(3 votes)
(3 votes)
Read 2364 times | Diposting pada

Purnama Tenggelam di Rajasthan

 

 

Tentu saja kau tak ingin menjadi Kurawa seperti dalam kisah Mahabharata karya Mpu Vyasa yang pernah kau baca ketika masih remaja. Kau ingin menjadi Gatot Kaca, ksatria Pandawa yang selalu kau kagumi. Namun kini kau tak lagi percaya pada cita-cita. Sayap-sayapmu patah, hatimu remuk. Kau mulai mengutuk, meragukan cerita-cerita dalam Mahabharata, kau menyesal karena pernah bermimpi untuk menjelajahi India, hanya karena seorang perempuan? Ah!

Kau baru saja tiba di negeri rembulan. Ya, negeri rembulan yang selama ini hanya ada dalam angan-anganmu, menggenapi mimpi-mimpi remajamu. Akhirnya kau bisa menginjakkan kedua kakimu di Rajasthan, di mana kau bisa melihat purnama dari titik paling sempurna dari belahan dunia manapun. Ketika kemudian kau tak sengaja melihat perempuan itu datang dari arah berlawanan, begitulah, kalian lalu berkenalan.

Adalah hal biasa bukan? Kau selalu berkenalan dengan orang-orang yang kau temui selama perjalananmu.

Tapi ia berbeda, batinmu. Wajah perempuan itu seperti Srikandi, sang Resi yang wajahnya kau kenali dari patung lilin di Kurusetra yang dua hari lalu kau singgahi. Benar-benar seperti pinang dibelah dua. Sorot mata tajam seperti ujung pedang, hidung mancung sebagaimana mestinya perempuan India, dagunya yang lancip, dan wajah yang berbinar seperti bulan.

Namanya Devi, usianya sembilan belas tahun lebih satu hari. Ia lahir ketika malam purnama, ketika bulan membentuk lingkaran bulat sempurna seperti bola. Dan malam ini ia merasa seperti burung, terbang bebas kemanapun ia mau. Ia sedang mencari ksatria untuk mendampingi hidupnya selamanya, tepat saat bulan purnama bersinar sempurna. Begitulah ia bercerita padamu dibawah purnama, di padang pasir Thar yang mengelilingi Rajasthan, kau menggenggam erat jemarinya.

“Perempuan sembilan belas tahun sepertiku sudah selayaknya bersuami.“ Ucapnya sembari mengerlingkan mata. Kau hanya tersenyum, menatap wajahnya tanpa berkedip. Jemarimu semakin erat menggenggam jemarinya yang kurus.

Sungguh malam yang sempurna. Di bawah guyuran cahaya purnama, kalian saling berbagi cerita. Kau bercerita tentang mimpi-mimpi masa mudamu, tentang obsesimu untuk pergi menjelajahi India karena kau terbius dengan keindahan yang kau saksikan dalam film Bollywood dan cerita Mahabharata, tentang gadis-gadis cantik dalam film-film India yang sering kau saksikan ketika masih muda. Dan kau merasa tak malu ketika kau juga bercerita tentang negaramu yang porak-poranda akibat krisis ekonomi dan korupsi yang merajalela. Kau tak lupa berusaha sedikit merayunya, kau katakan padanya bahwa wajahnya seperti Srikandi, dia hanya tersenyum, lalu kalian sama-sama tertawa.

Purnama semakin menggila menerangi India, dan kau sepertinya terlalu cepat jatuh cinta…

Kau teringat akan masa remajamu, ketika kau seringkali harus menginap di rumah tetanggamu demi menyaksikan film Bollywood yang selalu diputar menjelang tengah malam. Dari sanalah kau pertama kali tahu betapa indahnya India, dan sejak saat kau terobsesi dan berjanji kelak akan menginajkkan kakiku di India. Ketika remaja kau juga membaca kisah dalam Mahabharata. Kau begitu tertarik dengan cerita tentang pertarungan antara Pandawa melawan Kurawa tiga ribu tahun yang silam di India, dan sejak saat itu keinginanmu untuk menjelajah India semakin menggebu, kemudian angan-angan itu selalu menghiasi mimpi malam-malammu.

Begitulah cerita, kini kau menginjakkan kedua kakimu di India, setelah berbulan-bulan berjalan kaki menelusuri negara-negara lain di penjuru Asia. Seperti mimpi yang nyata, seperti hutang yang ditunaikan. Namun, yang kau rasakan adalah miris dan kecewa, India tak seindah cerita-cerita yang pernah kau baca.

Iya, India memang berbeda, kau begitu kecewa ketika menerima kenyataan bahwa India tak seindah dalam adegan film ataupun cerita-cerita yang pernah kau baca, semua orang sibuk mencari Rupee, ratusan orang rela berjubel seperti ikan sarden di atas gerbong kereta ataupun bis kota demi menghemat ongkos, bioskop-bioskop tua yang selalu penuh, ah, nama besar Gandhi dan Tagore seakan tenggelam di negerinya sendiri. Dan rasa kecewa semacam itu pula yang kau rasakan ketika kau menemui ayah Devi –untuk memintanya-.

“Kau hanyalah seorang pengembara, anak muda, selain itu kau punya apa?” Lelaki tua itu memang tak salah, kau membatin. Seorang ayah tentu selalu mencari lelaki yang mapan untuk bakal suami anaknya.

“Kau sudah menyiapkan berapa Rupee untuk membawa anakku?”

Tentu saja kau terkejut, hatimu remuk, caranya menawarkan anaknya seperti menjual wanita murahan saja –seperti cukong-cukong dan mucikari yang pernah kau temui di jalan-jalan kecil kota Calcutta. Pyuh, kau meludah dihadapannya.

Kau memang hanya pengembara, menggerakkan tubuhmu tanpa tujuan yang kau tahu. Kau hanya ingin membuang kecewa, kecewa terhadap negerimu yang porak-poranda, ribuan mil dari Rajasthan, Jakarta sudah menjadi neraka, kuburan raksasa yang sudah dipersiapkan para penguasa kepada setiap orang yang hendak melawan mereka, jika kau tak segera pergi, kau hanya tinggal menunggu mati, apalagi sebagai mahasiswa, kau adalah sasaran empuk para penguasa.

“Curilah aku dari ayahku, Rama. Bawalah aku lari ke negaramu, mungkin disana aku akan menemukan impian yang tak pernah aku dapatkan di Rajasthan.”

Kau hanya diam, memandangi lentik alis perempuan yang meratap dihadapmu, diatas dua mata bulat seperti kebanyakan wanita India pada umumnya. Kau mengecup keningnya di bawah sorotan rembulan yang membulat sempurna.

Purnama di Rajasthan jangan pernah dilewatkan…

Kau teringat pada sebuah tulisan yang kau temukan dalam sebuah tulisan di majalah Travelling, tentang purnama di Rajashthan. Bahkan kau sangat mengingat kata demi kata yang dituliskan di majalah itu;

“Di padang pasir Thar kota Puskhar, salah satu sudut di Provinsi Rajasthan, purnama akan tampak begitu sempurna, membulat seperti bola, dan letaknya tepat di atas kepala kita, seperti bola lampu yang menempel di langit-langit kamar kita, seakan-akan purnama memang diciptakan khusus untuk penduduk kota ini.”

Sepertinya, kekecewaanmu akan India akan terbayar lunas di Rajasthan. Setelah perjalanan menjenuhkan menyusuri sudut-sudut kota Calcutta, perlakuan tidak menyenangkan oleh polisi Amristar, hiruk pikuk New Delhi yang sangat padat sekali, mendapati sungai Gangga yang kumuh di Varanasi, benar-benar tak seindah cerita dalam film Bollywood.

Namun kau mendapati suasana yang sama sekali berbeda ketika menjejakkan kedua kakimu di Rajasthan, tak seperti di kota-kota sebelumnya yang membuatmu tak betah, di Rajasthan, semua orang yang berlalu-lalang seakan tersenyum memberi ucapan selamat datang, wajah-wajah yang ramah, dan kota yang begitu indah.

Di malam hari, ketika kau tiba di padang pasir Thar kota Puskhar, kau sungguh tak percaya mendapati purnama seakan-akan hanya berjarak beberapa meter di atas kepalamu, kau sungguh bahagia dan terpesona, dan hatimu terasa semakin berbunga-bunga ketika tak sengaja kau melihat seorang perempuan datang dari arah berlawanan, dan kalian berkenalan.

Kalian duduk berdua beralaskan hamparan pasir, kau dan Devi, walau sebenarnya kalian tak hanya duduk berdua karena begitu banyak orang yang datang memenuhi padang pasir Thar untuk melakukan ritual purnama, namun bagimu, purnama itu hanyalah milik kalian berdua.

Saat itu, tentu saja kau tak pernah menyangka, bahwa perempuan itu hanya akan menambah cerita kelam perjalanan panjangmu menyusuri India.

“Apakah aku mencintai orang yang salah?” Pertanyaan itu kini diam-diam menggelayuti hatimu. Walau seharusnya yang kau tanyakan adalah “Apakah aku terlalu cepat jatuh cinta?” Ah, sebelumnya kau memang tak pernah merasakan cinta yang lebih indah dari ini, dan tentu saja lebih luka dari segalanya.

Kini kau merasa kesepian di tengah padang pasir Thar yang telah menjelma lautan manusia. Setiap purnama, orang-orang dari pelosok India berduyun untuk melakukan ritual purnama, semacam persembahan dan ucapan terima kasih kepada Dewa, membaca doa-doa dan pujian menurut kepercayaan mereka.

Devi baru saja meninggalkanmu, menghilang diantara kerumunan orang-orang yang sibuk mendirikan tenda untuk tempat bermalam mereka, sebagian yang tak punya biaya hanya tidur beralaskan pasir dan beratapkan purnama, -seperti kau saat ini-.

Ah, dia memang tak pernah mau mengerti, betapa kalian bernasib hampir sama, mempunyai kekecewaan yang sama terhadap kampung halaman, Negara yang sama-sama kacau, poor country, dan secercah harapan kalian yang sama-sama sirna.

Kau benar-benar merasa sepi, kau merebahkan diri di atas pasir, memandang rembulan yang bersinar seperti bola lampu dengan watt tinggi. Ah, kau jadi teringat dengan kamarmu, kamar kecil tempatmu biasa merebahkan diri, ribuan mil dari India, di sebuah kota kecil dekat Jakarta, tempat dimana kau menghabiskan masa remaja. Kau tersadar, terkadang pepatah memang benar, hujan batu di negeri sendiri lebih berarti daripada hujan emas di negeri orang.

Tiba-tiba kau ingin sekali pulang ke Indonesia, sepetak tanah yang sudah hampir kau lupa. Kau benar-benar rindu, rindu untuk mencium aroma tanah negeri kelahiranmu. Kau segera mengemasi barang-barangmu, kau telah bertekad untuk pulang, pulang ke tanah kelahiranmu, tanah kelahiran nenek moyang.

Baru beberapa jauh dari tempatmu melangkah, seorang lelaki paruh baya menegurmu, menawarimu untuk mampir kedalam tendanya, “Perempuan, tuan. Silahkan dipilih, boleh dibawa ke hotel atau di dalam tenda.”

Kau begitu tercengang, bukan karena tawaran lelaki itu, namun kau melihat Devi duduk diantara perempuan-perempuan yang ditawarkan di dalam tenda, mengenakan pakaian minim bahkan nyaris telanjang. Kau merasa benar-benar tak percaya!

Di pinggiran Rajasthan, ketika kau hendak meninggalkan negeri itu dalam keterasingan, sekali lagi kau melihat rembulan. Kau lihat warna rembulan yang langsat berubah pucat, lalu perlahan kenangan dan mimpi-mimpimu memudar, seperti purnama yang tenggelam di Rajasthan.**


Last modified on: 25 November 2012
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni