(5 votes)
(5 votes)
Read 2603 times | Diposting pada

Psychedelia

Psychedelia Ilustrasi: wikipedia.org

 

Ainun tak terlalu ingat di mana ia berada terakhir kali. Barangkali seperti mimpi, yang terbayang adalah rok merah yang belum ia ganti sepulang sekolah. Ia duduk di beranda musholla di pojok kampungnya, tempat tersisih di utara Jakarta.

Sambil memandangi jalan tol, ia juga ingat ibu dan ayahnya yang hidup terlalu datar. Kau mungkin tak percaya, ayah dan ibunya sama sekali tak kenal abjad. Bahkan, setahunya, ayah dan ibunya paling jauh melancong ke Semper, atau Cakung.

Ayahnya hanya menggarap kebon bayam milik juragan tetangganya. Sedang ibunya berdagang nasi uduk di kala pagi. Ia merasa sendiri di tengah keluarganya. Andai saja tak ada Burhan, mungkin Ainun takkan pernah bisa menghalau sepi.

Ouw! Burhan! Siapa dia? Ainun merasa tak pernah punya teman kecil seperti Burhan. Tapi mengapa? Dalam bayangan masa kecil yang sedang ia rasakan, ia sedang duduk di beranda sambil menyaksikan Burhan di halaman musholla. Burhan yang kurus itu sibuk bersiul-siul memanggil angin. Sambil memonyong-monyongkan mulut, Burhan menyentak-nyentak benang yang berujung pada teraju yang terikat di raku layang-layang.

Seperti mimpi, ia menyaksikan layang-layang Burhan terbang tinggi, jauh, menembus awan. Semakin tinggi, layang-layang itu kian tampak bagai elang perkasa yang tak takut badai. Ainun, kau akan kubawa ke langit dengan layang-layangku. Ainun tersenyum mengenang seruan itu. Baginya terasa istimewa.

Langit tiba-tiba mendung. Ainun tak suka hujan. Sebab, setiap kali hujan, air akan menggenangi kamar tidurnya yang sempit. Seperti yang sudah-sudah, keluarganya bersama beberapa tetangga harus mengungsi ke lantai dua musholla.

Ainun memejamkan mata. Ia mencoba melepaskan diri dari fantasi masa lalu yang tak jelas dari mana asalnya itu. Saat ia menempuh perjalanannya menuju alam hidupnya yang dianggapnya nyata, ia berhenti tiba-tiba. Ia tak mau menganalisis dan membaca situasinya. Tapi entah mengapa, bayangan di tengah-tengah itu membuatnya takut. Baginya itu terlalu nyata.

Tapi Ainun tak bisa untuk tak hirau. Yang tampak padanya adalah padang rumput berbukit dan permai. Ia merasa tempat ini seperti peternakan sapi. Tapi yang jelas, ia merasa damai di tempat itu. Walaupun ia tahu, ia tampak sangat asing di tengah keramaian orang-orang.

Di tempat yang dianggapnya nyata itu, Ainun merasa itu bukan tanah airnya. Udara di tempat itu terlalu dingin bagi Ainun. Lagi pula, tak ada pohon kelapa dan sinar mataharinya terlalu redup. Anehnya, jika di keluarganya ia merasa sendirian, di tempat itu ia justru melebur dengan ratusan ribuan orang yang hadir.

Ainun melihat perempuan-perempuan berparas Eropa mengenakan gaun-gaun sederhana yang indah. Mereka juga manis karena berpakaian seolah-olah menyerupai orang Indian. Satu hal yang paling mempesonanya, perempuan-perempuan manis itu menyematkan bunga di sela rambut.

Di dalam alam pikiran tengahnya itu, Ainun tiba-tiba merasa ia juga semanis perempuan-perempuan berambut panjang itu. Saat dilihatinya penampilannya, alamak! Ainun memuji dirinya setinggi langit. Ternyata, aku yang tercantik.

Ainun tahu ia meniru pakaian perempuan-perempuan lain yang ada di situ. Tapi, ia memang yang paling cantik. Kulitnya yang langsat dan tubuhnya yang ramping itu menunjukkan kekhasannya. Ia bak permata yang menyelinap dari ujung tenggara Asia untuk mempesona laki-laki berambut panjang dan bertampang cerdas yang berseliweran di tempat ini.

Lalu ia ingat, di suatu malam, ia berjalan sendirian, dan kedinginan. Di sana-sini dilihatnya orang-orang membakar api unggun, memasang tenda, berbicara sambil telanjang, bahkan bersanggama. Tapi ia sama sekali tak risih. Justru merasa akrab.

Dari kejauhan, Ainun melihat panggung yang terang. Dari panggung itu, mengalun musik pemberontakan yang membius. Semua orang yang menikmati musik di sekitar Ainun, bergerak seolah-olah berdansa dengan rohnya sendiri. Ainun tergoda.

Sebuah mobil minibus biru muda tegak di tengah padang rumput. Memang, di tempat ini bukan hanya minibus itu saja yang parkir. Tapi, entah mengapa, bulan melimpahkan cahayanya yang utama terhadap minibus biru itu. Minibus itu seperti aktor teater yang disorot lampu sendirian di atas pentas.

Di pintu minibus yang terbuka, Ainun melihat Burhan. Ya, Burhan! Ainun melihat Burhan sedang membakar sejenis rokok, atau mungkin mariyuana. Burhan melihat Ainun dengan mata yang sayu. Dari mana saja kau, Ainun? Setengah mati aku menahan rindu.

Dari mana Burhan datang? Tapi ia merasa akrab dengan Burhan. Ia melihat Burhan sebagai orang paling tampan di tempat itu. Burhan berkulit sawo matang, sama seperti dirinya. Laki-laki itu tampak sangat jenius.

Ainun melipat-lipat lagi pikirannya, mencoba memutuskan keakrabannya dengan Burhan. Tapi ia hanya menampar awang-awang. Burhan hadir di sana tanpa alasan.

Ainun menghampiri Burhan. Ia duduk di bagian belakang mobil. Pintu yang terbuka membuat ia ingin memeluk Burhan dari samping. Dan tanpa alasan, Ainun melakukan itu setelah ia memaksa Burhan menempelkan sesuatu di langit-langit mulutnya. Dia terlalu dekat padaku.

Ainun,kita ini sebenarnya apa? Sebenarnya, siapa yang membawa kita ke sini? Tidakkah kau lihat, kita seperti orang yang datang dari negeri paling jauh. Tapi, semua orang-orang di sini seolah menganggap kita sepasang muda-mudi yang bersemangat dari New York.

Pertanyaan demi pertanyaan terus diajukan Burhan. Ia merasa, perbincangannya dengan Burhan adalah situasi yang paling sering ia temui dalam hidupnya. Keabadian baginya adalah saat ia menjawab pertanyaan demi pertanyaan Burhan. Terus-menerus.

Burhan, tahukah kau? Terlalu sering sadar itu membuat manusia menjadi lebih kejam. Mereka menggunakan pikiran sadarnya untuk menghitung kesempatan hidup. Apa yang terjadi? Mereka mengirim anak muda yang jenius seperti kau ke medan perang. Aku kira, takdir membawa kita ke sini untuk melawan kesadaran itu. Kita dipilih untuk ada di sini. Aku, dan juga kau.

Ainun dan Burhan tidur bersebelahan di dalam minibus. Mereka menutup pintu belakang sekaligus menutup jendela dengan kain warna-warni. Cahaya bulan dari luar membuat kain warna-warni itu memancarkan cahaya. Dan Ainun pun kembali memejamkan mata. Ainun tertidur.

Dalam mimpinya, Ainun merasa dirinya semakin tua. Tapi tetap sadar, gurat pesona pada wajahnya tak akan lekang. Ia duduk di pintu rumahnya menjelang senja. Daun pintu rumah itu tidak memiliki engsel. Jika ingin menutup pintu, Ainun harus mengangkat daun pintu sejajar dengan rongga pintu. Tetap saja, pintu tidak tertutup dengan sempurna dan sangat gampang dibuka.

Tapi Ainun adalah orang yang ikhlas. Ia yakin tak ada orang jahat yang mau mencelakainya di rumahnya yang sempit. Lagi pula, di rumahnya hanya ada televisi berwarna 14 inchi, vcd rusak, ranjang tua dan kasur kapuk yang sudah kempes, kompor gas pemberian pemerintah, satu meja makan, dan dua kursi kayu.

Benda lain yang ada di rumahnya adalah jam dinding rusak dan beberapa buku bacaan Burhan yang tergeletak di rak bawah meja. Burhan! Mana Burhan? Mengapa jam segini Burhan belum juga pulang? Apakah ia sempat pulang ke rumah dari sekolah sebelum pergi lagi. Ataukah Burhan tawuran lagi? Ah, mengapa sekarang Burhan terasa seperti anak lelaki semata wayangku.

Sebelum azan maghrib, dari ujung gang Ainun melihat sebuah mobil bak berhenti. Ia melihat Burhan turun dari bak mobil yang penuh. Allahuakbar! Burhan mengapalkan tinjunya pada orang-orang di bak mobil yang ia tumpangi saat mobil itu pergi.

Seperti pertemuannya yang sudah-sudah, Burhan selalu jarang bicara. Di depan pintu rumah, Burhan hanya menatap Ainun. Ainun merasa Burhan adalah remaja lelaki SMA yang cerdas. Tapi satu yang tak dipungkirinya, kedekatannya dengan Burhan di alam pikirannya yang manapun tak berubah derajat. Burhan boleh berubah peran, tapi Ainun merasa selalu akrab dengannya.

Malam itu Ainun tak bisa tidur. Ia memicing-micingkan matanya agar lelap. Ia tak terbiasa tidur tanpa Burhan. Di rumah sempit dan reot itu, ia hanya tinggal bersama Burhan. Semoga saja, ini semua mimpi. Tapi ia tetap gelisah.

Selepas makan malam, Burhan pamit lagi pada Ainun. Kali ini Ainun ingin sekali melarang Burhan pergi. Tapi, ia tahu, sejak dulu ia tak pernah bisa memaksa Burhan. Ia terlalu cinta terhadap Burhan. Burhan, kumohon, malam ini tinggallah denganku. Apa sebenarnya yang kau cari?

Sederhana saja! Aku ingin masuk televisi. Dan Burhan pun pergi dengan pakaian khusus: jubah putih beserta sorban.

Dalam kegelisahannya itu, Ainun merasa dirinya semakin tua lagi, lagi, dan lagi. Ia memaksakan diri menonton televisi. Tak ada apa-apa. Yang ada hanyalah film Rambo, kuis berhadiah telepon genggam, siaran tunda sepakbola, serta kabar tentang perceraian artis.

Ainun tiba-tiba berhenti pada siaran berita tengah malam. Ia melihat berita tentang bentrokan antara sekelompok orang berjubah-bersorban dan sekelompok centeng sebuah rumah judi. Pertempuran itu menjadi pertempuran berdarah yang pernah ia tahu dari televisi.

Jantung Ainun tersirap. Ia melihat Burhan berdarah dalam pertempuran itu. Ainun buru-buru mematikan televisi. Ia kembali berusaha tidur untuk menghilangkan rasa cemasnya. Hampir subuh, Ainun mendengarkan sekelompok orang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Ia merasa semakin aneh dan takut, sebab jelas itu bukan Burhan. Burhan tak pernah menutup pintu rumah. Burhan selalu menggeser pintu jika pulang malam.

Ainun tak mau menjawab panggilan dari luar rumah. Ia merasa dirinya terus menua. Ia menderita seperti perempuan kesepian yang kehilangan separuh nyawa. Ia hanya punya satu harapan. Semoga ini cuma mimpi.

Dan Ainun terus memaksa untuk tidur dalam mimpinya.


Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni