekolah.

Aku? Mata mereka ke mataku dan aku melihat empat cermin.

Tentu saja aku tidak jauh-jauh. Aku mengajar matematika untuk sekolah menengah atas dan menulis cerita-cerita fiksi sekaligus membuat ilustrasi untuk buku-buku fantasi dan buku doa-doa harian dan doa-doa ziarah. Sampai di sini perbedaan mulai terlihat.

Kami mulai minum dengan hati-hati sambil menunggu dua kami yang lain muncul.

Sambil menunggu kami membicarakan banyak hal.

Kemiripan-kemiripan, tanggal dan bulan lahir yang sama, karakter-karakter, hobi, lalu perbedaan.

Kami berbeda di banyak tempat. Sebenarnya, bukan beda barangkali. Hanya saja saling melengkapi. Kalau aku yang lain sakitnya sariawan. Maka, yang satunya sakit tenggorokan. Masih satu turunan penyakit. Yang lain mudah mengingat sesuatu, maka yang lainnya mudah melupakan dengan derajat-derajat yang unik. Sampai-sampai aku berpikir bisa jadi dari 7 miliyar manusia sebenarnya hanya ada 1 miliyar induk manusia. Yang lainnya, turunan dan tersebar. Tapi, ini pemikiran yang tergesa-gesa sebagaimana karakterku sendiri.

“Apa kita bisa saling menyentuh?” Ini pertanyaan mengejutkan dari aku Rusia.

“Maksudku bagaimana rasanya berjabat tangan dengan kembaran-kembaran yang lain. Itu merasakan ini mimpi apa fakta?”

“Kukira kita harus saling menampar,” kelakar yang lain.

Mulanya pelan, tapi kemudian brutal. Kami baku hantam. Saling melempar gelas, piring, sendok, kursi, hingga saling mengejar dan membuat keributan, hingga polisi datang. Rasa-rasanya kami seperti melampiaskan emosi dan nasib buruk. Kami seakan geram di hadapan cermin dan ingin memecahkan cermin itu sepuas-puasnya. Memukul hal-hal buruk dari diri sendiri. Aku dapat rontok gigi depan. Lebam di sebelah mata. Dan tulang tangan kiriku patah saat menahan amukan dari botol beling. Betul-betul sialan. Ini reuni macam apa?

Kami barangkali hanya pernah ketemu di alam penciptaan. Aku kabur untuk kembali ke Indonesia dalam keadaan seperti ayam betina dicabik lele, hanya saja tidak mati barangkali.

Keluar dari taksi, aku menepi di bawah lampu malam. Seekor anjing dan seekor kucing berjalan berdampingan. Anjing itu tersenyum. Seperti senyumku. Matanya bahkan suka memicing. Seperti mataku yang merasa kekuarangan cahaya dalam melihat segalanya. Kucing itu, alamak, begitu melankolis caranya melangkahkah kaki. Kadang berhenti untuk memandang langit dan mengiau secara sentimentil.

Keduanya mendekat ke arahku. Secara bersamaan mereka mengucapkan dalam bahasa kucing dan anjing yang ternyata kupahami, kata mereka:

“Selamat malam, hai, bagian dari diri kami sendiri! Meong, guk! Maaf, tadi kami terlambat.”

Last modified on: 17 Juli 2017

    Baca Juga

  • Citra dan Represi Makna


    Hingga kini kata “pencitraan” dari kata dasar “citra” konotasinya hampir selalu buruk. Media massa gemar memakainya sebagai sebutan lain yang terdengar fantastis ketimbang “munafik” sebagai perbuatan untuk menutupi keburukan. Maknanya…

     

  • Extreme Decay Gelar Tur Singapura dan Malaysia


    Band grindcore kawakan asal kota Malang, Extreme Decay, bakal menggelar tur mini ke negeri seberang bertajuk Grinding Assault: South East Asia Mini Tour 2015. Tempat yang akan mereka kunjungi di…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni